
🌹
🌹
"Yang!!" Rania menunduk untuk melihat suaminya yang masih betah terlelap. Padahal dirinya sudah sedari tadi berusaha membangunkannya.
"Mau ikut ke sirkuit nggak?" dia berbicara di dekat telinga Dimitri yang posisi tidurnya tertelungkup, namun pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada bantal.
"Ish!!" Rania akhirnya kembali ke tempat tidur dan naik ke punggungnya, kemudian membungkukan tubuhnya.
"Papi, nggak mau ikut mommy cek lintasan?" dia berbisik lagi, dan berhasil. Pria itu mengerjap kemudian mengangkat kepala.
"Jam berapa ini?" Dimitri melirik jam diatas nakas. "Baru jam lima Zai?"
"Emang."
"Kenapa pagi-pagi sekali." dia membalikan tubuhnya sehingga kini terlentang dibawah Rania.
"Aku kalau cek lintasan emang suka pagi. Malah harusnya subuh-subuh."
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa. Cuma ritual aja."
"Ritual apa?" tangannya mulai bergerak di paha Rania.
"Ritual ... cek lintasan."
"Cek lintasan?" Dimitri membeo.
"Hu'um."
"Cek lintasan ...
"Buruan!! keburu siang nanti suasananya nggak enak." perempuan itu bangkit kemudian turun dari tempat tidur. Meski Dimitri sempat menahannya, namun Rania berhasil melepaskan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sirkuit Mandalika terletak di Kuta, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Sirkuit internasional yang memiliki panjang lintasan sekitar 4,31 km dengan 17 tikungan tajam ini berada diantara gugusan pantai yang elok. Menjadikannya sebagai salah satu sirkuit paling indah di dunia.
Sirkuit yang berkapasitas kurang lebih dari 100.000 orang itu menjadi tujuan akhir musim perhelatan Woman Superbike yang diikuti oleh para pembalap dari 20 negara. Berisikan para perempuan tangguh dengan kemampuan mengendalikan kendaraan beroda dua diatas rata-rata.
Rania berjalan mengitari lintasan dengan santai, tak sambil berlari seperti biasanya. Keadaannya yang tengah memgandung membuatnya harua melakukan hal tersebut. Buka karena takut, melainkan karena Dimitri yang selalu siap menghentikannya jika sewaktu-waktu dia berjalan lebih cepat.
"Kenapa sih kamu harus jalan seperti ini? padahal pakai motor juga bisa. Sekalian uji coba." Dimitri kembali memulai percakapan.
"Nggak bisa kaya gitu." Rania tak melepaskan pandangannya dari setiap sudut lintasan.
"Iya kenapa?"
"Aku lagi ngenalin sirkuit."
"Hum?"
"Aku kan belum pernah melewati sirkuit ini, dan aku harus ngenalin ini dulu biar nanti aku tahu apa yang mesti aku lakukan."
"Semacam perkenalan?"
"Kamu bisa sebut gitu."
"Kan nanti ada sesi uji coba, terus ada warm up lap juga?"
"Tapi aku merasa harus berkenalan sama sirkuit ini secara pribadi."
"Secara pribadi?" pria itu tergelak.
"Iya, secara pribadi."
"Kamu aneh."
"Emang, kan udah aku bilang dari awal." Rania mengalihkan pandangannya sebentar.
"Maksud aku ...
Perempuan itu kemudian tertawa.
"Nggak tahu kenapa, rasanya beda aja. Setelah aku mengenai sirkuit dengan cara kayak gini, terus aku hafal. Aku simpan di ingatan aku, nanti pas aku balapan serasa tahu aja dan nggak harus sangat berhati-hati."
"What?"
"Aku kenal jalan ini, aku tahu mesti gimana, dan dengan refleks aku tahu mesti ngapain."
"Such a weird way."
Rania tersenyum.
"Dan apa yang paling istimewa dari ini?" ucap Rania lagi saat mereka menghentikan langkahnya di satu titik tikungan.
"Apa?"
"Kita bisa lihat ini." keduanya menghadap ke laut yang tampak dekat di depan sana. Pemandangan luar biasa yang belum pernah mereka temukan dimana pun. Air berwarna biru kehijauan yang membentang luas sejauh belasan kilo meter.
Dikelilingi bukit-bukit kecil dan jajaran pohon yang membentuk hutan sedang, manambah keindahan pulau cantik itu.
"Aku ngerti sekarang, kenapa mereka menyebut ini sebagai sirkuit paling indah di dunia." katanya kemudian menoleh lagi kepada suaminya yang tengah menatapnya dengan senyum yang begitu manis.
"Ah, ... kamu romantis." Dimitri segera merangkul pundaknya dengan gemas.
"Apaan?"
"Pemandangan ini membuatmu jadi lebih romantis." pria itu berbicara denga suara yang lucu.
"Dih?"
"Apa karena kita sedang ada di Kuta?"
"Apa hubungannya?"
"Bisa saja, suasana pantai ini membuatmu menjadi seromantis ini." dia terkekeh.
"Ih, ... kamu aneh." Rania bergidik, kemudian melepaskan rangkulan Dimitri dari pundaknya.
Dia meneruskan perjalanan itu menuju garis finish yang berjarak satu kilo menter lagi dari tempat kini mereka berdiri.
"Serius, kita seperti pengantin baru lagi." Dimitri mensejajari langkahnya.
"Bukannya kita emang baru nikah ya? belum tiga bulan?"
"Maksud aku ... seperti yang benar-benar baru menikah."
"Apa bedanya?"
"Ya begini ini." pria itu meraih tangannya dan menautkan jari-jari mereka.
"Apalagi ini rasanya seperti bulan madu kan?" Dimitri terkekeh.
"Dih ...
"Berapa putaran lagi kita jalan Zai?" Dimitri terus mengoceh dalam perjalanan mereka kembali ke titik awal.
"Cuma sampai finish doang. Kenapa? capek?"
"Lumayan."
"Ini cuma empat kilo meter lho, masa udah capek? Lah nyiram polong berjam-jam ngga capek? malah di ulangi terus?"
"Itu beda Zai."
"Beda apanya? sama aja gerakin badan."
"Ck!"
"Apa?"
"Pagi-pagi kamu sudah bahas polong? kan jadinya aku mau kembali ke hotel?"
"Mau ngapain?"
"Siram polong lagi." pria itu tersenyum sambil menggerak-gerakan kedua alisnya ke atas dan ke bawah.
"Ogah." Rania mempercepat langkahnya.
"Zai, ..."
"Nggak mau ... aku harus uji coba lintasan setelah ini." Rania menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Masih lama kan? belum jam sepuluh."
"Aaa ... nggak mau!"
Pria itu hanya tertawa, merasa puas dengan reaksi Rania karenanya.
🌹
🌹
"Bagus, Ran ... bagus." Angga bertepuk pelan ketika menunggu putrinya tiba dengan Ducati panigalenya, setelah menyelesaikan laga ujicoba pada menjelang tengah hari itu.
"Posisi delapan cukup bagus." ujarnya ketika sang putri berhenti tepat di depannya.
"Oke."
"Motornya gimana menurut kamu?" Galang datang menghampiri.
"Bagus, nggak ada perbedaan. Nggak ada yang harus dirubah juga." jawab Rania.
"Oke kalau gitu."
Rania kemudian turun dari motornya, disambut Dimitri yang tak meninggalkan pitstop sejak awal perempuan itu menjalani sesi uji cobanya.
"Are you oke?" pria itu bertanya.
"Hu'um." Rania menganggukan kepala.
"Baby's oke?" kemudian Dimitri menyentuh perutnya.
"Oke."
"Baiklah. Tapi kita harus memastikannya kepada Reyhan, oke?"
"Hmmm ..." Rania memutar bola matanya. Pasalnya dia merasa ini berlebihan. Apalagi dengan kehadiran dokter kandungan itu yang sengaja dibawa Dimitri bersama mereka, sebagai syarat dia mengijinkannya mengikuti balapan terakhir ini.
"Sudah istirahat?" Reyhan sudah siap dengan peralatan kesehatannya.
"Udah."
"Apa semalam kamu meminum vitaminnya tepat waktu?"
"Iya."
"Apa kamu merasa ada kelainan hari ini?"
"Nggak. Biasa aja."
"Baiklah." dokter itu memeriksa keadaannya dengan teliti.
"Keadaannya baik, seperti biasa. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." katanya setelah serangkaian pemeriksaan itu diselesaikan.
"Dia siap balapan besok." lanjutnya dengan meyakinkan.
"Jadi semuanya aman?" Satria, bersikap siaga seperti biasa.
"Aman pak."
"Baiklah." pria itu tampak lega.
"Nah setelah ini ambil waktu untuk beristirahat sebanyak mungkin. Seperti kata dokter." Satria berujar sebelum mereka berpisah.
"Nggak yakin bisa istirahat kalau udah sampai di hotel." Rania bergumam.
"Apa?"
"Ah, ... nggak. Padahal aku mau jalan-jalan dulu di pantai setelah ini." jawab Rania.
"Nggak apa-apa kalau jalannya yang dekat-dekat. Di sekitar hotel aja." sahut Angga.
Rania mendengus setelah melihat storry whatsapp Rega yang menampilkan pemandangan pantai di sekitar sirkuit.
***
Pantai Tanjung Aan menjadi semakin ramai menjelang sore. Tempat tersebut menjadi tempat persinggahan sekaligus sebagai ajang menghabiskan waktu bagi sebagian besar pembalap bersama crew mereka.
Tempatnya yang hanya berjarak tak lebih dari tiga kilo meter dari sirkuit membuatnya menjadi pilihan utama untuk menikmati waktu.
Begitu juga Rania bersama seluruh keluarga dan crewnya, yang memilih pantai tersebut sebagai tempat berkumpul sebelum menjalani balapan yang sebenarnya besok siang.
Para pria mencoba berselancar, menaklukan ombak yamg cukup tinggi, memberikan mereka pengalaman lain dari pada tempat balapan yang lain. Sementara para perempuan dan anak-anak menikmati acara snorkling di sisi lainnya.
Sofia bahkan tak bisa dihentikan ketika mengajak Maharani bersama dua anak kembarnya hingga matahari hampir terbenam.
"Apa kalian tidak mau kembali ke hotel?" Satria menghampiri mereka yang tak kunjung tiba setelah menunggu beberapa lama.
"Memangnya jam berapa ini?" Sofia yang terpaksa naik ke daratan begitu suaminya tiba.
"Hampir jam lima Mom."
"Benarkah?"
"Kamu benar-benar lupa waktu, sayang."
"Habisnya ini menyenangkan. Apa kamu lihat? anak-anak juga senang." dia mengenakan kembali kain pantainya.
"Yeah, ..."
"Kamu tadi berselancar?"
"Tidak. Aku tidak bisa." Satria menjawab.
"Aku kira kamu bisa semuanya?"
"Tidak semuanya. Apalagi berselancar. Itu kan untuk orang muda." Satria mengulurkan tangannya.
"Iya kah? memangnya kamu bukan orang muda?" Sofia mengikutinya berjalan menjauhi pantai.
"Bukan, aku orang tua."
"Oh ya?" perempuan itu berjalan mendahuluinya, kemudian berhenti.
Menatap pria itu yang wajah dengan kulit kaukasianya yang tampak memerah.
"Nggak kelihatan." ucap Sofia kemudian.
"Hmm ...
"Mana ada orang tua setampan kamu?" ujar perempuan itu yang menyentuh wajah suaminya dengan tangannya yang masih basah.
Sementara Satria mengulum senyum.
"Kamu tahu apa yang paling menyenangkan dari acara snorkling tadi?" Sofia kemudian menurunkan tangannya.
"Apa?"
"Aku sedang mengenang masa lalu."
"Masa lalu?"
"Aku ingat Bunaken." Sofia tersenyum lebar.
"Bunaken?"
"Ingat tidak, waktu pertama kali kamu membawaku pergi jauh?"
"Bagaimana aku bisa lupa? bukankah kita juga sering ke sana?"
"Tapi sepertinya aku tidak pernah bosan. Aku ingin kesana lagi, dan lagi."
"Kita di Mandalika, sayang."
"Aku tahu, tapi setelah ini kita ke Bunaken lagi ya?"
"Kamu mau kesana?" mereka meneruskan langkah.
"Apa boleh?"
"Boleh, untukmu apa yang tidak boleh?"
"Ah, ... papa bear!" percakapan itu terus berlanjut hingga mereka menjauh.
"Astaga!" Dimitri tampak menepuk kepalanya setelah kedua orang tuanya melintas dan mendengar percakapan mereka.
Sementara Rania menertawakan kelakuan kedua mertuanya yang memang tampak lupa jika mereka berada di tempat umum.
"Apa mereka selalu kayak gitu?"
"Begitulah."
"Mereka lucu."
"Yeah, ... sampai-sampai teman-temanmu sering mengejekmu setelah mereka mendengar hal seperti ini."
"Kenapa?"
"Hanya ... tidak biasa saja."
Rania tertawa lagi.
"Nah, sekarang kamu juga kan?"
"Nggak, aku nggak lagi ledekin kamu."
Dimitri mencebik.
"Beneran tahu!"
"Cepatlah, kita harus kembali ke hotel." pria itu mengalihkan perhatian.
"Masih sore tahu? aku mau lihat sunset."
"Di hotel juga bisa."
"Aku maunya disini, kayak orang-orang."
"Terlalu ramai." Dimitri mengedarkan pandangan. Keadaan petang itu memang semakin ramai.
"Dih, sukanya sepi-sepian?" perempuan itu mencibir.
"Ayolah Zai, ...
"Nggak mau. Nanti kamu ngajak macem-macem."
"Nggak akan."
"Masa?"
"Serius."
"Beneran?"
"Paling cuma satu macam."
"Tuh kan?"
"Ingat, Reyhan dan papamu bilang apa tadi?"
"Apa?"
"Jangan jalan jauh-jauh."
"Nggak, hotel kita masih kelihatan. Tuh."
"Cepatlah Zai."
"Nggak mau."
"Come on Mommy!"
"Embung! ( nggak mau! )
"Apa?"
Perempuan itu tertawa.
"Bicaralah dengan bahasa yang aku tahu."
"Kamu juga suka ngomong pakai bahasa yang aku nggak ngerti."
"Yang mana?"
"Yang ... ah ... loba weh. ( banyak pokoknya )"
"Zai!!"
"Pusing kan? sama aku juga sering pusing." dia berlari-lari kecil untuk menghindari suaminya.
"Kamu harus istirahat untuk balapan besok lho." Dimitri mengikutinya.
"Nggak yakin istirahat beneran."
"Serius."
"Nggak, kamu kan suka modus." tawa perempuan itu terus terdegar.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
sorry seminggu ini kayaknya up malam terus deh.
like komen sama hadiahnya selalu aku tunggu ya.
lope lope sekebon cabe 😘😘