All About You

All About You
Merelakan



🌹


🌹


Angga kehilangan banyak kata ketika pria muda di hadapannya menyampaikan maksudnya. Dengan berani dan tanpa gentar Dimitri meminta pernikahannya agar di percepat, sementara putrinya membisu di dekatnya.


"Apa sudah terjadi sesuatu?" dia bertanya, lalu dia mengetatkan rahangnya saat membayangkan mungkin saja telah terjadi sesuatu diantara mereka. Dan dirinya sudah bersiap untuk setidaknya menghajarnya terlebih dahulu jika saja perkiraannya ini benar.


"Tidak pak." jawab Dimitri, dengan tenang dia menatap wajahnya.


"Lalu kenapa kamu minta pernikahannya di percepat? bukannya orang tua kamu juga belum menentukan?"


"Saya hanya khawatir pak."


"Khawatir soal apa?"


"Banyak hal."


"Contohnya?"


"Saya merasa tidak tenang kalau ingat Rania sebentar lagi harus pergi balapan, dan kami terpisah. Saya merasa harus melakukan sesuatu."


"Kenapa tidak tenang? dia tidak pergi sendiri. Dia kan sama saya? apa yang membuat kamu tidak tenang?"


"Saya ...hanya... tidak bisa ... membiarkan Rania begitu saja pak. Saya tidak mau melepaskan dia pergi tanpa mengikatnya terlebih dahulu pak."


Angga kembali terdiam. Namun perhatiannya teralihkan saat ponselnya berdering, dan kontak Satria yang muncul di layar.


"Papi kamu nih. Udah ngadu duluan ya?" dia menunjukan layar ponselnya kepada Dimitri.


"Halo?"


"Ya, Angga. Bagaimana kalau pernikahan anak-anak di percepat saja?" pria itu langsyung bicara pada intinya.


"Dimitri juga bilang begitu pak, dia sudah ada disini sekarang."


"Iya, tadi dia menelfon meminta pernikahannya di percepat."


"Apa tidak terlalu terburu-buru pak?"


"Menurut saya tidak, malah lebih cepat lebih baik."


Angga terdiam, dan pandangan dia alihkan kepada pasangan muda di hadapannya.


"Masalah balapan Rania bisa diatur, saya yakin tidak akan terganggu. Dimitri sudah faham situasinya. Hanya saja dia merasa tidak bisa jika harus terpisah jauh. Kamu tahu sendiri lah," Satria terdengar terkekeh dari seberang sana.


Sementara Angga hanya mengangguk-anggukan kepala seolah pria itu bisa melihatnya dari kejauhan.


"Jadi sebaiknya kita nikahkan saja mereka, tidak usah menunggu balapan Rania hingga selesai. Dan sebagai orang tua saya memilih untuk menyegerakanya agar perasaan kita tenang juga jika harus membiarkan mereka pergi bersama."


Ucapan Satria ada benarnya juga. Selama ini dia memang selalu merasa was-was setelah mengetahui putrinya memiliki kekasih. Seperti tengah dihantui sesuatu.


"Jadi bagaimana jika kita majukan pernikahan mereka?" Satria mengulang pertanyaan.


"Baik pak? kapan?"


"Mungkin minggu depan?"


"Apa?"


"Sebenarnya Dimitri memintanya besok, atau lusa. Tapi tidak mungkin kan? apalagi mamanya punya keinginan untuk pernikahan mereka jadi kita adakan minggu depan saja."


"Ya kalau misalnya mau cepat juga tidak apa-apa pak. Lusa juga bisa, nikah secara agama dulu yang penting sah?" sekalian saja dia mendesak.


"Tidak, mama dan kakaknya sudah membuat rencana, mereka sudah mewanti-wanti sejak tadi." Satria tergelak.


"Jadi mungkin kita sekalian adakan pestanya minggu depan." lanjut Satria.


Angga berpikir.


"Hanya perlu persetujuan kamu, selebihnya biar kami yang mengurus." ucap Satria lagi.


"Kamu beruntung punya orang tua yang sangat mampu melakukan banyak hal. Sehingga untuk urusan darurat seperti ini saja tidak merasa terbebani. Coba kalau orang tua kamu hanya orang biasa saja? pasti kebingungan kemana harus mencari biaya pernikahan yang nggak sedikit." ucap Angga setelah mengakhiri percakapan telfon bersama Satria.


"Ini bukan soal niat baik yang harus di segerakan, tapi kemantapan hati kamu. Apa itu benar-benar murni atau hanya nafsu."


"Nafsu dan keinginan itu bedanya tipis, hampir nggak terlihat. Saya harap kamu nggak mengada-ada soal ini. Karena pernikahan itu bukan cuma soal keinginan untuk saling memiliki. Ini hal yang lebih besar dari itu, dan menjalaninya nggak semudah yang kamu kira."


Kini Dimitri yang bungkam.


"Persiapkan semuanya dengan baik, jangan sampai mengecewakan banyak orang." ucap Angga, sebelum kemudian pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang menatap kerumunan penonton, mencari wajah yang mungkin dikenalnya akan hadir disana. Setidaknya dia merasa masih memiliki kedudukan yang cukup penting dimata sahabatnya. Meskipun kini keadaan telah berbeda. Dan akan membuatnya memiliki semangat lebih untuk menjalani turnamen hari ini. Selain dari kehadiran kedua orang tuanya, tentunya.


"Hey!" suara yang dia kenal memanggil, dan Galang kembali mengedarkan pandangan.


Angga datang menghampirinya, dan dia menepati janjinya.


"Om datang." wajahnya sedikit sumringah, dia melihat ke belakang tubuh pria itu untuk mencari wajah lain yang mungkin dia kenali.


"Si oneng nggak bisa datang. Dia masih sibuk." ucap Angga, mengerti gerak-gerik anak tetangganya ini.


"Oh...


"Mungkin lain kali."


"Ya Om."


Terdengar pengumuman dari pengeras suara mengisyaratkan semua peserta untuk bersiap-siap.


"Ya om." ucap Galang, sedikit lesu.


"Hey!" panggil Angga lagi.


Galang menoleh.


"Semangat!!" katanya, sambil mengacungkan kepalan tangannya di udara untuk memberi semangat kepada pemuda itu.


***


Lomba dimulai, dan satu persatu peserta menunjukkan kebolehannya di depan penonton dan juri.


Melewati halang rintang, kelokan tajam dan undakan juga turunan dan tanjakan yang di buat serumit mungkin.


Lalu giliran Galang yang maju. Dia sudah menyiapkan motornya sejak jauh-jauh hari dan berlatih keras untuk ini. Menyiapkan dirinya sebisa mungkin untuk memberikan penampilan terbaiknya.


Dia melewati lintasan tanah gembur dan sedikit basah. Lalu melewati jalan berbatu dan berundak-undak. Kemudian berliku-liku tajam, melewati turunan dan tanjakan yang pendek namun cukup membuat otaknya berpikir keras mencari cara agar mampu melewatinya dengan aman.


Belum lagi harus pandai-pandai mengatur rem, kopling dan gas agar bisa menggunakannya dengan benar di saat yang tepat. Karena jika tidak, bukan lolos di lintasan malah akan membuatnya mengalami kecelakaan.


"Ya, Galang!!!" kedua orang tuanya berteriak saat pemuda itu berhasil melewati semua rintangan dengan selamat. Tepuk tangan pun terdengar riuh mengakhiri aksinya hari itu.


***


"Kamu hebat Lang, nggak nyangka!" Angga menepuk pundak pemuda itu, yang berhasil lolos masuk Final minggu depan.


"Hehe, makasih om."


"Baru tahu juga kamu bisa kayak gini. Kirain cuma kumpul-kumpul sama touring nggak jelas doang."


"Iya, om harusnya udah dari kemarin-kemarin nerima undangan turnamennya."


"Terus kenapa baru sekarang?"


"Kan dampingin Si oneng dulu. Setelah dia berhasil masuk, dan sekarang udah balapan tetap, baru aku nerima undangannya. Kebetulan juga sekarang liburnya agak lama kan?" jelas Galang, yang membuat Angga tertegun.


"Kamu ngorbanin Waktu buat Rania, agar bisa mendukung dia sampai sejauh ini."


"Sambil ngumpulin duit juga buat kuliah om." Galang tertawa.


"Ya, tapi tetap kontribusi kamu buat Rania sangat besar Lang. Terimakasih." Angga merangkul pundak pemuda itu dengan rasa haru yang teramat besar.


"Iya OM, sama-sama."


"Tapi sayangnya si Oneng kecepetan dewasa, sebentar lagi dia mau nikah."


"Hmmm...


"Coba kayak kamu ya, sekarang pasti kita masih bisa bareng-bareng kayak gini."


"Kenapa nggak om Larang? kan bisa kalau misalnya om larang untuk nggak nikah dulu?"


"Masalahnya orang tuanya Dimitri yang datang langsung kerumah, jadi nggak bisa nolak sekeras itu."


"Pak Satria?"


"Iya, siapa lagi?"


"Pinter bener ya tuh orang? langsung gunain orang tuanya."


"Hmm... Si oneng sebentar lagi ninggalin kita." Angga dengan nada sendu.


Dua pria berbeda usia itu sama-sama tertegun dengan pikirannya masing-masing. Sama-sama sudah merasa kehilangan, dan sama-sama merasakan patah hati, bahkan jauh sebelum pernikahan sendiri itu dilaksanakan.


"Ini kenapa malah sedih-sedihan? Seharusnya senang dong, Galang masuk final?" Maya menginterupsi.


"Mm...


"Pak Angga, yang namanya anak, kalau sudah waktunya di lepas ya kita harus rela. Apalagi kalau sudah ada orang yang cocok. Mau apa lagi? yang penting kita sudah menjalankan kewajiban sebagai orang tua. Selanjutnya, biar mereka menjalaninya sendiri."


"Gampang lah bu Maya kalau ngomong. Tapi prakteknya susah."


"Memang, tapi mau bagaimana lagi?" Arif, ayahnya Galang menyahut.


"Kalau sudah waktunya semua anak akan pergi dengan jodohnya masing-masing. Rela nggak rela ya harus rela." lanjutnya.


"Hmmm... " Angga hanya menggumam.


"Kan masih ada Rega sama si kembar?" sambung Maya.


"Iya, untung ada adik-adiknya. Nggak kebayang kalau Rania anak tunggal, bisa nangis darah saya ditinggal nikah." Angga tergelak.


"Beruntungnya punya banyak anak. Nggak seperti kami yang cuma punya Galang. Nanti dia juga akan pergi kalau sudah ada jodohnya, dan kami akan benar-benar ditinggal sendirian."


"Apaan sih? masih Jauuuhhh." sergah Galang.


"Iya nanti, dudul." ucap sang ayah kepadanya, kemudian mereka tertawa.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


mau hadiah yang banyak!! 🤭🤭