All About You

All About You
Tengah Malam



🌹


🌹


"Pelan-pelan dong, nggak usah buru-buru gitu. Nggak ada yang bakal habisin makanannya. Papa kan udah beli banyak buat kamu." Angga menggeser gelas berisi air putih ke hadapan Rania saat putrinya itu terlihat hampir saja tersedak.


"Habisnya aku lapar." ucap Rania setelah menenggak air di gelas hingga habis setengahnya.


"Kenapa nggak makan dulu di rest area sih? kayak di hutan aja yang nggak ada makanan." Angga mendelik ke arah menantunya yang sejak tadi terdiam.


"Maunya makan ayam geprek Gedung Sate, tapi makannya di sini." jawab Rania lagi yang kembali meraup makanan favoritnya itu kemudian mengunyahnya dengan lahap.


"Kamu ribet deh ah! untung tadi masih buka." Angga menggerutu.


"Papa mending lah deket ke Gedung Sate, lah Dimi dari Jakarta aku mintain beli ke sini dia mau aja, mana malam-malam lagi." dia kembali menjawab.


"Serius?" Angga menoleh lagi kepada menantunya. Sedangkan orang yang di maksud hanya terbengong-bengong karena tengah mengingat kapan dirinya melakukan hal tersebut?


"Iya," Rania berucap.


"Kapan? kok papa nggak tahu? kalian nggak mampir ke sini?"


"Waktu itu. Kita nginep di apartemen, udah malam juga kan? terus subuhnya balik lagi ke Jakarta."


"Jangan nyusahin Oneng! Jakarta-Bandung itu jauh, kamu kalau sering-sering gitu malah bikin Dimitri susah tahu! dia kan banyak kerjaan?"


"Habisnya aku kangen pulang ke sini."


"Iya, tapi harus tahu waktu. Keadaannya sekarang udah beda." ucap Angga.


Rania terdiam, entah mengapa ini rasanya seperti sang ayah tengah menolak kehadirannya.


"Papa nggak suka ya, kalau aku dateng ke sini?"


"Bukan nggak suka. Mana ada orang tua yang nggak suka pas anakanya berkunjung? orang tua macam apa itu?"


"Terus?"


"Ya jangan sampai mengganggu kerjaan suami kamu. Kerjaannya kan beda sama papa."


Rania masih terdiam.


"Kalau mau ke sini tuh pas week end kek, kan enak pas libur."


"Orang nggak ada liburnya. Hari minggu juga kadang ada meeting dadakan." adu Rania kepadanya.


"Masa?"


"Eee ... kadang-kadang. Kalau sedang banyak pekerjaan, pah. Tapi sekarang nggak kok, sudah mulai santai." Dimitri menyela, mencoba menyelamatkan dirinya sendiri dari pengaduan perempuan itu.


"Tuh, ... denger? sabar dong. Kan lagi cari nafkah, buat siapa lagi kalau bukan buat kamu?"


Rania mencebik.


"Tapi kalau mau pergi pengennya langsung aja gitu, nggak mau nunggu nanti apalagi sampai lama-lama."


"Belajar sabar, biar anak kalian juga nantinya akan bisa sabar. Jangan apa-apa maunya langsung di turutin aja. Kan kepentingan orang beda-beda."


"Hmmm ...


"Kayaknya efek hamil nih? nggak biasanya kamu cengeng kayak gini, apa lagi sampai nangis kaya tadi? kamu cengengnya kan dihabisin pas waktu bayi." Angga mengingat masa-masa itu. Ketika bayi Rania yang sangat mudah menangis. Bahkan ada suatu waktu dia menangis seharian tanpa diketahui penyebabnya, membuat semua orang begitu panik.


"Benarkah?" Dimitri menginterupsi.


"Iya." jawab Angga. "Kalau nggak salah sampai umur setahun dia cengegnya. Habis itu nggak pernah lagi nangis-nangis, apa lagi kayak tadi. Nabrak benteng sampai tangannya patah aja nggak separah tadi nangisnya."


Dimitri melirik kepada Rania yang melanjutkan acara makannya.


"Cengengnya dia parah nih." Angga mengusak puncak kepala putrinya. "Stok kesabaran kamu mesti lebih banyak dari apapun, Dim. Udah pasti dia lebih keras kepada dari sebelumnya."


"Hum." kemudian dua pria itu tertawa. Hal yang sangat langka terjadi malam itu.


"Aku udah kenyang." Rania membereskan kekacauan yang dibuatnya di ruang makan.


"Ini, capucino cincaunya belum kamu minum Zai?" Dimitri menunjuk cup minuman dingin tersebut yang tadi dia beli juga saat menunggu Angga memesan ayam geprek kesukaan Rania.


"Ogah, masa malam-malam begini minum yang dingin? kamu mau bikin aku sama babynya masuk angin apa?" Rania mendelik.


Angga kembali tertawa. "Kan udah di bilangin kalau dia nggak minta ya nggak usah di beliin?" Angga berujar.


"Takutnya dia tiba-tiba minta."


"Lain kali nggak usah. Hanya belikan yang dia minta."


"Ini membingungkan."


"Memang, namanya juga ibu hamil." pria itu bangkit. "Ada lagi yang kamu mau papa belikan Ran?"


"Nggak, udah cukup. Peruta aku udah kenyang."


"Beneran? nanti kamu gedor ke kamar papa lagi?"


"Nggak akan."


"Ya udah, tidur gih udah malam. Besok subuh harus balik ke Jakarta kan?"


"Iya, pah."


Angga menepuk bahu Dimitri sebelum akhirnya dia pergi ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya, menyusul Maharani yang sudah kembali sejak pria itu dan menantu mereka berhasil mendapatkan keinginan putri mereka yang tengah hamil muda.


***


"Udah mau tidur ya?" Rania naik ke tempat tidur di mana Dimitri sudah terlebih dahulu berada disana.


"Hmm ..." pria itu membenahi bantal di belakang tubuhnya, kemudian menarik selimutnya yang cukup tebal. Cuaca Bandung malam itu memang cukup dingin.


"Oke." perempuan itu bergeser hingga jarak mereka hampir menghilang kemudian menelusupkan tangannya ke tubuh Dimitri dan memeluknya dengan erat. Wajahnya bahkan sudah menempel di dada pria itu.


"Tidurlah Zai, jangan berbuat macam-macam." Dimitri balas memeluknya.


"Macam-macam apa? paling cuma satu macam." perempuan itu mendongak.


"Iya, maksudnya itu." pria itu terkekeh.


"Emangnya nggak mau ya?"


Dimitri kemudian tertawa.


"Akhir-akhir ini kamu jadi genit."


"Masa?"


"Iya, membuatku tidak tahan."


"Kalau gitu, ayo." Rania bangkit kemudian hampir melepaskan pakaiannya.


"Jangan!" Dimitri menahan tangannya.


"Kenapa?"


"Ini di rumah orang tuamu tahu?"


"Ya, terus? emangnya ada larangan ya kalau nginep di rumah orang tua itu nggak boleh anuan?"


"Terus?"


"Kita berisik kalau sedang bercinta." Dimitri berbisik di telinganya.


"Oh ya?"


"Nanti orang-orang terganggu."


"Emangnya kalau di rumah kita orang-orang nggak terganggu ya?"


Pria itu menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa. Hanya saja ...


"Kalau gitu ayo kita pulang ke Jakarta?" Rania tiba-tiba saja bangkit.


"Ap-apa?"


"Di rumah kita bebas kan, mau ngapain aja nggak ada yang denger?"


"Iya, tapi masa mau pulang sekarang? kita baru saja sampai. Dan aku capek menyetir dari Jakarta ke Bandung."


"Nggak apa-apa, gantian aku yang nyetir."


"Tidak begitu Zai. Aku baru saja mau tidur, aku ngantuk."


"Kamu bisa tidur di mobil, yang nyetir kan aku." Rania segera mengenakan celana panjang dan jaketnya dengan cepat.


"Zai."


"Cepetan lah, ... kita pulang. Lagian udah ketemu papa ini, makan ayam gepreknya juga udah kesampaian. Besok-besok aku nggak akan minta lagi."


Dimitri tertegun.


"Cepetan Yang, aku mau pulang." Rania merengek.


"Ini lewat tengah malam, Zai."


"Ya, terus?"


"Masa kamu mau menyetir malam-malam begini?"


"Emangnya kenapa?"


"Bahaya."


"Bahaya apanya?"


"Mmm ...


"Mobil kamu canggiih, bisa kita atur auto juga kan sekarang? jadi aku nggak akan terlalu lama nyetirnya.


"Serius?"


"Iya, cepetan!" Rania menarik pria itu agar segera turun dari tempat tidurnya.


"Kamu lupa ya apa yang papamu katakan tadi?"


"Soal apa?" mereka keluar dari kamar.


"Soal harus tahu waktu, apa lagi kamu sedang hamil begini?"


Rania berhenti berjalan.


"Jangan apa-apa maunya langsung dilakukan. Dari Bandung ke Jakarta itu lumayan jauh, besok pagi saja lah."


"Tapi aku mau pulang."


"Iya, nanti pagi saja."


Perempuan itu terdiam.


"Oke? ayo kita kembali ke kamar?" bujuk Dimitri.


"Nggak ah, aku mau pulang." tolak Rania yang kemudian menggedor pintu kamar ayahnya.


"Papa!" dia sedikit berteriak.


"Papa, aku mau pulang." katanya, dan terdengar suara langkah cepat di dalam kamar, kemudian pintunya terbuka.


"Apa?" Angga menyembulkan kepalanya lewat celah pintu yang di buka sedikit. "Mau apa lagi?" katanya, yang hanya mengenakan celana pendek tanpa kaus atasannya. Raut wajahnya terlihat sedikit kesal.


"Aku mau pulang." jawab Rania yang menilik kedalam ruangan kamar orang tuanya yang gelap.


"Pulang?" pria itu mengerutkan dahi.


"Iya. Ke Jakarta." Rania menganggukan kepalanya.


"Jakarta?" Angga membeo.


"Iya."


"Kok buru-buru? kalian kan baru sampai tadi? ada masalah?" dia keluar kemudian menutup pintu di belakangnya.


"Nggak."


"Kenapa pulang? bukannya mau tidur tadi ya?"


"Mmm ... karena udah ketemu papa, sama makan ayam geprek Gedung Sate, tiba-tiba aja aku mau pulang."


"Hah?"


"Mama mana? aku mau pamitan." Rania hampir saja menerobos pintu kamar orang tuanya untuk menemui sang ibu, namun Angga menahannya.


"Biar papa aja yang bilang, mama kamu udah tidur. Kasihan." katanya.


"Beneran?"


"Iya, udah kalau mau pulang." ucap Angga.


"Ya udah."


"Eh, ... tapi kan ini tengah malam Ran?"


"Bodo ah, ... pokoknya mau pulang." Rania kemudian menuruni tangga ke lantai satu.


"Anak itu ..." Angga menggelengkan kepalanya, sementara Dimitri mengikuti langkah perempuan itu setelah berpamitan kepada sang mertua.


Sabar, sabar. Keras kepalanya dia tidak bisa di kalahkan. gumamnya dalam hati.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...