
*
*
"Dari kemarin Mama mau tanya, tapi lupa terus." Sofia mengalihkan perhatiannya begitu Rania turun dari kamarnya di lantai dua.
"Tanya apa?" Sang menantu segera menghampiri.
"Soal itu ... umm ... apa kamu sudah pakai kab lagi? ini kan sudah lima puluh hari. Hampir dua bulan kan?" Sofia menjelaskan maksudnya.
"Oh, ... soal itu? Udah Ma, minggu kemarin." Rania menjawab.
"Benarkah?"
Sang menantu menganggukkan kepala.
"Kapan?"
"Minggu kemarin."
"Mama tidak tahu?"
"Iya, sekalian waktu nemenin Dimitri lihat hotel." Rania mengingatkan.
"Oh, ... minggu lalu ya?"
Rania mengangguk lagi.
"Baiklah, itu bagus." Sofia kemudian tertawa.
"Kalau mau tambah anak sebaiknya nanti ya, tunggu si kembar agak besar dulu. Bukan apa-apa, Mama hanya ingin mengurus mereka sampai bisa mandiri. Bisa saja kita sewa pengasuh lagi, tapi keadaannya tidak akan se kondusif sekarang. Di tambah kamu juga masih mau balapan kan?" Sang mertua pun berbicara.
"Hah?"
"Mama tidak akan menghalangi kalau misal kalian mau punya anak lagi, tapi setidaknya tunggu Anya dan Zenya sedikit lebih besar ya?" Sofia dengan ragu-ragu. Dia takut perkataannya akan menyinggung perasaan Rania.
"Mama ngomong apa sih? Baru aja lahiran masa mau punya anak lagi? Kasihan lah."
"Umm ...."
"Maksudnya kasihan Mama sama Papi nanti ngasuh mereka gimana? Emangnya sanggup?" Rania tertawa.
"Soal itu ...."
"Dimitri sih kayaknya sanggup kalau bayar empat pengasuh lagi juga. Tapi kami nggak bisa dengan gampang percaya sama orang asing. Tetep harus di awasi sama keluarga. Mama tahu sendiri kayaknya gimana zaman sekarang kan?"
"Nah pertanyaannya, Mama sanggup nggak mengawasi lebih banyak orang di rumah ini? Kalau aku sih nggak tega. Megang Anya sama Zenya aja repot, apalagi tambah. Nggak kebayang." Rania bergidik.
"Nah itu maksud Mama." Sofia pun tertawa.
"Nggak dulu deh Ma. Dua anak kayaknya cukup. Aku kan masih mau balapan, sayang kalau berhenti terus. Nggak ada gunanya dong latihan sama sponsornya kalau gitu terus."
"Iya iya, tadinya Mama hanya mengingatkan. Tapi ternyata kalian sudah mengerti soal itu."
"Hmm ... aku juga mikir ke arah sana. Harus beresin urusannya satu-satu biar nggak beban ke akunya. Dan untuk sekarang, si kembar sama balapan dulu yang jadi prioritas. Yang lainnya nanti lah." Mereka duduk di ruang tengah.
Sementara dua bayi yang mereka bicarakan tetap terlelap di boxnya di sisi lain ruangan.
"Kamu mulai balapan lagi kapan?" Sofia menyesap tehnya yang sudah di siapkan sejak beberapa saat yang lalu.
"Enam bulan lagi, masih lama."
"Masih ada waktu ya?"
"Iya lah."
"Jadi, boleh kalau Mama membawa Anya dan Zenya untuk pemotretan?"
"Pemotretan?" Rania mengerutkan dahi.
"Oh, Dimitri belum bercerita ya? Soal Anya dan Zenya yang akan Mama jadikan model?"
"Model?"
"Iya."
"Model apa?"
"Ya pakaian bayi lah. Merk baru A&Z Clothes."
"Hah?"
"Baju khusus bayi dan balita."
"Aku kok nggak tahu kalau Mama udah bikin merk itu?"
"Kan memang rencananya sudah dari sejak kamu hamil. Berhubung Anya dan Zenya sudah lahir, brandingnya mau Mama mulai sekarang. Sekaligus peluncurannya setelah pembukaan hotel."
"Begitu ya?"
"Jadi, apa boleh Mama bawa si kembar?"
"Di bawa ke mana?" Dimitri muncul dari ruang kerjanya.
"Pemotretan, ingat?"
"Mm ...." Pria itu pun mengangguk.
"Kamu juga lupa untuk membicarakannya dengan Rania?"
"Hmm ... aku lupa Mom."
"Pantas."
"Apa boleh Zai?" Lalu Dimitri beralih kepada istrinya.
"Cuma pemotreran kan? Nggak yang lain-lain?" Rania bertanya terlebih dahulu.
"Tidak, hanya pemotretan beberapa macam pakaian, setelah itu pulang." Sofia menjawab.
Rania terdiam untuk berpikir.
"Atau tidak boleh? Ya tidak apa-apa kalau kamu belum mau mengizinkan. Soal itu bisa kita tunda sampai Anya dan Zenya besar."
"Umm ... mereka di bayar?" Sang menantu kemudian bertanya.
"Jelas di bayar. Ini kan masuk ke dalam Merk di Fia's Secret." Sofia kembali menjawab.
"Berapa banyak?" Rania dengan kepenasarannya.
"Cukuplah, untuk bayi keluarga Nikolai. Di tambah endorse pakaian sampai beberapa tahun ke depan."
"Serius?"
"Iya, Mama membayar meraka sama seperti model dewasa lainnya lho." Sofia masih berusaha membujuk.
"Beneran?"
"Iya."
"Sebentar ...." Rania kembali berpikir.
"Sayang kita berangkat untuk pembukaan hotel jam berapa?" Rania beralih kepada suaminya.
"Nanti lewat tengah hari, sekitar tiga jam-an lagi." Dimitri sambil melihat jam tangannya.
"Oke kalau gitu, deal." Lalu Rania kembali kepada ibu mertunya.
"Benarkah?" Sofia tertawa pelan.
"Iya, tapi pemotretannya di sini aja lah, jangan dibawa ke luar."
"Itu bisa di atur," ucap Sofia.
"Terus kontraknya?"
"Kontrak apa?"
"Ya kontrak kerja. Mama bilang mau membayar Anya sama Zenya kayak model dewasa juga. Itu berarti mereka kerja sebagai profesional kan?"
"Ee ... iya, seperti itu."
"Jadi kontraknya harus profesional juga dong?"
Dimitri tertawa.
"Soal itu nanti aku urus Zai." Kemudian dia berujar.
"Beneran?"
"Iya."
"Perhitungan sekali kamu sekarang?" Sofia bereaksi kepada menantunya.
"Mama tidak tahu saja. Sejak dia memegang penghasilannya sendiri, apa-apa sekarang dihitung."
"Benarkah?"
"Apalagi soal pemasukkan."
"Hmm ... ya bagus. Artinya dia punya rencana. Jangan sampai kecolongan." Sofia memperingatkan.
"Kecolongan apa?" Dimitri tergelak.
"Ya apa saja, laki-laki biasanya suka menghamburkan uang tidak jelas."
Kini Rania yang tertawa.
"Sudahlah, kalau begitu Mama siapkan dulu semuanya. Kalian nanti siapkan mereka ya?"
"Serius mau sekarang?"
"Lantas mau kapan lagi? Bukannya sebentar lagi kalian mau pergi ke pembukaan hotel ya?"
Kemudian disiapkanlah segala yang di perlukan untuk sesi pemotretan brand pakaian bayi pada hari itu. Di mana Sofia memindahkan segalanya ke rumah besar mereka. Menyulap satu area di dalam bangunan besar itu menjadi studio foto bagi kedua cucunya yang dia jadikan model pakaian bayi hasil rancangannya.
"Mama kamu memang nggak pernah setengah-setengah ya kalau apa-apa?" Pasangan itu hanya memperhatikan dari jauh apa yang Sofia lakukan kepada bayi mereka.
"Kamu sudah tahu sendiri kan?"
"Ya, dan kayaknya aku meyerahkan anak-anak ke tangan yang tepat." Rania terkekeh sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Memang."
"Selain di asuh, Mama juga bikin mereka bisa menghasilkan uang."
"Duh?"
"Dan itu bagus."
"Bagus karena uangnya." Dimitri bergumam, sementara Rania tertawa karenanya.
"Lama-lama kamu matre juga ya?" ucap Dimitri.
"Bukan matre, tapi realistis. Kalau emang anak kita bisa, ya kenapa nggak? Biarin ajalah, suka-suka Mama."
"Kamu dan Mama sama saja ternyata?"
"Ya, sama-sama perempuan."
"Bukan itu ...."
"Tadi siapa yang minta persetujua aku untuk anak-anak? Kamu kan? Kenapa sekarang kamu malah protes?"
"Aku tidak protes, hanya saja ...."
"Menyangkal."
"Umm ...."
"Lihat? Mereka lucu. Mama kamu pintar mendandani Anya sama Zenya." Rania bsrjalan mendekat. Menatap dua bayinya yang mengenakan pakaian yang membuat mereka terlihat lucu.
"Yeah, ...benar."
"Uuuhh, ... aku hebat kan?" Rania berujar.
"Hah? Iya, kamu hebat bisa mengandung dan melahirkan dua bayi sekaligus."
"Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Aku hebat bisa melahirka bayi selucu dan se imut itu." Rania menepuk pipi dengan kedua tangannya. Jelas sekali dia sedang merasa bangga.
"Apa? Bukannya ada andil aku juga di situ ya?"
"Nggak ih, kamu cuma nana saham doang. Selebihnya ya aku."
"What?"
Perempuan itu tertawa.
"Mereka selucu itu karena anakku tahu!" Dimitri tidak mau kalah.
"Ya karena aku lah." tukas Rania.
"Aku Zai."
"Aku dong."
Pria itu memutar bola matanya.
*
*
*