
🌹
🌹
"Nanti pulangnya malam?" Rania melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Dimitri yang tengah merapikan diri di depan cermin.
"Tidak tahu, semoga Clarra tidak menambahkan jadwal apa pun lagi sore nanti." Dimiri memastikan dasinya terpasang dengan benar, kemudian merapikan rambut klimisnya.
"Udah ganteng Pak." Rania turut menatap pantulan mereka di cermin, kemudian melepaskan rangkulannya.
Dia meraih jas yang menggantung di rak kemudian membantu memakaikan kepada suaminya.
"Sip." katanya setelah selesai merapatkan kancing terakhir pada benda itu.
"Thank you." ucap Dimitri, yang membingkai wajah Rania kemudian mengecup keningnya, lalu menunduk untuk mencium bibir mungilnya sekejap.
Namun Rania menahannya ketika pria itu hendak melepaskannya. Dia malah meneruskan cumbuan, menyesap bibir suaminya dengan penuh perasaan sebelum kemudian benar-benar melepaskannya.
Dimitri terkekeh, dan dia menempelkan kening mereka berdua, lalu meraup pinggang Rania hingga jarak di antara mereka menghilang.
"Menggodaku lagi, Mommy?" pria itu dengan suara pelan.
Rania menjawabnya dengan senyuman seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya. Dan cumbuan pun kembali berlanjut.
"Aku harus bekerja, sayang." Dimitri perlahan melepaskan tautan bibir mereka berdua.
***
"Sudah memikirkan tawaran mama untuk merayakan kehamilanmu di rumah besar?" Dimitri sebelum di pergi.
"Emang harus ya?'
"Tidak juga. Lagi pula ini bukan acara besar. Hanya mengumpulkan seluruh keluarga."
"Kapan?"
"Kapan saja asal kamu setuju."
"Mau di Bandung boleh?"
"Bandung?"
"Iya."
"Kita bicarakan lagi dengan mama."
"Oke."
"Baiklah, aku pergi dulu ya?"
"Hu'um." Rania menganggukkan kepala.
"Jangan berbuat yang aneh-aneh."
"Apaan? paling aku cuma makan sama rebahan."
Dimitri tertawa.
"Sebentar lagi badan aku segede kasur."
"What?" pria itu tergelak.
"Tapi aku nggak bisa nahan laper, mereka bikin aku kalap kalau lihat makanan." Rania mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat berbentuk.
"Ya makan saja lah, kenapa dibuat rumit?" Dimitri melakukan hal yang sama.
"Nanti aku gendut."
"Diet lagi setelah melahirkan."
"Gampang ya?"
"Gampang. Kenapa dibikin susah?"
"Iya juga." Rania tertawa.
"Oke, got to go."
"Hmm ..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rania merasa semakin hari dirinya semakin kesepian saja. Mungkin karena masih belum terbiasa dengan ritinitas yang itu-itu saja, tanpa bisa melakukan apa yang di senanginya selama ini.
Bangun tidur, mengantar kepergian suaminya bekerja, dan berdiam diri seharian di rumah. Kemudian bersiap menyambut kepulangan pria itu di sore hari.
Dulu, ketika masih lajang, dan dirinya merasa bosan dengan kegiatan hariannya, Rania bisa pergi ke mana pun dia mau. Melakukan apa pun yang dia sukai, tanpa ada yang bisa melarang ataupun menghalangi. Bahkan sang ayah pun yak bisa berbuat sesuatu untuk menghentikannya.
Tapi kini, tak ada satu hal pun yang bisa dia lakukan selain menunggu suaminya di dalam rumah. Rania tiba-tiba saja menjadi orang rumahan yang terhalang pagar dan ijin dari suaminya. Dan hal tersebut membuatnya merasa cukup bosan juga. Tapi itu konsekuensinya bukan?
Ketika kamu memilih satu jalan hidup, maka kamu akan mendapat resikonya juga. Entah itu baik atau buruk, entah menyenangkan ataupun mengecewakan. Semua hal ada timbal baliknya.
Apa lagi kini, dia dalam keadaan mengandung bayi kembar, resiko yang di tanggungnya menjadi lebih besar. Bukan resiko buruk akibat kehamilan, melainkan karena dirinya harus selalu menjaga diri, demi keselamatan dua buah hatinya.
Dan keadaan tersebut membuatnya menjadi memiliki banyak pertimbangan untuk melakukan apa pun yang dulu dapat di lakukannya dengan mudah tanpa memikirkan akibatnya.
Rania hanya dapat menghabiskan waktunya di area rumah, di area belakang yang masih dapat membuatnya betah karena tempat tersebut mampu mengingatkannya pada karir yang di mulainya hampir satu tahun yang lalu, sebelum dirinya bertemu dengan Dimitri.
Sebuah area yang cukup luas yang merupakan lintasan baginya untuk melatih kemampuan menggeber kuda besinya. Dengan sebuah garasi di sisi lainnya berisi Ducati Panigale milik Dimitri, dan Bugatti Chiron yang merupakan mas kawin yang pria itu berikan saat pernikahan mereka.
Rania masuk ke dalam bangunan tersebut, kemudian memeriksa kedua kendaraan kesayangannya. Dan seperti biasa, dia akan menyalakan mesinnya hanya sekedar untuk mendengarkan raungan yang sangat dia rindukan.
🌹
🌹
"Tugas kamu masih banyak ya?" Galang meletakan ponselnya di atas meja kecil di depan mereka.
Sudah hampir sore tapi Amara masih belum menyudahi kegiatannya dengan tugas dan buku-buku tebalnya.
"Dikit lagi." gadis itu tanpa memalingkan perhatian.
"Perasaan kamu bilang begitu dari tengah hari tadi deh?" pemuda itu mendekat dan melihat permukaan buku yang tengah Amara kerjakan.
"Oh ya?" gadis itu mengangkat kepala, lalu menoleh. Membuat Galang segera menjauh.
"Emangnya ini jam berapa?" ucap Amara.
"Jam tiga."
"Udah lama ternyata ya?" gadis itu tertawa, sementara Galang malah terdiam. Menatap wajah dengan hidung cukup mancung dan bibir tipisnya yang semerah stroberry matang.
Malah fokus kesitu. Galang membatin.
Ingat terakhir kali mereka berdekatan seperti ini, sesuatu terjadi tanpa di duga.
"Halloo, ... kak?" Amara melambaikan tangannya di depan wajah pemuda itu.
"Hum? iya?" dia tergagap.
"Kakak udah mau pulang?" Amara bertanya.
"Mm ...
"Kalau mau pulang, nggak apa-apa. Aku mau beresin tugas dulu di sini. Tanggung."
"Tapi ..." Galang menoleh ke belakang di mana para pekerja perkebunan milik Hari sudah mulai menghentikan pekerjaan mereka.
"Nggak apa-apa, kan nggak jauh dari rumah." gadis itu menatap bagian belakang rumah buyut sambungnya itu yang tidak terlalu jauh dari gazebo tempatnya mengerjakan tugas sejak pulang dari kampus.
Galang kembali ke posisi semula.
"Kakak masih ingat jalannya kan? atau ikutin aja mang Jaja. Tuh, kayaknya dia juga mau pulang." Amara menunjuk seorang pria yang jalannya tampak tergopoh-gopoh dari area bawah.
"Udah sore neng, mau pulang sekarang?" ucap pria tersebut.
"Aku masih di sini mang, kak Galang nih kayaknya ...
"Sebentar lagi mang." sela Galang.
"Oh, ... ya udah kalau gitu, mamang duluan."
"Iya." Galang menjawab.
Kemudian pria tersebut bersama beberapa kawannya bergegas meninggalkan area tersebut.
"Kirain tadi mau pulang?" Amara berujar.
"Tar ah, ... tanggung."
"Apaan?"
"Nungguin kamu sampai selesai."
"Serius?"
"Iya."
"Nggak apa-apa, kalau mau pulang. Siapa tahu mau servis motor atau apa gitu?"
"Nggak."
"Beneran?"
"Iya."
"Emang motornya nggak apa-apa?"
"Nggak. Si jagur mah sehat. Adeknya yang mesti sering di cek mah."
"Adeknya?" Amara terkekeh.
"Motor aku yang satunya lagi."
"Ada yang lainnya?"
"Iya."
"Kenapa harus sering di cek?"
"Karena jarang aku pakai."
"Kenapa?"
"Nggak sesuai aja sama aku."
"Nggak sesuai kok punya motor itu?"
"Iya, tadinya kan ..." Galang memotong kalimatnya, hampir saja dia mengatakan apa yang tidak seharusnya dia katakan.
"Apa?"
"Cuma ... jajanin gaji aja biar lebih manfaat." lanjut pemuda itu, sekenanya.
"Jajan?" Amara tertawa. "Masa jajannya motor? kakak ini aneh." katanya yang menepuk paha Galang dengan keras.
"Iya, itu kan belinya dari gaji pertama sebagai tim crew nya Rania." dia mengusap-usap pahanya yang terasa sakit dan panas.
"Oh ya?"
"Hmm ...
"Bayarannya gede ya kerja gitu?"
"Jajan motor?"
"Iya." Galang tertawa.
"Kakak gaya, jajannya motor." Amara memutar posisi sehingga mereka berhadapan.
"Iya, soalnya kalau aku jajanin es boba kebanyakan. Nggak akan habis."
"Sombong."
Galang tertawa lagi.
"Sana beresin tugasnya, udah sore." dia mulai salah tingkah.
"Dosen kakak nggak ngasih tugas ya?" Amara melanjutkan percakapan.
"Ngasih."
"Tapi kakak kayak jarang ngerjain tugas?"
"Itu mah gampang. Ngerjain di rumah sebentar juga beres."
"Ck! otaknya dibikin dari apa sih?"
"Ya otak biasa Ara. Kamu ada-ada aja deh?" Galang mengusak puncak kepalanya.
"Maksudnya, bisa dengan gampang ngerjain tugas kayak gitu?"
"Ya karena kuliahnya di jurusan yang kita suka, dan kita bisa. Jadi ngerjain tugasnya berasa gampang."
"Aku juga kuliah di jurusan yang aku suka dan aku bisa. Tapi kalau ngerjain tugas, apa lagi teori kadang suka pusing. Beda kalau lagi praktek."
"Emang bagusnya praktek, kalau teori kita cuma bayangin kan?"
"Hu'um." gadis dengan manik kelam milik sang ayah itu mengangguk.
"Makanya mendingan praktek aja."
"Iya."
Kemudian mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Aku dapat tawaran kerja." Galang akhirnya memecah keheningan.
"Tawaran kerja?"
"Iya."
"Dari siapa?"
"Pak Satria."
"Papi?"
"Iya."
"Kerja apa?"
"Banyak."
"Kakak kan masih kuliah?"
"Paruh waktu, Ra. Sesekali aja kalau lagi di butuhin."
"Dan kakak terima?"
Galang menganggukkan kepala, membuat Amara terdiam lagi.
"Kenapa?"
"Kerja di perusahaannya papi itu nggak kenal waktu. Bikin semua orang sibuk banget, nggak punya waktu untuk diri sendiri. Contohnya aja papa aku."
"Kan baru paruh waktu."
"Cuma istilah aja. Kenyataannya nggak kayak gitu."
"Masa?"
"Papa aku sejak muda kerja di sana, aku tahu gimana. Dia bahkan sampai jarang punya waktu untuk keuarganya sendiri."
"Itu kan kalau fulltime."
Amara berpikir.
"Lumayan kan, dari pada aku nganggur?"
"Kakak nggak pusing apa? kuliah aja sibuk, ini mau di tambahin sama kerja."
"Kan udah di bilangin, dari pada nganggur."
"Nganggur sebelah mananya? kan sibuk kuliah."
Galang hampir saja menjawab, namun Amara terus mengoceh.
"Nggak sambil kerja aja kakak sibuk, kita jarang barengan. Apa lagi sambil kerja. Di perusahaannya papi lagi." dia bersungut-sungut.
"Cuma bantuin, Ra."
"Hah, tetep aja. Siapa pun yang udah masuk perusahaannya papi nggak ada istilahnya cuma bantuin. Pasti terjun langsung. Percaya deh, aku tahu."
"Nikolai Grup itu perusahaan gede Ra."
"Iya, makanya."
"Kesempatan aku bakal terbuka luas kalau udah masuk sana. Apa lagi ini ownernya langsung yang nawarin."
Amara cemberut.
"Aku bisa kerja, tapi tetep kuliah. Setelah lulus kerja fulltime, terus bisa ngajuin bea siswa untuk lanjutin kuliah S1."
"Otaknya yang di pikirin kuliah sama kerja melulu."
"Mumpung ada kesempatan, Ra. Tawarannya nggak main-main kan?"
Gadis itu mngerucutkan mulutnya.
"Janga gitu Ra, kamu bikin aku deg-degan tahu?" Galang menutup mulut Amara dengan tangannya.
"Apaan ish!!"
"Mulutnya biasa aja, nggak usah di maju-majuin."
"Emangnya kenapa? mulut-mulut aku." Amara mendelik.
"Bikin aku inget yang waktu itu."
"Yang mana?"
"Yang waktu ... kamu ... cium aku. Hehe." pipi pemuda itu merona seketika.
"Itu nggak sengaja tahu? aku kan kesandung pas mau ngasihin helm." Amara mengelak.
"Kesandung?" Galang tergelak.
"Iya, kakak aja ke geeran, sampai di terusin lagi?"
"Tapi kamu diem pas aku terusin?" Galang mengatupkan mulutnya menahan senyum. Menatap pipi gadis di depannya yang juga mulai memerah.
Tak dapat di pungkiri dia menyukai pemandangan tersebut. Amara menjadi semakin mempesona ketika dia tersipu-sipu seperti itu. Tapi dirinya mulai takut, ketika perasaannya menjadi semakin besar, dan bertambah besar setiap harinya.
Dia takut tak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri, dan malah ingin memiliki gadis itu sepenuhnya.
"Beresin dulu tugas lah, udah laper. Uyut psti udah masak. Wanginya aja udah kecium sampai sini, duh." Amara mengalihkan topik pembicaraan.
Galang tak menyahut. Pikirannya sudah tentu malah memikirkan hal lain.
"Bisa dipastikan masa depan kita cerah." katanya kemudian dengan pandangan yang tak dia alihkan sedikitpun dari Amara yang tengah menunduk, fokus pada tugas kuliahnya.
"Apa?" gadis itu kembali mengangkat wajahnya.
"Masa depan kita bakalan cerah. Kamu dengan kerjaan kamu sebagai chef, dan aku kerja di Nikolai Grup. Orang mana yang nggak sukses setelah masuk kesana?"
Amara menatap wajah pemuda itu yang tampak serius.
"Aku baru ngebayanginnya aja udah seneng, apa lagi kalau beneran. Dan ini hampir nyata, soalnya Pak Satria sendiri yang nawarin kerjaannya kan?"
"Masa depan kita beneran tergambar cerah." lanjut Galang.
"Masa depan kita?" Amara mengulang kata-katanya.
"Iya, masa depan kita." Galang mengangguk.
"Emangnya kita bakalan terus sama-sama?" gadis itu tertawa. "Kita pacaran baru berapa bulan."
"Emangnya kamu nggak mau kita terus sama-sama?" Galang membalikkan pertanyaan.
"Aku ...
Mereka saling pandang untuk waktu yang cukup lama.
"Eh, ... aku lupa kalau kamu baru mau setahun kuliah?" kini Galang yang tertawa. "Kamu baru aja mulai ya? sementara aku tinggal setahun lagi."
Amara masih menatap wajah pemuda itu.
"Jalan kamu masih sangat panjang. Kamu akan ketemu banyak orang baru, dapat pengalaman baru, dan mungkin ... pacar baru." dia tertawa lagi.
"Kok pacar baru sih?" Amara mengerutkan dahi.
"Ya siapa tahu nanti di tengah-tengah ada satu masalah dan bikin kita putus."
"Putus?"
"Iya, entah gimana kan. Bisa aja. Terus kamu dapat pacar baru, aku lulus terus pergi ... ya ..." pemuda itu menghentikan kalimatnya ketika Amara tiba-tiba saja bergeser ke dekatnya, lalu menabrakan bibir mereka berdua, kemudian saling berpagutan untuk beberapa saat.
Sementara Galang malah membeku meskipun dirinya juga menikmati hal tersebut. Mereka bahkan saling membalas cumbuan yang tiba-tiba saja menjadi semakin dalam.
Amara semakin merapatkan tubuhnya, membuat mereka berdua seolah menempel antara satu sama lain. Dia bahkan melingkarkan kedua tangannya pada pundak Galang, setengah menarik pemuda itu agar memperdalam ciuman mereka.
Dan memang yang terjadi seperti itu, keduanya segera terbawa suasana. Cuaca yang sedikit mendung dan keadaan area perkebunan yang sudah sepi di tinggal para pekerjanya. Dan kedua tangan Galang pun sudah memeluk tubuhnya.
"Ara ..." suara Lita memanggil dari kejauhan, membuat dua sejoli yang tengah bercumbu mesra itu tersadar seketika dan saling menjauh.
"Ara! sudah sore. Makan dulu."
"Ara!" Lita mengulangi panggilannya ketika anak sambung dari cucunya tersebut tak menyahut.
"Uyut udah beres masaknya?" Amara muncul setelahnya.
"Sudah. Ayo, ajak Galang juga!" Lita menjawab.
"Iya." segera saja gadis itu menarik Galang yang masih mencoba mengumpulkan kesadarannya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
Mmm ... anu. 😜😜