
🌹
🌹
Dimitri memulai pekerjaannya di hari pertama dengan riang. Setelah basa-basi penyambutan yang cukup menyenangkan akhirnya dia menduduki posisi kepala cabang Nikolai Grup di Bandung. Dengan jenis usaha bermacam-macam, dari mulai bidang kuliner seperti kafe dan gerai makanan siap saji, perhotelan, juga pariwisata, yang menyediakan jasa travel dan pembukaan beberapa tempat wisata di daerah Bandung dan sekitarnya. Tidak ketinggalan juga bidang properti, otomotif seperti dealer kendaraan bermotor dan kini mulai merambah ke dunia media. Baik sosial media maupun pemberitaan. Yang diantaranya mencakup kanal berita online dan majalah, baik lokal maupun berskala nasional. Yang kesemuanya dikendalikan dari balik meja kerjanya di lantai paling atas di gedung NKG.
"Kerjaannya sebanyak ini." gumamnya, dan dia masih menyesuaikan diri.
"Dan ini baru di Bandung. Bagaimana keadaan di Jakarta?" katanya, lalu dia tertawa.
"Oh, ... tugasmu berat sekali Dim." gumamnya lagi, dan dia segera memulai pekerjaannya.
Banyak dokumen yang harus dia teliti dan dipelajari. Beberapa proposal yang menunggu persetujuan, dan surat-surat kontrak kerjasama yang harus ditandatangani seperti biasanya.
Dan jangan lupa beberapa jadwal pertemuan yang harus dia hadiri beberapa kali seminggu. Dam hal itu seperti semacam ritual wajib yang akan selalu ada di setiap jadwal kerjanya.
Terdengar pintu diketuk dari luar.
"Permisi pak?" pintu terlihat didorong dari luar, dan sekertarisnya muncul.
"Ya?"
"Ada yang ingin bertemu." katanya diambang pintu.
"Siapa?"
"Rania, yang waktu itu...
"Rania? suruh masuk!" Dimitri terlonjak kegirangan.
"Ba-baik pak." ucap perempuan tiga puluh tahun itu yang sedikit mengerutkan dahi.
Kemudian pintu kembali terbuka, dan dua orang perempuan masuk, yang salah satunya adalah Rania, si gadis pembalap yang sudah memporak-porandakan hatinya sejak beberapa hari belakangan.
"Silahkan."
"Terimakasih, Aline." Dimitri mencoba menekan perasaan.
"Baik pak. Permisi." perempuan itu kembali ke mejanya.
"So, ... ada apa kamu datang? apa ada yang penting?" pria itu tampak tenang, walau pada kenyataannya saat ini di hatinya bagai ada sekumpulan grup drumband yang tengah beraksi.
"Oh iya, sangat penting." jawab Rania.
"Dan apakah itu?" dia menahan senyum.
Dimitri bersiap untuk kemungkinan paling baik. Dia sudah mempersiapkan dirinya sendiri jika gadis itu akan segera menyerahkan diri seperti yang sudah-sudah dia alami.
"Cuma ngantar ini pak." Rania maju dua langkah Lalu meletakan sebuah tote bag diatas meja kerjanya.
"Apa itu?" suara drumband dihatinya tiba-tiba berhenti.
"Jas bapak. Lupa ya? kemarin bapak ninggalin jas di kursi tunggu. Saya baru nyadar pas mau pulang sore-sore. Mau saya antar ke Landmark tapi malu."
"Ng ...
"Ya udah, itu aja. Saya permisi pak." Rania hendak berpamitan.
"Lho, kok?"
Gadis itu hampir saja keluar namun panggilan Dimitri menghentikan langkahnya.
"Rania?"
"Ya?" dia memutar tubuh.
"Kamu... mau kemana?"
"Ke bengkel." Rania menjawab.
"Mmm... tidak latihan?" Dimitri mencari akal agar gadis itu lebih lama berada disana.
"Nggak lah. Cuma dua atau tiga kali seminggu, itupun kalau mau balapan."
"Lalu kapan kamu balapan lagi?"
"Mmm... bulan depan kalau nggak salah."
"Dimana?"
"Bapak nggak tahu ya?"
"Saya kan baru pindah kesini. Jadi belum banyak informasi yang saya dapat."
"Kok aneh. kan masih satu perusahaan?"
"Tidak tahu."
"Dih? kok gitu?"
"Jadi, dimana kamu balapan bulan depan?" Dimitri kembali bertanya.
"Di Marina Bay Singapura."
"Singapura?"
"Iya."
"Sudah bisa dipakai untuk Superbike? itukan lintasan untuk Formula satu?"
"Udah kayaknya, makanya mereka ngadain disana."
"Setelah itu dimana lagi?"
"Kalau lolos kualifikasi, ya ke Mugello."
"Mugello, ... Itali?"
"Iya." Rania menganggukan kepala, lalu dia kembali mendekat.
"Wow, jauh juga ya? kamu jadi keliling dunia."
"Kalau lolos Pak. Kalau nggak ya tetep di balapan lokal." gadis itu terkekeh.
"Kamu pasti bisa, saya yakin kamu akan lolos kualifikasi." Dimitri membesarkan hatinya.
Rania sedikit mengerutkam dahi, dia merasa heran karena pria ini mulai bersikap baik kepadanya, tidak lagi mengomel-ngomel seperti biasa.
"Why?" Dimitri menyadari suasana di ruangan itu berubah seketika.
"Bapak sakit ya? gara-gara kepanasan kemarin? atau gara-gara saya bawa ngebut?" Rania lebih mendekat ke meja lalu sedikit membungkukkan tubuh untuk melihat wajah pria setengah bule itu lebih jelas.
"Tidak." Dimitri menggelengkan kepala, namun wajahnya mulai merona saat dia melihat lebih jelas wajah gadis itu. "Ke-kenapa?" Katanya, dan dia agak terbata.
"Bapak lebih pendiam, nggak ngomel-ngomel kayak biasanya?" dia terkekeh, namun malah membuat pria yang duduk bersandar pada kursinya itu menahan napas untuk beberapa detik.
Mendengar kekehannya yang terasa indah di telinga, dan meihat bibir sensualnya yang melengkung indah membentuk sebuah senyuman.
"Pak!" Rania melambaikan tangannya di depan wajah Dimitri yang matanya tidak berkedip.
"Umm, ... ya?" pria itu tersadar dari lamunannya.
"Saya pamit lah, banyak kerjaan di bengkel." ucap Rania, dan dia segera memutar tubuh.
"Mm... ya, oke." jawab Dimitri, dan seketika dia menyesali ucapannya saat gadis itu sudah menghambur keluar dari ruangannya.
"Haistttt.... kenapa aku tidak meminta nomer ponselnya!" geramnya, dan dia hampir saja bagkit dari kursinya.
"Eh, ... kalau aku memintanya sekarang akan terasa aneh. apalagi dia sudah keluar. Masa aku harus memanggilnya lagi dan meminta... ah.. Dim, kau bodoh sekali!!" dia berbicara lagi lalu memukul-mukul kepalanya sendiri.
🌹
🌹
[Plan A complete.] Satria tersenyum setelah membaca pesan dari seorang suruhannya. Yang melakukan sesuatu pada mobil Dimitri sebelum dia berangkat ke Bandung.
[Sementara hanya awasi saja dia, jangan sampai melakukan hal bodoh lagi.] balasnya kepada pria di seberang.
[Baik Pak.]
Lalu Satria meletakan kembali ponselnya tanpa mengirimkan balasan.
"Bagaimana sayang?" Sofia meletakan secangkir teh hangat di depan suaminya, mereka memilih duduk-duduk di teras belakang sambil memberi makam ikan koi di kolam yang baru saja dibuat minggu lalu.
"Sementara masih aman. Mereka hanya baru bertemu." Satria meraih cangkir tehnya.
"Apa ini?" pria itu mengerutkan dahi. "Seingatku aku pesan kopi?"
"Kurangi kopi, teh chamomile lebih baik."
"Heleh... " pria itu memutar bola matanya.
"Lebih sehat sayang, terlalu banyak kopi di usia seperti ini tidak baik bagi kesehatan." Sofia Menyesapnya Teh hangat miliknya. "Mmm.. ini nikmat sekali. dan juga sehat." dia mengerling manja.
"Menurutmu aku sudah tua?" Satriaem menggeram.
"Eh, tidak. Siapa bilang kamu sudah tua?"
"Tadi kamu bilang di diusia seperti ini...? itu artinya aku sudah tua."
"Tidaaaakkkk." Sofia dengan suara manja. "Baru setengah abad?"
"Hmm... setengah abad lebih tiga belas tahun." Satria mendelik.
"Benarkah? aku tidak menyadari itu. Tapi kamu seperti baru lima puluh tahun. Dan kamu masih tampan." dia merangkul pundak suaminya kemudian menyandarkan kepalnya dengan nyaman disana.
Satria menahan senyuman. Perempuan ini tetap saja masih bisa membuatnya merasa ke ge'eran, padahal mereka sudah tidak muda lagi.
"Sayang, apa kamu tidak mau minum teh nya? itu sehat lho untuk kita." sofia mengangkat wajahnya.
"Apa harus?"
"Setidaknya mulai membiasakan diri, untuk kesehatan." perempuan itu berbisik.
"Tidak ada yang kamu masuk kedalam sana?" Satria curiga.
"Apa? tidak ada. Kecuali obat panjang umur agar kamu selamanya menemaniku." Sofia tersenyum.
Satria tergelak dengan suara yang cukup keras.
"Ayo, minum. Ini enak lho. Aku sudah, dan rasanya seperti jadi abege lagi." rayu perempuan itu kepada suaminya.
"Masa?"
"Benar."
Satria tersenyum.
"Sayang??"
"Baiklah baiklah, ... kalau tidak terbukti siap-siap aku hukum ya?" Satria menyesap teh miliknya.
"Hmmm... tidak perlu kamu ancam aku akan menyerahkan diri."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Baiklah, ..."
Dan percakapan konyol itu terus berlangsung diantara pasangan paruh baya yang merasa bahwa mereka masih abege itu. Serasa dunia milik berdua, meski beberapa penjaga keamanan dan tukang kebun jelas merasa canggung karena setiap hari harus mendengar hal semacam itu.
🌹
🌹
Dimitri mondar-mandir di dalam apartemennya. Pagi itu dia tidak pergi ke kantor karena menjelang akhir pekan. Dia memikirkan rencana apa yang bisa dijadikan alasan untuk bertemu dengan gadis itu di bengkel milik Anggara.
Sesekali dia berhenti lalu terkekeh, merasa kekonyolan ini semakin menjadi setiap harinya. Bahkan setelah satu minggu sejak pertemuannya yang terakhir dengan Rania, dia masih tak percaya tengah mengalami hal tersebut.
Dirinya bagai anak baru gede yang baru saja mengalami jatuh cinta.
Ah tidak! dia memang baru pertama kali merasakannya. Hal yang tak pernah dia alami sebelumnya.
Selama ini dirinya hanya menyukai bergaul bersama gadis-gadis karena itu rasanya menyenangkan. Mengetahui para gadis menaruh hati kepadanya, lalu mengejarnya dan menyerahkan diri kepadanya. Meskipun kebanyakan dari mereka yang singgah tidak ada yang pernah lebih dari satu atau dua malam saja.
Dimitri sangat menghindari hubungan semacam itu. Yang mengikat dan saling memiliki. Meskipun nyatanya, apa yang mereka perbuat lebih dari batas yang seharusnya. Tapi dia dan para gadis sepakat untuk tidak membuat komitmen. Mereka hanya saling menghubungi ketika butuh teman untuk sekedar bersenang-senang dan menggila bersama.
Tapi akhir-akhir ini, seperti ada yang salah dengan otaknya. Entah dia mengalami cedera apa sehingga hal itu terjadi. Namun yang pasti segala yang ada pada dirinya berubah dalam waktu beberapa hari saja.
Dimitri menyeringai saat sebuah ide melintas di otaknya.
"Brilian!" dia menjentikan jarinya. Kemudian segera keluar dari unit partemen miliknya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
ide apakah yang ada di kepalanya pak Dimi? mau tau apa mau tau banget?
tembus 1000 like dan 500 komen dalam satu jam aku up lagi. 😂😂
mau nggak?
jan lupa kasih hadiah yang banyak. okeh?? 😘😘