
🌹
🌹
Rania terdiam setelah mendengar penuturan sahabatnya sejak kecil. Galang mengungkapkan perasan yang selama bertahun-tahun di pendamnya, tepat sebelum mereka keluar dari hotel di sekitar sirkuit.
"Tapi kita udah temenan dari TK." ucap Rania, yang menghabiskan waktu terakhir mereka di Sepang hari itu.
"Masa nggak ada rasa sedikit aja buat aku?" Galang berujar. "Kamu nggak suka sama aku?"
"Suka. kamu kan temen aku? masa aku nggak suka."
"Bukan gitu konsepnya. Tapi suka sebagai perempuan ke laki-laki Ran." Galang memperjelas kata-katanya.
"Nggak."
"Jujur banget sih?"
"Ya emang perasaan aku kayak gitu."
Galang terdiam, padahal dia sudah mempersiapkan hal ini sejak berminggu-minggu lamanya.
"Hahaha, lucu aja kalau misalnya kita tiba-tiba pacaran? akan aneh rasanya." Rania tertawa.
"Kok aneh?"
"Ya aneh, nanti kita pacarannya gimana? kan udah terbiasa sama-sama. uda tahu sifat masing-masing."
"Ya karena kita udah terbiasa sama-sama, yang bakalan bikin hubungan kita lebih baik. Kita udah saling memahami, yang nggak bakal bikin muncul permasalahan di depan nanti."
"Dih, ... membosankan. Hidup kok nggak ada masalah? Flat." Rania dengan cueknya.
"Ck! dasar oneng!"
Rania tertawa terbahak-bahak.
"Nanti aku akan kehilanga kamu Lang,... "
Galang terdiam lagi.
"Aku akan kehilangan sahabat yang memperlakukan aku apa adanya kayak gini. Kalau kita pacaran kamu akan bersikap berbeda sama aku."
"Jadi, ... ngga ada kesempatan ya?"
"Nggak tahu, ya kalau jodoh kan kita nggak bisa Ngatur. Siapa tahu ternyata kita langsung nikah aja nanti."
"Emang kamu mau kalau nikah sama aku?"
"Ya kalau emang jodohnya apa boleh buat? kita nggak bisa nolak."
Pemuda itu menghela napas pelan-pelan.
"Maaf Lang, kamu tahu aku lagi merangkak meraih cita-cita. Aku harus fokus, biar nggak ngecewain Papa. Selama ini aku bikin onar terus."
Kini Galang yang tertawa.
"Dasar oneng! baru sadar ya?" dia mengacak rambut Rania hingga berantakan.
"Hmm... "
"Kamu nggak marah kan sama aku?" Rania menatapnya dengan mata bulatnya yang berkilauan.
"Nggak, kenapa aku harus marah?"
Rania tersenyum.
"Kita masih BFF kan?"
"BFF apaan?"
"Best friend forever."
"Dih, ... sok pake bahasa Inggris? bahasa Sunda aja nilainya jelek."
Rania tertawa lagi.
"Saeutik.( sedikit)" dia mengisyaratkan dengan tangannya.
"Dasar oneng!" dan merek berdua tertawa bersama.
🌹
🌹
"Bandung?" Dimitri memalingkan perhatian dari laptopnya.
"Iya, pemilihan pimpinan cabang yang baru akan dilakukan minggu depan, tapi kandidat kuat belum kita temukan. Hanya ada pegawai senior yang paling kompeten. Itupun tidak terlalu mendapat dukungan dari karyawan di bawahnya." Andra menjelaskan.
"Kenapa?" Arfan duduk di sofa dengan dokumen keterangan data calon pemimpin cabang kedua Nikolai grup itu.
"Tidak disukai karyawan karena arogan dan.. sedikit genit kepada karyawan perempuan."
Arfan menggelengkan kepala.
"Apa harus melewati pemilihan untuk bisa memimpin cabang?" Dimitri menyela.
"Tidak juga. Siapapun yang mampu bisa memimpin cabang."
"Ng ... kalau aku mengajukan diri bagaimana?" ujar pria muda itu, dan dia menghentikan kegiatannya.
"Apa?"
"Kamu serius?"
"Hmm... " Dimitri bergumam. "Bukankah untk bisa memimpin perusahaan yang lebih besar, kita bisa mulai dari yang kecil? sepertinya memimpin cabang bisa jadi ajang belajar untuk aku."
Arfan dan Andra tampak saling pandang.
"Sepertinya aku harus belajar dari sana dulu. Memanfaatkan posisiku sebagai anak Papi, tapi juga bisa mengasah ilmu yang selama ini aku pelajari."
"Nggak gitu Om." Dimitri terkekeh. "Kan sudah aku bilang, aku ingin belajar benar-benar dari bawah. Bukankah itu bagus? aku bisa tahu sepanjang dan sesulit apa prosesnya untuk berada di puncak. Bukan hanya karena aku pewaris dari pemilik perusahaan ini."
Dua pria itu terdiam dan kembali saling pandang.
"Ide bagus." Arfan mengangguk-anggukan kepala. "Apa kamu yakin bisa?"
"Coba dulu Om. Nanti akan tahu sendiri." ucap Dimitri.
"Baiklah, ... kita atur. Andra?"
"Baik pak. Kita siapkan semuanya, agar minggu depan Dimitri bisa langsung menetap bekerja disana."
"Baiklah, kasus ditutup. kalau begitu kita selesaikan pekerjaan hari ini." Arfan bangkit dan membenahi jasnya. Diikuti Andra, kemudian mereka berdua pergi untuk menghadiri rapat-rapat berikutnya.
Sementara Dimitri langsung berjingkrak kegirangan saat dua pria itu telah keluar dari ruangannya. Karena selain bekerja, diapun akan memiliki banyak kesempatan untuk mengejar gadis itu.
"Ah, ....staranaya devushka, i'm comming." katanya, dengan riang gembira, sudah terbayang di kepalanya kemungkinan dia akan sering bertemu dengan gadis itu.
Sementara dua pria yang mengintip di depan pintu tertawa terbahak-bahak.
"Dasar anak bodoh!" ucap Arfan, yang sejak tengah malam mendapatkan teror dari ayah mertuanya untuk mengatur segala hal mengenai perusahaan cabang di Bandung.
🌹
🌹
"Kakaaaaakkkk!!!" dua bocah kembar menghambur memeluk Rania yang baru saja turun dari mobil jemputan sponsor.
"Kemarin aku lihat balapannya, kakak keren, bisa nyalip yang lain. wus wus wus," Adel memperagakan dengan tangannya.
"Pagi ini aku pamer di sekolah, temen-temenku pada iri semua. aku punya kakak yang keren." sambung Amel dengan bangganya.
"Dih, yang balapan siapa, yang sombong siapa?" Rania mencibir.
"Yang penting keren." sahut Rega yang muncul di belakang adik-adiknya.
"Hmm...
"Papa capek?" Maharani segera menyambut Angga, memeluknya lalu mengusap-usap dadanya dengan lembut.
"Nggak, biasa aja. Lebih capek mikirin Rania balapan liar dari pada ini." Angga menjawab.
Maharani hanya tersenyum, kemudian menggiring seluruh anggota keluarganya untuk masuk kedalam rumah.
"Eh, si Galang kemana?" Angga mengedarkan pandangannya. "Perasaan tadi dia masih disini deh?"
"Udah pulang duluan kayaknya." Rania menjawab dengan mulutnya yang penuh dengan makanan yang sangat dirindukannya.
Hampir satu minggu berada di Sepang, dan dia tak menemukan makanan seperti buatan rumah, dan itu sangat membuat frustasi.
"Aku nanti kalau balapan diluar negeri bakalan sakau kali."
"Sakau?"
"Iya, saking kangennya masakan mama."
"Memangnya kalau diluar negri nggak ada oseng kangkung sama tempe ya?" Amel bertanya, setelah satu sendok cah kangkung dia masukan kedalam mulut kecilnya.
"Ya nggak ada. Kemarin di Sepang ada oseng-oseng sayuran, tapi nggak seenak buatan mama."
"Masa?"
"Hu'um, ... apalagi ayam geprek kayak gini. uuhh... nggak ada yang nandingin." katanya, dan dia kembali mengambil satu potong ayam dengan taburan sambal diatasnya.
"Pelan-pelan kak, rusuh amat makannya? nggak aka ada yang abisin. Mama bisa masak lagi kalau habis juga." Maharani menatap ngeri cara makan putrinya, dia takut gadis itu akan tersedak.
"Ng... abisnya aku lapar." jawab Rania, yang dengan cepat menghabiskan makanannya, kemudian menenggak air minumnya hingga tandas.
"Bukan lapar, tapi kamu gembul." Angga menyela. "Dari pagi makan terus?"
"Ish, ... aku kan lagi dalam masa pertumbuhan?"
"Pertumbuhan apanya? makanmu banyak, tapi badan kamu masih setinggi ini." pria itu mengejek.
"Pertumbuhan otak Pah."
"Otak yang mana? kuliah aja nggak kamu terusin?"
"Otak untuk balapan." gadis itu tertawa.
"Lagian anak gadis makannya banyak amat? nggak ada manis-manisnya juga?"
"Kalau lagi lapar, model internasionalpun bakalan ilang cantiknya."
"Dih, ngeles."
"Lagian, ngidam apa ya mama kamu sampai punya anak gadis kayak kamu? bar-barnya nggak ketulugan. Seingat papa ngidamnya nggak aneh-aneh deh."
"Bukan ngidam yang aneh, tapi papanya yang aneh." sahut Maharani, yang menghentikan percakapan ayah dan anak tersebut, kemudiam mereka semua tertawa.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
Hooh ya, perasaan Mama Rani dulu kalem deh? kenapa anak gadisnya bar-bar parah ya?
jan lupa ritualnya.like,komen,hadiah.
**lope lope saBandungeun 😘😘
Yang katanya belom tahu visual Rania**