All About You

All About You
Levitating



🌹


🌹


"Tetap fokus oke? hanya ingat motor dan lintasannya. Yang lainnya papa yang urus." ucap Angga seperti biasa.


Rania menganggukan kepala.


"Lang, semua udah lengkap?" teriak Angga kepada Galang.


"Udah Om."


"Oke." lalu dia kembali kepada putrinya. "Dan yang paling penting, hati-hati." katanya, seraya menempelkan keningnya pada helm dikepalanya Rania. "Mereka nggak akan menyerah gitu aja. Papa yakin mereka juga punya strategi yang lebih baik, jadi waspadalah."


Gadis itu mengangguk lagi.


"Cek mesin," Galang mendekat, kamudian Rania memutar gas sehingga benda itu meraung-raung.


"Ban?" pemuda itu memeriksa ban belakang yang berputar kencang pada paddocknya.


Galang terus memeriksa keseluruhan yag ada pada benda itu, memastikan segalanya aman dan terkendali seperti biasa.


"Semuanya oke, Ran." katanya, dan dia bangkit.


"Oke Lang."


Pemuda itu menatap Rania lekat-lekat, seolah-olah akan melepaskan gadis itu untuk pergi. Dan rasanya memang seberat itu. Arena lintasan kali ini tidak akan mungkin bisa dilewati dengan mudah, selain karena Rania start di posisi cukup rawan, juga karena banyak hal yang mampu mengalihkan perhatiannya kini.


Dan dia tidak akan pernah bisa melupakan kejadian tadi pagi, saat tanpa sengaja memergoki sahabat kesayangannya itu tengah berciuman dengan Dimtri, pria yang mereka kenali sebagai sponsor untuk balapan gadis itu. Dirinya secara kebetulan berniat memeriksa barang-barang mereka di pitstop. Namun malah menemukan hal paling menyesakan di dunia. Cinta pertamanya telah menjadi milik orang lain, yang tak mungkin mampu dia jangkau.


"Hati-hati Ran." ucap Galang.


"Oke."


Oneng gue udah nggak oneng lagi, duh. batinnya, dan hatinya berdenyut ngilu saat menatap dua bola mata dibalik helm yang kacanya masih terbuka itu.


Sementara Rania asyik menatap ke arah bangku penonton, dimana Dimitri duduk di barisan kedua dari depan, dengan santai tanpa melakukam banyak hal seperti penonton lainnya. Namun entah mengapa pria itu tampak dominan dan mencolok diantara para penonton. Dan Rania masih dapat mengenalinya walau dari kejauhan.


"Sebentar lagi mulai Ran." Galang mengingatkan.


"Oke." gadis itu bersiap.


Kemudian dia menghidupkan mesin, memutar gas seperti peserta lainnya. Dan pada saat Galang melepaskan paddock dari ban belakang, dan beberapa detik kemudian orang di depan mereka mengangkat bendera, motor-motor itu segera melesat melewati garis start.


Semuanya berjalan mulus hingga beberapa lap. Melewati 8 tikungan ke kanan, dan 6 tikungan kiri. Track lurus dan sedikit naik turun. Posisi terus berganti-ganti.


Ada yang mampu menyusul, ada juga yang malah tertinggal di belakang. Namun Rania melewatinya dengan mudah.


Ketika peserta lain tengah saling menyalip berebut posisi, gadis itu tanpa mereka sadari sudah mendahului, dengan kecepatan yang tentu saja membuat orang-orang tercengang.


"Oke, Rania sudah kembali." teriak pembawa acara dalam bahasa Inggris dari pengeras suara, dan membuat penonton bersorak sorai. Rupanya mereka semua menunggu aksi-aksi menegangkan yang biasanya dilakukan oleh gadis mungil itu.


Caranya menguasai kuda besinya memang tak biasa. Saat dia melewati tikungan membuat orang-orang menahan napas. Dan pada saat dia melewati track lurus membuat siapapun takjub.


Rania memang luar biasa, begitu yang mereka ucapkan.


Dibalik tubuh mungilnya, siapa sangka gadis itu bisa garang membesut Ducatinya? Dengan wajah imutnya, dia mengecoh banyak orang dengan kemampuannya yang membuat banyak orang tercengang kala melesat menguasai lintasan. Dia sudah seperti ratunya sirkuit saja.


"Ayo Rania!!!" Dimitri berteriak saat kekasihnya itu melesat melewatinya.


Dan sirkuit yang berkapasitas 140.000 orang itu tentu saja bergemuruh dengan teriakan yang bergema tanpa henti. Masing-masing penonton menyemangati pembalap andalannya.


Hingga pada saat di dua putaran terakhir, semua orang kembali dibuat menahan napas ketika seorang pembalap asal Itali tak mampu mengendalikan motornya di tikungan. Pembalap tersebut terguling ke tengah dan menyebabkan kecelakaan beruntun setelah pembalap lain di belakangnya tak mampu menghindar. Yang akhirnya membuat pembalap-pembalap lain berjatuhan dengan cara yang mengerikan. Beberapa diantara mereka terpelanting dan berguling. Beberapa motor bahkan terbelah jadi dua akibat mengalami benturan yang sanagt keras.


Rania terhenyak, posisinya yang masih dibelakang membuatnya hampir saja mengalami hal yang sama.


"Stop Rania!" Angga dari seberang sana berteriak.


Namun gadis itu berpikir cepat, karena berhenti bukanlah solusi. Dia akan mengalami hal yang sama jika itu dia lakukan.


Alih-alih memelankan laju motornya, Rania malah menambah kecepatan hingga batas. Kemudian dia mengangkat bagian depannya sehingga benda itu nampak seperti terbang melewati tiga motor yang tergeletak di depannya, yang belum sempat menepi kesamping.


Rania melompat dengan mudah, dan melakukan pendataran dengan mulus. Namun membuat semua orang berteriak karena aksinya tersebut. Setelah itu dia kembali melesat untuk menyelesaikan dua lap terakhir, menyusul pembalap di depan yang sudah mendahului mereka.


Orang-orang di bangku penonton kembali bersorak setelah menyaksikan kejadian menegangkan tersebut. Kecuali Dimitri, yang masih memegangi kepala dengan kedua tangannya. Dia tak percaya apa yang dilihatnya barusan.


Gadis itu benar-benar menggila dengan tunggangannya.


"Ya Tuhan Zai! kamu membahayakan dirimu sendiri!" ucapnya, dengan nada khawatir.


Kemudian seluruh sirkuit bergemuruh lagi saat lap terakhir dilalui oleh tiga pembalap, yang salah satunya adalah Rania yang finish di posisi ketiga. Diikuti beberapa pembalap lain yang selamat dari insiden sebelumnya.


"Oh, benarkan dia di posiis ketiga??" Dimitri berteriak.


"Benar, benar." jawab Satria yang juga bertepuk tangan dan bersorak gembira.


"Oh ya Tuhan! dia gila!! dia juara lagi! ya Tuhan!!" pria itu terus saja berteriak-teriak.


*****


Angga melepaskan headphonenya sambil berlari menyongsong putrinya yang tiba di pitsop mereka. Rasa khawatir tentu saja menguasai hatinya saat melihat kejadian tadi. Pria itu bahka merutuki dirinya sendiri mengapa malah membawa anaknya ke arena seperti ini.


"Tadi itu bodoh sekali Ran!" Angga berteriak, dengan kedua tangan memegangi kepalanya.


Sementara putrinya itu dengan santai membuka helm dan dia terlihat tersenyum lebar.


"Kamu bikin papa khawatir!" ucap Angga lagi.


Rania tak menjawab, dia malah terus tersenyum. Dan dia kembali naik podium pada Grand Prix Woman Superbike pada hari itu, berdiri di posisi ketiga sebagai pemenang. Dan menjadi MVP pada hari itu karena aksi menegangkannya ketika pembalap lain berjatuhan karena insiden di dua lap terakhir tadi


🌹


🌹


🌹


Bersambung....


klik like komen dan kirim hadiahnya yang banyak, bantu novel ini naik terus ya, udah di posisi 20 Ranking hadiah nih. makasih ya atas dukungan kalian buat si Oneng dan Kang Sosor.


lope lope se Barcelona. 😘😘😘


mau promo juga nih karya punya otor Net Profit yang bisa bikin klian ngakak guling-guling. Ini Udh end, jadi bacanya asyik bisa maraton tiga hari tiga malam tanpa jeda. 😆😆