
🌹
🌹
"It's oke, nanti kita akan kembali lagi kesini, dan kamu akan jadi juara dunia." Dimitri merangkul pundak Rania. Mereka menyempatkan untuk mampir dulu ke sirkuit Rio De Hondo pada keesokan harinya sebelum bertolak ke Indonesia.
"Setelah ini, aku nggak boleh balapan lagi ya?" Rania menatap sekeliling sirkuit megah terbesar di negara Argentina itu dengan perasaan tak menentu. Tentu saja, ini merupakan terakhir kalinya dia menginjakan kakinya disana. Setidaknya untuk satu atau dua tahun ke depan sudah dipastikan dirinya tak akan ikut berpartisipasi dalam ajang Womam Supwrbike.
Dia akan merindukan kebisingan akibat raungan mesin motor yang melesat dilintasan, ditambah keriuhan tepuk tangan dan teriakan penonton.
Tapi selalu harus ada yang dikorbankan dari setiap pilihan, bukan? dan dia memilih mengorbankan karirnya demi anak yang saat ini tengah tumbuh dalam kandungan.
"Kalau aku nggak akan melarang, selama kamu baik-baik saja, dan mereka juga baik-baik saja." Dimitri mengusap-usap perut Rania, dimana dua janin tengah tumbuh di dalamnya.
"Tapi papa kamu kan sudah tahu, jadi ini akan sulit. Tahu sendiri papa kamu bagaimana." lanjutnya.
"Hmm ..."
"Ditambah keadaan sedang tidak kondusif di lintasan, rival kamu sudah dipastikan tidak akan menyerah dengan mudah. Walau kita berusaha mengusut kasus ini. Aku nggak mau ambil resiko." Dimitri berujar.
"Kalau aku sendirian pasti bisa lawan mereka semua." jawab Rania dengan begitu yakin dan berani.
"Aku percaya kamu bisa. Nyalimu lebih besar dari siapapun, tapi kamu tidak sendirian sekarang."
"Iya."
"Kita pulang?" ajak pria itu kemudian.
"Oke."
Kemudian Dimitri menariknya keluar dari area tersebut.
"Tapi kalau naik motor masih boleh?" mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan ke bandara.
"Memangnya masih bisa?" Dimitri tertawa.
"Bisa, bayinya kan masih kecil. Perutnya masih begini." Rania memegangi perutnya sendiri.
"Kalau tidak apa-apa ya boleh, tapi jangan jauh-jauh. Cukup di belakang rumah saja." ucap Dimitri.
"Belakang rumah aja?"
"Iya, memangnya mau kemana? nanti kalau mau kemana-mana biar dengan aku saja. Atau pakai mobil kamu. Untuk apa punya mobil tapi nggak di pakai?"
"Hmm ...
"Menurut saja dulu, oke? demi mereka." pria itu kembali menyentuh perutnya, dan mengusap-usapnya dengan hati-hati.
"Baiklah, ..." Rania merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Pandangannya dia alihkan keluar mobil, dimana hiruk pikuk kota mulai berlangsung. Hingga mereka tiba di bandara dan lepas landas beberapa saat kemudian menuju rumah di belahan bumi yang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papa nggak nginep?" Rania mengantarkan sang ayah ke halaman depan setelah pria itu beristirahat beberapa saat begitu mereka tiba dirumahnya.
Lebih dari 35 jam perjalanan udara memang bukan hal yang main-main. Lelah sudah pasti, tapi Angga lebih merindukan rumah dari pada yang lainnya.
"Lain kali aja, sama mama dan adik-adik." jawab Angga, yang mengikuti Galang kembali ke mobil yang akan mengantar mereka berdua pulang ke Bandung. Sementara crew lainnya sudah diantar ke tempatnya masing-masing dengan angkutan khusus.
"Oke."
"Baiklah, papa harus pergi sekarang. Baik-baik disini ya?"
Rania menganggukan kepala.
"Jangan nakal! dan menurutlah kepada...
Rania segera menghambur kedalam pelukan sang ayah, rasanya berat sekali untuk melepas pria itu pergi. Kali ini rasanya dia mulai lebih emosional dari biasanya.
"Nggak usah nangis, kayak mau kemana aja. Papa kan cuma mau pulang. Kamu bisa ke Bandung kalau kangen. Cuma dua jam lagi, nggak 40 jam kayak ke Argentina."
Perempuan itu terkekeh seraya menyeka sudut matanya yang basah.
"Maaf ya, nggak bisa beresin balapannya."
"Jangan di bahas. Sponsor kita aja nggak apa-apa, apalagi papa. Santai ..." pria itu menepuk punggung putrinya, kemudian tertawa sambil melirik kepada menantunya yang sabar menunggu.
"Hu'um, ... untung sponsornya kalem ya?" Rania mengamini.
"Iyalah, kalau nggak kalem bisa gawat." timpal Angga, kemudian mereka berdua tertawa.
🌹
🌹
"Tidak, nanti juga hilang sendiri." tolak Dimitri.
"Serius, keadaan kamu mengkhawatirkan. Udah berapa hari muntah-muntah kayak gini?" dia membenahi bantal dan selimut yang dipakai suaminya.
"Sejak kamu berangkat ke Argentina." jawab Dimitri.
"Nah kan, perjalanan aja bolak balik hampir lima hari." Rania terdiam sebentar sambil mengingat, "Udah seminggu berarti. Ayo, kita ke dokter?" katanya lagi.
"Tapi aku nggak apa-apa."
"Tapi nyatanya kamu kayak gini."
"Kadang-kadang. Kalau bangun tidur dan mau tidur."
"Siang?"
"Sedikit. Tapi masih bisa aku tahan, apalagi kalau banyak kerjaan. Aku lupa."
"Aneh banget deh." Rania sedikit mengerutkan dahi.
"Sudah, sebaiknya kita tidur." pria itu menepuk tempat kosong disampingnya. "Besok aku harus berangkat pagi-pagi." katanya, seraya bergeser sedikit agar Rania bisa berbaring di dekatnya.
"Aku di sana aja, orang kasurnya gede kok." Rania merangkak naik ke sisi lainnya yang lebih luas.
"Disini sajalah." Dimitri menahan perempuan itu dengan kedua kakinya.
"Apaan!!" Rania terjerembab dalam pelukannya.
"Tidurnya."
"Nggak mau ih, nanti bukannya tidur, malah ..."
Terlambat, karena pria itu sudah terlebih dahulu membungkam mulutnya dengan cumbuan.
"Apa kamu nggak kangen aku?" Dimitri melepaskan satu-persatu pakaian mereka.
"Kangen sih, tapi kan ..." Rania menahan napasnya saat ujung hidung Dimitri menelusuri lehernya, dan sesekali mengecupnya, dengan tangannya yang sudah tak terkendali merayap ke segala arah.
"Babynya masih kecil, Dim ..." dia menggigit bibirnya untuk menahan des*han saat rematan tangan pria itu mulai membangkitkan hasratnya. Matanya terlihat berkilat saat mendengar Rania menyebut namanya.
"Eee ... Yang." Rania meralat kata-kata terakhirnya.
"Mualku hilang kalau dekat kamu, ... apa ini efek kehamilan?" Dimitri berbisik, lalu mengecup telinga Rania dengan penuh kelembutan.
"Aku nggak tahu ..." sementara perempuan itu memejamkan mata dan mencoba mengatur napasnya saat sentuhan suaminya semakin membuatnya tak berdaya.
"Egh, ..." tahu-tahu Dimitri sudah membenamkan alat tempurnya tanpa menunggu persetujuan. Kemudian bergerak perlahan, masih menyadari ada janin yang masih kecil di dalam perut istrinya.
Dada keduanya saling menempel tanpa penghalang, menghadirkan rasa yang begitu mendebarkan. Ketika suhu tubuh keduanyapun semakin memanas seiring meningkatnya suasana. Dan suara percintaan menggema memenuhi seluruh ruangan.
Segera saja, keduanya tenggelam dalam lautan gairah yang semakin lama semakin menggelora. Menjadikan mereka hampir lupa dengan segala hal.
"Babynya, ..." rengek Rania dalam des*hannya, ketika dia juga merasa perut bagian bawahnya sedikit mengeras, kemudian kembali mengendur begitu Dimitri berhenti bergerak.
"Sorry, ... " pria itu terkekeh seraya berniat melepaskan pertautan tubuh mereka untuk sejenak.
Namun Rania malah melingkarkan kedua kakinya di pinggang Dimitri, menahannya agar tak beranjak, dan memintanya untuk meneruskan kegiatan panas mereka kembali.
Dimitri menggigit bibir bawahnya dengan begitu kencang, dan dia menelan ludahnya dengan susah payah. Merasakan cengkeraman dibawah sana yang berdenyut-denyut hebat. Membuatnya merasa tidak tahan untuk menuntaskan pergumulan ini secepatnya.
Dia kemudian kembali menghentak, namun kali ini berusaha untuk sehati-hati mungkin, mengingat kembali keberadaan dua janin kecil di rahim Rania. Namun lama kelamaan Dimitri tak tahan juga, hentakannya mulai tak terkendali dan dia tak bisa menguasai diri.
Apalagi tubuh dibawah menggeliat-geliat tak karuan diikuti des*han dan erangan yang semakin membuatnya kehilangan akal.
Hingga akhirnya setelah beberapa saat pertahanan merekapun runtuh dihantam gelombang pelepasan yang begitu hebat.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
klik like, komen dan kirim hadiah yang banyak.
lope lope sekebon cabe 😘😘