
🌹
🌹
Maharani menatap kepulangan anak gadisnya dengan heran. Rania kembali pada pagi hari setelah hampir dini hari tadi menghilang dengan motor besarnya.
Perempuan itu menyikut lengan suaminya yang asyik dengan berita pada minggu pagi itu.
"Apaan sih sikut-sikut?" Angga mengusap-usap lengannya yang terasa agak nyeri.
"Rania udah pulang." Maharani menatap putrinya yang berjalan gontai menuju tangga tanpa mempedulikan keberadaan mereka.
"Iya udah tahu." Angga tanpa menoleh.
"Nggak tanya dia dari mana gitu?"
"Nggak akan dijawab."
"Tanya lah, sambil omongin juga. Dia kabur, kelayapan dari tengah malam dan baru pulang jam segini?" Maharani melirik jam dinding.
"Nggak usah."
"Lho kok nggak usah?"
"Biarin dulu kayak gitu. Kalau diomongin sekarang nggak akan masuk ke otaknya."
"Se nggaknya tanya dia habis dari mana."
"Paling abis ngetrek." Angga dengan cueknya.
"Tuh kan? kalau balapan lagi gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana."
"Kok kamu jadi cuek gitu? Biasanya paling ngamuk kalau tahu Rania ngetrek."
Angga menghembuskan napasnya dengan keras.
"Omonganku tuh udah nggak mempan, kamu tahu nggak kemarin kenapa dia finish di posisi ke sepuluh?"
"Karena disalip pembalap lain."
"Itu teknisnya. Sementara nonteknisnya kamu nggak tahu kan?"
Maharani menggelengkan kepala.
"Dia, kalau seandainya kemarin fokus terus ngikutin semua yang aku bilang, nggak mungkin finisnya di posisi sejauh itu. Paling nggak di posisi kelima lah, masih mending. Dia merasa kemampuannya udah tinggi, juga merasa bisa menentukan apa yang mau dia lakukan. Padahal kenyataannya ngga tahu apa-apa. Tapi Rania nggak nyadar, dia merasa semua yang dia lakukan itu benar. Nggak mungkin juga mau dengar apa yang kita bilag. Intinya, dia sedang merasa ada diatas angin, jadi nggak mungkin menerima sarang orang lain. Terus aku harus gimana kalau dia udah kayak gitu?"
Maharani terdiam.
"Ya aku diemin. Percuma juga kalau aku bilangin, nggak akan masuk ke otaknya dia. Kalau udah kena batunya, baru dia nyadar sendiri. Kayak masalah ini, kalaupun dia ikut balap liar lagi, ya paling kalau nggak ditangkap polisi ya dibawa geng motor. Apalagi?"
"Ngeri ih, masih mending ditangkap polisi dia masih bisa kita tebus. Kalau dibawa geng motor? apa yang mungkin terjadi sama dia?"
"Ya paling dikerjain sama anggota geng."
"Aaaa!!! nggak mungkin!" Maharani menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Kamu ngatain anak sendiri!" dia meremat lengan Angga dan mengguncangnya dengan keras.
"Ya kan udah aku bilangin, tapi dianya yang nggak denger." pria itu mencoba melepaskan cengkeraman tangan istrinya.
"Awas ya kalau itu kejadian sama Rania, aku nggak akan maafin kamu!" ancam Maharani kepadanya.
"Lah, kok aku?"
"Ya Iyalah, kamu kan papanya. Hidup matinya dia, dan keselamatannya masih tanggung jawab kamu sebelum dia punya suami. Dan selama belum ada laki-laki yang bisa bertanggung jawab sama dia, semuanya harus kamu yang tanggung."
"Dia udah dewasa Ini."
"Mau sedewasa apa juga, anak perempuan sebelum punya suami masih tanggung jawab papanya. Bukan cuma duitnya aja yang kamu selamatkan, Ranianya juga."
"Dih, ujung-ujungnya bahas duit?"
"Iyalah, sama duitnya gercep, sama orangnya cuek."
"Duh, kayak siapa ya itu?" Angga menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu." tunjuk Maharani kepada suaminya, sementara Angga hanya mencebik.
Dan Rania menyimak percakapan itu dari tangga paling atas di dekat pintu kamarnya, setelahnya dia segera masuk ke peraduan dan menjatuhkan tubuh lelahnya disana.
Setelah berkeliling kota sejak dini hari tadi menghilangkan penat dan rasa kesal, dan tentu saja keterkejutan karena bertemu dengan Dimitri di tengah jalan dan mengalami hal tidak terduga.
Rania menyentuh bibirnya sendiri, rasanya seperti baru saja terjadi. Rasa hangat dan lembutnya masih membekas dapam ingatan.
Apa itu barusan? dia mencuri ciuman pertamaku ya? dasar bule manja! dia berguling-guling diatas tempat tidur.
Emang gitu ya kalau orang bule, main cium asal aja? nggak mandang status atau apa gitu? wajah Dimitri berkelebat di pelupuk mata. Senyumnya, raut wajahnya, kerlingan matanya, dan segala yang ada padanya juga hadir dalam ingatan.
Ish, ... kenapa aku jadi mikirin dia sih? Rania mengacak rambutnya hingga berantakan.
Harus tidur nih, ini pasti karena kekurangan tidur, otakku jadi ngawur. Dia menyurukan kepalanya dibawah bantal. Dan benar saja, hanya dalam hitungan detik gadis itu sudah terlelap menyelam dalam mimpi.
🌹
🌹
Dimitri melangkah dengan semangat, pagi itu dia memulai hari dengan ceria dan penuh kegembiraan. Penyebabnya apa lagi kalau bukan Rania yang terus saja berputar-putar di kepalanya. Gadis itu memang telah benar-benar menguasai dunianya dan dirinya tak bisa mengelak lagi. Tidak, kali ini dia tak mau mengelak lagi. Dia memutuskan akan pasrah menerima perasaan ini dan bersiap menerima kehadiran gadis itu jika sewaktu-waktu dia mendatanginya.
Tentu saja Rania akan mendatanginya, tidak ada ada satupun gadis yang mampu menghindar dari pesona seorang Dimitri Alexei. Mereka selalu bertekuk lutut di hadapannya, dan dengan mudah menyerahkan diri. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya.
"Ada jadwal rapat hari ini Aline?" dia bertanya kepada sekertarisnya.
"Ada pak. Dengan pimpinan Art N' Build Design." jawab Aline.
"Oh iya, lupa." Dimitri menepuk kepalanya sendiri.
"Jam berapa?"
"Sekarang pak. Perwakilan dari Art N' Build sudah menunggu di ruang rapat."
"Oh, ... baiklah. Mari kita selesaikan rapat hari ini."
Mereka berdua melangkah beriringan kedalam ruang rapat di lantai bawah.
Tiga orang perwakilan perusahaan tersebut sudah menunggu di dalam ruang rapat tersebut. Dua orang laki-laki da satu orang perempuan yang sudah siap dengan presentasi mereka.
"Silahkan dimulai." ucap Dimitri.
"Ba-baik pak." jawab salah satu pria diantara mereka yang tampak gugup padahal ini buka pertemuan mereka yang pertama.
Mereka bahkan duduk jauh di ujung seberang Dimitri, padahal biasanya mereka duduk tak begitu jauh sehingga mereka bisa bercakap-cakap dalam suasana cukup akrab. Tapi kali ini sikap mereka lain dari biasanya.
Dua pria yang berbicara bergantian tampak canggung, sementara si perempuan nampak bersikap tidak terlalu bersahabat.
Kesepakatan kerja sudah di tanda tangani, karena memang pertemuan ini hanya penandatanganan kesepakatan saja, dan selebihnya hanya presentasi biasa. Yang berakhir setelah tiga puluh menit yang cukup menyebalkan bagi Dimitri mengingat sikap ketiga orang itu yang tidak menyenangkan di hadapannya. Namun karena instruksi dari Jakarta yang telah menyetujui kerjasama tersebut menjadikan pria itu akhirnya memberikan tanda tangannya juga.
"Apa mereka ada masalah pribadi dengan orang di perusahaan ini?" Dimitri berbicara kepada Aline setelah rapat selesai dan ketiga orang itu pergi.
"Maaf pak?"
"Sepertinya mereka punya masalah serius dengan orang di perusahaan ini. Sikap mereka tidak terlalu menyenangkan." pria itu berujar.
"Benarkah?"
"Tidak lihat ya sikap mereka tadi bagaimana? Huh, ... aneh sekali." dia menggerutu.
"Apa pestanya berjalan lancar malam kemarin?" Aline membereskan dokumen yang tersisa.
"Lumayan." jawab Dimitri yang kemudian tiba-tiba teringat lagi kejadian setelah pesta.
"Astaga! pasti itu yang jadi masalahnya." dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf pak? masalah apa?"
"Itu, masalah Selena. Eh, tidak. Maksudnya masalah pesta."
"Ada masalah Di pestanya?"
"Ada, eh... maksudnya tidak. Pestanya baik-baik saja. Hanya saja... " pria itu menggantung kata-katanya.
"Ya pak?" Aline menatapnya dengan serius.
"Mm.. tidak ada." Dimitri bangkit. "Aku harus meyelesaikan pekerjaan lainnya bukan? Haha... selamat bekerja Aline." dan dia segera menghambur keluar dari ruang rapat.
"Pria yang aneh." Aline menggelengkan kepalanya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
memang aneh ya? wakakakak
Biasalah genks, klik like komen sama kirim hadiah. Se nggaknya ranking hadiahnya yang naik gitu. 😉😉
lope lope saBandungeun 😘😘😘