
🌹
🌹
Rania memastikan sepatu ketsnya terpasang dengan benar, dan trainingnya benar-benar tertutup rapat. Cuaca kota Bandung sangat dingin pada pagi buta itu, tapi dia harus memaksakan diri untuk latihan. Setidaknya sedikit menggerakan tubuhnya agar tidak kaku.
"Papa!!" gadis itu berteriak.
"Kagak usah teriak-teriak oneng!" Angga berdiri di belakang anak gadisnya itu sambil menutup kedua telinganya yang terasa pengang.
"Eh, Kirain masih di dalem?" Rania memastikan penutup kepalanya terpasang dengan benar untuk menghalau rasa dingin membekukan.
"Duluan deh, papa mau nunggu Rega."
"Ega juga mau ikut?"
"Dia juga latihan, sekali-kali lah papa anterin dia nggak kamu terus."
"Ya udah, aku langsung ke rumah Galang kalau gitu."
"Inget, latihan. Jangan pacaran." Angga memperingatkan.
"Ish,... ngomong gitu mulu?" gadis itu mendelik.
"Cuma ngingetin."
Rania tak menjawab, namun dia segera berlari keluar dari pekarangan rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Galaaaaaaaaaaanngggg." Rania berteriak di depan garasi rumahnya tetangga. Namun tak ada jawaban, padahal lampu depan sudah dipadamkan dan itu artinya penghuni rumah tersebut sudah terbangun.
"Gal....
"Berisik!" Galang muncul dengan joggerpants dan hoodie hitamnya seperti biasa.
"Bisa nggak kalau kerumah orang itu permisinya biasa aja? Punten gitu atau asalamualaikum yang pelan sambil ngetuk pintu. Kan manis, anak gadis teriak-teriak depan rumah orang kayak ngajak tawuran?" pemuda itu menggerutu.
Rania hanya tertawa, lalu melihat ke belakang sahabatnya itu, dimana seorang perempuan yang dia kenal sebagai ibunya Galang muncul dari dalam rumah.
"Tante!" dia melambaikan tangan, yang dibalas perempuan itu dengan lambaian dan senyuman.
"Hayu! " Galang menarik lengannya sambil berlari-lari kecil.
***
Jalan raya masih lengang pada pagi itu, dan udara benar-benar dingin menyegarkan. Hingga hembusan napas mereka terlihat bagai uap tipis yang menguar di udara.
Dua sahabat itu saling mengejar dan saling mendahului. Terkadang sama-sama berhenti saat menemukan hal unik di tengah jalan. Keduanya sama-sama tertawa saat menemukan hal konyol yang tidak di duga-duga.
Lalu keduanya melanjutkan perjalanan lari pagi hingga tiba di lapangan Gasibu yang sudah mulai di sesaki para pelari seperti mereka.
Rania dan Galang segera saja memasuki lintasan lari, setelah melakukan pemanasan selama beberapa menit mereka kemudian berlari di lintasan mengelilingi lapangan yang cukup luas itu.
"Selamat pagi?" orang yang tak mereka duga sama sekali muncul tiba-tiba dan berlari mensejajari Rania.
Dengan joggerpants dan hoodie berwarna putih, Dimitri terlihat sangat mencolok diantara pelari lainnya.
"Oh, ...pagi." Rania agak terkejut.
"Lari juga?" gadis itu bertanya.
"Nggak, aku lagi renang."
"Hum?"
"Berenang-renang dihati kamu." pria itu tergelak.
"Dih?"
"Pagi pak?" Galang tiba-tiba saja menyapanya dari sisi lainnya. Kini gadis itu berada diantara mereka berdua.
"Pagi Galang."
"Bapak tumben lari pagi?" pemuda itu bertanya.
"Iya, kebetulan hari Sabtu, sepertinya bagus untuk olah raga diluar ruangan. Cuaca pagi ini bagus kan?" jawabnya, ramah.
"Biasanya bapak Olahraganya dirumah ya?"
"Iya."
"Sendiri pak?"
"Begitulah."
"Kasihan."
"Apa?"
"Nggak pak."
Kemudian Rania berhenti.
"Bentar Lang,... " dia membungkukan badan.
"Kenapa?" dua pria berbeda usia itu berhenti dan kembali ke sisi Rania.
"Capek?" Dimitri Ikut menundukan tubuhnya.
"Kita lari udah berapa keliling sih Lang?" Rania mengangkat kepalanya. Napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran dari kening hingga wajahnya.
"Tujuh." jawab Galang yang sama terengah-engah.
"Buset!! pantesan aja." gadis itu menepi ke pinggir lintasan lalu menjatuhkan bokongnya diatas rerumputan. Dan di detik berikutnya dia merebakan tubuhnya disana.
"Capek Galang!!" Rania berteriak.
"Tiga lagi Ran." Galang datang menghampiri.
"Ogah. Kaki aku udah gemeteran."
"Baru segitu doang?"
"Istirahat dulu Lang, lima menit aja. Eh, nggak setengah jam deh."
"Kelamaan oneng! badan kamu keburu dingin lagi. Nanti malah sakit."
"Kalau gitu udahan aja, aku nggak kuat."
"Dih! balapan sampai dua puluh lap kuat? ini lari belum sepuluh keliling udah nggak kuat."
"Balapan pakai motor dudul, nggak lari kayak gini." Rania bangkit dan duduk meluruskan kakinya.
Kemudian seseorang mengulurkan sabotol air mineral kepada Rania.
"Minum?" Dimitri muncul lagi setelah memutuskan untuk membeli minuman di sekitar area. Dan seketika saja dia seolah menjadi pahlawan bagi gadis itu.
"Oh My God! tau aja aku lagi haus." dia segera meraih dan membuka penutupnya, lalu menenggaknya hingga habis setengahnya.
"Segaaaaarrrr... " ucapnya sambil memejamkan mata.
"Dih, lebay. Cuma air mineral doang udah kayak dapet minuman dari surga." Galang mencibir.
"Kamu juga mau? saya beli tiga." Dimitri mengulurkan satu botol lainnya kepada pemuda di depannya.
Galang terdiam sebentar, kemudian dia menerimanya seraya memicingkan mata. Kecurigaan tiba-tiba saja muncul dalam pikirannya.
Dimitri kemudian duduk di rumput seperti halnya Rania, yang diikuti pula oleh Galang, dan kini dua pemuda itu tampak mengapitnya.
"Bapak dari Landmark langsung kesini?" Galang memulai percakapan. Dia merasa aneh pria tersebut tiba-tiba saja muncul di tempat tersebut, padahal jarak dari apartemen berkelas itu hingga ke lapangan Gasibu cukup jauh.
"Iya, " jawab Dimitri sambil menenggak minuman miliknya.
"Lari? jauh loh." timbal Rania.
"Bercanda ya? naik mobil lah. 4,5 kilo meter itu jauh." pria itu tertawa.
"Dih? udah tahu jauh kok larinya kesini?" Galang bergumam pelan.
"Apa?" Dimitri menoleh kepadanya.
"Nggak pak." Galang malah menghabiskan air mineral miliknya. Perasaan tidak suka langsung saja menyeruak di hatinya.
Mencurigakan. batinnya.
Kemudian suara dering telfon dari ponsel Galang mengusik keheningan diantara tiga orang ini.
"Ya?"
" ...
"Sekarang?"
"...
"Ya udah."
"...
"Lagi joging sama si oneng."
"...
"Nggak."
"...
"Ya udah, oke." dia memgakhiri percakapan.
"Siapa?" Rania bertanya.
"Bang Gani."
"Mau apa?"
"Biasa, si merah butuh perawatan." dia memasuki ponsel kedalam saku celananya.
"Ke bengkel dong?"
"Iya." Galang bangkit.
"Kamu mau pulang sekarang?" tanyanya kepada Rania, lebih seperti sebuah ajakan.
"Mmm... " gadis itu melirik kepada pria disampingnya yang menyimak percakapan tersebut dalam diam.
"Bentar lagi deh, kan aku masih kurang tiga putaran."
"Katanya capek?"
"Istirahat sebentar juga pulih."
"Beneran?" pemuda itu melirik kepada Dimitri.
"Iya."
"Yakin lah."
"Nggak mau ikut aku ngotak-atik si merah emang?"
"Nanti nyusul."
"Jam berapa?"
"Ya nanti aja kalau larinya beres."
"Hmm...
"Udah sana, katanya mau ke bengkel?"
"Serius kamu mau sendiri? nanti ada begal lho."
"Dih, mana ada begal beraksi pagi-pagi gini?"
"Ya kali begalnya nyamar sambil joging?" dia melirik lagi kepada Dimitri, seolah-olah mencurigai sesuatu.
"Mana ada dudul?"
"Bisa aja. Jaman sekarang nggak ada yang nggak mungkin."
"Ish, ... dudul mulai ngaco nih."
"Oneng beneran nggak mau pulang bareng aku? kita naik odong-odong abis ini."
"Apaan sih?"
"Serius."
"Sana, kalau mau ke bengkel." Rania menendang kaki Galang untuk mengusirnya, pemuda itu mulai menyebalkan pikirnya.
"Beneran nggak apa-pa aku tinggal nih?"
"Iya dudul."
"Abis ini lagsung pulang ya? nanti ada culik."
"Ish... dudul!!!" Rania berteriak.
"Iya Ran, iya." pemuda itu berlari menjauh.
Dimitri tertawa terbahak-bahak melihat interaksi tersebut. Seperti melihat adegan dalam film kartun anak-anak kesukaannya dulu ketika dia masih kecil.
"Dih, ... seneng amat yang ketawa." Rania mencibir.
"Kalian itu lucu. Seperti dua anak TK yang lagi rebutan pulang atau main."
Rania mencebikan mulutnya.
"Si Galang emang, selalu nganggap aku ini masih kecil."
"Kamu memang masih kecil. Jajan juga masih ciki dan minuman ringan."
"Ciki enak tahu, gurih-gurih renyah gitu."
Dimtri tertawa lagi.
"Duh, jadi lapar, gara-gara kamu ngomongin makanan."
"Ya sudah, ayo kita sarapan?" Dimitri berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Tapi sekitar sini aja ya? jangan jauh-jauh." Rania meraih tangannya, Kemudian juga berdiri.
"Ya kamu pikir mau kemana? belum ada kafe yang buka jam segini."
"Jajan bubur ayam aja." dia menunjuk beberapa gerobak jajanan yang berjejer di area teduh tak jauh dari lapangan.
"Sama yang lainnya juga boleh." tangan mereka masih saling menggenggam.
"Eh, bentar." Rania merogoh saku celana sebelah kirinya.
"Apa?"
"Duitnya cukup nggak ya, aku cuma bawa gocap." dia mengeluarkan satu lembar uang kertas berwarna biru.
"Aku yang traktir." ucap Dimitri.
"Nggak ada yang bisa pakai kartu, Dim."
"Uang cash yang minggu lalu masih ada."
"Serius?"
"Iya." kemudian Dimitri menyadari sesuatu. Dia mengangkat tangan mereka yang bertautan lalu menatapnya untuk beberapa saat.
"Eh, ... jangan pegang, tangan aku kapalan." Raniapun tersadar dan menarik tangannya sendiri.
Dimitri menahan senyum. "Apa semua anak motor begitu?"
"Nggak tahu." Rania menatap telapak tangannya yang memang terdapat beberapa bagian yang keras di bawah jari-jarinya."
"Pakai sarung tangan, Ran."
"Udah, tapi kan udah terlanjur." dia masih menatap telapak tangannya.
"Ya sudah, jangan dilihatin terus." Dimitri kembali meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.
"Eh, ...
Dimitri menuntunya ke sebuah tempat duduk yang kosong diantara orang-orang. Kemudian memesan makanan seperti yang pernah dilihatnya dilakukan oleh gadis itu.
"Kamu serius cuma pesan bubur?" pria itu meyakinkan, pasalnya tak seperti biasanya Rania hanya memesan satu macam makanan saja.
"Hu'um." Rania menganggukan kepala sambil membubuhkan sambal dan kecap diatas bubur ayam miliknya.
"Nggak sekalian mie tek-tek, sate ayam, atau ..." Dimitri memiringkan kepalanya sambil membaca tulisan beberapa gerobak.
"Tahu gej ... tahu gejrot? apa benar aku menyebutnya begitu?" Dimitri kemudian tertawa.
"Sarapan masa banyak-banyak? lagian kalau makan tahu gejrot jam segini bisa mules."
"Siapa tahu kamu mau? kamu kan makannya banyak. mana pedas-pedas lagi? " pria itu tertawa lagi sambil melirik sambal merah diatas bubur milik Rania.
"Ish, ... ngeledekin nih?"
"Bercanda oneng." katanya, yang kini tersenyum.
"Dih, niru-niruin Galang?"
"Oneng itu apa? panggilan kesayangan kah?"
"Nggak tahu, si Galang manggil gitu terus dari SD."
"Sepertinya dia sangat menyayangi kamu ya? teman kesayangan?"
"Apaan ih nggak, papa aku juga manggilnya gitu."
"Oh ya?"
"Hu'um."
"Iya, mungkin semacam panggilan kesayangan ya?"
"Mungkin."
"Baiklah, apa aku juga boleh memanggil kamu seperti itu?"
"Ih nggak cocok banget, masa bule manggil aku oneng?"
"Ya kan biar sama dengan Galang dan Papa kamu."
Rania terdiam.
"Kamu lagi pedekate ya sama aku?" katanya kemudian.
"Itu tahu?"
"Kamu juga sengaja kan jauh-jauh dari Landmark jogging kesini?"
"Iya."
"Ngapain?"
"Kan mau pedekate?"
"Kamu lebay."
"Nggak, aku masih normal."
"Sampai kapan?"
"Apanya?"
"Pedekatenya."
"Sampai kamu merasakan apa yang aku rasakan." lalu mereka berdua terdiam.
"Kalau misalnya nggak?"
"Setidaknya aku sudah berusaha, Ran." kini mereka saling pandang. Entah mengapa suasana tiba-tiba saja terasa hening, padahal mereka berada di tengah keramaian.
"Buburnya dimakan Ran, nanti dingin." Dimitri membuyarkan suasana sehingga mereka berdua kembali pada kenyataan.
"Mm... " Rania mengerjap untuk menarik kesadarannya yang sempat menghilang, hanya karena ucapan pria disampingnya.
Mulai oleng nih gue, duh. batinnya, dan dia memulai acara makannya.
"Rania!!" seseorang berteriak entah dari arah mana.
"Beneran Rania? ya Ampun!!" seorang remaja perempuan mendekat dan melambaikan tangan. Membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya.
Rania mendongak dan melihat sekeliling ketika orang-orangulai mendekat.
"Beneran ya ini Rania, pembalap itu kan? Ya Alloh, ... nggak nyangka bisa ketemu disini?" orang lainnya bereaksi, dan semakin menyita perhatian di tempat tersebut.
"Selfi bareng neng boleh? buat kenang-kenangan." seseorang memberanikan diri.
Belum gadis itu menjawab, beberapa orang pun melakukan hal yang sama, mereka mendekat, menyalaminya lalu minta foto bersama. Sudah seperti artis papan atas saja pikirnya.
Ada seorang bapak yang meminta foto untuk anaknya di kampung, kemudian ada seorang ibu hamil yang meminta dirinya mengusap perutnya yang membuncit. Bahkan ada beberapa remaja yang ribut berfoto ria juga. Tak ketinggalan anak kecili yang antusias mendekat. Mereka semua mengucapkan hal yang sama, semoga bisa berprestasi seperti dirinya, apapun yang sedang mereka jalani sekarang.
Dengan susah payah Dimitri menariknya keluar dari kerumunan ketika lebih banyak lagi orang yang mendekat. Dan Rania segera memberikan alasan untuk berpamitan kepada mereka, yang walaupun tampak kecewa namun tetap membiarkannya pergi. Terutama setelah pria bule yang bersamanya turun tangan untuk membawanya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...