
🌺
🌺
"Kenapa sih Pah kita harus punya sponsor? kayaknya kita mampu deh kalau masalah keuangan. Kalau nggak kita minta bantuan sama kakek aja, kan gampang. Nggak usah susah-susah kayak gini, nyari perusahaan sana sini buat dijadiin sponsor." mereka duduk di sebuah ruang pertemuan di sebuah kantor cabang perusahaan Nikolai Corp. Setelah Angga mengajukan proposal kerjasama kepada sahabatnya, Andra.
"Memangnya cucunya kakek itu cuma kamu? atau cuma anak papa doang? nggak kan? ada anaknya Om Gara juga. Kalau kita minta bantuan kakek, gimana pikiran anak-anaknya Om Gara? Papa hanya nggak mau nantinya aka timbul kecemburuan sosial antara keluarga kita. Dan itu nggak baik."
"Lagian biaya untuk ikut sekali balapan itu nggak murah. Kita harus ngeluarin duit buat ngadain tim, ngadain kendaraan sama cadangannya. Belum lagi biaya perbaikan mesin dan ngadain sparepart. Mungkin kalau untuk sekali dua kali balapan aja papa mampu. Tapi kan kamu tandingnya bukan sekali dua kali? apalagi kalau masuk kualifikasi, bisa berkali-kali."
"Kalau kita pakai sponsor, semuanya ditanggung sama mereka. Dari mulai logistik sampai hal-hal terkecil sekalipun. Kita nggak perlu pusing mikirin akomodasi juga, semuanya udah ada yang urus, tanpa kita ngeluarin duit sendiri."
"Dih, ujung-ujungnya tetep duit?"
"Ya emang, ... kamu pikir tujuan akhir dari semua ini apa? ya duit. Kalau kamu lolos kualifikasi kamu bakalan dapat duit yang banyak, apalagi masuk sepuluh besar dan jadi juara. Balapan liar aja kamu dapat duit, apalagi balapan resmi. Bayangin apa aja yang akan kamu dapat setelah ini?"
"Bener juga ya?"
"Iya, tapi jalannya pasti nggak gampang. kalau sekarang kamu merasa punya kemampuan, tunggu deh nanti setelah kamu ketemu pembalap lainnya. Kamu akan menemukan satu waktu dimana kamu akan merasa paling tidak berpotensi. Karena apa? karena disana akan ada banyak pembalap yang kemampuannya diatas kamu, mereka lebih mahir, lebih ahli, bukan sekedar bisa menguasai track."
Rania menyimak penjelasan sang ayah dengan serius.
"Jadi, bukan cuma bisa menguasai kendaraan aja yang kamu butuhkan, tapi segala hal."
Rania tampak mengangguk-anggukan kepalanya.
"Dan yang Kamu perlukan cuma fokus. Nggak boleh mikirin hal lain selain latihan dan balapan."
"Kalau itu sih pasti Pah." gadis itu membuat tanda oke dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
Dan disela percakapan tersebut, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dari luar, dan dua orang masuk setelahnya. Seorang perempuan yang mereka kenali sebagai sekretaris dan seorang pria tunggi bestelan jas yang tampak asing.
Berkulit putih, berambut coklat gelap, yang sudah dipastikan bukan berasal dari sini.
Rania mengerutkan dahi, dan dia langsung teringat kejadian beberapa saat sebelumnya. Pria itu yang hampir saja terlibat tabrakan dengannya di jalan raya saat perjalanan ke gedung ini.
Astojiimm!! smoga dia kagak lihat gue! batin Rania, dan dia agak mundur ke belakang ayahnya untuk menembunyikan diri.
"Selamat pagi?" Dimitri menyapa dan dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Pagi." Angga menjawab sapaannya.
"Pak Angga, ini Pak Dimitri, perwakilan dari Nikolai Grup pusat yang berada di Jakarta. Beliau yang akan menangani kerjasama kita saat ini." sang sekertaris menjelaskan.
"Baik." Angga menganggukan kepala.
"Semua sudah dibicarakan sebelumnya dengan Pak Arfan dan Pak Andra bukan?" Dimitri menoleh kepada sekretaris.
"Sudah Pak, hanya tinggal penandatanganan kesepakatan saja."
"Baik, silahkan." pemuda itu mengisyaratkan kepada mereka untuk duduk.
Sekilas dia melirik kepada gadis dibelakang Angga yang tampak canggung. Dimitri agak mengerutkan dahi saat melihat gaya berpakaiannya yang tidak seperti gadis-gadis biasanya. Selain wajahnya yang imut-imut dengan rambut cokelat kopi susu yang sepertinya hasil bahan pewarna rambut, penampilannya seperti anak berandalan. Yang hanya mengenakan riped jeans, sepatu kets dan jaket kulit ketat berwarna hitam.
Seperti pernah bertemu. gumamnya dalam hati. Namun dia mengenyahkan pikirannya saat ingat jika dirinya baru pertama kali bertandang lagi ke Bandung setelah beberapa tahun berada di Moscow.
"Dan Ini pembalap saya Pak. Namanya Rania." Angga menunjuk ke arah putrinya yang diam tak bergerak sedikitpun.
Dimitri mendongak, dan dia menatap dua orang di hadapannya secara bergantian.
Semoga dia kagak ngenalin gue. batin Rania lagi.
"Benarkah?" pemuda itu dengan raut terkejut.
Gadis imut bertubuh mungil itu adalah pembalapnya?
"Saya kira tadi SPG?" Dimitri sedikit terkekeh. "Atau umbrella girl Mungkin?" katanya lagi.
"Tidak pak, dia memang benar pembalapnya." ulang Angga.
"Oh, ... wow." Dimitri terkekeh lagi.
Sialan, gue dikira umbrella girl?
Em**angnya gue se imut itu ya? sampai di kira SPG juga? Diiihhh.... kagak keren banget?
Rania mengangkat satu sudut bibirnya keatas atas.
Sebuah map berisi beberapa dokumen diserahkan Sang sekertaris kepada Dimitri, yang isinya segera dibaca dengan cepat oleh pemuda itu.
"Isi kesepakatannya sudah bapak baca?" ucap Dimitri.
"Sudah pak."
"Baik, jadi sudah sepakat dengan semua yang ada di dalam surat perjanjian ini?"
"Ya pak."
"Apa ada yang akan bapak tambahkan? Mungkin ada yang bapak inginkan? karena semuanya sudah pasti akan di fasilitas oleh perusahaan kami."
Dimitri melirik, dan sesekali mencuri pandang ke arah gadis mungil di samping pria itu. Yang tampak acuh dan menunggu dengan bosan.
"Mungkin masalah tim mekanik pak." jawab Angga.
"Ya?"
"Bisakah saya menambahkan beberapa mekanik kepercayaan kami untuk kerjasama ini?"
"Oh ya? apa itu sangat di perlukan?" Dimitri menyandarkannya punggungnya.
"Menurut saya iya, karena mereka yang paling mengerti dengan kemampuan Rania. Dan bisa dipastikan bisa diajak kerjasama dengan baik juga."
"Hmm... " Dimitri tampak berpikir. Sekali lagi dia melirik ke arah Rania yang tak bersuara sejak kedatangannya di ruanga itu.
"Tapi semuanya kami yang menentukan? termasuk beberapa aturan untuk pembalap, juga kesepakatan yang sudah bapak baca di dalam dokumen?"
"Ya pak. Kami hanya butuh tim yang sudah lama bekerja sama."
"Baik, jika itu memang yang paling baik, saya setuju." dia mulai menandatangani lembaran dokumen di tangannya, lalu menyerahkan kepada Angga setelah dia menyelesaikannya untuk di tanda tangani pula oleh pria itu, juga Rania si pembalap mungil yang dia kira SPG dan Umbrella Girl itu.
"Baik, salinannya akan Bapak terima dalam tiga hari ke depan, ada lagi?" ucap Dimitri.
"Tidak pak. Sudah cukup." Angga menjawab.
"Baik kalau begitu, semoga kerja sama ini sama-sama menguntungkan untuk kita."
"Baik pak. Terimakasih." mereka bersalaman, dan setelah itu Angga berpamitan.
Dimitri masih berdiri disana dengan pikirannya yang masih berusaha mengingat dimana dia pernah melihat gadis itu, karena gayanya tampak familiar. Namun tetap saja dia tak mengingatnya.
Hah, dasar konyol! batinnya, dan dia terkikik dala hati.
"Maaf pak?" sang sekertaris membuyarkan lamunannya.
"Ya?"
"Pertemuan selanjutnya di hotel Preanger dengah perwakilan dari Tagamon Construction untuk membahas pembangunan jalan tol baru."
"Oh iya, ... berapa lama lagi waktunya?"
"Kurang lebih satu jam lagi pak. Tapi karena biasanya jalan macet jadi sepertinya...
"Iya, iya saya tahu. Saya pergi sekarang." Dimitri pun beranjak.
"Bapak sudah tahu tempatnya? apa tidak sebaiknya diantar supir?"
"Kamu sharelock saja,... " dan dia segera keluar dari gedung tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Segitu doang pertemuannya? kirain bakal banyak yang mau dibahas.?" Mereka berjalan menuju dua motor yang terparkir di halaman gedung.
"Prosesnya udah selesai jauh sebelum papa ngasih tahu kamu."
"Oh ya?"
"Oh ya?"
"Iya, dan prosesnya udah Om Andra tangani. Jadi kamu cuma terima beres."
"Ah, ...asiik. papa emang yang terbaik." Rania menghambur ke dekat sang ayah untuk kemudian memeluknya.
"Jadi, nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan? kebangetan kalau kamu masih nggak nurut sama Papa."
"Dih, kayak isi ceramah di pengajian?"
Angga hanya memutar bola matanya sambil mengenakan helm di kepalanya.
Sementara itu Dimitri muncul dan menghampiri mobilnya yang terparkir di sisi lainnya.
"Itu... yang punya perusahaan ini Pah?" Rania menunjuk pemuda tersebut.
"Bukan, itu anaknya."
"Papa kenal sama yang punya?"
"Kenal."
"Masa?"
"Sepupunya kakek."
"Oh ya?"
"Hmm...
"Keren euyyy..."
"Iya dong, makanya mulai sekarang jangan macem-macem, apalagi bikin onar. Karena kamu bakalan bikin papa sama kakek malu di depan Om Satria."
"Om Satria?"
"Bapaknya orang itu."
"Oh... kok anaknya bule?"
"Ya emang bapaknya juga bule." Angga mengangguk ke arah Dimitri yang hampir saja masuk kedalam mobil hitamnya.
"Kok?"
Pemuda itu tampak mengerutkan dahi saat dia melihat motor merah yang terparkir di sana. Dan dia sangat hafal dengan benda tersebut, yang hampir terlibat insiden di jalan raya, dia tidak akan lupa apalagi kejadiannya baru saja terjadi tadi pagi.
Dimitri memutuskan untuk mendekat.
"Ada masalah pak?" Angga bertanya.
"Motor ini?"
"Ya?"
"Siapa yang membawa motor ini?" tanya pemuda itu, dan dia mengelilingi CBR merah tersebut untuk memeriksanya. Dirinya yakin bahwa ini adalah motor yang sama yang tadi pagi hampir saja bertabrakan dengan mobilnya.
"Itu...
"Dimana orangnya? dan dia harus diberi pelajaran, tadi dia bisa lolos... tapi tidak mungkin sekarang ini." Dimitri melihat sekeliling untuk mencari si pengendara motor merah tersebut.
"Maksudnya?" Angga menjengit.
"Saya pastikan dia tidak akan lolos." Dimitri terus meracau, dan mengomel dengan bahasa yag tidak satupun mereka mengerti.
Namum ocehannya terhenti saat dia melirik sebua helm merah dalam genggaman Rania, yang langsung dia kenali saat mengingat insiden sebelumnya.
"Kamu?" dia menatap Rania dari atas kebawah.
Rambut cokelat, jaket kulit, riped jeans dan sepatu ketsnya...
"Kamu perempuan itu!" Dimitri hampir berteriak.
"Maaf pak? ada apa?" Angga beralih dari motornya da menarik sang putri ketika dirinya menangkap sinyal bahaya.
"Kamu yang mengendarai motor merah ini?" tanya Dimitri kepada Rania.
"Iya pak, memangnya kenapa?" Angga yang menjawab, dan dia menyembunyikan Rania di belakang punggungnya.
"Hey, su-ka!! ini milikmu?" Dimitri meradang.
"Bukan, itu milik saya, tapi dia yang mengendarai, ada apa sebenarnya?" Angga menengahi.
"I will never forget you, Kamu yang ugal-ugalan di jalan, dan hampir menabrak mobilku!" Dimitri menunjuk ke arah Rania.
"Ran?" Angga menoleh kepada putrinya untuk meminta penjelasan.
"Ran, kamu bisa jelasin sama papa?"
"Ngg...
"Rania!"
"Maaf!!!" gadis itu akhirnya buka suara.
"Kenapa Ran?"
"Maaf Pak, saya nggak sengaja. Lagian tadi bapak juga ngebut, mana sambil telfonan lagi? Tapi kan nggak kejadian, kita nggak tabrakan?" jawab Rania.
"Apa?"
"Tadi juga saya mau minta maaf, tapi bapaknya nggak keluar dan lagsung tutup kaca kan? ya udah ...
"Blyat'. You are... " dia mengomel lagi.
"Pak ngomelnya pakai bahasa orang kenapa, biar saya ngerti terus bisa jawab." Rania dengan entengnya.
"Kamu...
"Stop!! Ini ada apa sih?" Angga menyela perdebatan.
"Ada apa? kalian pernah ketemu sebelum ini? dimana?"
"Kamu!" Dimitri kembali menunjuk wajah gadis itu.
"Tadi pagi, di jalan, hampir tabrakan." akhirnya Rania buka suara.
"Apa? kok bisa?"
"Iya, waktu aku Ngejar papa."
"Astaga."
"Aku hampir nabrak orang ini dan...
"RANIAAAA!!! belum apa-apa kamu sudah bikin masalah!"
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
Hadehhh... belum apa-apa udah ada masalah.
Rania... Rania.... 😂😂