All About You

All About You
Bandung, I'm In Love



🌹


🌹


"Kamu serius mau membiarkan Dimitri memegang cabang di Bandung?" Sofia menggerakan kakinya di treadmill yang kecepatannya diatur dalam mode pelan.


"Yakin. Biarkan dia belajar disana." sementara Satria tengah latihan angkat beban di dekatnya.


"Kalau gagal bagaimana? baru saja beberapa bulan bekerja dia sudah diserahi jabatan kepala cabang? Lebih baik disini saja, dia Arfan didik sekaligus bisa tetap kita awasi. Aku khawatir dia akan lebih bebas kalau di Bandung."


"Tidak akan. Kalaupun ada masalah semuanya bisa diselesaikan. Ingat, kita punya Arfan dan Andra yang akan membereskan masalah apapun dengan cepat."


"Hmm... aku hanya khawatir."


Pria itu meletakan peralatan olah raganya, kemudian bangkit.


"Dimitri sudah dewasa. Sudah saatnya dia belajar menangani masalahnya sendiri. Entah hasilnya akan gagal atau berhasil, tapi dia harus melakukan dengan caranya sendiri."


Sofia menghela napas pelan.


"Lagi pula siapa bilang aku akan melepaskan pengawasanku kepadanya?"


"Kamu akan selalu mengawasinya?"


"Tentu saja, dia anakku."


"Lalu kenapa kamu membiarkan dia dengan gadis dari Moscow itu? bukankah itu berbahaya? baru membayangkannya saja aku sudah ngeri." dia mematikan treadmillnya.


"Haihh, ... pergaulan anakku sudah sejauh itu. Bagaimana jika gadis itu hamil?"


"Ya kita Nikahkan mereka."


"Apa?"


Satria tertawa.


"Aku tidak mau!!!"


"Kenapa? apa karena dia seorang DJ? kamu menganggapnya tidak baik untuk anakmu?"


"Bukan begitu sayang, tidak ada hubungannya dengan profesi apapun. Haya saja.... " Sofia berpikir keras.


"Nanti aku akn berpisah lagi dengan Putraku. Dia kan mengikuti istrinya tinggal diluar negeri, dan kita akan berjauhan dengannya." katanya dengan raut sendu.


Satria tergelak.


"ish, ... mantang-mentang anakmu banyak kamu tidak sekhawatir aku ya?"


"Kamu ngawur. Rasa sayangku kepada mereka sama saja, begitu pula kekhawatiranku. Hanya saja kita tidak bisa terus mengikat agar mereka terus berada di dekat kita. Suatu hari mereka akan pergi untuk menjalani kehidupannya, begitupun kita. Cepat atau lambat kita semua akan berpisah, masalahnya hanyalah waktu."


Sofia terdiam lagi.


"Lagi pula... sepertinya sebentar lagi kita akan punya menantu."


"Benarkah?"


"Kamu tidak lihat Dimitri akhir-akhir ini?"


"Dia memang agak berbeda. Sudah jarang keluar malam kecuali malam minggu saja, dan sepertinya lebih bersemangat."


"itu maksudku."


"Apa dia punya pacar?"


"Aku rasa belum."


"Terus kenapa kamu katakan kalau kita akan segera punya menantu?"


Satria tersenyum.


"Jangan-jangan kamu tahu sesuatu yang tidak aku tahu?" Sofia turun dari treadmill.


"Begitulah, ..." Satria tak tahan untuk tidak tertawa.


"Apa?"


"Kemungkinan saat ini dia sedang mengejar seorang gadis."


"Benarkah? siapa?"


"Gadis pembalap itu."


"Rania?"


"Iya."


"Kamu yang membuka jalan untuk Dimitri agar dia mau bekerja di Bandung?"


"Tepat sekali. Apa kamu setuju?"


"Apa Rania anak baik?"


"Baik, selain dia suka balapan dan hal-hal otomotif lainnya, dia baik."


"Hmm... gadis yang unik."


"Apa kamu setuju?"


Sofia diam untuk berpikir.


"Kamu tidak setuju?" ucap Satria, dia menunggu reaksi sang istri.


"Apa mereka tidak bertolak belakang? Dimitri suka pesta, musik, dan mengerjakan bisnis keluarga, sementara Rania... pembalap? mereka jauh sekali."


"Apa itu masalah untukmu?"


"Sama sekai tidak."


"Lalu?"


"Aku hanya berpikir, banyak sekali perbedaan diantara mereka. Apakah ini akan berhasil?"


"Berhasil atau tidak itu urusan nanti, yang penting dia menjalani."


"Kalau begitu kenapa kita tidak sekalian saja menjodohkan mereka? kan itu lebih bagus."


"Jangan." tukas Satria.


"Kenapa? kan lebih gampang. Jodohkan, tunangan, atau langsung nikahkan. Kan lebih aman."


"Tidak,... " pria itu menggelengkan kepala. "Kita biarkan mereka saling mengenal secara alami. Saling memahami sesuai porsinya, dan saling mengerti sesuai jalannya. Aku hanya akan membukakan jalan, selebihnya biar dia yang melakukannya sendiri."


"Kalau dalam perjalanan itu ternyata mereka tidak cocok?"


"Berarti tidak jodoh. Tidak apa-apa, yang penting tidak ada yang merasa dipaksa."


"Mmm... pintar sekali kamu ya? memang paling mengerti anak-anakmu." Sofia duduk dipangkuan Satria, lalu memeluknya dengan penuh perasaan.


"Tentu saja,... " pria itu dengan bangganya.


"Yeah papa bear, ... kamu memang yang terbaik." Sofia membingkai wajah suaminya, lalu mengecupinya sehingga tak ada satu sentipun yang dia lewati, membuat wajah pria itu merona seketika. Dan terakhir dia mendaratkan bibir merahnya pada bibir Satria yang tengah tersenyum bahagia karena selalu mendapat perlakuan istimewa seperti itu dari istrinya.


"Sepertinya aku harus mulai memikirkan konsep pernikahan." Sofia bangkit dan turun dari pangkuan suaminya.


"Kamu mau kemana?"


"Mandi. Apa lagi? Badanku sudah lengket karena keringat." perempuan itu berjalan ke kamar mandi.


Satria menyeringai, sebuah ide baru saja melintas di kepalanya. Kemudian diapun bangkit dan mengikuti langkah sang istri.


🌹


🌹


"Sudah semuanya sayang?" Sofia memeriksa keadaan sang putra yang sebentar lagi akan segera pergi. Beberapa barang sudah dimasukan kedalam kendaraan itu sejak pagi, dan anak itu bahkan mengerjakannya sendiri.


"Sudah Mom." Dimitri menutup bagasi belakang dimana beberpa tas dia letakan.


"Kamu yakin tidak akan tinggal di tempat abah? rumah itu lumayan besar untuk kamu tinggali."


"Terlalu jauh ke kantor Mom. Tahu sendiri Bandung macetnya kayak apa."


"Iya sih, tapi kan disana lebih aman."


"Di Landmark juga aman, kalau nggak aman sudah papi ratakan dengan tanah." Dimitri tergelak.


"Haha, ... iya juga."


Sang putra tersenyum.


"Mama akan kangen sekali dengan senyuman ini." Sofia mengusap pipi sang putra. "Dan rengekanmu ketika meminta makanan, juga suara berisikmu saat menonton tivi."


"Hanya Bandung Mom. Cuma dua jam dari sini, Mama bisa berkunjung kapan saja."


"Tetap saja... " Sofia menghambur ke pelukan Dimitri. Melingkarkan kedua tangannya di tubuh tinggi sang putra, seolah dia akan pergi sangat jauh dan tak bisa dia temui lagi.


"Moscow bahkan lebih jauh dari sini Mom." Dimitri menepuk-nepuk punggung ibunya, dan dia sedikit terkekeh. Karena perempuan ini terkadang bertingkah manja seperti anak kecil kepadanya.


"Tapi kenapa rasanya beda ya?"


"Tidak tahu."


Sofia melepaskan rangkulannya.


"Berjanjilah kamu akan baik-baik saja disana, jangan berbuat yang aneh dan berbahaya."


"Aneh dan berbahaya apanya? aku ini pergi bekerja untuk memimpin perusahaan papi bukan pergi berperang." pemuda itu tergelak.


"Mama merasa kamu akan pergi ke tempat berbahaya, sayang."


"Iya Mom."


"Kamu siap pergi?" Satria muncul setelah membiarkan istrinya puas mengucap perpisahan kepada putra mereka.


"Sudah pih."


"Hati-hati disana."


"Yeah, ... aku akan ingat itu. Tapi tidak usah terlalu khawatir juga, suruhan papi pasti sudah membuat semuanya aman kan?" Dimitri menyindir.


Satria hanya tersenyum.


"Baiklah, aku pergi dulu agar bisa mempersiapkan untuk hari pertama kerja besok."


"Baiklah nak."


"Bye Mom, bye Pih." Dimitri memcium pipi sang ibu, dan memeluk ayahnya.


"Ya sayang, hati-hati."


"Oke. Ya khozhu.( aku pergi)" katanya, dan dia masuk kedalam mobil kemudian pergi.


"Dia akan baik-baik saja." Satria merangkul pundak istrinya, sekedar untuk membuatnya merasa tenang.


"Aku tahu."


"Ya sudah." Satria menariknya masuk kedalam rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dimitri menyesal kenapa dirinya pergi terburu-buru, tanpa memeriksa keadaan mobil dan bahan bakarnya.


Ya, dia terpaksa harus berhenti di tengah jalan karena bahan bakar mobilnya habis, belum lagi ban depan yang tiba-tiba saja kempes sejak pertamakali memasuki kota Bandung. Sedangkan untuk mencapai pom bensin dan bengkel terdekat harus menempuh sejauh satu kilo meter lagi. Dia lupa, dan lagi tak terbiasa memikirkan hal semacam itu, karena biasanya sebanyak dua hari sekali tangki bensinnya selalu dipenuhi oleh sopir Sang Ibu. Begitu juga masalah mesin dan tektek bengek lainnya.


Dimitri bersandar pada body mobil, lalu menyalakan ponselnya untuk memesan taksi online, dan pada saat yang bersamaan sebuah motor melintas di depannya.


Si pengendara menghentikan laju motornya beberapa meter di depan, kemudian membuka kaca helm lalu menoleh, dan dia mengenali sosok itu. Yang tampak mencolok di tengah lalu lintas padat pada hampir siang itu.


Dia memutuskan untuk menepi, dan turun dari motornya.


"Pak Dimi?" suara itu menginterupsi perhatian Dimitri dari layar ponselnya. Dia menoleh, dan seketika pandangannya terkunci pada sosok yang berjalan ke arahnya.


Dimitri menahan napasnya sebentar, dan dia berusaha untuk tak bersikap konyol di depan gadis itu, yang tentu saja membuatnya merasa kegirangan karena berjumpa di saat dan tempat yang tidak di duga.


"Bapak lagi apa?" gadis itu bertanya setelah jarak mereka cukup dekat.


"Mm... itu... mobil saya... mogok." Dimitri terbata, tiba-tiba saja kepalanya terasa kosong.


"Mogok?"


Pria itu mengangguk seperti orang bodoh.


"Mesinnnya mati?"


Dimitri menggeleng.


"Terus apanya?"


"Bahan bakarnya."


Rania mengerutkan dahi.


"Bensinnya habis?"


"I-iya." jawab Dimitri, pendek.


"Mau saya belikan bensin? pom agak jauh dari sini." tawar Rania.


"Ng ... bannya juga bocor." lanjut pria itu, dan pandangannya belum dia alihkan dari wajah Rania.


"Apa?" gadis itu menatap mobil mewah berwarna hitam di belakang Dimtri.


"Mobil bagus tapi ban nya bocor? anehnya.... " gumam Rania sambik tertawa.


"Tidak ada hubungannya tahu!"


"Hah, ... nggak sesuai sama speknya." gadis itu mencibir.


"Jalannya yang jelek." tukas Dimitri, saat pikirannya terasa sudah kembali normal.


"Ngeles, ..." Rania meletakan helm Di bagian depan mobil kemudian berjongkok untuk melihat ban yang ditunjuk oleh pemiliknya.


"Ah, ... kena ranjau paku, Pak." dia menunjuk permukaan ban, dimana beberapa buah paku menancap kuat.


"Aish... mudak!! ( brengsek!)" umpatnya, saat dia melihat hal tersebut.


Rania tertawa.


"Kamu menertawakan saya ya?"


"Bapak lucu kalau lagi ngomel." keluhnya, dan dia tidak bisa berhenti, namun membuat Dimitri terdiam.


"Oh iya, bapak mau kemana dan dari mana?" Rania bertanya.


"Saya dari Jakarta mau ke Landmark."


"Landmark?"


"Iya."


"Ada kerjaan disana?"


Dimitri menggelengkan kepala.


"Terus?"


"Cuma tempat tinggal."


"Oh, ..." mulut gadis itu membulat.


"Saya... pindah kerja kesini lho." dia tiba-tiba mengatakan hal tersebut.


"Oh ya? bagus dong?"


"Ba-bagus?"


"Iya bagus, nambah padat kota Bandung." gadis itu terkikik.


"Hmm...


"Terus rencana bapak apa?"


"Hum?"


"Rencana bapak setelah ini apa? udah nelfon tukang derek?"


"Derek?"


"Iya, gimana bapak mindahin mobilnya dalam keadaan kayak gini? nggak mungkin didorong sendiri kan?"


"Oh iya."


"Makanya."


"Kamu tahu bengkel terdekat dari sini?" Dimitri merasa sebuah jalan terbuka baginya.


"Tahu."


"Dimana?"


"Bengkel papa saya. Baru aja saya mau kesana."


"Oh ya?"


"Hmm... mau saya telfonkan tukang derek dari bengkel papa saya?"


"Bo-boleh... " pria itu merasa ada ribuan kupu-kupu bergerak di dalam perutnya, dan itu rasanya menyenangkan.


"Baiklah." Rania merogoh ponsel dari saku jaketnya, kemudian segera melakukan panggilan telfon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bapak mau ikut ke bengkel apa gimana?" Rania bertanya lagi, sebelum mobil pemuda itu ditarik oleh mobil derek dari bengkel Angga.


"Mm... sepertinya ke bengkel."


"Ya udah, ..." gadis itu meraih helm dan bermaksud menghampiri motornya ketika Dimitri bertanya lagi.


"Kamu sendiri mau kemana?"


"Ke bengkel."


"Terus saya?" Dimitri menunjuk wajahnya sendiri.


"Maksudnya?"


"Bagaimana saya pergi ke bengkel? naik mobil tidak mungkin. taksi online juga dari tadi tidak ada yang merespon. Jalan ini macet parah." Dimitri dengan ide konyolnya.


"Hmmm..." Rania menghembuskan napas sambil mengerucutkan mulutnya.


"Bapak ikut saya deh. Emang susah dapat ojol kalau lagi macet gini." akhirnya gadis itu menawarkan bantuannya.


Seketika pemuda itu merasa dadanya bagai bergemuruh, kembang api dan ribuan petasan seperti meledak serentak dihatinya. Dan sorakan kegembiraan menggema dikepalanya.


"A-apa bisa?" Dimitri terbata.


"Bisalah, apa yang saya nggak bisa?" Rania dengan entengnya.


Gadis itu mengenakan helm dan menaiki CBR merahnya, kemudian menghidupkan mesin motornya.


"Pak! cepetan naik, mobilnya udah duluan pergi lho!" Rania mengingatkan.


Dengan ragu-ragu namun perasaan riang, Dimitri mengikuti gadis itu menaiki motornya. Dia duduk di belakang dengan posisi sedikit lebih tinggi dari Rania.


"Aneh sekali aku dibonceng perempuan?" pria iti bergumam.


"Bapak mau bawa motornya sendiri dan saya yang dilonceng gitu?" Rania bereaksi.


"Memangnya boleh?"


"Bapak tahu dimana bengkel papa saya?"


"Tidak."


"Ya udah, kenapa nggak diem aja sih terserah saya? jangan ngomel melulu."


Pria itu menutup mulutnya rapat-rapat.


"Pegangan pak."


"Apa?" Dimitri menundukan kepalanya.


"Pegangan karena kita akan jalan cepat." Rania melepaskan remnya.


"Maksudnya pegang.... Aaaaaa RANIAAAA!!!" belum sempat pria itu berpegangan, Rania sudah memutar gas dan melajukan motornya dengan kencang.


Bersamaan dengan lalu lintas yang berangsur lancar, mereka bisa menyelinap diantara kendaraan lainnya. Salip kanan, salip kiri, lalu menyelinap diantara bus-bis maupun truk yang sama-sama melintas. Melewati jalan-jalan utama di kota itu, yang dalam waktu beberapa menit saja mereka sudah tiba di depan sebuah bengkel yang cukup terkenal di kota Bandung.


ANGGARA MOTOR.


"Sampaiiiii." Rania sedikit berteriak, setelah beberapa kali bicara, namun pria di belakang masih betah memeluk tubuhnya.


"Ngg... " Dimitri mengangkat kepala, setelah hampir bersembunyi di belakang punggung Rania selama perjalanan beberapa menit itu.


"Bapak nggak mau turun?" tanyanya, setelah dia melepas helmnya.


"Turun pak, sebelum papa saya datang dan mukulin bapak." katanya, dan dia mengedarkan pandangan kedalam bengkel milik sang ayah.


"Mmm... " Dimitri menurut.


Rania memarkirkan motornya di sisi lain bengkel.


"Ran, mobil si Anne tuh ngadat lagi." seorang pegawai datang menghampiri.


"Si Anne? masih berani dia kesini?" Angga muncul dari dalam.


"Udah Pah, ... apanya yang ngadat?"


"Mesinnnya, biasa."


"Masih mau kamu kerjain? kalau papa sih nggak." Angga berucap.


"Masih... " Rania melepaskan jaket kulitnya dan menyampirkannya diatas motor. Memamerkan tubuh mungilnya dibaik kaus ketat berwarna putih itu.


"Serius? dia udah manfaatin kamu loh." Angga mengingatkan kejadian beberapa minggu yang lalu, yang sempat membuat putrinya merasa kecewa.


"Nggak apa-apa, Itumah hal kecil." ucap Rania sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dan dia segera mengerjakan apa yang sejak tadi menunggunya.


Yang membuat seorang pria yang baru saja tiba bersamanya kembali merasakan kekaguman atas dirinya.


Ya dumayu, ya vlyubilsya


(sepertinya aku jatuh cinta.)


Batinnya, dan dia tak mampu mengelak lagi.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


acie cieeeeeeeeee... 😂😂😂


demi cintaku kepada kalian, aku kirim lagi satu episode. semoga kalian bahagia.


jangan lupa like terus, komen terus, dan kasih hadiah terus biar novel ini naik terus.


lope lope sa Bandungeun 😘😘😘