
🌹
🌹
Rania menjatuhkam tubuhnya diatas sofa, dia merasa tubuhnya lemas dan begitu mengantuk. Tidur dalam keadaan gusar di tempat Dimitri apalagi setelah begadang membuatnya merasa tak nyaman.
Apalagi setelah pernyataan cintanya yang begitu serius dan dia membuatnya menyetujui satu-satunya hal konyol di dunia.
Memerima cinta pria itu dan menjalin hubungan dengannya.
Ah, kenapa juga gue terima tuh cowok ya? mana maksa lagi jadiannya juga. Apa kata dunia kalau pada tahu gue punya pacar? papa pasti nggak ngijinin gue pergi kemana-mana nih.
Mais-manis tuh cowok suka maksa juga ternyata. Dia membatin.
💖 Flashback On 💖
Mereka tiba di area parkir basement Landmark apartemen pada hampir dini hari. Keadaan sudah sangat sepi dan sepertinya semua orang memang tak ada yang berkegiatan, tentu saja karena sudah lewat dari tengah malam. Hanya sekuriti yang tampak berjaga-jaga di pos keamanan.
"Masuklah dulu Ran, sudah malam." Dimitri turun dari motornya.
"Aku harus pulang."
"Mungkin sebaiknya kamu menginap saja, bahaya. Aku khawatir terjadi sesuatu di jalan."
"Mana ada? bisa perang dunia ketiga kakau papa tahu aku nginep dirumah cowok."
"Ya nggak akan terjadi kalau kamu nggak bilang."
"Aku nggak biasa, mau setelat apa juga aku tetep pulang. Nggak pernah sampai nggak pulang, apalagi kalau sampai nginep."
"Tapi ini situasinya berbeda."
"Nggak apa-apa, aku udah biasa." Rania terus menolak.
"Kemudian tanpa basa-basi Dimitri mencabut kunci motor dari tempatnya. Gadis ini memang keras kepala dan harus sedikit dipaksa. Bujukan biasa tak akan mempan kepadanya.
"Hey!!"
"Pulanglah, tapi aku antar sampai kerumah. Motor kamu simpan dulu disini."
Rania terdiam. Tentu saja itu tak boleh terjadi, karena jika hal itu terjadi akan membuat gempar seluruh komplek.
"Dim!!"
"Ngak, aku nggak akan biarin kamu pulang sendirian di jam seperti ini. Meskipun kamu sudah terbiasa, tetap saja bahaya. Ditambah polisi pasti masih patroli. Aku nggak akan ambil resiko." pria itu melenggang ke arah lift.
"Kamu nyebelin ih, berani ngatur-ngatur aku." Rania turun dari motornya.
"Terserah aku dong," Dimitri masuk begitu pintu lift terbuka.
"Dim?"
"Tunggu saja disini kalau nggak mau ke atas, sambil nunggu mobil aku diantar orang."
"Yah, ... kok gitu?" kemudian Rania dengan cepat berlari masuk kedalam lift. Tidak mungkin juga dia berdiam di area parkir sendirian, rasanya agak seram juga.
Sementara Dimitri mengulum senyum.
***
"Duduk, aku ganti baju dulu. Kalau mau minum ambil saja sendiri." Dimitri melesat ke kamar tidurnya, dan kembali setelah beberapa menit. Dengan joggerpants dan kaus oblong berwarna hitam. Dia juga membawa bantal dan selimut dari dalam kamarnya.
"Kamu mau ganti baju?" tawarnya kepada Rania, seraya meletakan bantal dan selimut di dekatnya.
"Nggak usah, makasih." tolak gadis itu yang sudah duduk di sofa. "Kunci motor aku mana?"
"Ini." Dimitri menepuk saku celananya.
"Sini."
"Nggak, nanti kamu kabur."
"Dim, ish...
"Aku bilang kamu menginap ya menginap, pulang nanti pagi."
"Mana ada? nggak mungkin."
"Mungkin saja, kamu sudah disini sekarang. Jadi mau tidak mau ya harus menginap."
Rania mendengus kasar.
"Hanya menginap, tidak lebih. Kamu tahu kamu bisa memukul aku kalau aku berbuat macam-macam."
"Aku khawatir Ran. Kamu merasakan itu nggak sih?" katanya setelah beberapa saat.
Rania terdiam.
Gombal!
"Kelakuan kamu yang seperti ini malah membuat aku semakin merasa khawatir, dan aku takut kehilangan."
Mulai ngoceh. batin Rania.
"Aku bukan orang yang suka bertele-tele, meskipun kadang aku banyak bicara tapi tidak pernah membual sembarangan."
Huuhh, ... tuan banyak omong!
"Kejadian tadi membuat aku semakin yakin, kalau sebenarnya perasanku lebih dari itu. Ini lebih dari rasa suka biasa." Dimitri bangkit kemudian mendekat ke arahnya.
"Kamu mau apa?" Rania mengangkat kedua kaki ke sofa dan merapatkan dengan dadanya. Kedua tangannya bahkan dia lingkaran dengan erat.
"Cuma mau bilang kalau aku sayang kamu." ucap Dimitri sambil berlutut di depannya.
Duh
"Yang tadi itu menakutkan, dan tiba-tiba saja aku takut kehilangan kamu. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi? aku nggak bisa membayangkan apa yang akan aku lakukan."
Lebay
"Serius, aku sayang kamu."
"Terus?" Rania buka suara.
"I wanna have you, would you be mine? ( aku ingin memilikimu, maukah kamu jadi milikku?)"
Rania memgerutkan dahi.
"Jadilah miliku Ran."
"Kita bahkan baru kenal, dan kamu nggak tahu gimana aku sebenarnya. Aku nggak tahu gimana kamu,"
"I know you. Kamu membuat benteng pertahanan untuk melindungi diri dari laki-laki seperti aku, mungkin kamu pernah mengalami hal buruk sehingga membuatmu menjadi setangguh ini, tapi aku yakin aku berbuat hal benar. Dan kamu akan menerimanya seiring waktu." jawab Dimitri.
Rania terdiam lagi.
Darimana kata-kata itu?
"I'm sure,..."
"Nggak."
"Ran?"
"Aku nggak bisa."
"Why?"
"Aku baru aja mulai,...
"Karir? balapan?"
"Iya."
"Kita bisa jalan sama-sama."
"Ngga mungkin."
"Kenapa?"
"Kita berbeda."
"So?"
"Kamu sponsor aku, sementara aku pembalapmu."
"Terus kenapa?"
"Kita nggak mungkin bisa sama-sama."
"Iya kenapa? karena pekerjaan kita? aku rasa itu bukan alasan yang masuk akal untuk kita."
"Buat aku juga nggak masuk akal kalau kita sama-sama. Aku sukanya bgebut, kamu sukanya santai. Gimana kita akan cocok?"
"Kamu tahu, nggak perlu masuk akal untuk bisa bersama, hanya perasaan kita saja yang harus sama."
"Dan perasaan aku nggak gitu."
"Yakin?"
"Iya."
"Kamu terlalu cepat menyimpulkan tanpa mencoba terlebih dahulu."
"Karena biasanya begitu. Sama Galang juga gitu."
"Galang?"
"Iya. Bulan kemarin dia juga nyatain perasannya."
"Oh ya? terus?"
"Aku tolak."
"Kenapa?"
"Ya aku nggak punya perasaan yang sama ke dia. Walau dia temen aku sejak TK, apalagi sama kamu yang baru kenal. Lagian perbedaan kita jauuuuhh."
"Aku nggak peduli soal itu."
"Lho? kamu mau maksa?"
"Iya. Aku ngga mau ambil resiko kamu nantinya dengan orang lain."
"Siapa?"
"Galang."
"Nggak mungkin, aku kan udah nolak dia."
"Tapi dia akan berusaha membuat kamu merasakan apa yang dia rasakan."
"Nggak mungkin."
"Mungkin saja. Kami laki-laki akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang kami mau. Bagaimanapun caranya."
"Biarpun maksa?"
"Iya."
"Harus."
Rania menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.
"Jadi, cobalah untuk membuka diri, buka hati untuk aku Rania. Please." ucap Dimitri dengan wajah memelas. Dan ini pertama kalinya dia memohon kepada seorang gadis untuk jadi kekasihnya.
"Aku belum pernah pacaran tahu!"
"Aku senang jadi pacar pertamamu, lagipula aku sudah jadi ciuman pertamamu kan?"
"Tapi aku nggak tahu nanti harus ngapain kalau kita pacaran." ucapnya, dengan polos. Membuat tawa Dimitri menyembur begitu saja.
"Kenapa ketawa?"
"Kenapa kamu lucu sekali, Zaichik?" dia menyentuh wajah Rania dengan punggung tangannya.
"Ish, jangan pegang-pegang, belum juga jadian?" gadis itu segera menepisnya.
"Kamu maunya kita ngapain setelah pacaran?"
"Biasanya kamu ngapain kalau pacaran?" Rania balik bertanya.
"Mmm... " tubuh Dimitri menegang. "Aku ...belum pernah pacaran." jawabnya, dan itu memang benar. Dia belum pernah memiliki hubungan dengan siapapun kecuali untuk bersenang-senang.
"Masa?"
"Serius."
"Nggak percaya."
"Well, aku pernah hubungan dengan seseorang, tapi aku anggap itu bukan pacaran."
"Ttm an ya?" Rania memiringkan kepala.
"Ttm?"
"Teman tapi mesra."
Dimitri tertawa lagi. "Begitulah."
"Berat."
"Kenapa?"
"Nanti kamu ketemu dia lagi, terus mesra-mesraan lagi?"
"Ngga mungkin kalau kamu sudah jadi pacar aku."
Rania mencebikan mulutnya.
"Serius."
"Papa aku bilang cowok itu banyak modusnya apalagi yang lebih dewasa kayak kamu."
"Oh ya?"
"Iya, soalnya papa aku gitu waktu deketin mama."
Dan tawa Dimitri menyembur lagi.
"Kamu ketawa melulu?"
"Habisnya kamu lucu." pria itu mencubit pipinya.
"Dim ish, ..." Rani menghindar.
"Ayolah,...
"Apa?"
"Jadilah kekasihku."
"Nggak."
"Rania!!"
"Kamu maksa Dim!"
"Aku memang pemaksa."
"Kalau aku nggak mau gimana?"
"Nggak apa-apa."
"Beneran?"
"Iya,.. tapi aku sita motor kamu."
"Apa? nggak bisa gitu lah."
"Bisalah."
"Nanti papa aku nanyain."
"Bilang saja motornya aku sita."
"Nanti papa nemuin kamu."
"Nggak apa-apa, sekalian ngobrol."
"Tapi nanti dia tanya-tanya."
"Nggak apa-apa, nanti aku bilang kalau kamu kebut-kebutan terus menginap disini."
"Aaaaa... Jangan, nanti aku dinikahin!!"
"Apa?"
"Nanti aku nggak boleh bawa motor lagi, terus kalau tahu nginep disini nanti kita dinikahin. Nggak Mauuu!!!" Rania menggeleng-gelengkan kepala, dan kedua kakinya menghentak-hentak dilantai.
"Sepertinya bagian yang terakhir itu bagus juga. Kita Nggak usah pacaran, langsung nikah aja, nanti aku bicara kepada papamu."
"Nggak mauuuuu!!!"
"Kenapa? kan bagus kalau kita nikah?" dalam hati dia tertawa, merasa lucu karena bisa mengerjai gadis ini.
"Nanti aku nggak boleh balapan lagi, terus aku nggak bisa kumpulan duit." Rania tiba-tiba saja terisak.
"Lho?"
"Kalau berhenti balapan aku nggak bisa dapat duit, Huaaaaaa..." akhirnya dia menangis.
"Uang untuk apa?" Dimitri meraih tangannya yang menutupi wajah.
"Mau beli Bugati!! kata papa kalau juara teus di balapan aku bakalan dapat duit yag bisa aku pakai buat beli Bugati tahun depan." katanya, masih dengan tangisannya.
"Astaga!!" pria itu menepuk kepalanya sendiri.
"Jangan bilang papa aku!! nanti kita dinikahin! Huwaaaaaaa...."
"I-iya iya, .. nggak akan." ucap Dimitri, yag seketika membuat tangis gadis itu mereda.
"Beneran ya?"
"Baiklah, tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Jadi pacar aku dulu." sebuah ide cemerlang muncul diotaknya.
"Kok gitu?"
"Tidak setuju? ya sudah, besok sore aku kerumah, mengantarkan kunci motor juga bicara dengan papamu. Biar kita dinikahkan sekalian."
"Hah!! jangan!!"
"Kalau begitu...
"Oke, oke, kita jadian. asal jangan temuin papa aku."
Dimitri tersenyum.
"Puas kamu?"
"Tentu saja." pria itu mengulurkan tangannya untuk memeluknya, namun Rania menjulurkan kakinya ke dada Dimitri, menahannya dari apa yang mungkin ingin dia lakukan.
"Tapi aku nggak mau macem-macem." katanya.
Dimitri tertegun, "Aku cuma mau peluk."
"Nggak mau!! jadian aja baru?"
"Tadi malah lama peluk-pelukan dijalan, dan kamu diam saja?"
"Itu beda situasi tahu!"
"Sama saja."
"Nggak."
"Ran..
"Nggak mau!! aku tendang nih?"
"Ish, ... selalu saja pakai kekerasan!" Dimitri menggerutu.
"Biarin."
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah jadi pacar aku." Dimitri kemudian tertawa.
💖 Flashback Off 💖
Rania menggembungkan pipi, lalu menghembuskan napas dengan keras.
"Aku bodoh!!!" dia mengusak wajah kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
Dih, gitu ya ceritanya? 🤣🤣🤣
biasa atuh genks, like komen sama hadiahnya kirim, biar aku makin semangat. udah semakin dekat ke part edan ini.