All About You

All About You
Ijin



🌹


🌹


Dimitri menggapai-gapai tempat kosong di sampingnya saat tak merasakan kehangatan yang dia dekap semalam. Pria itu segera membuka mata, dan tak menemukan Rania disampingnya.


"Zai?" dia bangkit dan melihat ke seluruh ruangan, namun tak juga ditemukannya perempuan itu disana.


Dimitri lantas bergegas keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah. Dan disanalah Rania, berdiri di depan counter masak dengan kompor menyala dan wajan di depannya. Dia sedang memasak sesuatu.


Perempuan itu menoleh setelah menyadari keberadaan dimitri di ruang yang sama.


"Mau sarapan?" dia dengan senyum cerianya, yang kemudian mematikan kompor dan meletakan dua buah roti bakar yang dibuatnya barusan.


"Udah ke air belum?" dia bertanya lagi. "Lattenya mau aku bikinin sekarang apa nanti?"


Dimitri masih tertegun di dekat meja makan.


"Kalau udah ke air, aku mau bikin lattenya sekarang, kalau belum ya aku bikinnya nanti kalau kamu udah selesai mandi. Biar lattenya nggak dingin. Kan nggak enak kalau ...


Pria itu dengan gerakan cepat tiba-tiba saja mendekat kepadanya, dan segera menariknya kedalam pelukan.


"Maaf, ..." katanya.


Rania menggigit bibirnya dengan keras.


"Aku sudah membentakmu." lanjutnya.


Perempuan itu tak menjawab.


"Aku hanya khawatir, ... dan ... terkejut." katanya lagi, lalu perlahan mendorong pundak Rania hingga dia bisa menatap wajahnya, lalu mereka saling pandang untuk waktu yang cukup lama.


"Mandi dulu, yang ..." jawab Rania kemudian.


"Ck!" Dimitri berdecak. "Padahal momennya sudah bagus." katanya dengan nada kesal, kemudian melepaskan Rania dari pelukannya.


"Udah bagus buat apa? mesra-mesraan?" perempuan itu tergelak. "Cepat sana mandi! dari semalam tidur masih pakai baju kerja." katanya, yang kembali ke depan counter.


***


Dimitri telah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, mengenakan jasnya, kemudian merapikan rambutnya seperti biasa. Dan terakhir memastikan penampilannya sempurna untuk hari besar ini.


Dia kemudian turun dan kembali ke ruang makan, saat matanya menangkap dua koper yang sudah dalam keadaan rapi dan terkunci teronggok di ruang tengah.


Dia menghembuskan napas pelan, perempuan itu tampaknya tak bisa di goyahkan sedikitpun. Kekerasan hatinya mengalahkan segalanya. Bahkan dalam keadaannya yang serentan ini.


Rania meletakan secangkir latte panas yang dibuatnya barusan, lantas bersiap untuk sarapan ketika Dimitri juga sudah kembali. Lalu mereka memulai sarapan dan suasana tenang.


"Semalam kamu masak?" Dimitri memulai percakapan.


"Hmm ..." Rania mengangguk.


"Kok malah membuat roti bakar?"


"Yang semalam aku buang." Rania melirik tong sampah di dekat counter.


"Kenapa dibuang? kan aku belum makan itu?"


"Untung kamu belum makan itu. Kalau nggak, aku yakin kamu bakal ngomel."


"Kenapa?"


"Masakan aku nggak enak."


"Belum juga aku makan?"


"Percaya deh, asli nggak enak. Ayamnya keasinan, sementara sayurannya kemanisan. Bahkan kucingpun kayaknya nggak akan mau makan itu."


"Hmm ..


"Asli, aku sulit kalau urusan itu." dia terkekeh getir.


"Tapi kamu sudah berusaha, Zai."


"Ya, dan usahaku tetap nggak berhasil."


"Belum."


"Harus belajar lebih lama lagi ya?"


"Hmm ...


"Baiklah, ... nanti."


Kemudian mereka berusaha menghabiskan sarapan yang tersisa.


"Kamu akan tetap pergi, Zai?" Dmitri kembali melirik koper di ruang tengah.


"Hmm ..." nggak bisa mundur sekarang, udah tanggung." Rania menjawab.


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu ...


"Jangan ngomong gitu. Kata orang tua, ucapan adalah doa. Kalau kamu ngucapin hal jelek, nanti yang terjadi hal jelek juga. Tapi kalau yang kamu ucapinnya hal baik, pasti yang terjadi ya hal baik juga." Rania mengunyah makanannya.


"Tapi keadaan kamu?"


"Aku nggak apa-apa, aku baik-baik aja. Dia juga baik-baik aja." perempuan itu mengusap perutnya sambil tersenyum. Senyum semangat yang tidak terlihat sedikitpun keraguan di dalamnya. Tanpa rasa was-was ataupun khawatir. Hanya ceria saja.


"Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu. Disaat semua orang sangat berhati-hati ketika mereka tahu tengah dalam masa awal kehamilan, kamu malah ambil resiko."


"Udah hidup aku kayak gitu."


"Aku khawatir, Zai." Dimitri meraih tangan Rania dan meremat jemarinya dengan lembut.


"Aku tahu, tapi tenanglah," Rania balas meremat jemari pria itu.


"Yang sedang kamu kandung itu adalah anakku, bagaimana aku bisa tenang? aku bukan orang gila yang kehilangan akal sehingga tidak merasa khawatir akan sesuatu."


"Jadi aku gila dong?"


"Hah?"


"Yang nggak terlalu mengkhawatirkan masalah itu."


"Bukan begitu, Aku nggak bermaksud menyebutmu gila atau semacamnya."


"Aku tahu, hahaha ..." Rania malah tertawa.


"Zai, ... pikiranku buruk sekarang ini. Bagaimana kalau papamu tahu, dan aku malah membiarkanmu tetap balapan? dia akan marah, dan semua orang juga akan menuduhku macam-macam."


"Ya makanya jangan bilang siapa-siapa dulu, nanti aja kita umumin setelah balapannya selesai. Cukup kamu dulu yang tahu."


"Tapi ...


"Jadi juara ataupun nggak, asal aku bisa selesaikan musim ini aja. Aku janji, setelah ini aku berhenti."


"Benarkah?"


"Tapi cuma sampai melahirkan, dan dia bisa di titipin ya?" Rania tertawa lagi. "Nggak deh, bercanda. Kalau misalnya aku nggak boleh balapan lagi, setelah ini ya udah, nggak apa-apa. Asal ijinin aku beresin yang ini."


Dimitri terdiam.


"Aku janji, setelah melahirkan nggak akan balapan lagi. Aku akan diam dirumah dan mengurus anak-anak."


"Benarkah?"


"Hmm ..." Rania menganggukan kepala.


"Setelah aku pikir-pikir, jahat juga rasanya kalau aku ninggalin anak untuk balapan. Dia kan butuh mamanya, masa aku tinggal pergi?"


"Oh, ... Zai ...


"Jadi ijinin aja aku beresin musim ini, kan setelah itu aku berhenti. oke?"


Dimitri tak menjawab.


"Please, aku janji akan hati-hati. Nggak akan ambil resiko sebesar kayak waktu sebelum hamil."


"Nggak apa-apa, asal aku bisa beresin balapan musim ini."


"Kamu nanti ngotot."


"Nggak akan."


"Kamu bohong."


"Nggak, yang."


Dimitri mendes*h frustasi.


Rania terkekeh, lalu bangkit dari kursinya.


"Please, ijinin aku pergi." dia kemudian duduk di pangkuan suaminya, dengan kedua tangannya yang segera memeluk leher pria itu.


"Kamu merayu."


"Emang."


"Dasar keras kepala!"


"Iya, kalau nggak keras kepala bukan aku dong?" Rania tertawa lagi, dia merasa hampir memenangkan perdebatan ini.


"Untung aku mencintaimu, ..." Dimitri membingkai wajahnya, lalu mengecup bibirnya dengan gemas.


"Jadi kamu ngijinin aku?"


Dimitri belum menjawab. Dia malah menyurukan wajahnya di leher perempuan itu.


"Sayang?"


"Ah, ... aku benci kalau menjawab iya, tapi sulit juga untuk menjawab tidak. Balapan adalah kehidupanmu sebelum kita bertemu."


"Yess!!"


"Berjanjilah untuk tetap hati-hati dan menjaga diri."


"Oke."


"Jangan melakukan hal gila lagi, ingat kamu sedang membawa anakku di dalam sini." dia menyentuh perut perempuan itu.


"Oh, ... kenapa harus seperti ini!! aku seperti sedang mengantarkan kalian pada kematian!" Dimitri mulai merengek.


"Ssstt! jangan ngomong gitu!"


"Aku tahu, maaf. Aku hanya ketakutan."


Rania memeluk pria itu dengan erat, lalu tawa renyah keluar dari mulutnya.


"Berjanjilah jangan berbuat macam-macam yang dapat membahayakan kalian." katanya lagi.


"Iya, papa!"


"Hum?" Dimitri menarik kepalanya agar bisa melihat wajah perempuan dipangkuannya.


"Ups." Rania menutup mulut dengan tangannya.


Sementara Dimitri menggelengkan kepala sambil menarik tangan perempuan itu.


"Jam berapa kamu berangkat hari ini?" Dimitri bertanya.


"Sebentar lagi, aku nunggu papa telfon udah sampai bandara atau belum."


"Baiklah." Dia kemudian bangkit tanpa menurunkan Rania dari pangkuannya, kemudian langkahnya dia tujukan ke lantai dua.


"Eh?"


"Hari ini pengesahan posisiku di perusahaan." dia terus berbicara.


"Ya, terus?"


"Tapi kamu pergi, seharusnya kamu mendampingi aku disana."


"Maaf."


"Tidak bisakan kamu tunda keberangkatannya?"


"Nggak bisa."


"Nanti aku antar sendiri setelah urusanku di kantor selesai."


"Kelamaan."


"Pesawat papi cepat lho."


"Tetap aja, persiapan aku sebentar nantinya."


"Ck!" Dimitri berdecak.


"Katanya ada acara di kantor?"


"Memang."


"Terus kenapa kamu malah bawa aku kesini?" punggung pria itu mendorong pintu kamar hingga tertutup rapat. Kemudian melanjutkan langkahnya ke tempat tidur, dan menurunkan Rania disana.


"Sayang, nanti baju kamu kusut lagi."


"Tinggal aku ganti."


"Nanti kamu telat."


"Mereka akan menunggu." Dimitri melepaskan pakaian yang susah payah dia rapikan sebelumnya, kemudian menyingkap kaus yang menempel di tubuh Rania.


"Baru mau naik jabatan udah telat?"


Pria itu tak menjawab, namun seringaian muncul di wajahnya.


"Sayang, wajah kamu bikin aku takut." Rania berlagak ketakutan, namun kemudian dia tertawa saat Dimitri mulai menyentuhnya.


"Padahal menurutku lebih menakutkan melihatmu ngebut di lintasan." dia melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya hingga tak ada lagi penghalang diantara mereka.


Pria itu segera mencumbunya sepuas hati, rasa khawatir, takut, marah juga gemas bercampur jadi satu. Melihat ekspresi perempuan di bawahnya membuatnya merasa hilang kesabaran.


Rania mendes*h dengan mulutnya yang terbuka, namun kedua matanya mengerjap keras saat Dimitri membenakan naga ajaibnya. Dia memegangi kedua pahanya, kemudian bergerak.


Segera saja erangan dan geraman mengudara memenuhi kamar pada pagi hari itu. Diikuti suara percintaan yang terdengar erotis di telinga keduanya.


Pelampiasan hasrat terasa begitu kentara setelah sore kemarin mengalami pertengkaran pertama, dan semalaman tak bertegur sapa karena kekesalan Dimitri. Membuat keduanya sudah merasakan rindu yang begitu besar padahal mereka baru saja akan berpisah


"Hmmm ... sayang ... " Rania terus mengerang saat dirasakannya gerakan pria itu mulai tak terkendali. Tubuhnya bergerak tak karuan dengan napas yang menderu-deru. Sementara pria diatasnya terus berpacu beberapa lama, membawanya hampir ke titik pelepasan.


Dimitri semakin tak terkendali, melihat wajah Rania yang memerah, tubuhnha yang menggeliat-geliat, apalagi mendengar suara des*han dan erangannya, membuat hasratnya semakin menggelora.


Lenguhan keras keluar dari mulut Rania, diikuti kedutan dibawah sana, yang mencengkeram naga ajaibnya dengan erat. Dan Dimitri semakin menggila karenanya. Tahu perempuan itu telah mendapatkan klim*ksnya terlebih dahulu.


Perasaannya meledak-ledak, dan pikirannya telah berhamburan entah kemana. Yang ada hanyalah keinginan untuk berusaha mendapatkan hal yang sama.


"Oh, Zai ..." geramnya saat dia juga merasakan pelepasan itu datang. Dia mempercapat hentakannya, dengan kedua tangan yang mencengkeram pergelangan tangan Rania diatas kepalanya.


Cengkeramannya semakin erat seiring hentakannya juga yang semakin kencang. Dan pada saat segalanya telah tiba di ujung, Dimitri membenamkan seluruh alat tempurnya, dan dia mendkannya dengan keras, diikuti geraman rendah di ceruk leher Rania. Sementara perempuan itu berteriak menerima pelepasannya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Duh, ketinggalan pesawat nggak? 😆


like komen sama kiriman hadiahnya lagi ya? kalo vote nggak mungkin bisa ngejar. gapapa, ...


lope lope sekebon cabe😘😘