
🌹
🌹
Dygta meletakan ponselnya setelah mengakhiri percakapan telfon dengan Sofia. Setelah mendapatkan kabar mengenai keberadaan Rania.
Perempuan itu menghela napas pelan kemudian menatap suami dan anak sambungnya secara bergantian.
"Rania tidak mau pulang?" Arfan bertanya, dan Dygta menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Dia keras kepala ya?" pria itu terkekeh.
"Begitulah, ... tapi yang penting sudah ketemu." ucap Dygta.
"Apa aku perlu minta maaf?" Amara menyela.
"Kenapa kamu merasa harus meminta maaf?" Arfan beralih kepada putrinya.
"Nggak tahu, tapi kayaknya aku harus minta maaf. Karena marahnya kak Rania mungkin disebabkan kesalah fahaman dia sama sikap aku."
"Kamu menyadarinya bukan?" Arfan bersedekap. "Sebenarnya kamu sadar jika sikap kamu itu salah, tapi kamu tetap menyangkalnya."
"Sayang?" Dygta mencoba menginterupsi.
Namun Arfan mengangkat tangannya untuk memberi isyarat kepada perempuan itu untuk tidak ikut campur. Dia akan menjalankan perannya mendidik putrinya secara pribadi kali ini.
"Kamu sebenarnya tahu jika sikap kamu itu salah, tapi entah kenapa kamu malah tetap bersikap seperti itu? sudah tahu sekarang keadaannya berbeda kan, tapi kamu sepertinya tidak bisa menerima itu."
"Nggak gitu papa."
"Mungkin kamu beralasan karena kalian memang tumbuh bersama, jadi masih merasa terbiasa dengan itu semua. Tapi jangan kamu lupakan juga kalau keadaan sekarang sudah berubah. Jangan sampai kamu berbuat hal yang merugikan diri kamu sendiri dan orang lain. Meskipun kamu tidak bermaksud melakukannya."
Amara terdiam. Dia pasrah saja mendengar omelan sang ayah, karena bisa di pastikan dirinya tidak akan bisa menyanggah. Masih untung mereka tak menyudutkannya karena permasalahan itu memang sepertinya berawal darinya. Meskipun perasaannya tetap teguh jika dirinya tak bermaksud berbuat seperti itu.
"Coba jika posisinya di balik. Bagaimana jika kamu ada di posisi seseorang yang suaminya di perhatikan orang lain, sementara kamu ada di depan mereka? apa yang akan kamu lakukan?"
"Tidak mungkin perasaanmu biasa saja bukan?"
"Papa tahu, aku nggak bermaksud melakukannya. Itu terjadi begitu saja kan?" sergah Amara, membela diri.
"Papa tahu, tapi Rania? dia akan berpikiran lain lagi."
"Papa harus mengatakan ini agar kamu tidak salah langkah, kak. Jangan memelihara perasaan yang salah untuk orang yang tidak seharusnya. Atau kamu akan menyakiti dirimu sendiri."
"Nggak, papa."
"Papa harap itu benar."
Dan Amara terdiam lagi.
🌹
🌹
Angga langsumg menuju ke halaman belakamg begitu dia tiba di villa. Setelah menempuh perjalanan hampir empat jam dari Bandung. Dia berjalan mendekat ketika menemukan putrinya berdiri membelakanginya menghadap pohon kiara besar di belakang villa.
"Untung ada kamu, jadinya ada yang ambil itu." perempuan itu berteriak. Kemudian seorang pemuda tinggi dengan rambut cokelat kemerahan turun perlahan dari atas pohon.
"Makasih." ucap Rania lagi yang menerima sebuah layangan dari pemuda tersebut.
Angga mengerutkan dahi, apalagi ketika melihat pandangan yang cukup jarang terjadi di villa milik keluarganya tersebut. Tempat itu tiba-tiba saja menjadi area bermain dengan beberapa anak yang dia yakini berasal dari daerah sekitar villa.
"Ehm, ..." Angga berdeham cukup keras membuat Rania dan Gaza menoleh bersamaan.
"Papa!" Rania bereaksi.
"Kok papa bisa tahu aku di sini?" katanya saat sang papa berjalan mendekat.
"Tahu lah." Angga menjawab. Dia memindai keadaan putrinya yang tampak baik-baik saja. Wajahnya ceria, dan tubuhnya tampak semakin membesar.
"Pak Hamdan ngadu ya sama papa?" Rania menghambur ke dalam pelukannya.
"Nggak."
"Terus, kok papa tahu aku di sini?"
Angga tak menjawab, namun dia menatap pemuda sipit berkulit putih di belakang putrinya.
"Itu Gaza, pah." Rania yang mengerti arti kebungkaman sang ayah.
"Gaza?" Angga membeo.
"Iya, cucunya pak Hamdan."
"Tuh aki-aki punya cucu?"
"Iya lah, itu buktinya?"
"Kayak bukan orang sini." Angga berbisik.
"Emang."
"Beneran?"
Rania menganggukkan kepala.
"Apa kabar? saya Gaza." pemuda itu membungkukkan tubuhnya seperti biasa.
"Hmmm ...
"Dia baru datang dari Jepang, baru beberapa hari di sini." Rania menjelaskan.
"Baru beberapa hari udah akrab aja?"
"Hum?"
"Dih, dia baik tahu!"
"Iya, semua orang baik di mata kamu, sampai-sampai gampang di akrabin." jawab Angga.
"Papa kok gitu?" Rania terkekeh.
"Ini lagi, sejak kapan halaman belakang villa kita jadi taman bermain anak-anak?" Angga menatap beberapa anak yang bermain di sana.
"Sejak aku ke sini. Bagus kan, villa nya jadi rame."
"Hmm ... nah dia, ngapain di sini? masa ikut main sama bocah juga?" tunjuk Angga kepada Gaza yang masih berdiri di sana dengan kedua tangan yang dia masukkam ke dalam saku celananya.
"Dia cuma nganter makanan pah." jawab Rania.
"Rajin amat?"
"Orang di suruh sama Ambu nya."
"Masa?"
"Iya."
"Kenapa bukan pak Hamdan sendiri yang nganter?" Angga menyelidik.
"Dia capek. Semalaman jaga villa emangnya nggak boleh istirahat apa? mana udah tua lagi."
"Ya emang udah tua. Lagian di suruh pensiun nggak nurut?"
Rania hanya tertawa.
***
"Udah seminggu lebih, oneng. Kapan kamu mau pulang?" mereka berdua sengaja berjalan-jalan menyusuri kebun teh di sekitar villa pada sore harinya.
"Nanti." Rania yang berjalan mensejajari langkah ayahnya.
"Nantinya kapan?" mereka berhenti di satu titik di mana pemandangan ke segala arah terlihat. Hutan pinus di ujung hingga hamparan kebun teh di rangkaian bukit sekelilingnya. Di tambah matahari yang berangsur tenggelam di sis barat. Minggalkan semburat jingga kemerahan di langit kebun teh Puncak.
Rania tak menjawab.
"Jangan lama-lama marahnya, dosa tahu marahan sama suami. Mana lebih dari tiga hari lagi?"
"Udah nggak marahan."
"Udah nggak marahan tapi nggak ikut pulang? padahal suami kamu bela-belain nyari dari Bandung sampai ke sini."
"Ngapain pulang? orang di rumah juga nggak ada siapa-siapa. Dimitrinya pergi. Lagian, kenapa juga sih papa harus ngebahas itu? Dimitri ngadu ya sama papa?"
"Nggak, ...
"Terus kenapa juga papa ke sini?"
"Emangnya nggak boleh ya, kalau papa mau lihat anak sendiri?"
Rania tersenyum.
"Sekalian mau ngingetin, kalau apa-apa tuh harus di pikir dulu, obrolin dulu yang bener. Jangan gampang minggat. Kamu bukan anak SD yang cuma bisa ngandelin emosi. Tapi udah dewasa. Yang bahkan bakal jadi ibu dalam hitungan bulan. Kamu pikir cara kayak gini tuh baik?"
"Ninggalin suami sampai dia nyari berhari-hari, bikin semua orang sibuk karena nyariin kamu. Kamu bahkan membahayakan diri kamu sendiri. Nggak ingat ada dua bayi dalam kandungan kamu ya? gimana kalau terjadi sesuatu? siapa yang paling rugi? ya kamu sendiri."
"Papa lagi belain Dimitri ya? siapa sih anak papa sebenarnya? aku atau dia?"
"Ngapain papa belain si Dimi? orang dia udah kena batunya kok. Kali dia udah ngerasain gimana akibat dari ke nggak pekaannya sama kamu."
"Dia memang salah, tapi apa kamu pikir kamu paling benar?" Angga terus mencercanya dengan berbagai pernyataan.
"Papa nggak bilang kesalahannya kecil ya, karena sudut pandang setiap orang itu beda-beda. Tapi coba deh kamu sedikit berkompromi. Kalian kan belum sama-sama saling memahami? kenal aja baru berapa bulan udah langsung nikah aja? ya kenalannya sekarang setelah nikah."
"Kamu tahu nggak, kalau pernikahan itu adalah proses perkenalan seumur hidup? akan selalu ada hal baru yang terjadi, sifat baru yang kalian tahu, kebiasaan baru yang kalian lakukan. Dan itu semuanya nggak mudah lho. Percaya deh, papa juga ngalamin itu. Gimana kamu harus selalu menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi di antara kalian. Entah itu sifat, kebiasaan dan cara kalian menghadapi masalah."
"Dan coba deh untuk nahan diri. Jangan apa-apa main pukul. Dimitri itu suami kamu, bukannya samsak yang bisa kamu pukul seenaknya. Kayak di selingkuhin aja kamu sampai segitunya? Papa ralat deh ucapan yang waktu itu soal pukul aja kalau dia macam-macam. Kayaknya papa yang salah ngomong. Salah papa juga yang mendidik kamu kayak gini. Tadinya biar bisa jaga diri, taunya malah kebablasan."
"Marah boleh, itu hal yang manusiawi. Tapi jangan sampai bikin orang terdekat kita jengah dan akhirnya dia lelah dan pergi. Tahu-tahu nanti kamu nyesel aja kalau Dimitri udah capek sama sikap kamu."
"Bukannya papa mau ikut campur. Kamu memang sudah jadi hak dan kewajibannya Dimitri. Sudah seharusnya dia mendidik kamu dengan caranya sendiri. Tapi kalau gini keadaannya? kayaknya papa perlu turun tangan, sebelum nanti semuanya terlanjur memburuk. Kesalah fahaman yang berlarut-larut, dan kemarahan yang sampai berjilid-jilid. Nggak lucu aja, apa lagi kalau kamu sampai di tinggalin Dimitri dalam keadaan kayak gini."
"Papa ih ngomongnya ke mana aja." Rania bereaksi.
"Ya bukan hal yang nggak mungkin. Dia itu laki-laki normal, manusia biasa. Sekuat-kuatnya dan sebucin-bucinnya dia pasti ada capeknya kalau kamu gini terus. Namanya juga rumah tangga, apa pun yang terjadi pasti ada andil dari kedua belah pihak, nggak mungkin cuma dari satu pihak aja. Kamu bisa berbuat gini karena Dimitri yang gitu. Dan dia yang gitu mungkin karena kamu yang gini. Semua hal ada timbal baliknya."
"Papa kayak lagi ceramah."
"Serius, oneng!" Angga menepuk kening sang putri.
"Iya, iya papa. Nggak usah mukul!" protes Rania sambil mengusap-usap keningnya yang terasa cukup sakit.
"Iya iya tapi gini terus." Angga mendelik.
Sementara Rania menutup mulutnya rapat-rapat. Kali ini dia memutuskan untuk mendengarkan ocehan ayahnya saja.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
hari pertama puasanya rempong gaess, ...
cus lah klik like komen sama hadiahnya yang banyak. 😘😘