All About You

All About You
Rania Dan Dunianya



🌹


🌹


Dimitri tak hentinya tersenyum sedari pagi. Sambil berdandan di depan cermin, dia memadu padankan kemeja dan jas kerjanya hari itu.


Dia sudah berganti beberapa kali, hingga jas-jas itu menumpuk diatas tempat tidur. Serasa tak ada yang cocok dipakainya untuk hari itu.


Aih, ... untuk siapa aku berdandan seperti ini? dia kan tidak ada di kantor? batinnya.


Eh, tapi siapa tahu nanti dijalan ketemu lagi? katanya, dan dia kembali merapikan rambutnya.


Astaga, aku berubah jadi orang bodoh karena gadis itu.


Dan dia terkekeh setelahnya, ketika melirik bekas pembungkus obat yang diminumnya saat terkena serangan diare semalam sebelumnya.


Rasa pening dan lemas membuatnya tak bisa melihat dengan jelas bacaan yang tertera di pembungkus obat, sehingga dia keliru.


Dimitri tertawa dengan keras hingga kepalanya terdongak.


Betapa konyolnya!!


***


Berkali-kali dia melirik ponselnya yang diletakan tak jauh dari laptop. Berharap seseorang menelfon atau setidaknya mengirim pesan untuk sekedar menanyakan kabar. Tapi nihil, orang yang diharapkan bahkan sepertinya tak mengingatnya sama sekali.


Aih, ... kenapa aku jadi berharap seperti ini? aku bahkan baru saja mengenalnya. Tapi kenapa dia bisa mengalihkan perhatianku?


Dia merebakan kepalanya pada sandaran kursi, menjeda pekerjaannya untuk sejenak.


Gadis itu... sangat jauh dari bayangannya. Mereka bahkan menggeluti dunia yang berbeda. Seperti kutub utara dan kutub selatan, namun sesuatu mempertemukan mereka. Entah ini takdir atau hanya kebetulan semata, namun yang pasti dunianya kini telah berubah.


Rania telah memenuhinya, tanpa dia melakukan sesuatu di hadapannya. Gadis itu bahkan tak menyadarinya, bahwa dirinya telah membuat seorang Dimitri Alexei Nikolai bertingkah seperti abege yang baru saja mengenal cinta.


Cinta?


Dimitri tertawa.


Dia bahkan merasa belum pernah mengalaminya. Semua yang dijalaninya selama ini tidak pernah melibatkan perasaan, apalagi cinta. Kata itu sangat jauh dari pikirannya.


Lalu apa yang dialaminya selama ini?


Entahlah, dia hanya menikmatinya sebagai pengalaman indah. Gadis-gadis yang datang dan pergi hanya sebagai pelampiasan kepenasarannya akan sesuatu. Sejak pertama kali dia mengalaminya di tahun terakhir SMA, bersama seorang gadis teman sekelasnya setelah pesta kelulusan.


Dan itu cukup tertanam kuat di ingatan. Yang pertama akan selalu menjadi yang paling diingat bukan? tapi jelas bukan itu intinya, karena mereka melakukannya hanya karena kepenasaran saja. Walaupun hal itu jelas berlanjut setidaknya bagi Dimitri, yang lantas mencoba mencari hal lainnya bersama gadis-gadis yang dia temui semasa kuliah. Dan itu berlangsung hingga sekarang.


Setidaknya hingga sebelum dia mengenal gadis itu. Dan apakah sekarang masih?


🌹


🌹


"Bagaimana perkembangannya?" Satria menyeruput kopi yang dipesannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang istri. Setelah perempuan itu pamit untuk berbelanja ria ditemani Dygta dan Vivian di mall tempat mereka bertemu saat ini.


"Cukup bagus. Dimitri fokus bekerja, dan belum seharipun dari sejak pindah dia pergi ke klub." jawab Arfan.


"Benarkah?" Satria seakan tak percaya.


"Dia bekerja cukup serius, dan mampu menangani beberapa hal yang tertunda. Sejauh ini semuanya baik."


"Syukurlah."


"Apa belum ada yang mengirimkan laporan dalam seminggu terakhir?" Arfan bertanya, karena diapun tahu bahwa sang mertua sudah pasti mengirimkan seseorang untuk mengawasi putranya itu.


Satria hanya terkekeh.


"Dan bagaimana dengan gadis itu?" dia beralih kepada Andra.


"Sore ini Rania terbang ke Singapura untuk balapan lusa Pak."


"Baiklah. Sepertinya gadis itu sulit ditaklukan, buktinya hubungan mereka belum berkembang selain hanya sebatas pertemuan biasa saja?"


"Anda tidak akan bisa menyangka akan seperti apa mereka nanti."


"Benarkah?"


"Apa perlu kita bantu lagi?" tawar Andra, sepertinya dia bersemangat untuk melakukan hal ini. Rasanya menyenangkan melihat kekonyolan putra atasannya itu, dan dia membayangkan mungkin begitu pula lah kelakuan Satria semasa muda.


"Tidak usah, biarkan saja mereka melanjutkannya sendiri. Kita cukup membukakan jalan."


"Ah, ...padahal saya sudah menyiapkan banyak cara pak. Dan saya jamin akan berhasil." ucap Andra.


"Tidak usah."


"Bapak yakin akan mendekatkan mereka? sepertinya Dimitri dan Rania sangat berbeda?" Arfan menyela.


"Kita lihat saja. Aku rasa Dimitri perlu Seseorang yang bisa mengendalikannya, dan tidak takut dia akan marah atau menolak seperti gadis-gadis yang selama ini mengelilinginya, yang selalu menuruti apa maunya. Tapi seseorang yang mampu mengatakan tidak dan dengan tegas menolak apa yang diinginkannya. Sehingga dia tahu bahwa tidak semua hal harus seperti keinginannya."


"Dia bahkan masih terlalu muda untuk mengerti hal itu." tukas Arfan.


"Justru selagi dia muda aku ingin Dimitri mengerti. Tapi kita tidak bisa memberi pengertian kepadanya dengan cara kita. Karena cara berpikir anak muda sekarang berbeda, mungkin lewat apa yang dialaminya dia akan mengerti?"


"Dan Bapak yakin gadis itu bisa?" sang menantu berucap.


"Kenapa tidak? aku lihat dia tidak seperti gadis-gadis kebanyakan?"


"Bapak sudah menyelidikinya?"


"Menurutmu?"


"Oh iya, bagaimana Ara? sudah diputuskan dia akan meneruskan kuliah dimana?" Satria mengganti topik pembicaraan.


"Dia tetap meminta kuliah di Bandung." jawab Arfan.


"Bandung?"


"Ya, bahkan permintaan Mytha agar dia kuliah di Solo agar dekat dengan neneknyapun tak diturutinya. Padahal dulu dia senang sekali diajak kesana."


"Anak gadismu sudah besar Arfan, dia sudah bisa menolak keinginan ibunya."


"Benar pak. Bujukan Dygta bahkan sudah tidak terlalu mempan lagi sekarang, padahal biasanya selalu berhasil."


"Yeah, ... dia sudah dewasa. Ara punya keinginan sendiri."


"Jadi kamu setuju dia kuliah di Bandung?"


"Mungkin, karena dia mengancam tidak mau kuliah jika tidak di Bandung."


"Dia keras kepala juga ya?" Satria tergelak.


"Begitulah, ...


"Sebentar pak, saya harus menjemput Alvi dari sekolah, mamanya belum selesai belanja dengan ibu." Andra bergegas pergi setelah menerima panggilan telfon.


"Baiklah, ... apa kamu juga akan menjemput anak-anak?" tanya Satria kepada Arfan.


"Tidak, sudah ada supir yang bertugas."


"Bagus, jadi Dygta tak selalu harus pergi bukan?"


"Begitulah pak."


🌹


🌹


Rania menatap takjub ke sekeiling area, dia tak percaya memiliki hal seperti ini. Tak pernah ada dalam bayangannya sedikitpun tentang apa yang tengah dialaminya saat ini, dan segalanya jauh dari perkiraan.


Seorang gadis yang berasal dari sebuah kota, yang menggemari hobi terhadap motor sejak kecil, sering mengikuti balap liar di jalan raya tanpa sepengetahuan sang ayah, sering mengalami hukuman ketika kegiatannya dikethui dan mendapat pandangan sebelah mata dari orang-orang sekelilingnya. Namun hari ini dia bisa membuktikan jika dirinya mampu. Setidaknya sudah sejauh ini perjalanannya, dan dia bersyukur akan hal itu.


"Biasa aja oneng," Galang merangkul pundak sahabat masa kecilnya itu.


"Nggak usah gitu juga ngelihatinnya." dia menariknya kembali ke antrian pemeriksaan paspor.


"Kita di Singapur Lang," ucap Rania dengan lugunya.


"Iya tahu, nggak usah dijelasin juga. Abis ini Itali, Madrid, Jepang, terus kemana lagi ya? duh... banyak. kita akan keliling dunia."


Rania tersenyum.


Pemeriksaan paspor dan segala tek tek bengeknya selesai. Mereka keluar dari bandara dan menaiki mobil jemputan yang sudah menunggu. Menuju hotel tempat mereka menginap untuk empat hari ke depan.


Hotel terkenal yang berjarak lima menit dari Marina Bay Street itu menjadi satu-satunya hotel terdekat ke sirkuit. Sehingga dari sini mereka bisa melihat lintasan yang sedang bersiap itu dengan cukup jelas.


Walau masih dilalui kendaraan karna memang letaknya yang berada di tengah kota, dan menjadi jalan utama menuju ke segala penjuru Singapura, namun persiapannya dilakukan cukup matang. Terlihat sekali penyelenggara dalam hal ini memanglah sangat profesional.


"Aku nggak pernah ngebayangin akan mengalami semua ini. Yang aku tahu, aku suka balapan, dan bermimpi mau jadi pembalap." Rania merebahkan tubuhnya di sofa balkon kamar hotelnya, sementara Galang duduk dilantai. Setelah makan malam bersama dan para crew meninggalkan mereka untuk melakukan persiapan.


"Kita nggak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di masa depan kan?" pemuda itu bersandar pada sofa dimana Rania berada.


"Kamu nanti ikut ke sirkuit nggak?"


"Nggak. Aku nunggu motornya dateng dulu. Masih pemeriksaan di Bandara." Galang fokus menatap layar ponselnya. Ujung jarinya bergerak-gerak menggeser layar naik turun. Melihat beberapa penawaran di e-commerce di ponselnya.


"Lihat apa sih serius amat?" Rania bangkit dan mendekat untuk melihat.


"Kamu mau beli motor lagi?" dia bertanya saat sahabatnya itu menatap sebuah gambar motor trail lama-lama.


"Hu'um."


"Emangnya si jagur udah nggak bisa di pake?"


"Masih."


"Terus?"


"Mau beli lagi lah biar dia ada temennya. Kasian sendirian doang digarasi, kan bagus kalau ada temen. Nggak kayak yang punya nya jomblo terus."


"Hmm... mulai." Rania mencibir.


"Ini bagus nggak?" dia menunjukan sebuah motor trailnya berwarna hitam dengan spesifikasi lengkap.


"Bagus. Tapi kok kelihatannya lebih kecil?"


"Emang."


"Kenapa?"


"Biar si jagur nggak merasa tersaingi. Ya anggap aja ini buat pasangannya."


"Diiihhh...


Galang tertawa terbahak-bahak.


"Emang duitnya ada Lang?"


"Ada lah."


"Masa?"


"Serius."


"Dapet dari mana?"


"Ada deh, kamu Kepo ih. Kayak emak-emak yang lagi interogasi suaminya kalau misalnya beli barang."


"Dih?"


"Fix... beli yang ini aja." dia memilih sebuah motor yang tadi di tunjuk Rania.


"Serius beli motor?"


"Serius."


"Kamu udah banyak duit ya?"


"Udah, tapi nggak sebanyak punya kamu."


"Papa bayar kamu berapa untuk kerja?"


"Mayanlah buat jajan motor mah ada."


"Dih, sombongnya? sekarang jajannya motor, bukan es boba lagi?"


"Ya daripada kamu yang jajannya cuma kuota dua giga doang?" Galang mencibir.


"Ish, ... ngeledekin. Duit aku disimpen papa tahu, biar nggak boros. Aku cuma dikasih uang saku doang."


"Kamu sih, kebanyakan jajan ayam geprek sama capucino cincau jadinya punya duit banyak juga disita om Angga."


"Aku jajannya yang bermanfaat tahu?"


"Bermanfaat apaan?"


"Bermanfaat bikin perut kenyang."


"Ah, ... dasar oneng, emang doyannya aja makan."


"Makan bagus buat mood tahu."


"Serah kamu deh." pemuda itu bangkit.


"Mau kemana?"


"Balik ke kamar aku lah. Kelamaan disini tar di curigai om Angga."


"Orang kita nggak ngapa2in."


"Tapi nanti malah aku yang pengen ngapa-ngapain."


"Maksudnya?"


"Ah, onengmah nggak akan ngerti." pemuda itu segera keluar dari ruangan tersebut.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


ayo ritualnya gaess like komen sama kirim hadiah yang banyak. 💖💖