
🌹
🌹
Dimitri menyalakan ponselnya setelah hampir sehari semalam dia matikan karena acara pernikahan. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab masuk beberapa detik setelah dia menyalakan benda pipih tersebut. Yang sebagian besar merupakan pesan dari teman-temannya di Rusia, dan kedua adiknya yang tak bisa menghadiri pernikahannya karena tengah menghadapi ujian.
Pria itu hanya tertawa membaca beberapa pesan dari sahabatnya, yang sedikit marah karena tak mendapatkan informasi mengenai pernikahannya. Sedikit membuatnya lupa kejadian mengesalkan semalam saat hampir saja dirinya membobol pertahanan terakhir Rania.
"Akhirnya, ketawa juga." gadis itu bergumam.
"Hum?" Dimitri menoleh.
"Akhirnya kamu ketawa juga, setelah semalaman ngambek." ulang Rania, di sela kegiatannya mengendarai mobil impiannya yang dia dapat sebagai mas kawin saat pernikahannya kemarin. Kini mereka tengah dalam perjalanan pulang pada pagi-pagi sekali.
"Ck! jangan ingatkan soal itu. Aku kesal lagi jadinya." pria itu menggerutu.
"Maaf."
"Kenapa minta maaf? bukan salahmu. Memang siklusnya seperti itu kan?"
"Hu'um." Rania menganggukan kepala.
"Aku hanya kesal." geram pria itu, disaat pikirannya mengingat kembali peristiwa konyol semalam.
Saat dirinya hampir saja beraksi dibawah pengaruh hasrat yang menggelora, dan disaat yang bersamaan, siklus bulanan gadis itu datang tanpa diduga. Membuatnya kelimpungan, dan terpaksa harus menyelesaikannya sendirian di kamar mandi karena tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Bisa sangat tersiksa dirinya jika hal itu tak tersalurkan dengan benar. Dan semalam adalah pertama kalinya dia melakukan hal tersebut seumur hidupnya. Rania benar-benar telah membuatnya melakukan banyak hal diluar kebiasaan.
"Cuma sebentar kok." Rania dengan penghiburannya. Tidak dipungkiri dia agak merasa bersalah dalam hal ini.
"Sebentar apanya." Dimitri menggerutu.
"Cuma seminggu."
"Itu apalagi?" dia merebahkan kepalanya pada sandaran kursi. Gusar, apalagi mengingat wajah-wajah pegawai hotel yang seperti menertawakannya semalam. Setelah dirinya menyuruh mereka mengganti bed cover yang terkena darah haid dan membeli pembalut juga satu stel pakaian baru untuk Rania.
Itu benar-benar memalukan, malam pertama pengantin baru yang penuh drama.
"Huffffttthhh... " dia menghembuskan napas dengan keras.
"Eh, ... kita mau kemana?" ucap pria itu ketika mobil mereka melewati jalan yang tidak seharusnya.
"Pulang."
"Pulang kemana?"
"Ya kerumah dong, masa ke hotel lagi?"
"Kerumah kamu?"
"Ya Iyalah, rumah siapa lagi?"
"Kok kerumah kamu?"
"Terus kemana?"
"Ke apartrmen aku. Kita kan sudah menikah."
Rania tertegun.
"Emang harus ke apartemen kamu ya?" dia berucap.
"Ya iyalah."
"Nggak boleh pulang kerumah?"
"Boleh, tapi kan aku punya apartemen, dan kita sudah menikah. Jadi, sekarang rumah kamu ya apartemen aku." jelas Dimitri.
"Oh, gitu."
"Iya. Kalau sudah punya tempat tinggal sendiri, kenapa harus pulang kerumah orang tua?"
"Tapi nanti boleh kalau mau kesana?"
"Boleh."
"Kerja di bengkel masih boleh?"
"Kerja? kenapa harus kerja?"
"Ya kan dari sebelum aku nikah aku kerja di bengkel. Kalau nggak pergi balapan."
"Kamu tidak mau diam dirumah saja menunggu aku?"
"Di apartemen maksudnya?"
"Iya."
"Sendirian, sementara kamu pergi kerja?"
"Ya, begitulah."
"Ah, ... kesepian, aku nggak biasa. Kalau di bengkel banyak orang, ada temen ngobrol."
"Masa istri aku kerjanya di bengkel?"
"Emangnya kenapa? nggak pantes ya?"
"Bukan begitu,."
"Kan sebelum ketemu kamu kerjaan aku emang di bengkel, dulu nggak ada masalah dengan itu."
"Memang tidak ada masalah. Hanya saja...
"Apa?"
"Kamu sudah menikah Zai, hidupmu tanggung jawab aku sekarang. Jadi tidak perlu bekerja lagi."
"Kok gitu?"
"Sudah sepantasnya begitu."
"Terus balapan?"
"Kalau balapan ya lain lagi."
"Masih boleh?"
"Boleh lah."
"Cuma kerja di bengkel aja yang nggak boleh?"
"Bukan nggak boleh, tapi sebaiknya diam dirumah dulu lah."
"Hmmm... "
"Masa baru nikah kamu sudah harus kerja, dimana harga diri aku sebagai suami kamu?"
"Ya apalah itu." Dimitri pun tertawa.
"Hmm... baiklah, harus nurut sama suami kan? oke, aku nurut." ucap Rania.
"Zaichik pintar!!" Dimitri bangkit lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Rania. Kemudian mengusap-usap puncak kepalanya dengan gemas.
***
"Ish, ... aku lupa lagi kita malah langsung kesini?" Rania meletakan kunci mobilnya diatas nakas dekat televisi, lalu keduanya duduk di sofa pertama yang mereka temukan.
"Kenapa lagi?"
"Aku belum bawa baju, yang di travel bag cuma dal*man doang." dia melirik travelbag semalam yang berisi beberapa pakaian kekurangan bahan dengan warna-warna mencolok.
"Hmm..." Dimitri mengukum senyum. "Pakaian sepertinya sudah ada."
"Oh ya?"
"Iya. Udah mama atur kalau soal itu. "Oerikss saja di ruang ganti, semua yang kamu butuhkan sudah ada disana."
"Dih, enak banget hidupnya, Udh ada yang nyiapin?"
"Begitulah."
"Motor juga belum aku bawa, tar aku susah mau kemana-mana."
"Kan sudah ada mobil? untuk apa beli tapi tidak di pakai?"
"Masa sehari-hari aku pakai mobil itu, duh."
"Memangnya kenapa? kan fungsinya untuk dipakai. Sudah susah-susah aku pesan itu, sampai rebutan dengan orang Dubai karena versi itu tinggal satu-satunya. Dan kamu tahu, untuk mendatangkannya harus melewati proses yang rumit."
"Masa?"
"Iyalah, nggak sembarang orang bisa memiliki mobil itu. Dan kita beruntung ada Papi yang selalu bisa diandalkan."
"Dih, anak papi." Rania mencubit ujung hidung mancung milik suaminya dengan gemas.
"Kamu juga anak papa, seharian di tempel papa terus, padahal kita sudah sah." pria itu mengingat acara pernikahan mereka yang penuh drama, saat Angga tak bisa menahan emosinya seusai mereka mengucap ijab kabul kemarin.
Rania tertawa terbahak-bahak.
"Papa Kamu lucu, tampangnya garang tapi hatinya melankolis."
"Memang."
"Dan Kamu bangga dengan itu?"
"Iyalah, dia papa aku."
"Hmmm...
Gadis itu tertawa lagi.
"Kalau soal motor, kamu bisa pakai punyaku. Sayang baru aku pakai sekali." Dimitri pun Ikut tertawa.
"Emangnya boleh?"
"Boleh, apapun boleh. Semua yang aku punya, milik kamu sekarang."
"Ah, ... masa sih?" Rania mendekatkan dirinya kepada Dimitri.
"Iya, bukannya suami istri seperti itu?"
"Nggak tahu, kan aku baru pertama menikah." jawab Rania.
"Terus memangnya buat aku pernikahan ini bukan yang pertama gitu?"
Dan gadis itu terus tertawa.
"Uuhh, ...kenapa kamu begitu menggemaskan? kalau kamu sedang tidak datang bulan, pasti sudah aku habisi." pria itu merangkul tubuh Rania dengan gemas.
"Serem amat main abisin aja? emangnya aku makanan apa?"
"Iya, kamu memang makanan untuk aku yang lagi kelaparan." dia mengusakan kepalanya pada kening gadis itu.
"Kelaparan? ya makan." ucap Rania, lagi-lagi dengan polos, namun dia membiarkan Dimitri melakukan apapun yang ingin dia lakuka kepadanya. Menciumi wajahnya, lalu menelusuri tubuh gadis itu dengan tangannya.
"Aku maunya makan kamu." dia berbisik.
"Kamu serem." Rania bergidik, merasakan tubuhnya yang tiba-tiba meremang.
Dimitri terkekeh.
"Aku menunggu saat-saat seperti ini, tapi kenapa malah semakin sulit?" dia masih menempelkan bibirnya di telinga Rania.
Hembusan napasnya membuat jantung gadis itu berdegup kencang, dan tubuhnya mulai memanas.
Dimitri membingkai wajahnya, segera saja dia meraih bibir kemerahan Rania dan mencumbunya sepuas hati. Kedua tangannya sudah merayap kemanapun dia mau, dan meremat buah dada Rania dari balik pakaiannya.
"Dim, kan aku lagi datang bulan?" gadis itu menjeda cumbuan mereka saat sentuhan Dimitri sudah mulai tidak tekendali.
Namun suaminya itu tak mendengarkan. Dia malah mendorongnya hingga dia terjungkal ke belakang, menaikan kaus yang menempel di tubuhnya, juga menaikan bra yang menutupi buah dadanya. Segera saja dia melahap bulatan kenyal itu denga rakus. Menyesap salah satunya, dan mempermainkan yang lainnya.
"Mmm, ... Dim!" dia merengek kala merasakan sesuatu di dalam dirinya bangkit karena sentuhan pria itu di tubuhnya. Dan Rania berusaha melepaskan diri.
Namun tenaga pria itu yang dikuasai hasrat yang begitu besar tak mampu dia lawan. Apalagi dirinyapun sudah mulai terbawa suasana.
Dimitri menyeringai saat melihat gadis dibawah kungkungannya sudah tidak bisa berkutik lagi. Sepertinya dia sudah pasrah. Wajahnya memerah menahan hasrat, dan dia tampak mempesona.
Tapi tidak!
Dimitri melepaskan cumbuan, kemudian bangkit saat Rania sudah kehilangan akal sehatnya.
"Baru ingat Aline tadi pagi mengirim laporan. pekerjaan." katanya, yang kemudian melenggang ke arah ruang kerjanya di sisi lain apartemen.
Sementara Rania berusaha meraih kesadarannya, dan menekan hasrat yang telah melambung tinggi.
🌹
🌹
🌹
Mmm... anu, .. mau minta lagi like, komen sama hadiah yang banyak. ðŸ¤
lope lope sekebon cabe. 😘😘
Si oneng yang bakalan nggak oneng lagi. 😂😂