All About You

All About You
Mas Kawin



🌹


🌹


Rania berulang kali membaca script singkat yang Dimitri berikan beberapa saat yang lalu. Berisi beberapa adegan yang akan dia lakukan untuk syuting iklan minuman ringan besok. Sesekali dia memperagakan dengan aktingnya yang masih baru.


"Bisa?" pria itu muncul dengan dua minuman ditangannya, kemudian meletakannya diatas meja, di teras belakang kediaman orang tuanya yang sepi, karena malam sudah menjelang dan sebagian penghuni mulai kembali ke peraduannya masing-masing. Kecuali para penjaga yang tampak sesekali mondar-mandir di sekitar.


Sofa menjadi tempatnya melepas lelah setelah seharian menemani gadis itu di studio foto tadi.


"Aku kan baru dalam hal ini, jadi belum terlalu bisa. Selain adegan diatas motor."


"Nggak apa-apa, nanti juga bisa dengan sendirinya." Dimitri menepuk sisi kosong disampingnya.


"Belum apa-apa aku udah gugup." Rania tertawa. Kemudian menghampiri sofa dimana Dimitri berada, Lalu duduk tak jauh dari pria itu.


"Wajar, kan masih baru."


"Hu'um. Yang pertama emang selalu bikin gugup, tapi kesananya nggak kan?" Rania memiringkan kepalanya.


"Iya. Sama seperti... " Dimitri menggantung kata-katanya.


"Apa?"


"Sesuatu." pria itu terkekeh, pikirannya sudah tentu berkelana kemana saja setiap kali mereka berdekatan seperti itu. Apalagi saat ini Rania berpenampilan berbeda dari biasanya.


Mengenakan celana selutut dengan atasan kaus berwarna cerah, pakaian yang merknya dia bintangi iklannya. Sementara rambutnya dia ikat asal keatas, membuat leher jenjangnya terekspose sengan jelas.


"Mama suruh aku tanya kamu." Dimitri kembali berbicara.


"Tanya apa?"


"Mas kawinnya nanti mau apa?"


"Mas kawin?"


"Iya, setiap orang menikah itu kan biasanya pakai mas kawin." Dimitri menjelaskan.


"Ish, ... aku tahulah kalau masalah itu."


"Aku kira kamu nggak tahu."


"Tahulah, gini-gini juga aku nggak bego-bego amat."


"Aku nggak sebut kamu bego loh."


"Hmm...


"Mama suruh aku tanya, biar kalau barangnya langka bisa cari dari sekarang."


"Memangnya mas kawin itu harus barang langka ya?"


"Nggak juga. Karena kadang-kadang ada calon mempelai yang minta barang aneh, atau sulit di dapat."


"Ribet amat deh ah."


"Makanya."


"Emang kita nikahnya kapan sih? kok udah nanyain masalah mas kawin?"


"Belum di bicarakan lagi, tapi sepertinya Nunggu kamu selesai balapan."


"Masih lama, Dim. Emangnya aku berapa kali lagi balapan?"


"Nggak tahu, papa kamu yang pegang jadwal."


"Bulan depan di Jeres, terus minggu depannya ke Le Mans. Qatar, Amerika, Argentina, Mandalika." Rania menahan napasnya sebentar, lalu dia menatap wajah kekasihnya yang tiba-tiba saja tersenyum aneh.


"Grans Prix puncaknya Di Mandalika ya?" lanjutnya.


"Iya, dua bulanan lagi."


"Cepet amat ya?" gadis itu tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Makanya mama tanya, siapa tahu mas kawin yang kamu mau susah dicari."


"Mmm ... mama aku bilang kita nggak boleh memberatkan soal mas kawin sama laki-laki, walaupun itu hak kita untuk meminta yang kita mau, tapi nggak bagus juga kalau terlalu memberatkan."


"Memang apa yang kamu mau?"


Rania terdiam.


"Kamu bilang memberatkan seolah aku ini nggak mampu."


"Dih, sombongnya bapak."


Dimitri menggelengkan kepala.


"Mintalah, nanti aku carikan. Kalau cuma perhiasan sih aku mampu."


"Aku nggak suka perhiasan."


"Terus?"


"Yang gampang ajalah."


"Terserah kamu."


"Kalau terserah aku takutnya nanti kamu nggak pakai. Kamu tahu, apapun yang kamu minta aku mampu menyediakannya, Kalaupun aku ngga bisa, kan ada papi. Tinggal minta papi cari pasti ada."


"Dih, ... dasar anak papi. Bukanya kalau mas kawin itu harus dari hasil usaha sendiri ya?"


"Oh ya?"


"Setahu aku gitu."


"Ah, .. tapi tetap aku pasti mampu ngasih apa yang kamu mau."


"Sombong."


Dimitri tertawa.


"Aku tahu kamu mampu. Kalaupun aku minta Buggati Chiron pun kamu pasti bisa."


"Buggati Chiron? mau dipakai dimana? Bandung sudah macet sekarang. Nggak bisa dipakai kebut-kebutan."


"Makanya." kini Rania yang tertawa. "Yang gampang ajalah, Buggati susah. Mungkin itu bisa aku beli nanti aja kalau jadi juara terus."


Dimitri terdiam.


"Yang gampang dan nggak ngeribetin kamu aja deh. Ducati Panigale juga boleh." Rania tertawa lagi.


"Kamu balapan pakainya itu."


"Ya kan balapan. Sehari-hari masih pakai CBR nya papa."


"Ada punya aku kalau mau kamu pakai."


"Iya juga ya."


"Ya sudah, nanti rundingan lagi dengan mama."


"Tapi ..." Rania meremat lengan pria itu.


"Apa?"


"Jangan deh, ... kayaknya kemahalan." Rania tertawa. "Kan malu, mahal amat permintaannya. Berasa nggak tahu diri deh."


"Terus?"


"Terserah mama kamu deh, kalau orang tua pasti tahu yang pantas."


"Beneran?"


"Hu'um."


"Nggak akan menyesal kalau misal nggak sesuai keinginan kamu?"


"Nggak akan. Itu cuma simbol kan? yang pentingnya ada di sini." dia menepuk dada Dimitri dengan lembut.


Keduanya terdiam dan saling pandang. Rania menarik kembali tangannya ketika dia merasakan degupan jantung pria itu mengencang dengan sendirinya.


"A-aku mau nerusin...


Namun Dimitri menahan tangannya agar terus berada disana. Lalu merematnya dengan perlahan. Seketika rasa hangat menjalar ke segala arah.


"Kamu benar, mas kawin itu hanya simbol. Yang sebenarnya memang ada di dalam sini dan itu nggak bisa diukur dengan uang." ucap Dimitri, yang secara perlahan mendekatkan wajahnya kepada gadis itu.


Tatapannya menelusuri wajah Rania yang sepolos biasanya, namun mampu membuat jantungnya selalu berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Mata bulatnya yang berwarna kecokelatan, alisnya yang terbentuk rapi, bulu matanya yang lentik dan tampak lucu ketika dia berkedip. Jangan lupakan juga hidungnya yang tidak terlalu mancung, namun tidak pesek juga. Hanya pas, dan sesuai dengan wajahnya yang imut itu. Terutama bibir merahnya yang selalu tampak menggoda. Yang selalu menggoyahkan imannya yang tidak lebih besar dari nafsunya. Dan berdekatan dengan gadis ini memang selalu membuatnya merasa begitu.


Rania mundur perlahan ketika wajah pria itu semakin tak berjarak, namun sebelah tangam Dimitri menyelinap ke punggungnya, dan menahannya agar mereka tak menjauh. Dan di detik berikutnya, bibir keduanya hampir saja bertemu ketika terdengar suara panggilan dari dalam rumah.


"Dim, ajak Rania makan dulu. Nanti makanannya keburu dingin." suara Sofia menginterupsi.


"Mmm... " Dimitri menarik diri ketika menyadari bahwa mereka berada di rumah orang tuanya.


"Habis itu istirahat, bukannya besok syutingnya mulai pagi-pagi?" Sofia muncul diambang pintu.


"Iya Mom."


"Cepat, papi sudah menunggu di meja makan." titah sang nyonya rumah.


"Rania, Ayo kita makan dulu. Simpan dulu script nya, nanti diteruskan lagi." perempuan itu mengulurkan tangannya, dan gadis itupun menurut.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


Tumben kang soang gagal. 🤣🤣🤣


jangan lupa klik like komen sama kirim hadiahnya yang banyak ya.


lope lope sekebon cabe.