All About You

All About You
Hari SAH!!



🌹


🌹


Sofia memastikan penampilan putranya untuk ke sekian kalinya. Memeriksa jas, dasi, rambut dan sepatu. Tak ada satupun yang luput dari pemeriksaannya, sehingga dia yakin bahwa penampilan Dimitri sangat baik hari itu.


"Kamu sudah rapi, dan tampan." katanya, entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Aku tahu, mama sudah mengataka itu puluhan kali." sang putra tersenyum.


"Oh ya?"


"Iya."


"Baiklah, sepertinya mama lupa."


"Baik nak, apa kamu sudah siap?" Satria muncul kemudian.


"Ya pih."


"Dengar, setelah ini kamu akan bertanggung jawab atas kehidupan seseorang, jadilah tulang punggung yang kuat, sandaran yang kokoh, dan perlindungan tempat dia bernaung. Buat dirimu sangat layak mendapatkannya, agar orang tuanya tak kecewa karena telah menyerahkan putri mereka kepadamu." ucap Satria.


Dimitri menganggukan kepala.


"Dan selebihnya, Kamu tahu sendiri harus bagaimana." Satria tergelak sambil menepuk bahu putranya.


"Ya, baiklah, baik." Dimitripun ikut tertawa.


"Oh, ... anakku sayang." Sofia merangkul pundak putranya dengan erat. "Baru saja kamu lulus kuliah, dan hari ini kamu akan menikah." katanya.


"Semoga selalu bahagia, nak." dia mulai menangis.


"Oke Mom. Jangan menangis lagi, nanti make upnya luntur." Dimitri lekas memeluk ubunya.


"Ah, ... iya benar juga. Sudah tiga kali mama touch up gara-gara menangisimu." dia menyeka air mata dengan ujung jarinya. Kemudian mereka tertawa.


"Cepatlah anak nakal! jagan sia-siakan 14 jam penerbaganku dari Rusia dengan terlambat menghadiri pernikahanmu!" Nikolai berseru dari lantai satu, saat baru saja melihat cucu laki-laki pertamanya muncul.


"Hah, orang tua itu, bikin pagi yang biasanya tennang jadi ribut." gerutu Dimitri yang menuruni tangga bersama kedua orang tuanya.


Hari dan Lita sudah siap, begitu juga Arfan beserta anak istrinya. Amara bahkan berdandan sebaik mungkin mengenakan pakaian seragam dengan ibu dan nenek sambungnya. Tak lupa juga dengan anak-anak yang mengenakan seragam yang senada.


Dimitri tersenyum kepadanya, dan dia membalas dengan senyum yang sama.


"Mas kawinnya?" Dimitri menoleh kepada Satria.


"Sudah dalam perjalanan bersama Andra."


"Oke."


Kemudian mereka bergegas menuju ke hotel tempat diadakannya acara pernikahan.


🌹


🌹


Angga benar-benar tak dapat menyembunyikan perasaannya. Tangisnya tiba-tiba saja pecah begitu sang pengantin perempuan selesai di dandani.


Beberapa orang harus menenangkannya sepanjang perjalanan dari rumah hingga ke hotel hingga tangisnya berhenti dengan sendirinya.


Semua orang telah menunggu, dan perhatian tentu saja tertuju pada mempelai yang baru saja tiba. Rania yang mengenakan kebaya semi modern berwarna putih gading, dan kain batik sebagai bawahannya, dengan riasan pengantin sunda pada umumnya. Untaian bunga melati menghiasi sanggul dan siger sebagai pelengkapnya.


Dia berjalan bersama sang ayah yang tak melepaskan genggaman tangannya sedikitpun.


Dan disanalah dia, Dimitri dengan penampilan terbaiknya, menunggu di depan sudah siap bersama Satria, Arfan dan penghulu. Menatap berdebar ke arah gadis yang sebentar lagi akan berubah status menjadi istrinya. Dadanya berdegup kencang, dan hatinya meletup-letup bahagia. Dia tersenyum.


Begitupun Rania. Yang berusaha setenang mungkin. Dia sangat gugup, hingga merasa ingin muntah, tapi dia berusa untuk tetap menguasai diri. Menguatkan diri dengan genggaman erat sang ayah.


Angga mengantarkannya hingga ke depan, diikuti beberapa orang anggota keluarga. Raja, dan Sagara, juga Galang, yang membelalakan matanya saat pandangannya menemukan wajah yang sangat di kenalnya diantara tamu yang hadir.


Amara, yang juga sama terkejutnya seperti dirinya.


"Setelah ini, dia akan jadi tanggung jawabmu. Saya harap kamu menjaganya lebih baik." ucap Angga sambil menyerahkan tangan putrinya kepada Dimitri.


Pria itu mengangguk, kemudian meraih tangan Rania dan menuntunnya untuk duduk di sampingnya.


"Kamu cantik sekali." pria itu berbisik, yang hanya di jawab dengan senyuman oleh gadis itu.


Tidak banyak prosesi ataupum basa-basi, hanya sedikit pidato dan doa-doa dari penghulu, yang berlangsung tidak terlalu lama. Sekedar memberi wejangan dan pengarahan kepada kedua mempelai untuk mampu menjalani hari-hari pernikahan mereka dengan baik.


"Maaf, sebelumnya. Mas kawinnya berupa apa?" sang penghulu bertanya.


"Sebentar." ucap Satria, lalu melakukan panggilan telfon kepada nomor ponsel Andra.


Dan beberapa menit berikutnya terdengar raungan mesin yang mendekat diluar hotel. Semua orang kembali memalingkan perhatian, dan tak ada satupun dari mereka yang tidak terkejut.


Sebuah mobil sport keluaran terbaru tiba, dan terparkir manis di depan gedung hotel sebelum akad berlangsung. Bugatti Chiron berwarna merah seperti yang diinginkan Rania.


"Apa?" Rania menatap tidak percaya, lalu menoleh kepada calon suaminya yang hanya tersenyum dalam diam.


Andra masuk kedalam ruang resepsi dengan langkah tenang, kemudian meletakan kunci mobil diatas meja.


"Akadnya bisa dimulai pak." Katanya, yang kemudian mundur ke dekat Angga, sahabatanya.


***


"Dimitri Alexei Nikolai, saya Nikahkan Dan kawinkan engkau dengan putri saya, " suara Angga tercekat, lalu dia menarik napas panjang untuk menetralisir sesak di dada. "Rania Khaira Yudistira Binti Anggara Yudistira dengan mas kawin satu unit Bugatti Chiron, tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Khaira Yudistira Binti Baoak Anggara Yudistira dengan mas kawin tersebut, tu-nai." ucap Dimitri dengan lancar dan lantang.


"Saksi sah?"


"SAH!!!" kemudian semua orang bersorak dan bertepuk tangan, merasakan kebahagiaan yang sama dengan pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri.


🌹


🌹


Semua prosesei utama dijalani dengan baik, termasuk acara sungkeman yang mengharu biru. Terutama untuk Angga yang lagi-lagi harus beberapa kali ditenangkan oleh Maharani. Menyadari kini tanggung jawabnya terhadap anak sulung mereka telah benar-benar lepas.


Mau tidak mau, rela tidak rela, dia harus melepaskannya. Karena memang sudah seharusnya.


"Kami dengar pertemuan anda berdua sangat unik?" seorang wartawan bertanya, saat sesi wawancara yang mereka minta. Pernikahan tersebut tentu saja menyita perhatian mengingat posisi Dimitri sebagai pewaris Nikolai Grup selanjutnya, dan Rania sebagai pembalap nasional yang sedang naik daun.


"Ya, itu cukup aneh." jawab Dimitri, dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya, berkali-kali melirik ke arah Rania untuk memastikan keadaannya.


"Bisa di ceritakan sedikit?" tanya wartawan lainnya.


"Well, ... itu hanya peristiwa lalu lintas biasa dijalan, saat kami hampir saja bertabrakan." Dimitri mengingat saat-saat pertama kali mereka bertemu.


"Setelah itu?"


"Selanjutnya?"


"Ya, ... semuanya mengalir begitu saja. Sampai hari ini terjadi."


"Apa pernikahan ini ada hubungannya juga sengan balapan?" reporter lain melontarkan pertanyaan lagi.


"Maksud anda?"


"Untuk mengamankan posisi Rania sebagai pembalap, dan mengikatnya untuk tetap di Nikolai Otomotif?"


"Sebenarnya tidak ada hubungannya juga, tapi jika anda berasumsi seperti itu ya, ... wajar. Tapi saya tegaskan tidak."


"Baik, wawancaranya cukup." Andra maju untuk mengakhiri sesi tersebut.


🌹


🌹


"Kak Galang?"


"Ara?"


Keduanya bertemu saat Galang turun dari panggung pelaminan setelah mengikuti sesi foto bersama pengantin, juga berpamitan kepada Rania karena harus menghadiri final turnamennya.


"Kayaknya kita di pernikahan yang sama deh?" ucap Galang, yang berjalan menghampiri. Entah mengapa tiba-tiba saja dirinya merasa lega. Mengetahui ada teman senasib yang hadir di acara tersebut.


"Jadi Dimitri itu Om kamu?"


"Iya. Dan Rania itu temen kakak?"


"Hmmm..." Galang menganggukan kepala.


Mereka sama-sama terdiam, namun kemudian tertawa bersamaan.


"Lucu ya kita?" mereka menjauh dari hinga bingar pesta, yang semakin lama semakin ramai oleh tamu undangan dari kedua belah pihak. Ditambah musik yang menggema mengiringi pesta hari itu.


"Iya."


"Setelah ini semakin yakin, kalau kita juga harus berusaha untuk bahagia." lanjut Galang.


"Hmm...


"Kamu baik-baik aja?" dia menatap wajah Amara.


"Iya kak."


"Bagus deh."


"Kakak sendiri gimana?"


"Harus baik."


"Bener."


"Oh iya, aku udah pamit sama Rania, harus pergi sekarang." Galang melihat jam di layar ponselnya.


"Mau kemana?"


"Final turnamen."


"Turnamen apa?"


"Moto cross."


"Dimana?"


"Cikole."


"Sekarang?"


"Iya."


"Kakak masuk final? kok aku nggak tahu?"


"Ya emang aku nggak ngomong."


"Dan Sekarang mau pergi?"


"Iya. Duluan ya?" pemuda itu menjauh.


"Aku ikut boleh?" Amara berlari mengejarnya.


"Ap-apa?"


"Aku mau ikut kakak boleh?"


"Tapi acaranya belum selesai."


"Aku mau pergi."


Galang terdiam.


"Please, aku mau pergi. Aku ikut." Amara dengan matanya yang berkaca-kaca, membuat pemuda di depannya merasa tidak tega.


"Orang tua kamu bakal ngijinin nggak?"


"Mereka lagi sibuk. Nggak akan sempat mikirin aku."


"Tapi...


"Aku mohon!" gadis itu menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.


"Ara, .. ini


"Please, aku nggak akan ganggu. Aku pasti diem aja di bangku penonton. Aku nggak akan nyusahin kakak. Please." katanya lagi.


"Ck! yaudah. ..ayo cepet." pemuda itu akhirnya mengalah juga.


🌹


🌹


🌹


Bersambung


hehe, Mudah-mudahan bisa up satu lagi tapi kirim hadiahnya dulu yang banyak. oke?


😘😘