
🌹
🌹
"Yang, babak kualifikasi kemarin aku di urutan ke lima." Rania tengah melakukan panggilan telfon kepada Dimitri. Dia senang sekali jaringan internet di tempat itu sangat stabil, sehingga membuatnya dengan bebas menghubungi suaminya yang sangat jauh di seberang benua.
"Aku tahu, informasinya sudah masuk kepadaku. Setiap hari mereka melaporkan perkembangan terbaru." jawab Dimitri dari belahan bumi yang lain.
"Aku tahu kalau kamu udah tahu." Rania membalas lagi.
"Terus kenapa kamu memberitahu aku lagi?"
"Biar ada alasan nelfon." diikuti tawa yang renyah.
"Dasar kamu ini!"
"Jam berapa sekarang disana?"
"Mau magrib."
"Kamu lagi apa?"
"Nonton tivi."
"Nonton apaan?"
"Nonton kamulah, apalagi."
"Ish, ... rajinnya."
"Pastinya."
"Kemarin jadi ngantar Ega?"
"Jadi."
"Gimana hasinya?"
"Belum tahu. Baru akan diumumkan besok. Tapi aku yakin dia lolos, permainannya bagus."
"Oh ya? kamu ngikutin sampai selesai?"
"Iya, ini kan baru pulang. Harus menunggu semuanya selesai, jadi harus menunggu lagi."
"Gitu ya?"
"Hmm ... dan dia senang sekali hari ini."
"Masa?"
"Iya, mungkin sepertinya aku akan menginap malam ini."
"Nginep dimana? dirumah?"
"Iyalah, dimana lagi?"
"Kan aku nggak ada."
"Memangnya kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa, emang nggak malu?"
"Kenapa harus malu? bukankah keluargamu keluargaku juga?"
"Ish, ... manisnyaaa, ..." lalu Rania tertawa.
"Hmm ..
"Oh iya, ...
"Apa?"
"Semalam aku susah tidur."
"Kenapa?"
"Nggak tahu. Dari kemarin. Rasanya aneh aja. Berasa ada yang ketinggalan gitu, tapi aku lupa apa. Udah aku cek berapa kali di koper takutnya ada yang nggak nggak aku bawa. Tapi semuanya lengkap. Sampai kepikiran lho. Makanya nggak bisa tidur."
"Hmm ... aneh ya?"
"Iya."
"Jadinya aku begadang sampai pagi."
"Dan kesiangan? terus papa memarahi kamu?"
"Anehnya aku nggak bangun siang. Tetep pagi, walaupun kepala agak pening." Rania tertawa lagi.
"Dasar aneh."
"Memang."
" Baik, apa kamu masih lama?"
"Masih belum mulai. Tapi udahan dulu ya? aku mau siap-siap."
"Oke."
"Sampai ketemu nanti ya? siapa tahu kamu mau nyusul, hehe ...
"Nggak mungkin."
"Ya kan nggak tahu. Mungkin aja tiba-tiba kamu sampai aja disini kayak waktu itu." Rania mengingatkan, sementara Dimitri hanya tertawa. Sambil merasakan ulu hatinya yang berdenyut ngilu karena merindu.
"Udahan dulu ya? aku tutup nih?"
"Oke Zai. Hati-hati disana."
"Hu'um." dan percakapanpun diakhiri.
***
"Ngelamun aja!" Rania menepuk pundak Galang ketika menemukam sahabatnya itu terdiam saat mereka hampir bersiap-siap.
"Bikin kaget aja oneng!" Galang bergumam.
"Habisnya kamu melamun, kayak abege lagi jatuh cinta." ucap Rania sekenanya.
"Apaan?"
Perempuan itu tertawa.
"Apanya yang lucu oneng?"
"Nggak ada, cuma seneng aja kalau kamu udah move on."
"Dih?"
Rania tersenyum sambil menggerak-gerakan kedua alisnya keatas dan kebawah.
"Seneng bener yang udah pengantenan?" cibir Galang, ini pertama kalinya mereka berdebat lagi setelah pernikahan Rania hampir lebih dari dua minggu yang lalu.
"Ooo, ... pastinya."
"Pak Dimi manjain kamu nih pastinya?"
"Nggak juga ah, biasa aja."
"Ibu aku kemarin bilang, tante Rani curhat habis ngomelin kamu karena bangun kesiangan pas Pak Dimi mau ngantor?"
"Dih, emak-emak mulai bergosip." Rania melahap makanannya.
"Jangan gitu oneng, kamu bukan anak gadis lagi sekarang! kamu udah punya suami."
"Iya tahu, bawel deh. Sama kayak mama."
"Ngasih tahu."
"Udah tahu."
"Tapi tetep kayak gitu?"
Rania memutar bola matanya.
"Kamu baru akan ngerti pentingnya ngurus suami kalau nanti ada cewek lain yang ngurusin."
"Maksudnya?"
"Gimana kalau ada cewek lain yang ngurusin keperluan suami kamu?"
"Oh, ... emang ada."
"Apa?"
"Bi Asih, yang suka beresein apartemen dua hari sekali, atau bawa londryan, terus naruh ke lemari. Atau kadang juga aku minta beliin makanan."
"Itu mah emang kerjaan dia, oneng." Galang menepuk kening sahabatnya itu.
"Sakit Lang! aku aduin sama Dimi nih, biar honor kamu ditahan!"
"Dih, mentang-mentang suaminya sponsor, sekarang main ancam?"
"Serius."
"Sombong! lagian yang urusin soal honormah ya Om Angga lah, yang lainmah nggak tahu apa-apa."
"Tapi kan tetep duitnya dari suami aku."
"Cieeee, ...suami." Galang kembali menepuk kening sahabatnya itu. "Oneng punya suami?"
"Galang ish!!"
"Curiga dia udah ngajarin banyak hal nih, sampai segitunya oneng!"
"Apaan?"
"Pura-pura polos, padahalmah udah nggak polos."
"Kamu ngomong apa sih, aku nggak ngerti." pipi Rania tampak merona, dan dia menundukan wajahnya. Kini dia mengerti apa maksud ucapan sahabatnya itu.
"Hmm ... oneng sekarang udah nggak oneng lagi." Galang mengacak puncak kepalanya.
"Astojiim!!" perempuan itu bergumam.
"Udahan belum? sebentar lagi harus pemanasan."
"Udah." Rania langsung berdiri setelah meneguk air minumnya.
"Abisin dulu makananya oneng!" ucap Galang.
"Mau balapan ngga boleh banyak makan, nanti aku mual."
"Sugesti."
"Terus nanti perut begah juga. Nggak bisa bawa motor." kemudian mereka beriringan keluar dari tempat persiapan.
"Semuanya udah siap Lang?" Angga kepada Galang.
"Udah Om, biasa."
"Oke."
Lalu Rania bersiap dengan motornya yang sudah menyala. Yang kini tampilannya sedikit berbeda. Ada beberapa merk barang menempel di body motornya, yang menjadi sponsornya dalam balapan kali ini. Angka 21 pada bagian depan motornya itubbahkan kini terlihat berkilauan ditimpa cahaya matahari sirkuit Jerez yang cukup cerah. Meskipun cuaca hari itu masih terasa cukup dingin.
Perempuan itu mengusap-usap tangki, dan body motornya. Memeriksa keadaan lainnya seperti biasa, memastikan semuanya aman dan kendaraannya layak untuk dikendarai.
Lalu semuanya bersiap, ketika sebuah mobil patroli di depan memberi tanda dengan lampunya yang berkelap-kelip. Mereka akan melakukan pemanasan, menjajal track sebanyak satu putaran bersama-sama.
Tanda dinyalakan dan sebanyak 30 pembalap dari berbagai negara menjalankan kuda besi mereka dalam kecepatan sedang. Semuamya berkeliling mengitari lintasan dalam satu putaran penuh bersama-sama seperti biasa, untuk memastikan keamanana dan kelayakan jalan yang akan mereka lewati dalam memenangkan gelar juara pada hari itu. Hingga kesemuanya tiba kembali di garis start di posisi masing-masing.
"Oke, ada kesulitan, atau yang lainnya?" Angga memastikan kembali.
"Nggak." Rania menggelengkan kepala, lalu, menyesap air yang diberikan Galang kepadanya.
"Semuanya aman?"
"Hu'um."
"Oke, kita bersiap. Ingat, tetap berhati-hatilah disana. Fokus!!" seperti biasa Angga menempelkan keningnya pada helm di kepala putrinya itu. Semacam ritual yang tak bisa dia hilangkan, karena ada doa khusus yang dia panjatkan dalam hati setiap kali Rania menjalani balapan.
"Hati-hati," katanya, lalu dia segera meninggalkannya.
Semua orang kembali bersiap. Para pembalap menggeber tunggangannya, sementara para crew bersiap dengan segala kemungkinanya. Mengatur strategi, mengawasi dan memperhatikan pembalap mereka, juga memastikan segalanya aman dan terkendali.
Suara sirine dibunyikan dan bendera tanda balapan dimulai pun dikibarkan. Lalu ketiga puluh pembalap itu melajukan kendaraan mereka. Kesemuanya berakselerasi dari 0-80 km per jam dalam waktu tak lebih dari dua detik saja. Mereka melesat bagai peluru menuju sasaran, kembali melewati lintasan aspal yang mulai memanas itu.
Sirkuit yang terletak di Jerez De La Frontera itu memiliki 4.428 km. Memiliki 13 tikungan yang digunakan untk berbagai balapan internasional terutama Formula 1 yang di selenggarakan setiap tahun. Tapi juga digunaka untuk balapan lain ketika Formula 1 sedang libur.
Sirkuit yang cukup menantang bagi para pembalap karena memiliki kesulitannya sendiri.
Perebutan posisi semakin memanas. Semua pembalap saling mendahului, dan kesemuanya tak ada yang mau menyerah kepada pembalap lainnya. Tentu saja, balapan ini merupakan satu dari lima balapan yang akan mengukuhkan gelar juara dunia bagi siapapun yang berhasil meraih podium.
Tak terkecuali Rania, yang menjadi salah satu pembalap paling menonjol di musim itu. Kemunculannya yang tak pernah disangka-sangka membuat semua orang bahkan tak memperhitungkannya sama sekali. Hingga akhirnya perempuan itu berhasil membuktikan diri dengan meraih podium di beberapa balapan sejak awal.
"Di depan rapat papa!" Rania berteriak lewat alat komunikasinya. Sudah sepuluh putaran namun dia belum mampu menembus rival di depannya.
"Sabar." jawab Angga dari pitstop.
Rania melihat keadaan yang begitu rapat di depannya.
Empat pembalap seperti sengaja menutup aksesnya, mereka melaju berdampingan dengan jarak yang cukup dekat.
Begitu pula dengan pebalap di belakang yang seperti menghalangi pergerakannya, dan dengan sengaja hampir membenturkan roda mereka masing-masing.
"Apa yang ...
"Stabil Ran!" Angga melihat layat monitor yang terhubung dengan kamera di motor Rania yang tampak berguncangng keras.
Rania menggeber mesinnya lebih cepat dan dia mengarahkan motornya sedikit ke sisi lain untuk menghindari benturan, namun pembalap di belakang seperti terus mengintimidasi.
"Papa! yang di belakang ngincar aku!" Rania berteriak.
"Apa?"
"Yang di belakang mengincar aku."
Angga terdiam.
Sudah mulai. gumamnya dalam hati.
"Bertahan selama mungkin Ran. Menghindar." katanya kemudian.
"Udah aku bilang di depan rapat! aku nggak bisa menghindar, tapi yang di belakang terus mengintimidasi."
Angga terdiam untuk berpikir.
"Papa!"
"Udah 15 putaran, 10 putaran lagi Ran, bertahanlah."
"Aku bisa mati kalau gini terus!"
"Diamlah! bertahan dulu, papa lagi cari ide.
"Jangan lama-lama, atau aku akan jatuh." teriaknya lagi, disaat pembalap di belakang itu semakin terasa jelas mengintimidasi.
"Ugh, siall!!" geram Rania saat dia kembali merasakan benturan pada roda belakangnya.
"Macem-macem sama gue lu!" Rania terdengar menggeram.
Dan setelah beberapa saat dia mengurangi kecepatan secara tiba-tiba yang membuat pembalap di belakang benar-benar membenturkan roda mereka berdua, yang akhirnya membuat dia melebar dan hampir kehilangan kendali.
"Rania!!" Angga berteriak.
Beberapa motor melesat mendahului Rania saat perempuan itu masih berusaha menguasai tunggangannya. Membuatnya berada di urutan paling belakang.
Rania kembali ke lintasan setelah menstabilkan Ducati nya. Namun tertinggal jauh di belakang tak membuatnya putus asa. Bukan Rania jika harus menyerah pada keadaan. Dia kembali melesat menyusul ketertinggalan. Beberapa pembalap dia dahului dengan mudah hingga mampu kembali ke posisi aman. Bersama sepuluh pembalap lain yang juga berusaha merebut posisi di depan.
Tinggal lima putaran lagi, dan Rania masih bertahan di posisi delapan.
"Kamu bisa maju Ran?" Angga setelah mampu menenangkan diri.
"Apa aman?"
"Kayaknya aman."
"Oke." perempuan itu menyelinap ke celah di depan. Melewati dua pembalap yang fokus pada situasi di depan yang masih rapat.
"Ini aneh." Rania bergumam.
Lima pembalap di depannya seperti membuat benteng yang sangat rapat untuk membuat tak seorang pun dapat menyelinap.
"Mereka joinan!" Rania menyadari kejanggala yang terjadi, ketika terlihat empat pembalap yang tetap pada posisinya, sementata satu pembalap yang semula ada dibelakangnya kini berada dekat dengan mereka.
"Lima lawan satu nggak seimbang, papa!"
"Apa?"
"Mereka join untuk nyingkirin aku dari sini!"
"Jangan ngawur. Fokus aja untuk menyusul mereka."
"Aku nggak ngawur! papa nggak lihat?"
Angga tak bersuara.
"Papa!"
"Tenang Ran."
"Papa percaya aku kali ini?"
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Sesuatu."
"Jangan macam-macam Ran, jangan berindak bodoh!"
"Papa percaya aku nggak?"
"Jangan macam-macam!" Angga mengancam.
"Aku cuka mau mengamankan posisiku pah."
"Kamu udah aman, jangan ambil resiko!"
"Kalau resiko itu bikin aku jadi juara?"
"Jangan diambil kalau bahaya!"
Rania kembali berkonsentrasi pada balapan, hingga akhirnya tersisa dua putaran lagi.
"Papa! aku bisa maju?"
"Coba aja, kayaknya ada celah." Angga melihat benteng pertahannan di depan mulai melonggar.
"Tinggal dua lap lagi Ran, pasti sulit."
"Masih dua lap. Belum finish." ucap Rania yang kembali menambah kecepatan. Dan dia segera mengambil ancang-ancang untuk menyalip dua pembalap lagi.
Ducati Panigalenya melesat pada waktu sepersekian detik, menyusul dua pembalap berikutnya yang sudah merasa posisi mereka aman. Namun kemudian mereka merasa terkejut dengan kemunculan kembali pembalap bernomor 21 itu. Rania dengan yakin dan pasti melewati mereka sehingga dia berada di urutan ketiga.
"Ran!" Angga merasa ngeri dengan jarak yang cukup rapat antara putrinya dan dua juara dunia.
"Kayaknya cukup."
"No! aku belum finish." jawab sang putri dengan suara yang tegas.
Dia kemudian bersiap untuk melesat, dan dengan perlahan mensejajari pembalap nomor dua. Yang tentu saja tidak menyerah dengan mudah. Mereka saling berkejaran untuk merebut posisi. Sementara si nomor satu berusaha terus menjauh.
"Lu belum tahu siapa gue!" gumamnya lagi, seraya menambah kecepatan untuk yang terakhir kali hingga batas maksimal di 200km per jam. Dan kuda besi super itu melesat seperti dalam kekuatan cahaya, meninggalkan si nomot dua untuk menyusul si nomor satu yang hampir mencapai finish.
Dan Rania hanya membutuhkan waktu dua detik saja untuk mengejar. Sehingga di detik-detik terakhir dengan jarak hanya beberapa senti saja dia mampu mendahului pembalap nomor satu melewati garis finish. Membuat seisi sirkuit tersebut bergemuruh begitu riuh. Meneriakan nama pembalap asal Indonesia itu dengan lantang.
Lain dengan Angga yang hanya mampu memegangi kepalanya dengan mulut menganga, melihat anak perempuannya itu kembali membuat aksi spektakuler diluar nalar manusia normal.
"Astaga, Rania!!" dia buka suara setelah Rania melewatinya secepat kilat menyambar di udara. Bersamaan dengan anggota crew nya yang berteriak kegirangan.
Sementara di belahan dunia lain pun terjadi hal yang sama, ketika di setiap rumah dengan suasana terang benderang dan riuh dengan sorakan. Menyimak peristiwa menakjubkan itu dengan debar ketegangan yang sama seperti di lintasan. Seperti halnya juga di kediaman Angga, saat Dimitri bersama Maharani dan ketiga adik iparnya bersorak luar biasa gembira dengan hal tersebut.
Sekali lagi, Rania membuktikan diri, bahwa dia bisa dan mampu menjadi nomor satu untuk ke sekian kalinya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ....
huufftthhh. ...tegang boss...
like komen hadiah seperti biasa, 😘😘