
🌹
🌹
"Aarrgghh!! RANIAAAA!!" Dimitri berteriak di sudut kamar mandi saat gadis itu mengarahkan shower ke kepalanya. Mengalirkan air dingin yang menusuk hingga ketulang.
"Ampuuunn!!" katanya, yang menghalangi wajah dengan kedua tanganannya.
"Biar kamu sadar!! mabuk terus Kerjaannya!" gerutu Rania dengan gemas tanpa menghentikan aliran air dari shower.
"Dingin Ran, Ampuun!!" pria itu mengkeret di sudut lantai dalam keadaan sekujur tubuhnya basah kuyup. Hanya mengenakan celana panjang, sementara kemejanya sudah dia lepaskam tadi.
"Sadar nggak?" gadis itu berjongkok memperhatikan.
"Sudah, sudah. Hentikan!"
"Nggak akan, sebelum kamu sadar aku nggak akan berhenti."
***
Pria itu keluar dari kamarnya dengan sudah berpakaian lengkap, joggerpants dan kaus oblongnya seperti biasa. Namun masih mengusak rambut basahnya dengan handuk kecil.
"Duduk." Rania meletakan segelas coklat panas di meja ruang tivi, lalu duduk di sofa.
Dimitri menurut walau dengan hati gusar setengah mati.
"Matanya biasa aja, nggak usah mendelik-delik kayak gitu." gadis itu bersungut-sungut.
"Habisnya kamu tega." Dimitri menghempaskan bokongnya di sofa dimana Rania berada.
"Tega apanya? kan biar kamu sadar." dia menyodorkan mug berisi coklat panas tersebut kepada Dimitri. "Bagusnya seduhan rempah-rempah biar kamu lebih segar, tapi karena disini adanya itu ya udah aku bikin aja."
Dimitri menatap mug berisi minuman panas itu.
"Cuma coklat, biar mood kamu membaik juga setelah aku mandiin." Rania tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang berjejer rapi.
Pria itu mendengus kasar, namun tak urung juga dia menuruti ucapan kekasihnya.
"Itu bukan mandiin," Dimitri bergumam.
"Masih mending aku siram, dari pada aku hajar tadi? makanya jangan minum melulu, jadinya mabuk kan?"
🌺 Flashback On 🌺
Dimitri mendorong tubuh mungil Rania hingga membentur pintu, lalu dengan cepat meraup bibirnya yang menggoda. Memagutnya dengan rakus dan penuh hasrat seolah dia ingin menghabisinya saat itu juga.
"Dim, kamu mabuk?" gadis itu mendorong tubuhnya saat bau alkohol yang kuat menguar di indra penciumannya, namun Dimitri tak merespon.
Dia malah meraih pinggang Rania dan merapatkan tubuh mereka berdua. Mencumbu gadis itu dengan kasar dan dalam. Menyesap bibirnya dengan keras seolah dia ingin menelannya bulat-bulat.
Napasnya sudah memburu dan dadanya berdegup kencang. Pandangannya sudah berkabut tertutup hasrat, menatap Rania di hadapannya seperti seekor singa yang hampir menerkam mangsa.
"Mmm... Dim! kamu nggak sadar." ucap Rania lagi, dan dia berusaha melepaskan diri. Walau sempat terlena dan terbawa suasana.
"I want you." bisik pria itu, yang kemudian mengangkat tubuh Rania dengan mudah dan membawanya kedalam kamar. Tanpa melepaskan cumbuan yang semakin dalam.
Lalu dia merebahkan Rania diatas tempat tidurnya. Seraya melepaskan jas dan kemejanya satu persatu. Hasratnya sudah di ubun-ubun dan gairah sudah menguasai dirinya sejak pertama kali dia menatap gadis itu berdiri di depan lift.
Rania bangkit lalu mundur dan Dimitri mengikutinya. Hingga gadis itu membentur pintu kamar mandi, dan Dimitri kembali mendapatkannya. Mereka kembali bercumbu dan dengan perlahan Rania terdorong kedalam kamar mandi. Yang kemudian segera mendapatkan ide yang sangat brilian untuk menyadarkan pria itu.
🌺 Flashback Off 🌺
"Ah, ... gara-gara mandiin kamu jadi laper kan? mana belum makan lagi dari tadi." Rania meraih bungkus diatas meja.
"Apa itu?" Dimitri mencondongkan tubuhnya.
Dua porsi ricebowl berisi nasi, ayam asam manis dengan capcai yang sudah dingin.
"Kamu mau makan itu?" tanya nya saat Rania meraup isinya dengan sendok plastik.
"Iyalah, laper." dia hampir saja menyuapkan makanan tersebut.
"Sudah dingin."
"Nggak apa-apa, asal parut keisi lah." jawab Rania.
"Kita pesan lagi." Dimitri menarik tangan Rania agar dia mengurungkan niatnya.
"Udah lewat tengah malam, Dim." gadis itu melirik jam digital diatas dekat tivi yang menyala. "Emang masih ada yang buka?"
"Kita coba." pria itu menyalakan ponselnya.
"Ah, kelamaan. Keburu lapar." Rania kembali meraup makanan tersebut, kemudian segera melahapnya dengan cepat.
"Duh? "
***
Satu box pizza, dan makanan cepat saji lainnya telah berpindah sebagian kedalam perut mereka, beberapa saat setelah kurir yang mengantarnya tiba. Menyisakan dua orang itu yang kini berusaha mati-matian untuk tetap terjaga.
"Kamu sudah ngantuk?" Dimitri meregangkan ototnya.
"Lumayan."
"Mau tidur di kamar?"
"Ogah."
"Sana, kalau mau dikamar. Aku disini."
"Nggak mau, nanti kamu nerkam aku."
"Nggak akan." Dimitri terkekeh.
"Dih, tadi lagi mabuk aja gitu apalagi sadar?"
"Tadi khilaf Ran."
"Iya, mesti disiram pakai air dingin baru sadar." Rania mendelik.
Dimitri tertawa.
"Kamu udah biasa gitu ya?"
"Apa?"
"Minum."
"Sedikit."
"Tapi telernya nggak lama. Setelah aku siram langsung sadar." gadis itu tertawa.
"Hmm.. sudah biasa."
"Setiap malam kamu kayak gini?"
"Ini baru lagi."
"Kenapa? gara-gara aku ya?"
"Kegeeran kamu."
"Oh, ... bukan ya? aku pikir gara-gara aku."
"Nggak. Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Kirain karena kamu marah karena masalah kemarin."
"Nggak ada hubungannya."
"Terus kenapa kamu nggak ada kabar? dua hari nggak nongol, padahal biasanya ada aja alesan biar kita ketemu. Ini tahu-tahu ngilang aja?"
"Aku sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Masa?"
"Iya."
"Kok sampai nggak ada kabar?"
"Iya, aku lupa. Saking buru-burunya mau selesai sampai-sampai aku lupa mengabari."
"Hmmm...
"Kan besok mau antar kamu ke Jakarta, jadi harus selesaikan pekerjaan disini dulu biar nggak repot."
"Gitu ya?"
"Hmm...
Lalu mereka sama-sama terdiam.
"Kamu yakin nggak mau tidur di kamar?" Dimitri meyakinkan.
"Nggak, disini aja."
"Baiklah." pria itu bangkit dan melenggang ke dekat lemari besar di sisi lain ruangan. Mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah tas berukuran ssdang, yang kemudian dia keluarkan isinya.
Sebuah kasur udara yang segera dia stel, dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit saja benda tersebut sudah terbentuk. Lalu dia meletakannya di depan televisi.
"Tidurlah disini biar badan kamu nggak sakit."
"Sejak kapan ada kasur ini?"
"Sejak kamu menginap teralhir kali, aku pikir butuh. Siapa tahu kamu nginep lagi. Tahunya benar kan?" Dimitri tertawa.
"Hmm...
"Cepat tidur." pria itupun mengambil beberapa bantal dan selimut dari kamarnya.
"Banyak amat." Rania turun dari sofa, lalu duduk di pinggiran kasur udara.
"Sepertinya aku juga mau tidur disini." Dimitri segera merebahkan dirinya disana.
"Apaan? katanya buat tidur aku?"
"Tapi sepertinya aku juga mau disini. Ayo cepat tidur." dia menepuk sisi kosong disampingnya.
"Tidur bareng gitu?"
"Iya."
"Ngggak mau, nanti kamu macem-macemin aku."
"Nggak akan. Cuma tidur."
"Kamu suka gitu."
"Kamu bisa hajar aku kalau gitu lagi."
Rania terdiam.
"Ayolah, cepat." dia kembali menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Awas ya, kalau kebanyakan modus!" akhirnya Raniapun merebahkan tubuhnya disamping pria itu. Sedangkan Dimitri hanya tersenyum.
Mereka terdiam untuk beberapa lama. Dimitri menatap televisi yang menayangkan berita tengah malam, sementara Rania melamun sambil menatap langit-langit yang ternyata atap diatas kepalanya terbuat dari kaca, hingga tampaklah pemandangan langit diluar sana.
"Dim?"
"Hum?"
"Kamu tadi habis ketemu siapa?"
"Klien."
"Sampai malem?"
"Nggak. Cuma sampai sore."
"Terus minum-minum sampai malam?"
"Sama teman."
"Teman?"
"Hmm...
"Iya."
"Nggak ada perempuannya?"
"Ada."
"Ada?" Rania sedikit terhenyak. Dia langsung teringat percakapan mereka lagi saat Dimitri dengan jujur mengatakan jika dirinya sering berkencan dengan perempuan-perempuan hingga berakhir di kamar hotel.
"Iya, ada. Yang disewa teman-teman aku."
Gadis itu semakin terhenyak.
"Ke hotel lagi?" Rania dengan polosnya.
"Nggak tahu, mungkin."
"Kok nggak tahu?"
"Ya, mereka mungkin ke hotel, kalau aku kan langsung pulang kesini. Kenapa?" Dimitri menoleh kesamping dimama Rania meringkuk di dalam selimut tebal miliknya.
"Aku kirain kamu ke hotel lagi."
"Kenapa Memangnya? cemburu ya?" pria itu tergelak.
"Boleh nggak kalau misalnya aku merasa cemburu?"
"Boleh. Kamu kan calon istri aku."
"Boleh aku nanya nggak?"
"Boleh. Tanya yang banyak."
"Sekarang masih?"
"Apa?"
"Ketemu perempuan gitu, terus kencan kayak yang pernah kamu bilang sampai ke hotel?"
"Nggak."
"Masa?"
"Serius. Kenapa kamu tanya itu?" Dimitri memiringkan tubuhnya hingga kini mereka berhadapan.
Rania menatap wajah pria itu untuk mencari kebohongan yang mungkin tengah dia sembunyikan.
"Kamu berubah pikiran setelah tahu aku seperti itu?"
"Anehnya nggak."
"Masa?"
"Iya. Aku malah jadinya pengen tahu."
"Tahu apa?"
"Kamu masih kayak gitu apa nggak?"
"Sudah aku bilang nggak kan?"
"Beneran?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Nggak tahu. Tiba-tiba saja mau berhenti."
"Sejak kapan?"
"Sejak ketemu kamu."
"Masa?"
"Iya. Sejak itu aku nggak bisa lagi."
"Nggak bisa apa?"
"Nggak bisa itu."
"Itu apa?" Rania mengerutkan dahi.
"Ya itu."
Rania terdiam dengan pikirannya yang menerawang entah kemana.
"Naga ajaibnya nggak bisa bangun kalau deket mereka." ucap Dimitri.
"Naga ajaib?"
"Ini." pria itu mengisyaratkan dengan tatapan mata yang dia tujukan ke area bawah perutnya.
"Ish, ... kamu mes*m!" Rania menepuk dada pria itu dengan keras saat mengerti apa maksudnya.
"Aduh! sakit Ran!" Dimitri menggenggam tangan gadis itu untuk menahan pukulannya.
"Habisnya kamu mes*m!!"
"Kan kamu yang tanya?"
Benar juga? batin Rania.
"Terus kenapa sampai nggak bisa bangun?" sekalian saja dia teruskan. Penasaran juga akhirnya.
"Nggak tahu, padahal mereka sudah telanjang, sudah menggoda. Dan aku juga sudah siap. Tapi dianya nggak mau bangun."
"Naga ajaib?"
"Hu'um." Dimitri mengangguk. "Tapi kalau di dekat kamu ..." dia menggantungkan kata-katanya.
"Apa?"
"Padahal cuma begini."
"Hum?"
Dimitri menarik selimut untuk menutupi tubuhnya ketika tiba-tiba saja alat tempurnya terasa mengeras.
"Kenapa?"
"Dingin, hehe." dia tertawa dengan canggung. Merasakan sesuatu yang juga bangkit bersamaan.
"Kamu sangat terbiasa begitu ya?"
"Be-begitulah."
"Apa semua orang diluar negeri memang selalu melakukan apa yang kamu lakukan?"
Percakapan ini semakin absurd saja, tapi tanggung juga kalau tidak diteruskan, rasa penasarannya malah menjadi ssmakin besar.
"Nggak juga. Hanya sebagian besar, dan aku mungkin termasuk di dalamnya. Mungkin karena pergaulan teman-teman aku yang gitu."
"Oh... temen-temen kamu gitu?"
"Iya. Dan bukan hanya diluar negri, di kita juga sebagian pergaulan sudah seperti itu kan?"
"Iya juga sih."
Lalu mereka terdiam lagi.
"Dim?" Rania kembali bicara saat pikirannya terus berputar-putar, sementara Dimitri mati-matian meredam naga ajaibnya yang semakin lama semakin mengeras hingga membuatnya merasa sesak.
"Ya?"
"Gimana rasanya... Mmm... itu?"
"Ap-apa?"
"Rasanya itu, melakukannya dengan lawan jenis?" Rania memperjelas pertanyaan.
Dimitri menelan ludahnya senga susah payah. Gadis ini mengapa bertanya soal itu? membuatnya merasa serba salah saja.
"Kamu bertanya soal itu seolah-olah mau melakukannya." jawab Dimitri.
"Cuma tanya, aku penasaran."
"Rasa penasaran bisa mebahayakam kamu tahu?"
"Heran aja, kenapa kamu bisa sampai gitu. Bukannya itu seharusnya dilakukan sama suami istri ya?"
"Sudah aku bilang, ini soal pergaulan."
Rania terdiam lagi.
"Dan nggak bisa aku jelaskan karena memang nggak bisa dijelaskan. Kecuali dengan melakukannya sendiri."
"Apa?" gadis itu bereaksi.
"Biasa aja reaksinya, nggak usah pakai siap-siap mau mukul. Kan kamu yang tanya, ya aku jawab."
"Mmm... hehe, kebiasaan."
"Jangan-jangan, nanti setelah kita menikah, reaksi kamu begitu di malam pertama. Mengerikan."
"Ya nggak lah."
"Masa?"
"Kan itu udah seharusnya?"
"Aku nggak yakin."
"Ya lihat aja nanti."
"Haih, ... absurd sekali obrolan kita ini ya?" Dimitri tertawa, berusaha mengalihkan pikirannya dari hal kotor yang saat ini terus menggodanya.
"Asli aku penasaran, gimana bisa kamu melakukan itu dengan orang lain."
"Aku juga penasaran, Kenapa bisa." dan mereka saling pandang untuk beberapa saat.
"Tidur Ran, jangan bicara terus."
"Hu'um, aku lagi mencoba ini."
"Aku duluan lah." Dimitri membalikan tubuhnya ke arah lain agar dia tak melihat wajah gadis itu, menghindari godaan berat ini yang susah payah dia lewati. Dia bahkan hampir berhasil meredam naga ajaibnya yang terbangun beberapa saat yang lalu.
Tapi godaan baginya ternyata belum usai, ketika tiba-tiba saja Rania memeluknya dari belakang, dan sebelah kaki gadis itu menindih tubuhnya. Dada kenyalnya yang hangat bahkan menempel erat di punggungnya.
"Eee... Ran?" tiba-tiba saja Dimitri merasa gugup. Dan dengan cepat naga ajaibnya pun bangkit lagi.
Astaga!!
"Rania, bisa di lepas tidak? aku ...
Namun terdengar dengkuran halus dari gadis itu. Rupanya dia sudah terlelap, dan dengan mudahnya dia tertidur begitu nyenyaknya.
"Rania?" Dimitri mencoba membangunkannya, namun gadis itu bergeming. Dia malah semakin terlelap begitu dalam.
"Ran?" sementara Dimitri putus asa, karena dia harus kembali berusaha menenangkan naga ajaibnya dengan susah payah.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
hari senin waktunya vote!!!