All About You

All About You
AAY 6 : Permulaan



Gisella menyesap tehnya perlahan, ia menikmatinya sembari menatap hujan lebat yang mengguyur Seoul. Ia cukup kecewa tidak bisa melihat matahari terbit seperti hari biasa. Sudah seminggu sejak pertemuannya dengan Resti dan keluarga, dan berita yang ia dengar adalah keadaan ayah tirinya itu sudah mulai membaik. Resti? entahlah, dia memilih untuk tidak peduli.


Tok... Tok... Tok...


"Kau sudah bangun?" Suara ketukan pintu disusul dengan suara Ryan terdengar. Gisella menaruh cangkirnya dan bergegas membukakan pintu.


"Ada apa?"


"Boleh aku masuk?"


Gisella hanya menyerngit heran, "Biasanya kau tidur disini tanpa minta izin, masuklah."


"Itu karena aku terlalu lelah untuk pindah, dan aku tidur disini hanya saat kau sedang sakit." Jawabnya.


Gisella tertawa, "Aku bahkan tidak memerlukan jawabanmu, kenapa kau begitu takut aku mengetahui niat modusmu?"


Ryan tampak salah tingkah, "Ah, sudahlah. Terserahmu saja. Ini untukmu," Ryan menyerahkan bingkisan pada Gisella, "Aku melihatnya dan malah ingat dirimu, jadi ku beli saja."


"Oleh-oleh untukku? Kau selalu meninggalkan jejak kepulanganmu dengan oleh-oleh dan semua adalah .... boneka." Gisella memperlihatkan boneka Ice Bear berukuran sedang. "Apa kami mirip? aku malah mengira lebih mirip Grizzly ketimbang Ice Bear." Ujarnya


"Haruskah aku membeli Panda kali ini?" ledek Ryan yang langsung disambut wajah kesal Gisella. Grizzly, Ice Bear dan Panda adalah karakter dari kartun We Bare Bears. Setiap Ryan pulang dari luar kota atau luar negeri, dia pasti membawa salah satu dari 3 karakter kartun tersebut.


"Aku lebih suka karakter Panda di Kungfu Panda, ketimbang We Bare Bears. Dia lebih menggemaskan!" Seru Gisella senang.


"Terserah kau sajalah, dan... ini sertifikat serta passport Pramugarimu." Ryan memberikan amplop coklat. Gisella menatap ampolop itu dengan mata berbinar.


"Terimakasih,"


"Padahal, kau tidak perlu bekerja. Kau hanya tinggal duduk manis saja."


"Siapa yang bilang aku akan bekerja. Aku hanya ingin mendapatkannya, mungkin sewaktu-waktu aku memerlukannya."


"Lalu? Kau tidak bosan dirumah terus? Kerjaanmu hanya tidur, makan atau membuat berantakan ruang kerjaku."


Gisella menyipitkan mata, "Bukankah, kau yang bilang aku tinggal duduk manis? Lagipula aku sudah terbiasa. Ah, iya. aku akan mulai belajar memasak sekarang."


"Benarkah? Hmm,, kurasa untuk bagian ini tidak perlu." Nada Ryan terdengar mengkhawatirkan, ia membayangkan raut wajah Victoria yang kesal karna bahan makanannya akan terbuang sia-sia.


"Kau hanya belum coba saja,"


"Bagaimana ya,, aku tidak sembarangan mencoba makanan." Jawab Ryan. Gisella hanya menggelengkan kepalanya tapi tetap tersenyum. Setelah kejadian alergi itu, Ryan sudah tidak lagi meninggalkannya terlalu lama dirumah. Walaupun, berkali-kali Gisella mengatakan untuk tidak perlu mengkhawatirkannya. Laki-laki itu tetap keras kepala, ini membuat Wildan harus memutar otaknya lebih keras, mengusahakan jadwal Ryan tidak terlalu padat.


Drrrttt... drrrttt...


Keduanya terhenti, Ryan merogoh sakunya, ia mengerutkan kening karna getaran itu ternyata tidak berasal dari ponselnya.


"Bukan ponselku,"


Gisella menatap Ryan sesaat, lalu menggeledah kasurnya. "Ternyata hpku. Wildan yang menelfon"


"Sejak kapan kalian bertukar nomor ponsel??" tanya Ryan kesal. Gisella tak menggubris pertanyaannya dan menjawab telfon dari Wildan.


"Hallo, ada apa?"


Raut wajah Gisella berubah, berita yang disampaikan Wildan belum bisa diterimanya dengan baik, "Apa... apa yang kau bicarakan? Bukankah katamu keadaannya sudah membaik?" tanya Gisella, suaranya terdengar bergetar.


"Apa yang terjadi?" Ryan berusaha mencari tau, tapi pertanyaannya tak direspon oleh gadis itu.


"Baiklah, terimakasih." Sambungan telfon itu terputus,


"Ada apa? Apa yang dikatakan Wildan?"


"Ayah... dia ..... dia meninggal"


"Apa?"


"Ayo kesana Ryan! Aku mau lihat! Bisakah kita pergi?" pinta Gisella.


"Baiklah, akan ku atur semuanya. Kau ganti bajumu, aku akan menunggumu dibawah." Gisella mengangguk cepat.


******************


Resti menatap layar ponselnya dengan wajah datar, lalu meletakkannya kembali.


'Ayahmu meninggal, nak.'


Resti tidak peduli, lebih bagus jika laki-laki tua itu meninggal dan menyusul Delista ke alam Baka. Gadis itu memilih tetap melanjutkan aktivitas seperti biasanya. kenapa dia harus repot-repot menangis untuk orang yang bahkan tidak menggangapnya sebagai anak? Ponselnya kembali berdering, sang Ibu terus menghubunginya, Resti menolak panggilan dan mematikan ponselnya.


Sedangkan Rena, ia sudah mengenakan hanbok hitam. Dirinya lalu menatap peti mati sang suami dengan angkuh. "Ini akibatnya, jika kau terlalu memikirkan Delista ketimbang putriku! Dia bahkan tidak menjawab pesanku, atau tidak pernah menanyai keadaanmu! Ini maumu kan? Pergilah! temui anak kesayanganmu di neraka sana!" Ujar Rena kesal, ia lalu keluar dan menemui para tamu yang sudah datang untuk berduka.


**********************


Wildan menghampiri Ryan dengan setengah berlari. "Sepertinya, dari pihak kita tidak ada yang mendengar berita ini. Bahkan, Resti tetap melakukan penerbangan menuju Singapura hari ini."


"Apa maksudmu? Bagaimana mungkin?"


"Ada apa?" Gisella muncul dan sudah rapi dengan setelannya. Kedua pria itu menoleh dan sama-sama memperlihatkan raut wajah kesal. "Apa yang terjadi?"


"Sepertinya,, Resti tidak memberitahu rekan-rekannya kalau Ayahnya meninggal hari ini. Dia tidak meminta izin dan tetap melakukan penerbangan." Jawab Ryan.


Gisella mengigit bibirnya kesal, "Tidak apa, kita tetap pergi tidak peduli dengan hadirnya Resti atau tidak. Aku tau ini akan terjadi, anak perempuan mana yang sudi menghadiri pemakaman orang yang telah membuangnya, demi orang yang sudah meninggal?" Gadis itu melengos pergi, disusul dengan Ryan dan Wildan yang masih tidak mengerti maksud Gisella.


"Kau punya rencana??" Tanya Ryan.


"Hm,, ada. Aku akan ke bandara."


"Hah?? Bandara?"


"Aku akan membawa Wildan bersamaku. Kau pergilah bersama Giandra ke rumah duka." Ucap Gisella. Ryan masih belum mengerti dan masih ingin meminta penjelasan, "Aku akan menjelaskannya lewat telfon, jangan khawatir, aku hanya akan memberi Resti sedikit pukulan."


**********


Resti menarik kopernya, beberapa penumpang yang lewat diberinya senyuman. Langkahnya terhenti ketika para rekannya berkumpul. Setelah melewati sistem keamanan ia menuju garbarata yang sudah terhubung dengan pesawat tujuannya.


"Resti??" Kehadirannya disambut heran rekannya, saat Sherly mengumumkan kehadiran dirinya beberapa rekan yang lain langsung menghampiri.


"Ada apa? kenapa kalian terlihat terkejut aku disini?" tanya Resti dengan nada heran, ia ingin memasukkan kopernya tapi langsung ditahan Viola.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Viola


"Tentu saja bekerja. Hari ini penerbangan ke Singapura kan?" Tanya Resti bersemangat, "Ada apa? Kenapa? kenapa kalian menatapku seperti itu?"


"Aku baru saja mendapat kabar dari Kapten, bahwa penerbanganmu dibatalkan." Ujar Felish.


"Kata siapa? Kapten? Kenapa dibatalkan?" Resti masih memasang raut wajah keheranan.


"Kapten mengatakan....bahwa ayahmu meninggal hari ini. Tapi, kenapa kau malah tidak tau? Kau terlihat baik-baik saja." ucap Sherly hati-hati.


"Benar, bukankah kau harusnya ke rumah duka menemani ibumu?" lanjut Felish


"Tidak, bukankah aku tidak bisa digantikan saat sedang bertugas? Lagipula dia bukan ayahku. Dia hanya ayah angkatku, tidak perlu khawatir, kembalilah bekerja." Ujar Resti, ia mencoba untuk tidak terkejut mendengar hal ini, yang menjadi pertanyaannya. Bagaimana pihak maskapai mengetahui hal ini?


"Tuan Ryan, ternyata dia berteman dengan teman ayahmu. Saat dia berkunjung untuk memenuhi janji, ia mendapat kabar bahwa ayahmu meninggal. Mereka lalu sama-sama mengunjungi rumah duka. Tuan Ryan yang mengabari langsung Kapten untuk membatalkan...."


"Siapa bilang, aku akan membatalkan penerbanganku! Siapa bilang aku punya ayah! Aku....aku tidak akan meninggalkan pekerjaanku demi laki-laki itu!!" potong Resti dengan nada nyaris berteriak, ia menggeram kuat rahangnya.


Tiba-tiba....


Tubuh Resti diputar seseorang, dan dalam hitungan detik...


'PLAAAKKKK!!!'


Tamparan keras dilayangkan ke pipi Resti tanpa ampun. Semua yang melihat kejadian itu langsung menutup mulutnya terkejut. Resti sang korban meringis perih, ia menoleh marah dan ingin membalas pada.....


Gisella Arvalleta.


Gadis itu, menatap lurus Resti tanpa berkedip. Ia sudah mengenakan seragam pramugari lengkap dan rapi. Resti tak mampu berkata apa-apa, sedikit kesalahan saja, ia bisa menghancurkan kariernya, di depan para junior dan.... tunangan atasannya itu.


"Kenapa? Apa kau ingin membalas perbuatanku?" Tantang Gisella. "Ibumu sudah menelfonmu berkali-kali supaya kau datang menemaninya. Tapi apa? Kau bahkan tidak mengabari pihak maskapai tentang hal ini? Apa kau ingin menghancurkan nilai perusahaan karna tidak mengizinkan pramugarinya berduka?"


Nafas Resti tertahan, ia mencoba untuk menenangkan dirinya, "Tapi aku sedang bertugas melakukan penerbangan luar negeri. Apa kau tidak tau? Pramugari tidak bisa meninggalkan tugasnya tanpa terkecuali." jawabnya,


Gisella tersenyum miring, "Tapi kau masih belum melakukan penerbangan, dan posisimu masih bisa dijangkau berita ini. Lagipula, kapten sudah memberikanmu izin, kau tidak memeriksa hpmu?"


Tubuh Resti menegang. Ia ingat kalau ia mematikan ponselnya demi menghindari telfon dari Ibunya.


"Ah, aku lupa. Kau mematikan ponselmu."


Sherly, Felish, Viola dan beberapa pramugari lainnya cukup terkejut mendengar fakta tersebut.


"Pergilah. Temani ibumu, dia terlihat sangat kewalahan mengurusi tamu. Jangan khawatirkan tentang tugas muliamu, aku akan menggantikannya. Wildan akan mengantarmu." Ucap Gisella mengakhiri.


Wildan sudah berada di pintu pesawat, tangannya sudah memegangi koper milik Resti dan berjalan lebih dahulu. Resti hanya bisa menggeram marah, dan akhirnya meninggalkan pesawat.


Sedangkan Gisella, gadis itu hanya bisa menatap punggung gadis itu tanpa berkata-kata lagi. Ia menyuruh pramugari lainnya untuk segera bersiap-siap menerima kedatangan penumpang.


****************


Wildan memasukkan koper Resti ke bagasi, dan membukakan pintu penumpang untuknya. Tapi, bukannya masuk, Resti malah membuka pintu depan dan masuk tanpa banyak bicara. Laki-laki itu, memilih tidak menanggapi dan menyusul Resti masuk meninggalkan bandara.


"Lama tidak bertemu, Wildan. Kau bahkan sama sekali tidak menyapaku."


"Aku rasa, kita sudah tidak punya alasan untuk saling menyapa."


Resti tersenyum remeh, "Siapa wanita itu?" Wildan tak merespon dan tetap fokus mengemudi. "Wanita yang dikabarkan sebagai tunangan presdir. Dia... terlihat tidak asing."


Tidak direspon.


"Beginikah caramu membalas perbuatanku dulu? Padahal dulu..."


"Pikirkan saja masa depan kariermu. Kau sudah membuat Tuan Ryan turun tangan sendiri mengurusi hal sepele ini." Potong Wildan.


Resti terdiam, ucapan laki-laki itu menusuk hingga hulu hatinya. Ia memilih untuk membuang muka enggan berkomentar.


****************


Ryan menatap layar ponselnya hanya bisa menghela nafas. Gisella memberinya kabar, yang tidak ia sukai. Menggantikan posisi Resti sebagai pramugari, tentu saja membuat mereka tidak bertemu dalam beberapa hari kedepan. Ia tidak menyangka, wanita itu cukup pintar mengatur strategi ini.


Ia bersama Giandra masuk ke rumah duka, mengambil bunga krisan putih dan meletakkan di meja persembahan. Ryan kemudian menundukkan kepala seraya berdoa.


'Tenanglah, aku akan menjaga putrimu. Kau bisa beristirahat dengan tenang. Maaf, kalau aku tidak memberitahukannya padamu.'


Ryan menatap foto Tuan Gilang, lalu berbalik memberi hormat pada keluarga mendiang, Hera. Wanita itu hanya menatap kedatangan Ryan dengan wajah datar tanpa minat.


"Aku turut beduka cita."


"Terimakasih."


Hanya itu.


Tidak ada kata lain yang diucapkan Hera pada Ryan. Ini membuat Ryan tersenyum kecil. Pandangannya beralih pada kedatangan Resti, gadis itu sudah mengenakan hanbok.


"Kau datang tuan?" Resti menunduk memberi salam. "Terimakasih sudah datang jauh-jauh kemari. Kau menyempatkan waktumu untuk berkunjung." lanjutnya.


"Tidak apa. Kau lebih baik temani ibumu hari ini." Ujar Ryan lalu menepuk pelan pundak gadis itu. Hera yang melihatnya langsung menarik Resti ke arahnya. Parahnya tidak ada yang diucapkan wanita itu atas tindakannya.


"Ibu!"


"Lakukan penghormatan pada ayahmu dulu." Ucap Hera dengan nada sedikit membentak. Resti menuruti ucapan ibunya. Ryan hanya menatap kedua wanita itu tanpa berkata apapun, ia langsung meninggalkan rumah duka.


**************


Gisella menatap gumpalan awan dari jendela. Ia mengambil beberapa gambar. Mereka akan tiba di Singapura setengah jam lagi. Perasaan inilah yang ia cari, dimana suasana yang ia rasa begitu nyaman di ingatannya. Walaupun ia masih belum mengingat apapun, setidaknya kenyamanan yang ia rasakan membantunya pulih dari sakit hati.


Resti. Gisella ingat dengan perkataan gadis itu.


"Siapa bilang, aku akan membatalkan penerbanganku! Siapa bilang aku punya ayah! Aku....aku tidak akan meninggalkan pekerjaanku demi laki-laki itu!!"


Bagaimana ceritanya dia bisa terjebak dalam keluarga itu? Ini seperti menyatukan potongan puzzle raksasa. Dari sudut pandang Resti, mungkin iri dan dengki atas pencapaian yang didapat Delista memicunya kemarahannya. Karena keputusan Resti menghindari acara pemakanam, membuatnya tidak bisa melihat wajah sang Ayah sama sekali. Haruskah, ia meminta bantuan Ryan?


"Kau tidak lelah?" Gisella tersentak dari lamunannya lalu menoleh, Sherly datang menanyakan keadaannya.


"Tidak. Jangan khawatirkan aku. Hm.. apa ada yang bisa aku bantu?"


"Tidak, kau sudah memberikan demonstrasi penyelamatan. Sisanya kami sudah urus." Ujar Felish. "Apa aku boleh bertanya padamu?"


"Silahkan"


"Apa kau mengenal Resti sebelumnya?"


Gisella menatap ketiganya bingung, "Tidak. Aku hanya mengenalnya sejak makan malam, dan hari ini. Kenapa? Apa ada yang menganggu pikiranmu? Sepertinya ada banyak sekali pertanyaan yang ingin kau sampaikan?"


"Resti, bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Tapi, melihat sikapnya saat bertemu denganmu, dia seolah mengenalmu. Apalagi saat dia menyinggung Delista tempo lalu." Lanjut Viola.


"Dia mungkin tertarik dengan Presdir. Bukan denganku,"


"Benar, dia juga berencana merebut Tuan Ryan dari..." Sherly dan Felish langsung menyenggol lengan Viola untuk berhenti berbicara.


Gisella melihat ketiganya secara bergantian, "Tidak apa, bukan hanya Resti yang menginginkan Ryan. Gadis manapun pasti tidak akan menolak. Dan.... soal Delista, apa kalian menemukan sesuatu yang ganjal saat terakhir kalinya?"


"Kurasa tidak ada. Dia melakukan pekerjaannya dengan baik, bahkan sangat baik. Semua penumpang menyukai pelayanannya. Dia sangat terkenal dikalangan pramugari junior." Ujar Felish. Gisella hanya mengangguk paham.


****************


"Ibu! Kenapa kau begitu kasar pada atasanku!"


Hera dan Resti baru saja tiba dirumah. Pertanyaan Resti tidak digubris oleh Hera.


"Ibu akan menjual rumah ini, untuk melunasi utang ayahmu, dan membeli rumah baru. Kau ingin ikut tinggal bersama Ibu?" Tanya Hera.


"Jangan alihkan pembicaraan, bu. Jawab aku! Aku sudah menahan emosiku sejak pagi, dan kau malah menambah emosiku. Jelaskan padaku kenapa kau melakukannya?"


"Berhentilah meneriaki ibumu! Aku sudah cukup lelah hari ini. Pulanglah atau kau mau menginap! Jangan tanyakan apapun lagi tentang laki-laki itu."


"Ibu!"


"Aku mau beristirahat." ujar Hera dan melangkah menuju kamarnya.


Langkah wanita itu berhenti. Resti sudah menduganya. "Kenapa? Apa yang diperbuat Ryan pada Ayah? Kumohon jelaskan padaku! Aku tidak pernah melihat Ibu semarah ini jika menyangkut laki-laki."


"Tidak bisakah kau keluar dari perusahaan itu?"


"Kenapa memangnya? kenapa aku harus keluar tanpa alasan yang jelas?" rentetan pertanyaan Resti keluar tanpa batas, ia tidak bisa menerima permintaan ibunya dengan mudah.


"Ayahnya telah membunuh Ayahmu!!"


Sebaris kalimat itu membuat Resti terdiam.


"Barusan....ibu bilang apa?"


"Ayahnya telah membunuh Ayahmu!! AYAHMU MATI KARENA KELUARGA PERWIRA!!"


*****************


Gisella dan yang lain sudah bersiap mengelilingi kota singapura seperti yang mereka rencanakan. Tapi kehadiran Ryan tak terduga membuat keempat gadis itu tidak mampu berkata-kata, termasuk Gisella.


"Kau ikut terbang kemari?" Tanya Gisella.


"Iya. Aku sudah merindukanmu."


"Uwuuu..." Sherly, Felish dan Viola kompak berkoor ria.


"Kami akan melepaskan Ny.Gisella untukmu tuan, bawalah." Ujar Sherly.


"Tidak-tidak, aku hanya ingin melihat keadaanya sebentar. Aku memang ada urusan disini, sekalian minta izin kalau aku akan kembali ke Korea seminggu lagi."


"Kau bisa mengirimiku pesan, kenapa harus repot-repot datang kemari?" Gisella terlihat pura-pura kesal dengan tindakan Ryan yang tidak terduga. Beginikah rasanya punya kekasih?


Ryan merogoh saku Tuxedo-nya, "Ini, untuk kalian. Selamat bersenang-senang." Laki-laki itu memberikan amplop putih dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Gisella, lalu bergegas pergi.


Setelah tunangannya pergi, Gisella segera mengecek isi amplop. Tiket wisata.


"Apa ini yang kau bilang tidak romantis?" ujar Sherly.


"Tidak biasanya dia seperti ini. Ayo kita cari makan. Aku sudah lapar"


"Sepertinya kita tidak akan kelaparan!! AYO!!!"


***************


Resti berjalan lesu ke apartemennya. Mendengar semua penjelasan Ibu hari ini membuat mulutnya tak bisa berkata-kata. Ayah kandungnya Dirgayoga, telah membuat bangkrut perusahaannya sendiri, ia menyaingi dan berusaha menipu perusahaan Maskapai tempat ia bekerja sekarang. Bukannya sukses, sang ayah malah jatuh dalam jurang kebangkrutan. Tapi, tentang kematian ayahnya. Tentu saja tidak bisa diterimanya dengan baik.


"Bagaimana mungkin?"


Resti masuk ke apartemennya, tubuhnya ia jatuhkan karna kakinya begitu lemah.


'Keluarga mereka juga melakukan hal kotor, perusahaan itu sebenarnya juga hasil kotor yang direbut dari pemilik yang sesungguhnya. Mereka juga terbunuh. Jika mereka tau kau adalah Putri Dirgayoga, mungkin atasanmu itu tidak akan mengampuni perbuatan ayahmu dulu!!'


Gadis itu menelan ludahnya dalam-dalam. Selama ini, hidupnya hancur bermula dari sana. Maskapai Penerbangan ErTain itu. Mereka menghancurkan hidupku!!


*******************


Ryan menatap pemandangan malam singapura. Mengingat sikap Hera, wanita itu mungkin masih ingat betul wajah ayahnya. Setelah suami pertamanya bangkrut karena Ayah, mungkin dari situlah sakit hatinya muncul.


Tapi, bukankah itu salah mereka sendiri? dia bahkan tidak menyinggung masa lalu, kenapa wanita itu begitu terusik dengan kehadirannya?


Drrrttt drrrttt


Ryan merogoh sakunya, pesan dari Gisella.


'Kau sudah tidur?'


Ryan menekan fitur memanggil.


'Kau terbangun karnaku?' suara Gisella terdengar dari sebrang.


"Aku belum tidur, kenapa? Kau merindukanku?"


'Haha,, tentu saja tidak. Kau yang mengatakan sendiri kalau aku tidak boleh jatuh cinta padamu, kenapa kau terus-menerus menggodaku?'


"Aku hanya bercanda, kau sudah kembali ke Hotel?"


'Sudah, terimakasih untuk liburan dan makan malamnya. Mereka juga mengucapkan hal yang sama.'


"Bagaimana denganmu? kau menikmatinya?"


'Tentu saja. Hmm,, Ryan, bisakah kau bukakan pintu untukku??'


"Hahh?? Kau disini?" Ryan bergegas membukakan pintu. Gisella memperlihatkan hasil belanjaannya. Ryan bergeser ke kanan mempersilakan Gisella masuk, "Tau darimana aku di kamar ini?"


"Tentu saja Wildan! Apa kalian berbagi kamar?" Gadis itu mencoba mencari keberadaan manusia lainnya di kamar itu.


"Tidak. Kami berbeda kamar."


Gisella memberikan bingkisan pada Ryan, "Untukmu"


"Apa ini?" Laki-laki itu membuka bingkisan, sebuah kemeja sutra warna dark blue. "Kau membelikannya untukku?"


"Iya, kau suka?"


"Bolehlah, untuk koleksiku. Padahal, kau tidak perlu repot-repot membeli, aku sudah punya banyak kemeja." Ujar Ryan, ia melipat kembali kemejanya.


"Tapi itu satu-satunya kemeja dariku. Aku yang memulihkannya."


"Baiklah, aku terima."


Gisella terlihat berfikir sebentar, "Ryan? Bisakah aku bertanya?"


"Tentang?"


"Bagaimana pemakaman ayah tiriku?"


"Semuanya berjalan lancar. Kau bisa mengunjunginya jika kau mau."


Gisella terdengar menghela nafas, 'Aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya secara langsung...Aku tidak suka merasa bersalah.." Wajah Gisella tertunduk, "Walaupun dia hanya ayah tiriku, rasanya tetap saja sakit... aku... bahkan tidak punya kesempatan untuk berpamitan dengannya," Suara Gisella terdengar berat, Ryan langsung menghampiri gadis itu dan memeluknya.


"Sudahlah, tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku akan mengantarmu menemui ayahmu nanti." Gisella mengangguk dalam pelukan Ryan. "Ngomong-ngomong, Wildan cerita padaku kalau kau menampar Resti."


Gisella merenggangkan pelukan Ryan, "Iya, benar. Dia sudah berlaku kasar di hari kematian ayahku... Bagaimana bisa dia terlahir sebagai manusia di dunia ini? Mendengar dia tidak akan meninggalkan pekerjaannya membuat kepalaku memanas. Harusnya, ku jambak juga rambutnya tadi."


"Haruskah ku pecat dia?" tanya Ryan


"Kau bisa melakukannya?" tanya Gisella balik


"Tentu saja bisa! Tapi,, dengan alasan yang jelas dan disertai dengan pelanggaran yang tidak bisa dimaafkan." jelasnya, Gisella menyipitkan matanya kesal.


"Aku akan kembali ke kamar. Besok aku pulang ke Korea jam 3 sore. Jaga kesehatanmu,"


"Kau sudah mau pergi?"


"Menurutmu? Apa kau fikir aku akan menginap disini?"


"Jika kau mau, ku persilahkan."


Gadis itu menyilangkan tangan di dada, "Semakin lama, aku merasa kau semakin menyukaiku. Berhentilah melakukannya, atau aku benar-benar bisa jatuh cinta padamu!"


Ryan tersenyum tipis, "Kau tidak boleh melakukannya. Mencintaiku bisa membuatmu menyesal Gisella." ucap Ryan


Gisella mengigit bibirnya cemas, "Kalau begitu, berhentilah menggodaku atau bersikaplah biasa."


"Memangnya sikap biasaku seperti apa?"


Gisella memutar bola matanya enggan, "Kau cuek, dan raja dari segala rajanya tukang kerja. Kau hanya menghubungiku jika perlu,"


"Mungkin karena perkataanmu"


"Perkataanku?? Perkataan apa?"


"Bahwa aku jatuh cinta padamu."


Gisella terdiam, suasana kamar suite room itu hening seketika. Hanya Gisella dan Ryan yang masih saling menatap mencari jawaban dari perasaan masing-masing.


********************


'Bruukk!!'


Wildan tak sengaja menabrak anak kecil yang berlafi kearahnya, ponselnya terlempar cukup jauh ternyata terhenti tepat di kaki Sherly.


"Aku minta maaf tuan." Anak itu meminta maaf dan berlari ke ibunya.


Sherly mengambil ponsel Wildan, dan matanya membulat saat melihat wallpaper yang terpasang di ponsel Wildan. Dengan cepat dan tidak berkomentar, laki-laki itu merebut ponselnya dan pergi.


"Bukankah tadi,, foto Wildan dan Resti?"


**************************


#Flashback On


Ryan kecil, berlari ke arah suara tembakan itu berasal. Dilihatnya sekeliling, nafasnya terengah-engah kembali berlari, ia harus menemukan mereka. Langkahnya terhenti saat Frans ia temui sedang menggendong seseorang di pundak. Matanya membulat dan langsung mencari tempat persembunyian.


Frans hanya membawa Tuan Ferry bersamanya. Dimana gadis kecil itu? Setelah dirasanya aman, Ryan keluar dari persembunyian dan kembali berlari mencari.


Gisella.


Nama yang cantik. Ryan berlari ke taman kota, mengedarkan pandangannya, dan matanya menangkap sosok gadis kecil tertidur di salah satu bangku taman. Akhirnya yang ia cari bisa ia temukan. Ryan berlari menghampiri,


"Gisella...hei...bangunlah!" Ryan mengguncangkan gadis itu, tapi tidak ada respon apapun. Ia terdiam saat melihat darah keluar dari kepala gadis itu. Apa yang terjadi?


Dari kejauhan, ia melihat seseorang datang menujung kearahnya. Cepat-cepat Ryan bersembunyi. Ia hanya melihat laki-laki itu bergegas membawa Gisella pergi, semoga saja. Semoga saja gadis itu selamat!


#Flashback Off


Ryan terbangun dari tidurnya, mimpi itu datang lagi. Ia mengusap wajahnya yang sudah basah karena keringat. Mimpi itu hadir seakan menjadi alarm baginya untuk tidak membuat luka bagi Gisella dan dirinya. "Astaga,"


*************


Gisella menatap pantulan cermin dirinya dari kaca, pikirannya kembali pada ucapan Ryan semalam.


"Bahwa aku jatuh cinta padamu."


Ini terasa ada aneh, Ryan boleh mencintainya tapi tidak dengannya. Kenapa laki-laki itu melarangnya membalas perasaannya? bukankah itu lebih baik jika saling mencintai? Apa ada ini berkaitan dengan hilangnya ingatannya? Kenapa ingatannya belum juga pulih?


Lagipula, baik Ryan ataupun dirinya merencanakan pertunangan ini secara sadar tanpa kontrak apapun. Gisella menerima pertunangan ini karena ingin memperbaiki masa depannya. Sedangkan Ryan? Apa yang bisa didapatkannya? Dia bisa mencari wanita yang lebih baik dan lebih jelas bibit bobotnya. Gisella bebas melakukan apa saja, tanpa kekangan apapun kecuali mencintai Ryan. Dia tidak diizinkan untuk itu.


Gisella menatap dirinya sendiri, "Sebenarnya, apa yang sedang kau rencanakan Ryan?"


*******************


Resti menyesap capuccino-nya dengan tenang, matanya menatap suasana ramai jalanan Seoul.


"Apa kau Resti?"


Gadis itu menoleh, ia tersenyum. "Duduklah." Ia mempersilahkan seorang laki-laki berusia 40 tahun lebih itu untuk duduk dihadapannya.


"Kenapa kau mencariku?"


Resti mengeluarkan beberapa foto dari dalam tas, "Tolong carikan informasi tentang mereka. Trias mengenalkanmu padaku, detektif."


Harris, detektif yang duduk dihadapan Resti akan membantunya mengumpulkan potongan puzzle dalam ceritanya.


"Bukankah harusnya kau mengenalnya? Dia Adryan Perwira CEO maskapai penerbangan Ertain, dan.... gadis ini adalah tunangannya."


"Aku ingin tau semua tentang mereka, bukan hanya dari kulit luarnya saja. Sebenarnya, aku sudah mencari tau tentang Gisella, tapi yang ku dapatkan hanyalah informasi umum. Dia seperti bidadari yang jatuh dari langit, tiba-tiba muncul, dan tidak tau datangnya dari mana." Ujar Resti


"Baiklah, aku akan mengabarimu. Kau sudah tau kan harus kemana kau mentransfer uangnya?"


Resti mengetik cepat layar ponselnya, lalu memperlihatkannya pada laki-laki itu. "Aku sudah membayar DP cukup besar, tolong kabari aku." Laki-laki itu tersenyum puas, lalu bangkit dan pergi.


'Aku tidak bisa mengandalkan ibu. Dia hanya memberitahuku hal dasarnya, tanpa menceritakan prosesnya. Aku harus tau segalanya!'


*****************


Gisella sudah dijemput Giandra, sepanjang perjalanan ia terus menatap ponselnya dan tidak berhenti tersenyum.


*Sherly : Senang berlibur bersamamu!!


Vio : Aku menantikan liburan kedua!!


Felish : Apakah Gisella punya waktu untuk kita?


Gisella : Harusnya aku yang bertanya, apakah kalian punya waktu untukku?


Sherly : Ayo bertemu minggu depan


Vio : Ide Bagus!


Felish : Okeeh*!!


Gisella bergabung grup chat dengan Sherly, Vio dan Felish. Berteman dengan mereka begitu menyenangkan. Kecantikan, kekayaan, pertemanan dan juga pasangan didapatnya dengan mudah di posisi ini. Kenapa dia harus terlahir begitu susah dulu? sedikit demi sedikit ego dan keserakaahannya perlahan muncul.


Drrrrtt drrrtttt


Pesan lain muncul, bukan dari grup melainkan. Resti.


'Bisakah kita bertemu?'


Gisella berfikir sebentar, ia takut kecerobohan yang tidak dia sadari bisa menimbulkan kecurigaan. Resti, dia gadis yang cukup pintar menilai orang.


"Baiklah, lusa jam 3 sore di restoran Grocery"


Tanpa berfikir lama, Gisella menekan tombol kirim. Haruskah dia memberitau Ryan? tidak, dia akan khawatir dan langsung terbang ke Seoul sesukanya.


****************