All About You

All About You
Kompromi



🌹


🌹


Dimitri mematikan mesin mobilnya tepat di depan rumah Satria. Dia memutuskan untuk mendatangi kedua orang tuanya untuk meminta pendapat. Barangkali mereka bisa memikirkan solusi dari permasalahan yang tengah di hadapinya kini.


Sebenarnya mudah saja, Rania memutuskan mundur dari balapan musim ini, memilih menjaga kehamilannya hingga dia melahirkan dan merawat anak mereka. Setidaknya sampai anak itu bisa dia percayakan pengasuhanya kepada orang lain. Baru setelah itu dia kembali pada dunia balapan yang sangat di cintainya.


Sangat dicintainya, sehingga mampu mengalahkan cintanya terhadap suami dan anaknya.


Tapi keadaannya tak se sederhana itu bagi Rania. Segalanya berhubungan erat dengan mimpi yang telah lama ingin dia capai, cita-cita yang ingin dia raih, dan usaha yang telah lebih dari setengah jalan dan hampir tuntas. Hanya tinggal menjalani langkah terakhir yang tersisa pada peraihan gelar juara.


Apa boleh buat, balapan adalah dunia Rania sebelum mereka bertemu, sehingga tak ada siapapun yang dapat menghalanginya. Tidak anak, tidak dirinya sebagai suami, bahkan tidak juga siapapun. Dan hal tersebut sudah sangat dia mengerti.


Namun prakteknya tak semudah teori, yang kini betul-betul dia rasakan. Dulu dengan mudah Dimitri berucap bahwa dirinya akan membebaskan perempuan itu untuk tetap menggapai mimpi, sementara dirinya akan mendukung dari belakang. Namun nyatanya, melihat situasinya yang seperti ini, dia jelas tak bisa membiarkan hal tersebut.


"Dari mana kamu?" Sofia bertanya, saat putranya hampir memasuki ruang tengah dimana mereka biasa bercengkerama.


"Dari rumah." jawab sang putra, lesu.


"Rania?" perempuan itu melihat ke belakang tubuh putranya.


Dimitri terdiam sebentar, kemudian menggelengkan kepala.


"Apa ada masalah?" Sofia kemudian bertanya.


"Soal itu ...


"Masuklah nak." Satria muncul dari arah tangga. "Sayang, kenapa kamu tidak mengajak Dimitri masuk?" lanjutnya.


"Ah, iya. Sampai lupa." ucap Sofia yang kemudian menarik sang anak untuk masuk.


"Sudah sejauh apa persiapanmu untuk kenaikan posisi?" Satria memulai pembicaraan.


"Itu ...


"Andra baru saja menelfon papi, dia bilang semuanya sudah dipersiapkan dengan matang untuk besok, hanya tinggal kamu saja yang harus mempersiapkan diri."


"Aku tahu, Om Andra sudah mengatakannya sebelum pulang tadi."


"Itu bagus, berarti kamu sudah tahu apa yang harus di lakukan?"


"Sudah pih."


"Lalu bagaimana Rania? bukankah besok dia berangkat ke Argentina?"


Dimitri tertegun, dia baru ingat hal tersebut.


"Sudah dipastikan dia tidak akan bisa mendampingimu di sana?"


Dimitri tak menjawab.


"Tidak apa-apa, masing-masing punya kepentingan yang tidak bisa ditunda. Kamu dengan pekerjaanmu, dan Rania dengan pekerjaannya. Biarkan dia menjalankan apa yang menjadi cita-citanya dulu. Nanti akan ada masanya dia hanya akan menghabiskan seluruh waktunya denganmu."


"Tapi masalahnya ...


"Dibicarakan saja baik-baik bagaimana seharusnya. Jangan pakai emosi, nanti kamu akan menyesal akhirnya." Satria menepuk pundak sang anak, dia merasa ada sesuatu yang telah terjadi. Namun tak ingin masuk terlalu jauh kedalam rumah tangga putranya. Buka porsinya lagi untuk melakukan hal tersebut.


"Di usia seperti kalian ini memang sedang masanya mementingkan ego, dan merasa kepentingan diri sendiri lebih penting dari apapun. Yang jika tidak disikapi dengan baik maka akan menimbulkan banyak pertengkaran yang tidak jelas ujungnya. Tapi, posisimu sebagai suami, dan usiamu yang lebih dewasa darinya sudah tentu mengharuskanmu untuk lebih memahami Rania."


Dimitri mengankat kepalanya.


Perkataan ayahnya benar, dan dia merasa menyesal karena telah mengikuti emosinya berapa saat yang lalu. Seharusnya dia lebih tenang dan mampu menghadapi sikap Rania yang memang sudah diketahuinya jika perempuan itu memang keras kepala.


"Tapi Rania keras kepala, Pih." Dimitri mengadu.


"Kalian bertengkar?"


Pria itu menganggukan kepala.


"Apa kamu melawannya denga keras?"


"Aku membentaknya, ...


Satria menahan napasnya sebentar.


"Dan berteriak kepadanya."


"Aku nggak sengaja, aku emosi Mom." jawabnya kemudian.


"Itulah gunanya bersabar, agar kamu bisa menahan diri dari melakukan kesalahan. Apapun masalahnya, sebisa mungkin jangan sampai membentak, apalagi berteriak kepada istrimu. Perlakukanlah dia dengan baik."


Dimitri mendengus pelan.


"Sekarang pulanglah, coba bicara dengan hati-hati kepadanya."


"Papi tidak tahu masalahnya, ...


"Bicaralah saja dulu. Mungkin saat ini dia sedang menangis karena menyesal. Sementara kamu malah pergi meninggalkannya sendirian. Di rumah baru, tanpa siapapaun yang menemaninya. Dimana perasaanmu? Kamu tidak tahu akan sehancur apa hatimu jika melihat orang yang kamu cintai menangis." Satria berujar.


Dimitri memejamkan mata, kesabarannya memang harus ditingkatkan. Dan ini pertama kalinya dia harus mengalah terhadap segala hal. Tak ada yang namanya seorang pria yang lebih kuat dan berkuasa. Tak ada istilahnya posisi suami lebih tinggi dari pada istrinya. Dan tak ada peribahasa perempuan harus tunduk kepada suaminya, karena itu hanyalah sebuah teori belaka.


"Baiklah, aku akan pulang." katanya seraya bangkit.


"Tidak mau makan dulu?" tawar Sofia.


"Tidak usah. Mungkin dia akan ingat menyiapkan makan untukku." Dimitri terkekeh getir. Sungguh kemustahilan yang hakiki, pikirnya.


Jangankan makan, perhatian saja tidak pernah dia tunjukan.


Tapi Dimitri berpikir lagi, bukankah perempuan itu memang begitu sejak awal? lalu apa masalahnya? bukankah itu yang membuatnya jatuh cinta kepadanya? si gadis aneh yang berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan?


Ah, ... posisiku serba salah! gumamnya dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ ...


Rania menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10 malam. Kemudian dia beralih pada makanan di meja yang sudah dingin. Satu wadah nasi, sepiring ayam goreng dan satu piring sayuran hijau yang dia tahu cara memasaknya. Masakan sederhana, namun baginya penuh perjuangan. Walau hampir saja gagal, tapi keberadaan situs berbagi video ternyata berguna juga untuknya yang tak memiliki kemampuan seperti perempuan pada umumnya.


Dan terbukti, seorang Rania pun bisa mempelajari hal lain selain soal mesin dan kendaraan bermotor lainnya.


Dia terkekeh sendiri saat mengingat dirinya sampai tiga kali memeriksa ricecooker agar terpasang dengan benar seperti yang diucapkan oleh suaminya. Sehingga beras yang dimasaknya matang dengan sempurna dan bisa dimakan.


"Papamu kayaknya benar-benar marah," Rania menyentuh perutnya. "Mungkin dia nggak akan pulang malam ini." katanya.


"Baiklah, nggak apa-apa, biarkan dia begitu." Rania bangkit, kemudian naik ke kamarnya di lantai atas. Ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah setelah menyiapkan keperluannya untuk pergi ke Argentina besok pagi. Seperti janjinya kepada Angga saat mereka bertelefon ria tadi sore.


***


Dimitri tiba setelah sekitar satu jam berkendara. Jarak rumah kedua orang tuanya tidak terlalu jauh, namun ke engganannya untuk pulang membuatnya banyak mengulur waktu. Sengaja mampir dulu ke restoran milik orang tuanya di pusat kota, untuk makan dan sekedar menghabiskan waktu. Tanpa memikirkan istrinya, karena perempuan itu sudah pasti akan memesan makanan setiap kali dia lapar seperti yang biasa di lakukannya selama ini. Hingga dirinya tiba pada hampir tengah malam di rumah barunya yang sudah gelap. Dia hanya lampu teras dan lampu taman saja yang menyala.


Ah, ... dirinya lupa, rumah sebesar ini belum memiliki penjaga atau bahkan pengurus khusus. Banyak hal yang harus dia kerjakan membuatnya melupakan beberapa hal penting. Apalagi acara pengukuhan jabantannya yang akan dilangsungkan besok siang.


Dimitri memasuki rumah yang setiap ruangannya sudah gelap. Dia lekas menuju ke arah tangga, namun langkahnya terhenti saat ekor matanya menangkap sesuatu di ruang makan.


Meja yang diatasnya diletakan beberapa wadah tertutup, yang menarik langkahnya untuk masuk kedalam sana.


Dimitri menghembuskan napas keras saat melihat apa yang berada di atas meja. Makanan yang sepertinya buatan rumah, hal itu dia yakini dari beberapa perabotan kotor di dalam bak cuci.


Mustahil! gumamnya.


Kemudian dia memeriksa tong sampah di bawah counter masak, tak ada bekas kemasan makanan pesan antar yang seperti biasanya ketika mereka masih berada di Bandung. Yang ada hanya potongan sayuran dan sampah dari bumbu mentah yang sepertinya diolah sendiri dirumah itu.


"Oh, ... dia pasti menungguku untuk makan bersama!" gumamnya, kemudian dia segera berlari ke kamar mereka di lantai dua.


Dimitri tak bisa tak merasa terharu, perempuan itu telah berusaha keras melakukan banyak hal, terutama untuk sesuatu yang tak pernah dia lakukan seumur hidupnya hingga sedewasa ini.


Dan dirinya sangat yakin, jika apa yang dilakukannya tadi sangatlah sulit.


Dimitri mendekati tempat tidur dimana perempuan itu sudah meringkuk dibawah selimut, dengan AC yang berhembus kencang meniupkan hawa dingin hingga ke seluruh ruangan. Membuatnya sedikit tergelak, karena dia ingat bahwa Rania terbiasa hidup di tempat dengan suhu dingin.


Semarah apapun dirinya, ternyata Rania tetap mampu memenangkan hatinya kembali.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


lagian, siapa juga yang bakalan kuat lama-lama marah sama si oneng😂