
🌹
🌹
"Ck! Lama." Rania merebahkan tubuhnya di kursi tunggu sebuah bengkel besar ternama. Yang khusus menangani mobil-mobil mewah keluaran Eropa dan Amerika.
Sementara Dimitri duduk tegak dengan kedua tangan bersilang di dada. Mencoba untuk tetap tenang meski pada kenyataannya jantungnya sedang tak senormal biasanya. Tiba-tiba saja dia kehabisan kata-kata. Otaknya terasa kosong dan dia tak tahu harus berbuat apa.
Kau ini Dimitri Alexei, masa menghadapi gadis seperti dia bisa membuatmu jadi idiot seperti ini? batinnya bermonolog.
"Pak?" Rania bangkit.
"Hum?" Dimitri menoleh sekilas.
"Bapak mau nunggu disini?"
"Memangnya kenapa?"
"Kalau mau disini dulu silahkan deh, saya mau pergi."
"Kemana?"
"Nyari makan Pak, lapar." Rania mengusap-usap perutnya.
"Oh, ...
"Duluan ya? bapak hafal jalannya nggak? kalau nggak hafal pakai map bisa kayaknya. Dari sini ke Landmark nggak jauh-jauh amat kok." gadis itu berdiri.
"Sebentar." Dimitri ikut berdiri, dan dia segera menemui mekanik bengkel yang menangani mobilnya, kemudian kembali setelah beberapa menit.
"Ayo?" ucapnya saat dia kembali.
"Bapak juga mau pergi?"
"Sepertinya begitu. Menunggu disini cukup membosankan." jawab pria itu.
"Ya udah." mereka berjalan keluar.
***
"Kita mau kemana?" Dimitri bertanya pada saat mereka sudah berada di pinggir jalan. Wajahnya sudah memerah karena sinar matahari, dan rambut bergelombangnya berantakan tertiup angin.
"Kalau saya sih mau makan, bapak mau kemana?"
"Ikut kamu saja lah."
"Ikut saya?"
"Iya. Lagipula saya tidak tahu harus pergi kemana."
"Okedeh kalau gitu." Rania mengulurkan tangannya saat sebuah Angkot berwarna hijau mendekat.
"Apa yang...
"Ayo pak." gadis itu bersiap naik saat angkotnya berhenti di hadapannya.
"Naik angkot?"
"Ya iya, mau naik apa? order taksi online lama. Lagian tempatnya nggak jauh-jauh amat."
Dimitri tertegun.
"Ya udah, saya duluan ya?" tanpa menunggu lama Rania masuk kedalam angkot yang hampir penuh itu.
"Tunggu!!" akhirnya Dimitri mengikutinya.
Dengan canggung dia duduk berdempetan dengan penumpang lain dan dalam posisi tidak terlalu nyaman. Tubuhnya yang tinggi membuatnya harus membungkuk agar kepalanya tak membentur bagian atas mobil dengan kapasitas dipaksa lima belas orang tersebut.
Ini hal baru bagi Dimitri, seumur hidupnya dia tidak pernah mengalami hal tersebut. Mobil nyaman selalu siap mengantarnya kemanapun dia pergi. Tanpa harus berbagi tempat dengan sembarangan orang, apalagi hingga berdempetan dan panas seperti ini.
Tapi gadis itu,... dia duduk santai dan tampak nyaman, padahal di sisi kiri dan kanannya dihimpit seorang wanita tua dan pria paruh baya, yang keduanya hampir tertidur selama perjalanan.
"Kiri!" Rania berteriak.
"Punten bu,... " katanya saat dia bangkit dan perlahan membangunkan wanita tua yang bersandar pada pundaknya.
"Kita sampai?" Dimitri terperangah.
Rania turun mendahuluinya, lalu memberikan satu lembar uang berwarna cokelat dan satu koin serbuan kepada sopir.
"Nuhun." katanya, setelah itu angkot hijau tersebut pergi.
"Lalu kita kemana?" Dimitri mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Makan Pak."
"Saya tahu, tapi makannya dimana?" pria itu mencari-cari tempat masuk akal baginya.
"Sana pak." Rania menyentakan dagunya ke arah depan. "Bapak yakin mau ikut saya makan?"
"Memangnya kenapa? kamu takut harus mentraktir saya?"
"Nggak. Makanan disini murah-murah, masih mampu saya kalau traktir bapak makan doang mah. Masalahnya, kayaknya tempat ini nggak sesuai sama bapak."
"Serius?"
"Hmm... " Rania menganggukan kepala.
"Coba saja."
Dan disinilah mereka, duduk berhadapan di sebuah tempat makan kaki lima dengan sebuah gerobak berukuran sedang, di keliling spanduk bergambar mencolok dengn tulisan NASI AYAM.
Dimitri lagi-lagi dibuat bungkam oleh gadis itu, yang dengan asyiknya melahap nasi dengan ayam bertabur sambal yang terlihat sangat pedas. Ditemani satu porsi tahu goreng, kerupuk, dan satu porsi sayuran mentah berbumbu kacang yang dia sebut keredok.
Sedangkan dirinya hanya memesan seporsi sop iga, yang masih dia kenali karena sering dibuatkan oleh sang ibu dirumah, dan setengah porsi nasi putih saja.
"Bapak kok nggak makan? katanya lapar?" Rania makan dengan lahap, menggunakan tangannya meraup nasi dan ayam goreng bertabur sambal. Kemudian menjejalkan karedok kedalam mulutnya yang hampir penuh. Dan dia tampak sangat menikmatinya.
"Sopnya nggak enak ya pak?"
"Hah? apa?"
"Padahal itu Sopnya cukup terkenal disini lho, dan salah satu yang paling enak juga. Ya mirip-mirip masakan mama saya lah. Makanya saya milih makan disini."
"Mmm...
"Biar lebih enak, harusnya bapak pakai ini... " Rania mengambil sepotong irisan lemon dan memerasnya diatas mangkok sop iga milik Dimitri.
"Biar lebih seger juga tambah ini." dia mengambil satu sendok sambal cabai berwarna merah.
"Jangaaaann!!" terlambat, karena sambal berwarna merah menyala tersebut sudah masuk kedalam mangkuk sop miliknya.
"Saya tidak bisa makan makanan pedas." ucap Dimitri, yang baru saja mulai memakan makanannya.
"Masa? enak loh pak. Bikin mata ngantuk jadi seger, badan lemes jadi kuat lagi."
"Saya tidak bisa makan itu... " keluh Dimitri.
"Dih, cuma sambel dikit doang?"
"Itu banyak tahu, pasti rasanya pedas."
"Ngak ah, ..." Rania merebut sendok ditangan Dimitri kemudian mengambil kuah di dalam mangkuk, dan memasukannya kedalam mulutnya sendiri.
"Enak kok, nggak pedas. Ayo coba?" dia kemudian mengulurkan sendok berisi kuah sop itu kepada Dimitri.
Pria itu menatapnya dalam diam.
"Ayo coba." ucap Rania lagi, dan dia belum merubah posisi tangannya.
Dengan ragu Dimitri membuka mulut dan menyesap kuah sop itu dengan cepat. Dan seketika rasa panas dan pedas menjalar di lidah hingga tenggorokan.
"Aaa... pedas!!!" dia bereaksi, seraya meraih air teh di dekatnya lalu meminumnya hingga tandas.
"Lagi!" dia mengulurkan gelas ditangannya minta kembali diisi.
"Serius?" Rania tak menyangka pria di depannya benar-benar tak bisa memakan makanan pedas. Bahkan yang levelnya paling rendah seperti sop tersebut.
"Ah, ... sudah saya bilamg saya tidak bisa makan pedas!" Dimitri dengan wajah sangat merah dan kedua matanya berair. Dia hampir saja menangis.
"Segitu aja, ...ripuh. Hmmm... lemah." Rania bergumam, sementara Dimitri masih terbatuk-batuk tak karuan.
🌹
🌹
"Teimakasih ya?" mereka tiba di depan bengkel milik Angga. Setelah selesai makan dan mengobrol sebentar di area sekitar.
"Hmm... bukan apa-apa pak." jawab Rania yang bersiap turun.
"Lain kali saya yang traktir." pria itu tergelak, ingat dengan kekonyolannya sendiri yang tidak memiliki uang tunai untuk dia gunakan sebagai pembayaran.
"Nggak apa-apa pak. Nggak usah."
"Tapi kamu sudah mengantar saya ke bengkel untuk service mobil, terus ngajak saya makan. Saya janji suatu hari nanti saya yang akan mentraktir kamu."
"Baiklah, lain kali bapak yang traktir. Janji ya?"
"Kapan?" Dimitri langsumg bertanya.
"Kapan-kapan. Kalau besok saya sibuk."
"Sibuk apa?"
"Dari pagi saya harus latihan."
"Latihan balap?"
"Bukan, olah raga. Ya nantinya untuk balapan juga. Biar badan saya kuat bertahan di lintasan."
Dimitri terdiam saat visualisasi tubuh gadis itu yang sedang berolah raga melintas di kepalanya.
Kemudian dia menggelengkan kepala saat hal lainnya yang lebih ekstrim dari itu muncul.
"Bapak kenapa?"
"Mm... tidak apa-apa."
"Ya udah, kalau gitu saya turun ya?"
"Oke."
Dan gadis itu berlari kedalam area bengkel, disambut sang ayah yang sudah menunggu di depan bangunan tersebut yang sudah tutup pada sore itu.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
acie cieeeeeeeeee.... jadi maksudnya kencan? 🤣🤣🤣
like komen sama kirim hadiah yang banyak biar akunya semangat buat up lagi setelah ini.
lope lope saBandung Raya 😘😘😘
Papah Angga yang lagi curiga anak gadisnya dimodusin