All About You

All About You
Normal



🌹


🌹


"Ayolah Pih, cepat!" Dimitri menunggu sang ayah dengan tidak sabar. Mereka hendak menghampiri tim setelah mereka berhasil melewati wawancara dengan puluhan media internasional dibawah podium.


"Sabar Dim, mereka tidak akan kemana-mana." Satria berusaha mengejar langkah sang putra. Dan akhirnya bertemu juga dengan rombongan tim yang hampir keluar dari area sirkuit.


Mereka menyambut sang sponsor dengan antusias, dan euphoria kemenangan yang masih terasa.


"Angga?" ucap Satria kepada crewnya, yang tak melihat keberadaan sang pemimpin tim bersama mereka.


"Masih dibelakang dengan Rania pak." jawab Gani.


Dan beberapa saat kemudian muncullah pria yang dimaksud, berjalan bersama sang putri yang menjadi sorotan media sore itu.


Angga hampir berlari begitu melihat Satria didepan bersama anak buahnya, sementara Rania memelankan langkah ketika melihat sosok Dimitri yang berada bersama mereka. Yang segera menyadari keberadaan gadis itu dan menyelinap tanpa disadari oleh orang-orang yang tengah berbincang dengan ayahnya.


"Kamu malah kesini lagi!" Rania menggeram dalam bisiknya, namun pria itu malah mendorongnya kembali ke area dibelakang pitstop.


"Hey, nanti mereka nyari kita." protes Rania setelah mereka berada jauh di belakang crew.


"Tidak akan," ucap Dimitri yang berdiri menjulang dihadapannya. Kemudian mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.


"Ayolah Dim, aku... "


"Kamu membuatku khawatir!" geram Dimitri setelahnya, dan dia segera menarik gadis itu ke pelukannya. Mendekapnya dengan perasaan yang sulit dia jelaskan. Antara bahagia, khawatir dan juga ketakutan. Yang kesemuanya sangat mendominasi hati dan pikirannya.


Rania merasakan tubuh pria itu gemetaran dengan dadanya yang berdebar begitu kencang. Jelas sekali jika Dimitri sangat ketakutan. Tubuhnya terasa panas namun kedua telapak tangannya seakan membeku. Terasa dingin ketika membingkai wajahnya.


"Kamu lebay, tadi itu seru." Rania tergelak saat mencoba melepaskan tangan dingin Dimitri dari wajahnya.


"Seru katamu? aku merasa hampir mati waktu kamu melayang tadi. Rasanya mau pingsan saja."


Namun Rania malah terkekeh-kekeh, membuat Dimitri merasa gemas sendiri.


"Jangan seperti itu Zai, kamu membahayakan dirimu sendiri!" dia menempelkan kening mereka berdua.


Sesaat Dimitri menoleh ke belakang, memeriksa apakah masih ada orang, namun tampaknya para crew juga Angga dan ayahnya sudah tak lagi berada disana.


Dia kembali menatap wajah Rania yang masih mendongak, dan di detik berikutnya, sebuah ciuman Dimitri daratkan di bibir gadis itu. Dia Memagutnya dengan perlahan, lalu mel*matnya dengan lembut. Merasai bibir menggoda itu sepenuh hati.


"Jangan lakukan itu lagi Zai." dia menjeda cumbuannya, lalu kembali menyesap belahan kenyal milik Rania. Sementara gadis itu terdiam menerima cumbuan lembut nan memabukan yang mulai bisa dia nikmati seperti halnya juga Dimitri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Si oneng mana, Lang?" Angga baru menyadari ketidak beradaa putrinya saat mereka dalam perjalanan kembali ke hotel tempat mereka menginap, yang letaknya tak jauh dari sirkuit.


"Nggak tahu, tadi sih masih disana." jawab Galang.


"Lho, nggak kamu ajak pulang?" ucap Angga.


"Udah, tapi katanya masih mau disana sebentar lagi."


"Ajak lagi gih, sebentar lagi kita kan harus langsung ke Jerman."


"Biarin ajalah om, nanti juga balik sendiri. Dia masih betah di lintasan." tukas Galang yang lagi-lagi merasakan denyutan ngilu di ulu hatinya, setelah kembali menyaksikan kemesraan dua sejoli di dekat pitstop beberapa saat yang lalu. Saat Angga menyuruhnya menjemput Rania.


"Dih, nanti kita telat." ujar Angga yang berhenti tepat di depan pintu masuk hotel.


"Ya udah sih, nanti di oneng juga balik sendiri." tukas Galang.


"Hah, nanti dia hilang lagi!" namun Angga memutar tubuh.


"Lah, om mau kemana?"


"Nyusul si oneng lah."


"Nggak usah om, nanti juga dia balik sendiri."


"Takut kemana aja."


"Nggak akan." Galang menahannya. Bisa ada pertikaian jika saja pria itu ngotot pergi dan menemukan putrinya tengah bermesraan dengan sponsor mereka.


"Nanti dia nyasar."


"Nggak mungkin om."


"Alah, kayak nggak tahu si oneng aja kamu?"


"Udah gede ini om. Kalaupun nyasar dia bisa tanya ke orang."


"Kamu pikir ini di Cimahi, kalau nyasar tinggal tanya ke orang? Ini Barcelona pea! gimana dia mau tanya ke orang-orang?"


"Mmm... " Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apaan sih ribut-ribut di depan hotel? kayak anakn TK mau masuk kelas deh?" orang yang dimaksud muncul secara tiba-tiba.


"NahKan?" Galang bereaksi, namun matanya membelalak ketika melihat pria di belaang Rania.


"Kamu habis dari mana dulu?"


"Nggak dari mana-mana, ya jalan lah."


"Kok lama? malah ketinggalan?"


"Mm... itu tadi aku... itu dulu. Eh...


"Tersesat pak." sahut Dimitri dari belakang.


"Oh ya?"


"Hmm... iya Pah. tadi agak nyasar, eh ketemu pak Dimi. Yaudah, bareng aja." gadis itu dengan pipi memerah.


"Dahlah, aku duluan. Capek mau bobo sebentar." Rania menghambur kedalam hotel menghindari tatapan aneh yang dia rasakan.


"Nah kan, dia nyasar Lang. Dibilangin juga nggak percaya." Angga mengikuti langkah putrinya.


Iya, nyasar sama cowok tuh! batin Galang yang mendelik kepada Dimitri yang juga melewatinya begitu saja.


🌹


🌹


"Baiklah, ... sampai jumpa sebulan lagi." Dimitri mencuri-curi kesempatan untuk berbicara saat Rania dan crewnya hampir keluar dari pesawat. Mereka telah tiba di Bandara internasional Berlin setelah beberapa jam mengudara dari Barcelona.


"Jangan kangen ya, sebulan itu lama lho." ucap Dimitri, dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


"Jangan Sembarangan, yang ada juga kamu yang kangen sama aku. Pasti nanti tiba-tiba nongol di bangku penonton." cibir Rania.


"Ke ge'eran kamu." dia mengusak puncak kepala Rania.


Gadis itu mencebikan mulutnya.


"Aku nggak antar sampai hotel ya? nanti malah nggak mau pulang. Bisa kacau perusahaan kalau aku pergi terlalu lama." Dimitri tergelak.


"Nggak usah, nanti orang-orang malah curiga lagi."


"Itu maksudnya."


"Ran, cepetan!" Galang berteriak ketika menunggu gadis itu yang masih betah berdiam diri diambang pintu pesawat, sementara yang lainnya hampir tiba di dalam gedung bandara.


"Hati-hati, udara disini sangat dingin." Dimitri merapatkan jaket yang melekat di tubuh Rania.


"Hu'um."


"Jangan lupa istirahat, latihan secukupnya saja."


"Baik pak."


"Dan terutama hati-hati, jangam beratraksi lagi, baru membayangkannya sudah ngeri." Dimitri bergidik saat bayangan Rania dan motor besarnya melayang dilintasan.


"Kalau itu nggak janji."


"Rania!"


"Itu nggak terduga tahu!"


"Yeah, benar. Di lintasan biasa saja kamu selalu berstraksi, apalagi di sirkuit ya?"


Rania hanya tertawa.


"Aku serius. Yang kemarin itu membuatku khawatir."


"Iya, iya. Kamu cerewet!"


"Ya kalau kamu berbuat normal aku tidak akan cerewet seperti ini."


"Ya kalau mau orang yang berbuat normal nggak usah pacaran sama aku dong, cari aja cewek lain. Kan dari awal aku nggak senormal orang lain."


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Ya habis kamu bilang aku nggak normal. Kan udah tahu dari awal kalau aku nggak normal?"


"Maksud aku bukan gitu Zai."


"Kamu kalau mau nyebelin kayak gini mending nggak usah pacaran sama aku deh. Sayang waktu kamu terbuang sia-sia." Rania bersungut-sungut.


"Lho kok gitu?"


"Udah ah, lama. Orang-orang udah pada nunggu." Rania melangkah keluar.


"Zai?"


"Udah sana pulang!"


"Hey, aku nggak bermaksud menyinggung kamu lho."


"Aku tahu, sana!"


"Kamu marah?"


"Nggak, aku udah biasa kok dikatain nggak normal." Rania menuruni tangga pesawat.


"Ran!"


"Jangan manggil-manggil melulu, sana pulang!" Rania berlari menyusul Galang yang menunggu di depan pintu masuk gedung. Sementara Dimitri mengantar kepergiannya dengan tatapan mata.


"Kamu ada urusan apa sama Pak Dimitri?" Galang memberanikan diri untuk bertanya.


"Nggak ada."


"Mencurigakan."


"Apanya yang mencurigakan?"


"Hubungan kamu sama Pak Dimitri."


"Hubungan apa? nggak ada."


"Itu, tadi Ngobrolnya lama Bener? kayak yang mau pisahan."


"Kamu ngaco deh."


"Habisnya kalian aneh."


"Aneh apanya?"


"Hubungan kalian."


"Hubungan apa dudul? cuma hubungan sama sponsor, kayak atasan sama bawahan."


"Iya, atasan dan bawahan yang deket."


"Ish, kamu ngaco deh." Rania berlari meninggalkannya menghampiri Angga yang sudah berada jauh di depan.


Nah kan, oneng gue udah nggak oneng lagi gara-gara cowok itu! duh.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Waktunya vote Gaes,...