
🌹
🌹
Angga menendang tong sampah yang terletak disamping pintu begitu dia keluar dari ruang pertemuan. Emosinya meledak begitu saja setelah beradu argumen dengan beberapa orang di dalam sana. Walau dirinya sudah menduga bahwa kejadiannya akan seperti ini, namun pria itu tetap tak habis pikir karena dia dan timnya jelas-jelas memiliki banyak bukti. Bertindak keras jelas bukan pilihan untuk saat ini, karena justru akan lebih menyulitkannya nanti.
Satria bangkit dari kursi diruang tunggu, sayang sekali pria itu tak diijinkan ikut masuk karena bukan termasuk anggota tim oficial crew yang dibawahi Angga. Namun dia dapat mendengar jelas perdebatan sengit di dalam sana. Terlebih suara Angga yang berteriak begitu kerasnya.
"Tidak berhasil?" katanya, setelah mengakhiri panggilan telfon.
Angga menggelengkan kepala. "Mungkin mereka buta, tidak bisa melihat bukti yang jelas apa yang para pembalap lakukan." Angga menyapu wajahnya kasar.
"Hmm ..." Satria menggumam.
"Ini tidak bisa dibiarkan." Angga mendengus keras, seraya bercacak pinggang. Otaknya berputar mencari cara yang jitu untuk mengungkap segala kecurangan yang terjadi.
"Ini pasti bukan yang pertama kali. Bisa jadi Rania merupakan korban ke sekian dari mereka, dan entah kenapa bisa tertutup serapat ini." katanya, sambil mondar-mandir di depan Satria.
"Kamu pikir begitu?"
"Ya, intrik semacam ini sudah bisa ditebak. Tapi saya tidak menyangka akan terjadi di ajang internasional sekelas superbike. Cctv, keamanan, standar sudah pasti tidak main-main. Tapi ... apa yang membuat mereka bisa dengan lancar beraksi seperti ini?" pria itu berpikir keras.
"Mau menyelidikinya?" tawar Satria kepadanya.
"Bagaimana caranya? bukti sudah ditunjukan tapi mereka masih bisa mengelak, belum lagi mereka pasti memiliki orang dalam." jawab Angga, frustasi.
"Tidak ada yang tidak mungkin." Satria menyalakan ponselnya dan bersiap untuk melakukan panggilan telfon kepada seseorang.
"Adrian, ...
"...
"Apa bantuanmu masih berlaku?"
"..
"Ya, masalahnya sedikit rumit disini."
" ...
"Soal Rania."
"...
"Baik, nanti aku berikan semua data yang kamu perlukan." kemudian dia mengakhiri percakapan.
"Ayo, kita kembali ke rumah sakit." Satria kepada Angga.
"Tapi masalahnya?"
"Nanti ada yang mengurus. Minta anak buahmu menyiapkan segala rekaman, dan data yang kamu punya, lalu serahkan kepada Andra. Kita akan menyelidikinya dengan cara lain."
"Bisa?"
"Kalau cara biasa tidak bisa, tentu ada cara tak biasa yang bisa kita lakukan." mereka berjalan bersisian.
"Apa itu?"
"Nanti kita tahu hasilnya."
Angga terdiam sejenak.
"Mereka salah memilih target kecurangan, 'kan?" Satria berhenti berjalan kemudian memutar tubuh.
"Tapi segera, mereka akan mengetahui siapa yang sedang mereka permainkan disini." katanya, sedikit menyeringai. Kemudian dia masuk kedalam mobilnya diikuti Angga yang masih mencoba memahami ucapannya.
🌹
🌹
Dimitri kembali ke tempat tidur setelah untuk ke sekian kalinya muntah hebat di kamar mandi. Wajahnya pucat dan dahinya berkeringat.
"Oh, ... aku sudah tidak tahan lagi." katanya, seraya menyurukan wajahnya di ceruk leher Rania. "Aku benci rumah sakit, bisakah kita pulang sekarang?"
"Udah aku bilang periksa ke dokter, mumpung masih di rumah sakit." perempuan itu mengusap kepala suaminya untuk menyingkirkan rambutnya yang terburai.
"Aku tidak apa-apa, hanya kadang tiba-tiba mual saja." pria itu mengeratkan pelukannya pada tubuh Rania.
"Yang, jangan begini, kita dirumah sakit!" dia mencoba menghindar.
"Diamlah, aku mencoba untuk tidur disini!"
"Tidur ya tidur aja, tapi nggak usah kayak gini." protes Rania.
"Tapi aku nyaman seperti ini, rasanya mualku perlahan menghilang." Dimitri semakin merapatkan wajahnya di leher perempuan itu. Semakin lama, semakin nyaman. Yang akhirnya membuatnya tertidur juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ck!" Angga berdecak kemudian memutar bola matanya ketika menemukan dua sejoli yang tidur di satu ranjang yang sama dalam posisi berpelukan. Namun dia tak tega untuk mengganggu keduanya karena mereka tampak sangat lelap.
Tentu saja, Rania masih kelelahan karena efek kecelakaan dan pengobatan, sementara Dimitri yang pastinya karena telah menempuh perjalanan sangat jauh dalam keadaan panik setengah mati.
"Pantes aja om, si Oneng bisa cepet hamil. Orang mereka nggak lihat tempat, nggak peduli dimana aja nempel." Galang menginterupsi.
"Ngapain kamu ikut masuk? sana keluar lagi, anak dibawah umur dilarang lihat." ucap Angga yang mendorong pemuda itu hingga keluar.
"Dih, nggak nyadar anaknya seumuran siapa? kalau aku dibawah umur, ya si oneng juga sama lah."
"Beda, dudul."
"Lagian kalau dibandingin, lebih onengan dia dari apada aku. Yang bedain cuma karena dia udah nikah sementara aku belum."
"Nah, itu yang bikin kalian beda. Untuk hal lain dia lebih dewasa dari kamu."
"Apaan?"
"Ada lah, pokoknya."
"Soal anu? nggak usah yang udah nikah om. Yang belum nikah aja udah banyak yang mahir sekarang mah. Kecuali si oneng." ucap pemuda itu sekenanya.
"Astaga!! berani ya kamu ngomong gitu di depan orang tua?" Angga menepuk kepala bawahannya itu agak keras.
"Aw, om! jangan mukul kepala, nanti aku kayak si oneng!" Galang memegangi kepalanya yang terkena pukulan Angga.
"Omongan kamu itu?"
"Emang kenyataan om."
"Emang kamu udah?"
"Apaan?"
"Nggak ih, ... ngapain?"
"Itu tadi bilangnya yang belum nikah aja udah mahir kalau soal anuan?"
"Ye, ... emang iya."
"Termasuk kamu dong?"
"Nggak om."
"Terus darimana kamu tahu soal kayak gituan?"
"Mmm ... hehe." Galang hanya menjawab dengan kekehan.
"Bohong!" pria itu kembali menepuk kepalanya.
"Om, ih!!" Galang dengan kesal.
"Habisnya ...
"Nebak doang om."
"Saya bilangin orang tua kamu nanti!" Angga mengancam.
"Jangan lah om, ... tar dikiranya beneran. Bisa ngamuk ibu kalau om ngadu."
"Dih, takut sama emaknya?" Angga mengejek.
"Bukan takut, om."
"Bilang aja takut."
"Nggak om, ih !!"
"Ehm ..." Satria muncul, menghentikan obrolan absurd diantara manager tim sekaligus kepala crew dan anggotanya tersebut.
"Bagaimana? copiannya sudah ada?" pria itu bertanya.
"Lang?" Angga kepada anak buahnya tersebut.
"Ada pak. Ini." pemuda itu menyerahkan sebuah flashdisk berukuran kecil berisi segala aktifitas yang terjadi sepanjang balapan tempo hari. Dari mulai persiapan di setiap pitstop, pemanasan, hingga balapan yang sebenarnya, yang sudah dia rekam plus meretas jaringan untuk mendapatkan hasil yang lebih detil.
"Kamu bawa laptopnya?" tanya Satria kepada pemuda di depannya.
"Ada pak." Galang dengam sigap mengeluarkan sebuah laptop yang sengaja dibawanya. Siapa tahu dia akan membutuhkannya, dan benar saja.
"Kirimkan data itu ke email ini." Satria menunjukan layar ponselnya, yang kemudian Galang lakukan sesuai perintahnya.
Memasukan flashdisk tersebut kedalam laptop, kemudian mengirimkan data yang ada di dalamnya ke alamat email yang dimaksud.
***
"Sudah pak." ucap Galang setelah beberapa saat, dan dia memperlihatkan layar laptopnya kepada dua pria yang tengah berbincang membicarakan rencana dan segala idenya.
"Bagus." Satria kemudian memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya.
"Mereka sudah menerimanya, dan kita hanya tinggal menunggu."
"Mereka?"
Satria menganggukan kepala.
"Hanya begitu saja?" Angga kepada besannya tersebut.
"Ya, apalagi?"
"Kita tidak harus bertindak?"
"Tidak usah. Ada Adrian." jawab Satria dengan santai.
"Adrian?"
"Masih kerabat dari Rusia. Dia interpol, jadi ... tepatlah untuk menangani kasus seperti ini." pria itu menjelaskan.
"Wah, ... ngeri!" Galang bereaksi.
"Kasus seperti Rania tidak bisa ditangani dengan jalur hukum biasa. Karena didalamnya terlibat banyak pihak yang sama-sama mencari keuntungan dari kecurangan mereka. Melibatkan banyak perusahaan besar juga, dan ... nama baik negara masing-masing, jadi sudah pasti mereka akan saling menutupi. Tidak peduli seberapa buruk kesalahan yang mereka perbuat. Tapi semuanya harus dihentikan sampai disini, jangan sampai ada Rania-Rania lain yang harus mematikan mimpi mereka karena segelintir orang yang tidak sportif. Sayang sekali ajang bergengsi seperti ini harus dinodai oleh ketidak sportifan mereka. Kita paatikan tidak jika Nikolai sudah terlibat di dalamnya." Satria berbicara panjang lebar.
"Kita harus memastikan jika mereka memang salah memilih target. Iya kan?"
"Iya iya, pak!" Galang menyahut. "Keren pak, serasa lihat film Mission Imposible, tapi ini versi nayata." katanya, dengan lugunya.
"Apaan?" Angga menjawab.
"Kamu nonton film itu juga? itu film yang saya tonton waktu muda lho, memangnya sekarang masih ada ya?" Satria tertawa.
"Ada lah, ... di net*lix banyak film jaman dulu, pak."
"Net*lix?"
"Chanel film pak."
"Saya tidak tahu soal itu. Tivi saya selain sinetron rumah tangga dan acara masak, isinya chanel senam semua." Satria tertawa lagi.
"Mmm ..." Angga dan Galang saling pandang.
"Hhhh, ... sudahlah. Berhubung anak-anak masih istirahat, sebaiknya kita kembali ke hotel. Kita istirahat juga. Hari ini cukup melelahkan bukan? setelah itu kita pulang." Satria bangkit.
"Oh ya, Galang ..." pria itu berhenti sebelum pergi. "Saya suka cara kerja kamu, nanti kalau Rania sudah pensiun balapan kamu bisa bekerja di Nikolai Grup. Katakan itu kepada Dimitri kalau kamu melamar kerja nanti." katanya, kemudian melenggang dari tempat itu, sementara dua orang di belakangnya terdiam karena terkejut.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
papihmah, pokoknya ... okelah nggak ada lawan😘😘
like komen sama hadiahnya lagi ya😁😁
lope lope sekebon cabe.😘😘