All About You

All About You
Crazy Over You



🌹


🌹


Seorang pria muda menepikan mobil mewah mengkilapnya di depan sebuah bengkel yang lumayan besar. Yang hari itu tampak ramai seperti hari-hari biasanya.


Dadanya berdebar kencang, dan dia mulai merasa ragu. Apakah yang akan dia lakukan kali ini bukalah sebuah kekonyolan semata? melainkan satu usahanya untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan dengan mudah. Bahkan tanpa mengucapkannya pun segala hal datang dengan sukarela. Namun kali ini, sepertinya dia membutuhkan usaha lebih.


Dimitri turun dari Mercedes Benz m600 hitamnya dengan yakin walau dia agak gugup. Dalam hati dia terkekeh, baru kali ini seorang Dimitri Alexei Nikolai merasa gugup karena akan menemui seorang gadis.


Dua orang pekerja bengkel tampak saling menyenggol, dan Angga sang pemilik menatap pria muda dengan pakaian rapi dan serasi itu dengan heran.


Dimitri berjalan masuk sambil menganggukan kepala.


"Pak Dimitri? ada perlu apa? jasnya belum sampai ya? perasaan, kemarin sudah Rania antar ke kantor?"


"Oh, ... tidak ada pak. Hanya... Mmm... ada sesuatu."


"Sesuatu?" Angga mengerutkan dahi. "Apa itu?"


"Mm... mobil saya...


"Mobil Pak Dimitri kenapa?"


"Mobil saya, ... sepertinya mesinnnya bermasalah ..." pria itu berujar.


"Kenapa?"


"Saya... tidak tahu. saya tidak mengerti soal mesin." jawab Dimitri.


"Hmm... " Angga bergumam. Kemudian menatap sekeliling bengkel. Semua pekerjanya sedang sibuk menangani kendaraan yang masuk.


"Rania ada? Mungkin dia tahu sesuatu?" Dimitri sedikit tidak sabar.


"Rania?" Angga membeo.


Pria muda itu menganggukan kepala.


"Ping!!" Angga memanggil salah satu karyawannya.


"Ya Beh?" seorang pria kurus menyahut dari balik sedan berwarna putih di ujung.


"Rania udah beres?" Angga berteriak lagi. "Ada yang nyari."


"Bentar beh."


"Dek!" pria yang dipanggil Ping itu berjongkok.


"Dedek Ranran!"


"Hmm... "


"Ada yang nyariin."


Tidak ada sahutan.


"Dedek!!" pria itu memanggil dengan suara keras.


"Idiiiihhh apaan sih Ping? manggil-manggil gue dedek? emangnya gue adek Lu apa?" Rania muncul dari bawah mobil yang sedang mereka perbaiki.


"Iya, ... Lu kan adek ketemu gede?" pria itu tertawa.


"Najis gue!" gadis itu menjulurkan lidahnya seperti orang mau muntah.


"Yain kenapa? biar gue bahagia."


"Ogah." lalu dia kembali ke kolong mobil.


"Dih, ... tuh dipanggil Papah." pria itu berucap.


Rania tak menghiraukan.


"Dedeeeeekkk...


"Anjiiiiimmm Aping!!! geli gue denger lu manggil dedek!" Rania akhirnya keluar. "Siamah sok ngahajakeun ih? ( kamu ngeyel ih!!)"


"Apaan sih Ping?"


"Papah manggil."


"Iya ada apa?"


"Katanya ada yang nyari."


"Siapa?"


"Kagak tahu." pria itu menggelengkan kepala.


"Pea Lu!" Rania bangkit. Sambil mengusap-uspa kedua tangannya yang penuh dengan kotoran dari bagian bawah mobil, dia berjalan kedepan dimana sang ayah berada.


"Iya Pah? mau nyuruh apa lagi? aku belum selesai. Dikit lagi." katanya, tanpa peduli sekitarnya.


Rambutnya aga berantakan, wajahnya terkena kotoran dan sedikit oli, begitu juga pakaiannya. Kaus ketat berwarna hitam tanpa lengan itu terkena kotoran yang berjatuhan dari kolong mobil.


"Ada yang nyari." Angga menjawab.


"Siapa?" dia belum menyadari kehadiran Dimitri. Yang langsung terkesima menatap penampilannya yang berantakan.


"Nih, ..." Angga menggendikan kepalanya.


Gadis itu mengalihkan pandangan, dan dia menemukan wajah kaukasia yang memerah ditimpa cahaya matahari dan cuaca yang cukup terik pada siang itu.


Rania mengusap dagu dengan punggung tangannya. Menyebabkan tetesan oli melebar hingga ke pipi.


"Pak Dimi? nyari saya? ada apa?" dengan spontan dia bertanya.


"Mm... " pria itu berkedip untuk menarik kesadarannya yang hampir menghilang. Menatap Rania dalam keadaan berantakan seperti itu malah membuatnya semakin merasa tak karuan.


"Pak?" Rania melambaikan tangannya yang berlumuran kotoran di depan wajah Dimitri.


"Pak!!"


"Mmm... iya? kamu sedang sibuk?" pria itu bereaksi.


"Ada kerjaan sih, tapi dikit lagi." Rania menjawab. "Kenapa?"


"Mobil saya... " Dimitri menunjuk mobilnya yang dia parkirkan di depan sana.


"Mobil bapak mogok lagi?" Rania menatap kendaraan itu.


"Tidak, tapi...


"Kehabisan bensin lagi?" gadis itu tertawa. "Aneh banget."


"Bukan."


"Terus kenapa?"


"Mesinnnya."


"Iya, mesinnnya kenapa?"


"Saya tidak mengerti soal mesin."


"Bapak minta saya lihat dulu gitu?"


"I-iya."


"Ck! bilang kek dari tadi. malah au au aja kayak orang bisu." gadis itu bergumam seraya menghampiri mobil milik Dimitri.


***


"Buka pak." ucap Rania setelah mereka berada di depan mobil tersebut.


"Ap-apa?" Dimitri sedikit terperangah. Otaknya sedang tidak terlalu terkoneksi saat ini.


"Kap mobilnya, buka. Emang apa sih? masa celana?" Rania bergumam lagi. "Tangan saya kotor, sayang kalau nanti kena mobil bapak yang mengkilap ini."


"Ba-baik." pria itu melakukan apa yang diperintahkan.


"Aduh... berat." ucap Rania saat melihat keadaan mesin di dalam sana.


"Ke-kenapa?" wajah Dimitri memucat.


"Bapak kalau pakai mobil gimana sih bisa sampai gini?"


"Memangnya kenapa?"


Rania menggelengkan kepala sambil membungkukkan tubuhnya diatas mesin. Dan lebih menundukan lagi kepalanya agar bisa melihat kedalam benda tersebut lebih jelas lagi.


"Mesinnya... sketnya rusak, olinya hampir kering. Karburatornya... ampuuunnn... hampir kering juga. Akinya soak pak." Rania menegakan tubuhnya lalu menoleh kepada Dimitri yang berdiri tak jauh darinya.


"Nih gimana sih make mobilnya? ini keluaran terbaru lho, tapi udah kayak gini? digeber terus ya? kacau!" Rania mengomel.


"Kebut-kebutan terus ya? Ngejar apa sih?"


Dimitri merapatkan mulutnya.


Gadis ini tak seperti yang dia perkirakan, tapi memahami seluk beluk mesin bagai montir profesional saja.


Rania mendengus dengan tatapan kesal kepada pemuda itu.


"Sayang ini mobil sampai begini? pak,... pak. Ada masalah apa sih sebenarnya? heran saya?"


"Apa parah?" Dimitri nulai bersuara.


"Bukan lagi. Masih untung bapak bisa sampai sini, kalau di jalan susah loh." omelnya lagi.


"Eeeuuuhhh....aingmah! Nyaah. ( duh,... sayang!)" gadis itu mengusap-usap pinggiran mobil.


"Dasar si bule oon nya? belegug! ( dasar si bule oon ya? b*go!)" Rania berbicara kepada mobil tersebut seolah tengah berbicara kepada benda hidup.


"Kamu bicara apa sih, saya nggak ngerti?"


"Kamu bisa nggak benerin mobil saya?" Dimitri mulai melancarkan aksinya.


"Sebenarnya bisa sih, tapi...


"Kenapa?"


"Kayaknya harus ke dealer resminya dulu. Sayang kalau bapak benerin disini."


"Kenapa?"


"Mobil Ini khusus, nggak bisa sembarangan. Dan lagi biaya benerinnya mahal."


"Berapapun saya mampu bayar." Dia hendak menyombongkan diri.


"Percaya deh sama bapak. Tapi sayang aja. Dari pada dipakai buat benerim mobil semahal itu, menndingan buat makan." Rania tergelak.


"Jadi intinya kamu nggak bisa?"


"Mending ke bengkel resminya sih pak. Disana alat sama bahannya lengkap, plus bapak dapat keistimewaan juga."


"Oh ya?"


"Iya dong. Kalau di bengkel resmi barangnya original tapi lebih murah lah. Disini saya ngga sanggup. Barangnya mahal."


"Di Bandung ada bengkel resminya?"


"Ada."


"Dimana?"


"Nanti saya sharelock deh. Nomer hape bapak berapa?"


"What?" sebenarnya ini bukan tujuannya, tapi nomer ponsel akan menjadi awal yang baik juga. Dan Dimitri mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.


"Eh, ...tulis aja nomer hape saya. " lalu Rania menyebutkan angka nomer ponselnya.


"Spam ke saya, nanti saya kirim alamatnya."


"Apa tidak sebaiknya kamu antar saya?"


"Antar bapak?"


"Iya. kamu tahu, kalau saya menyetir sendiri kesana kadang tersesat. Saya tidak terlalu mengenal kota ini."


"Pakai map pak."


"Map kadang tidak tepat. Nyasar juga."


"Ah, ...loba alesan manehmah! ( kamu banyak alasan.)" Rania kembali menggumam.


"Apa kamu bilang?"


"Sebentar saya beresin dulu kerjaan. Tinggal dikit lagi. Sambil nunggu mobilnya dingin dulu, Kasian dia kepanasan."


Hmm... sama seperti aku. batin Dimitri.


Rania kembali pada mobil yang sedang diperbaikinya barusan, dan menyelesaikannya seperti yang seharusnya. Dan dia melakukannya dengan cekatan, seperti sudah diseting dikepalanya yang secara reflek tersambung pada kedua tangannya. Dia menyelesaikannya dengan cepat.


"Ajaran Ping! (cobain Ping.)" ucapnya, dan pria kurus itu melakukan apa yang dia perintahkan.


Aping mencoba menyalakan mesin, dan benda tersebut menyala dengan sempurna.


Rania terdiam mendengarkan suara nesinnya yang terdengar mulus.


"Udah Ping?"


"Hu'um."


"Oke, berarti yang ini beres ya?"


"Iya dek."


"Dih? Hayang di kede' maneh? (mau ditampar?) " Rania mengangkat tanga kirinya.


"Yang sopan Oneng!! itu si Aping lebih tua dari kamu tahu?" Galang tiba-tiba muncul.


"Abis dia nyebelin Lang."


Pemuda itu hanya tersenyum.


"Kamu dari mana?"


"Dari rumah."


"Mau kemana?"


"Mau kesini."


"Ngapain?"


"Ngajak kamu jalan."


"Ogah."


"Kenapa?"


"Aku sibuk."


"Kan mobilnya udah beres. Aku denger tadi."


"Tapi ada mobil yang lain." Rania menoleh ke belakang dimana mobil hitam milik Dimitri berada, dan pemiliknya yang dengan sabar menunggu.


"Mobil orang itu?" Galang menyentakan kepalanya.


"Hmm.. parah. Tapi harus ke MerBi euy... "


"MerBi?"


"Iya, sayang kalau di benerin disini, kemahalan."


"Biarin aja kenapa? duitnya pasti banyak."


"Bukan cuma gitu, tapi barangnya yang nggak ada disini juga."


"Terus kenapa mau kamu benerin?"


"Bukan aku yang benerin. Tapi mau aku antar ke MerBi."


"Kamu antar?"


"Iya."


"Kenapa dia nggak pergi sendiri aja sih? udah gede ini?" entah mengapa Galang merasa tidak suka kepada pria itu.


"Dia baru di Bandung tahu? dia belum tahu tempat-tempat penting."


"Alah, ... pakai map kan bisa?"


"Kadang eror."


"Modus."


"Udah ah, ..." Rania masuk kebagian dalam bengkel untuk membersihkan tangan dan wajahnya yang kotor. Kemudian kembali setelah beberapa menit dengan rambut terikat dan mengenakan jaket kulitnya untuk menyembunyikan lengan dan pundak mulusnya.


"Berangkat dulu Pah." dia pamit kepada sang ayah.


"Jangan lama-lama Ran." jawab Angga yang telah mengetahui perihal kerusakan mobil Dimitri yang harus mendapatkan penanganan khusus di tempat lain.


"Oke." gadis itu segera menghampiri Dimitri.


"Sekarang pak?"


"Boleh?" pria itu bangkit.


"Iya, mumpung masih siang."


"Baiklah."


"Kalau keadaan begini mobilnya masih bisa dipakai jalan?" Dimitri bertanya.


"Masih. Nggak jauh kok. lagian tanggung juga dalamnya udah gitu. Biar sekalian dibenerin disana."


"Hmm... kalau begitu kamu yang bawa." Dimitri menyerahkan kunci mobilnya kepada gadis itu.


"Serius?"


"Saya kan nggak tahu tempatnya."


"Okelah kalau begitu." Rania berputar kearah kemudi. Dan merekapun pergi dari tempat itu, Meninggalkan dua pasang mata yang mengawasi.


"Gue curiga sama tuh anak?" gumam Angga yang menatap kepergian putrinya bersama anak pemilik perusahaan yang mensponsori balapan mereka.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ....


hayoooook... bapak Dimi, idenya berjalam mulus apa nggak? 😂😂😂


gimana gaess, tantangannya?


jan lupa like komen dan hadiah yang banyak ya?


lope lope saBandung Raya. 😘😘😘


note : MerBi \= Bengkel resmi buat mobilnya pak Dimi tapi hanya ada di dunia halu emak 😂😂