
🌹
🌹
Galang bersiap menjauh saat gadis itu tiba, dia membereskan peralatan kerjanya yang berserakan dilantai garasi miliknya. Peringatan Angga kepadanya tempo hari masih sangat menakutkan baginya dan dia tidak akan berbuat macam-macam. Atau masa depannya akan hancur. Dan dia tidak akan mengambil resiko untuk itu.
"Waahh.. motornya udah datang Lang?" Rania menatap kagum motor cross berwarna hitam yang baru saja tiba di garasi sahabatnya itu.
"Hu'um, barusan." Galang tak sempat pergi.
"Jadi... si jagur udah ada temannya dong ya?" gadis itu mengelilingi kendaraan roda dua tersebut. Sesekali mengusap permukaannya yang tampak masih baru.
"Second kan ya?" dia bertanya.
"Iya."
"Boleh nyobain?" dia bertanya dengan polosnya.
"Belum bisa lah." jawab Galang yang masih berusaha membereskan kekacauan yang dibuatnya barusan.
"Kenapa?"
"Orang aku juga belum nyobain."
"Aku wakilin."
"Nggak usah, aku masih bisa."
"Yah, ... kamu pelit."
"Biarin."
Rania mengerucutkan bibirnya hingga membuatnya menjadi semakin imut.
"Latihan sana."
"Bentar lagi Lang."
"Yaudah, ngapain kek?"
"Rania!!!" terdengar sang ayah berteriak dari gerbang rumahnya.
"Denger nggak tuh?" Galang menyentakan kepalanya.
"Iya iya, kamu jadi gitu ih?" Rania dengan nada kecewa.
"Bukan gitu Ran. Masalahnya masa depan aku terancam ini."
"Kamu kayak yang baru kenal papa aku aja Lang?"
"Kalau yang ini ancamannya serius Ran."
Gadis itu mencebikan mulutnya, kemudian pergi.
Ah,... serba salah gue? deketin anaknya, bapaknya ngancam. Nurutin bapaknya, anaknya yang marah. Apes apes. dia menggelengkan kepala.
🌹
🌹
"Masih kurang rapat Ran, kamu masih sedikit melebar di tikungan." Angga berputar-putar mengikuti gerakan motor yang dikenndarai putrinya, yang kali ini menggunakan metode baru untuk melewati tikungan.
Rania tak menjawab, dia hanya mengikuti perkataan ayahnya dan melakukan semua yang Angga perintahkan.
"Dua minggu lagi kita ke Mugello loh Ran. Dan kamu harus udah siap. Hal kayak gini nggak bisa jadi alasan kegagalan kamu lagi." pria itu terus mengoceh.
"Oh iya, nanti siang kita harus ketemu sponsor. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan." lanjut Angga yang tak melepaskan pandangan dari putrinya.
Rania tiba-tiba memghentikan laju motornya.
"Kenapa?" Angga ikut berhenti.
"Ketemu sponsor?"
"Iya."
"Kapan?" abis makan siang.
"Dimana?"
"Dikantornya lah, masa di kafe? kayak orang mau kencan aja."
"Hmm...
"Kenapa? kamu udah ada janji sama si Galang mau kencan?" Angga tertawa.
"Ish, apaan sih?"
"Ya kali kamu ada kencan sama si Galang?"
"Kencan apaan? pacar aja bukan."
"Masa? kemarin mau ciuman? itu namanya apa?"
"Ish, ... bahas itu lagi?" Rania cemberut.
"Fokus satu-satu dulu Ran." dia mendekat kepada anaknya.
"Pilih yang pasti, pacar atau balapan. Jangan dua-duanya, nanti kamu nggak fokus. Kalau mau pacaran, mending balapannya udahan karena nggak bakalan bener. Pikiran kamu jadi bercabang entar. Kalau mau balapan, seriuslah balapan. Kan udah komitmen dari awal."
Rania hanya menganggukan kepala, dia tidak akan mencoba untuk menjelaskan lagi karena sang ayah terlanjur menganggapnya seperti itu. Jadi percuma Jiga jika dia menjelaskan.
"Coba sekarang pilih, mau balapan atau mau pacaran?"
"Ish, apaan sih papa ngomongin itu melulu deh?"
"Kita bikin komitmen lagi yang bener. Kalau pilih si Galang, yaudah kita udahan balapannya. Kita mundur dari kompetisi ini secara baik-baik. Kamu nikah deh sekalian sama si Galang biar papa nggak khawatir kamu kenapa-napa nantinya."
"Apaan? papa makin ngaco ih, udah aku bilangin nggak ada apa-apa sama Galang juga!"
"Lah itu kemarin apaan?"
"Buka apa-apa, udah aku bilang aku nggak pacaran sama Galang papa nggak percaya. Itu cuma percobaan tahu!" akhirnya dia buka suara.
"Apa?"
Rania segera menutup mulut dengan tangannya.
"Percobaan?"
"Aku salah ngomong Pah. Maksudnya bukan gitu."
"Rania!!!"
"Aku mending latihan lagi ya? biar lancar buat minggu depan." gadis itu merapatkan helmnya kembali, dan dia segera kembali menggeber Ducatinya untuk menghindar.
🌹
🌹
"Kamu sudah siap?" Satria kembali kedalam kamarnya untuk memastikan Sofia selesai dengan urusannya.
"Sudah, ayo?" perempuan itu bangkit dan keluar dari kamar mereka.
"Kamu bersemangat sekali hari ini ya." mereka berdua berjalan bersisian.
"Tentu saja, bagaimana aku tidak bersemangat? aku akan bertemu putraku."
"Seperti tidak bertemu selama bertahun-tahun saja?"
"Semua ibu seperti itu sayang, apakah para ayah tidak seperti itu? Kalian kelihatannya sangat cuek ya?"
"Tidak juga. Kami juga kadang sangat rindu anak-anak, tapi tidak berlebihan seperti para ibu."
"Haih, ...sama saja."
Satria hanya tersenyum.
"Jadi, kita akan langsung ke kantor sayang?" mereka memulai perjalanan pada hari itu, untuk menemui sang putra yang berminggu-minggu tak pulang kerumah.
"Yeah, ... kita akan memberinya kejutan."
"Baiklah, apakah kita tidak akan membawakan dia sesuatu?"
"Tidak usah, di Bandung banyak."
"Hmm... benar juga ya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi, ... sejauh ini perkembangannya bagus, dan kita hanya perlu bertahan di sepuluh besar saja. Dan itu sudah cukup." Dimitri menutup percakapan pada hari itu.
Dih, dia pikir gue selemah itu apa? cukup di posisi sepuluh gitu maksudnya? gue nggak layak jadi juara? Rania menggerutu, rasanya semua yang Dimitri katakan membuatnya merasa sebal setengah mati.
"Tapi kalau misalnya bisa lebih dari itu juga bagus, dan lebih baik." sambung Dimitri yang sesekali melirik kepada gadis yang terdiam disamping Angga.
Yaiyalah, gue bisa kok. Lu mandang gue sebelah mata ih,... batin Rania lagi
"Kami akan berusaha untuk tidak mengecewakan Pak. Dan Kami akan berusaha lebih baik dari kemarin."
"Itu bagus. Ditunggu prestasi selanjutnya, Rania." kini kata-katanya Dimitri langsung dia tujukan kepada Rania.
"Hah? apa? nggak usah nunggu, pegel." jawab Rania sekenanya.
Angga menoleh sambil mengerutkan dahi.
"Mmm... maksudnya iya pak." gadis itu meralat ucapannya.
"Baik pak, kalau sudah selesai kami mau lanjut untuk persiapan latihan sore." Angga mengakhiri percakapan.
"Ya pak, terimakasih untuk waktunya." sahut Dimitri.
Dan kedua ayah dan anak itupun bangkit, Angga mengulurkan tangannya untuk bersalaman kemudian melenggang ke arah luar, sementara Rania mengekorinya dari belakang tanpa berniat menoleh sedikitpun terhadap pria yang menjadi sponsornya itu.
Dimitri mengerutkan dahi, Rania bahkan terus mengacuhkannya sepanjang percakapannya dengan Angga. Padahal dirinya sudah sangat bersemangat dengan pertemuan ini. Tapi harapannya tak sesuai dengan kenyataan, dan itu terasa cukup menyebalkan.
Ternyata ciuman itu tak berpengaruh apa-apa baginya.
"Rania, ..." Dimitri meraih lengannya saat gadis itu hampir keluar dari ruangannya.
"Eee... apa yang...
Dia menariknya kembali masuk kedalam.
"Ada lagi yang penting pak?" Rania bertanya.
"Tidak ada, hanya saja...
"Oo... ya udah," gadis itu hendak pergi namun Dimitri menahannya.
"Ini apa sih pak?" protesnya saat pria itu tak membiarkannya pergi.
"Kamu tidak ingat aku?"
"Hah? ingat bapak? ya ingatlah, pak Dimi yang terhormat."
"Bukan itu."
"Terus apa?" ketusnya.
"Kamu tidak ingat soal, ... itu."
"Apaan?"
"Waktu kita bertemu malam-malam di jalan dan aku...
"Oh, ... itu. ya ingatlah, masa nggak ingat."
"Benarkah?" raut wajah Dimitri seketika berubah sumringah. Bibirnya hampir saja menyunggingkan senyuman dan hatinya kembali berharap.
"Siapa yang nggak ingat, orang mabuk yang tiba-tiba nyium tanpa alasan, pacar bukan, temen juga bukan. Kenal juga baru, eh ... udah berani cium-cium." gadis itu kembali mengingat kejadian tersebut, dan hatinya lagsung saja merasa kesal karenanya.
"Eh lupa, kan ciuman nggak harus sama pacar kan ya? sama siapa aja boleh asal mau." katanya lagi dan langsung saja membuat senyuman di bibir Dimitri lenyap seketika.
"Apa?"
"Udah ya pak? permisi, saya mau latihan biar bisa ngejar ketertinggalan, dan pastinya bisa naik ke posisi satu, kan malu masa di posisi sepuluh melulu?" ucap Rania, yang akhirnya berhasil melepaskan diri dan segera kabur dari sana.
"Astaga!! gadis macam apa dia itu ya?" Dimitri memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri. Ternyata menaklukan gadis itu tak semudah yang dia bayangkan, bahkan sikap yang dia tunjukan beberapa hari sebelumnya tak membuat Rania tergoda sama sekali.
Dimitri memutar tubuh bermaksud kembali ke kursi kerjanya, namun dia tertegun saat ekor matanya menangkap sesuatu di sudut sofa tempat gadis itu duduk sebelumnya.
Sebuah kunci yang tampaknya kunci motor dengan gantungan berbentuk helm kecil berwarna merah. Yang dia yakini merupakan milik gadis itu. Membuat Dimitri menyeringai karena dirinya yakin sebentar lagi gadis itu akan segera kembali untuk mencarinya.
***
"Kamu lambat!" Angga menggerutu di depan lift saat mendapati anak gadisnya berlari ke arahnya karena tertinggal jauh di belakang.
Rania tak menjawab dan dia hanya berdiri disamping ayahnya menunggu pintu lift terbuka.
Dan setelah beberapa menit, benda persegi tersebut akhirnya terbuka, dan wajah yang tampaknya Angga kenal melangkah keluar.
"Angga?" Satria lagsung menyapa, dengan Sofia yang tangannya bergelayut di lengannya.
"Pak?" Angga mengangguk.
"Kalian sudah bertemu Dimitri?" tanya pria itu.
"Iya," jawab Angga, pendek.
"Sudah selesai?"
"Sudah Pak. Permisi."
"Iya, iya baiklah." Satria memberi jalan agar Angga dan putrinya bisa segera masuk kedalam lift.
***
"Yang barusan itu siapa?" Rania bertanya, lift melesat membawa mereka turun ke lantai satu.
"Om Satria."
"Om?" Rania tergelak.
"Kenapa?"
"Papa punya om? lucunyaaa... "
"Mereka orang tuanya Pak Dimitri tahu."
"Masa?"
"Serius."
"Dan orang tuanya Pak Dimi masih saudara sama Papa?"
"Pak Satria sepupunya kakek."
"Sepupu? kok aku baru tahu?"
"Mereka di Jakarta, ya jelas kamu nggak akan tahu lah. Dia itu orang penting."
"Masa? Sepenting apa?"
"Saking pentingnya, sampai-sampai kamu merasa malu kalau ketemu dia. "
"Dih, kenapa malu? emang kita punya salah apa?"
"Konsep malu tuh bukan karena kita punya salah, tapi saking segannya jadi bikin kita malu, Oneng!!" Angga mendorong pundak gadis itu hingga dia sedikit terhuyung.
"Hmmm... orang tua ribet deh? tibang ketemu orang aja pake ada acara malu?" gadis itu dengan cueknya.
"Ya emangnya kamu, sukanya bikin malu?"
"Bikin malu apaan?"
"Dih, dia nggak nyadar sering bikin malu?"
"Ah, papa mah baperan, gitu aja malu?"
"Astaga!!" Angga memijit keningnya yang juga tiba-tiba terasa nyeri.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
No caption, Karena lagi pusing gara-gara Rania. 🤣🤣
like komen hadiah jangan lupa ya, 😘😘😘