All About You

All About You
Kunjungan Pertama



🌹


🌹


Mereka berhenti di sebuah tempat yang agak jauh dari keramaian, setelah berlari menghindar orang-orang itu yang tak bisa dikendalikan kehebohannya. Dan kedua orang itu tertawa terbahak-bahak karenanya.


"Hidupmu mulai nggak aman Ran." ucap Dimitri yang napasnya masih tersengal-sengal.


"Kenapa jadi gini sih? kan aku bukan artis?"


"Kamu sudah terlanjur terkenal. Semua media membahas keberhasilanmu kemarin."


"Hmmm... kayak artis aja?"


"Ya anggap saja seperti itu, mau tidak mau kamu harus menerimanya."


"Ish, ... nggak asik banget."


"Bukankah itu bagus? kamu dikenal banyak orang, dan dikagumi karena prestasimu?"


"Hah, kalau harus kayak barusan sih aku nggak mau."


"Mau tidak mau harus kamu terima."


Rania terdiam dengan wajah cemberut.


"Tapi aku masih lapar." dia memegangi perutnya. "Tadi baru makan dua sendok."


Dimitri memutar bola matanya.


"Eh, buburnya udah dibayar belum? tadi kita tinggal gitu aja."


"Sudah, pas aku pesan."


"Oia, berapa?"


"Tidak tahu."


"Kok nggak tahu?"


"Pedagangnya belum memberikan kembalian."


"Emang kamu kasih uangnya berapa?"


"Seratus ribu."


"Apa?" Rania hampir berteriak.


"Jangan keras-keras! telingaku sakit!" dia menutup telinganya sendiri.


"Duit seratus ribu belum dikembaliin?"


Dimitri menggeleng.


"Itu harga dua mangkok bubur paling mahal tiga puluh ribu. Terus sisanya yang tujuh puluh ribu gimana?"


"Nggak gimana-gimana,"


"Kok nggak gimana-gimana?"


"Kan tadi kita buru-buru. Aku nggak sempat."


"Di relain aja gitu?"


"Memangnya harus aku ambil kesana ya?"


"Ya gimana kek?"


"Tidak mau. Pedagangnya paling sudah lupa."


"Dih, Sayang tahu tujuh puluh ribu. Lumayan buat jajan di mimimarket."


"Astaga!" Dimitri menepuk keningnya dengan keras.


"Ayo kita balik lagi kesana." gadis itu hampir saja kembali ke tempat tadi, namun dia urungkan ketika melihat kerumunan itu semakin besar, setelah orang-orang tahu ada Sosoknya yang sempat berada disana.


"Kenapa?"


"Nggak jadi," kemudian dia meraih tangan Dimitri dan menarik pria itu keluar dari area lapangan.


"Mobil Kamu dimana?" Rania celingukan saat mereka tiba di tempat parkir.


Dimitri mengeluarkan kunci mobilnya dan menekan tombol sehingga terdengar bunyi bip yang keras dari arah ujung.


"Kamu mau pulang?" pria itu bertanya.


"Hu'um. Aku lapar." lagi-lagi dia memegangi perutnya sendiri.


***


"Ish, ... sayang banget itu duit tujuh puluh ribu di relain gitu aja?" gadis itu masih menggerutu dalam perjalanan mereka ke rumah, dan jalanan pada hari yang baru saja menghangat itu mulai padat.


"Masih membahas itu?"


"Sayang aja tahu, itu kalau dibeliin ayam geprek dapet empat porsian."


"Makanan terus yang dibahas." Dimitri menggumam, Lalu dia membelokan mobilnya ke sebuah mini market terkenal.


"Mau ngapain?"


"Jajan." Dimitri mematikan mesin mobilnya.


"Jajan? Aku lapar tahu, mau makan dirumah."


"Tapi kamu ngomel terus gara-gara uang tujuh puluh ribu." ucap Dimitri yang turun dari mobilnya.


"Ish. ... gitu aja ngedumel?"


"Ayo cepat." Dimitri membukakan pintu.


"Ogah ah, ..." tolak Rania.


"Cepat Ran."


"Mmm... " lalu pandangan gadis itu menangkap sebuah stand minuman ringan yang baru saja buka.


"Capucino cincau." ucapnya yang kemudian turun dan menghambur ke arah sana.


"Apa lagi ini?" Dimitri bergumam lagi.


Kemudian Rania memesan dua cup minuman favoritnya itu, dengan sabar dia menunggu di depan stan sementara Dimitri menunggu di kursi yang tersedia di pelataran minimarket.


"Ini." Rania meyodorkan satu cup kepada pria itu yang fokus pada ponsel pintarya.


Dimitri mendongak dan menatap wajah gadis itu sekilas kemudian meraih minuman di tangannya.


"Jajan sekarang?" ucap Dimitri saat Rania duduk di seberangnya.


"Nggak usah."


"Kenapa?"


"Kan ini udah."


"Serius? Memangnya harga minuman ini sampai tujuh puluh ribu?" Dimitri menyindir, masih ingat gerutuan gadis itu gara-gara uang kembalian tadi.


"Ee... nggak sih."


"Terus?"


"Nggak ada terus-terusnya." Rania menyesap minum tersebut hingga hampir habis.


"Aku pulang deh, mama udah ngechat melulu." dia menatap layar ponselnya. Tampak sebuah pesan masuk dari nomor ponsel sang ibu.


"Duluan ya?" gadis itu bangkit dan berjalan sambil mengutak atik ponselnya.


"Aku antar." Dimitri berjalan mendahuluinya, meraih tangan Rania dan menuntunnya sepetti tadi.


"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri kok."


"Udah terlanjur, sekalian saja."


"Rumahku jauh, nanti kamu pulangnya harus muter-muter lagi?"


"Sudah biasa."


"Tapi kan...


"Diam bisa tidak? sudah tanggung juga kan kita ketemu? sekalian saja aku antar kamu pulang. Lagian aku mau kerumah nenekku dulu."


"Rumah nenek?"


"Hu'um."


"Kamu ada keluarga di Bandung?"


"Ada. Mamaku Kan dulu orang sini. Orang tuanya masih ada."


"Oh ya? terus Kenapa malah tinggal sendirian di Landmark?"


"Biar dekat ke kantor."


"Tapi kamu sendirian."


"Sudah biasa. Dari SMP sudah terbiasa."


"Masa?"


"Yeah, di Moscow aku tinggal di asrama, pas kuliah malah cuma tinggal dengan teman-teman sekampus."


"Moscow? Rusia?"


"Hu'um."


"Jauh amat sekolahnya?"


"Tradisi keluarga."


"Semua keluarga kamu sekolah disana?"


"Ya."


"Eh, di depan belok kiri." Rania menunjuk jalan menuju ke rumahnya. Dan merekapun tiba tak lama kemudian.


Mobil hitam mengkilat tersebut berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua. Tidak terlalu besar namun terlihat sangat nyaman. Dibangun di tengah pemukiman menengah yang cukup ramai.


"Makasih ya, udah antar sampai sini. Jadi ngerepotin."


"Hu'um." Dimitri menatap kr arah rumah tersebut.


"Abis ini mau ke rumah nenek kan?"


"Iya."


"Cucu yang baik."


Dimitri tertawa pelan.


"Oke."


"Makasih lagi."


"Iya."


Gadis itu keluar dari dalam mobil dan hampir saja masuk ke pekarangan rumahnya saat melihat beberapa tetangga yang suka berbicara mengenai dirinya yang tak pernah membawa teman pria kerumah karena terlalu disibukan dengan urusan motor. Kemudian sebuah ide tib-tiba muncul di kepalanya.


Rania berbalik dan kembali ke dekat mobil Dimitri yang belum meninggalkan tempat itu.


"Ee... Dim, mau mampir dulu nggak?" dia menundukan tubuh.


"Apa?"


"Mau mampir dulu kedalam? sekalian ketemu papa?"


"A-aku?" pria itu menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya, kamu. Masa kucing tetangga?"


"Mm...


"Ayo buruan."


"Ng ... iya." Dimitri segera turun dari mobilnya.


Gadis itu terkikik dalam hati, sebentar lagi pasti akan muncul gosip lagi tentang dirinya yang membawa pulang teman laki-laki.


Muntah-muntah deh Lu pada ghibahin gue. batinnya sambil melirik ke arah netizen yang memperhatikan di ujung jalan sana.


***


Angga tampak sedang menemani putranya berlatih skill bermain bola di halaman depan, sementara dua anak perempuannya asyik bermain di teras. Yang segera menghentikan kegiatan mereka begitu menyadari kedatangan Rania bersama Dimitri.


Angga terdiam menatap pria itu yang berjalan mendekat bersama putrinya.


"Selamat pagi Pak?" Dimitri lebih dulu menyapa.


"Pagi, menjeoang siang pak. Sudah panas." jawab Angga, datar.


"Oh iya," Dimitri terkekeh canggung.


"Bukannya kamu lari sama si Galang?" Angga bertanya kepada putrinya. Lebih seperti menginterogasi. Mendapati putrinya yang pulang dengan seorang pria lain.


"Iya, tapi Galangnya tadi pergi."


"Pergi kemana?"


"Ke bengkel bang Gani. Katanya mau benerin motor."


Angga terdiam.


"Terus tadi ketemu pak Dimi di Gasibu." Rania menjelaskan.


"Joging juga?" Angga bertanya.


"Iya pak." Dimitri menjawab.


"Mama!! kakak pulang bawa pacar!" Amel berteriak cukup kencang hingga sepertinya terdengar sampai ke jalan.


"Apa? pacar?" Maharani keluar dari dalam rumah.


"Mm... " Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Udah, bawa masuk dulu. Ngobrolnya di dalam." ucap Angga, yang segera diikuti oleh putrinya dan tamunya tayang tidak di duga sama sekali.


***


"Habis lari juga pak?" Angga menatap penampilan pria di depannya.


"Iya." jawab Dimitri, pendek. Suasana terasa sedikit canggung sekarang. Terutama karena ini merupakan pertama kalinya dia berkunjung kerumah gadis yang disukainya. Dan langsung berhadapan dengan orang tua gadis tersebut.


Padahal mereka terbiasa bertemu karena urusan pekerjaan, tapi karena suasananya kali ini yang berbeda membuatnya sedikit merasa gugup.


"Jauh ya pak larinya, dari Landmark sampai ke Gasibu?"


"Mm... ya, begitulah. Kebetulam juga sepertinya."


"Ya, ... mungkin." Angga bersedekap.


"Silahkan Pak diminum, mumpung tehnya masih hangat." ucapnya, dan dia meraih cangkir teh yang dihidangkan Maharani barusan.


"Iya." Dimitri melakukan hal yang sama. Sesekali dia melirik ke arah tangga, berharap gadis itu segera turun dari kamarnya dan menyelamatkannya dari rasa gugup ini. Seolah dia sedang mengalami interogasi di kantor polisi. Dan itu rasanya sangat menyebalkan.


Lalu terdengar langkah tergesa menuruni tangga, dan gadis itu yang muncul kemudian. Dengan mengenakan celana pendek dan kaus kedodoran, dan kini keadaannya lebih segar denga rambut yang setengah basah. Aroma segar bahkan segera menguar memenuhi ruangan.


Namun hal itu malah membuat Dimitri merasa semakin gugup saja. Penampilannya yang biasa saja justru membuat dirinya meikirkan hal lain.


Ah, sial! gumamnya dalam hati.


"Mm ... saya mau pamit dulu pak. Ada tugas ke tempat lain setelah dari sini." Dimitri meletakan cangkir teh miliknya.


"Oh?"


"Nggak makan dulu? mama kayaknya udah selesai masak." Rania datang mendekat.


"Nggak, terimakasih. Mungkin lain kali." tolak Dimitri.


"Oh, ... jadi ke rumah nenek ya?"


"Iya." pria itu mengangguk.


"Ya udah."


"Permisi pak?" pamit Dimitri sekali lagi.


"Ya, ya. Silahkan."


Dan pria itu segera berlalu dari rumah mereka, diikuti pandangan Rania da Angga di belakang putrinya dengan kecurigaan yang besar.


"Kalian pacaran?" pria itu tiba-tiba bertanya.


"Apaan?" Rania memutar tubuh.


"Pulang Joging dianterin, dibawa kerumah, tahu dia mau pergi kemana juga." Angga melipat kedua tangannya di dada.


"Maksud papa apa sih?"


"Kalian ada hubungan? pacaran?"


"Ya nggak lah, mana ada?" gadis itu melenggang ke ruang makan.


"Hmm... bohong." Angga mencebikan mulutnya.


"Lagian, kenapa semua cowok yang deket dianggapnya pacar sih?" gadis itu duduk dan mengambil makanan untuknya sendiri.


"Cowok yang mana? cuma si Galang, dan sekarang Dimitri."


"Ya terus kenapa? Galang malah dari kecil sering datang kesini? apa itu bikin aku sama dia pacaran gitu?"


"Emang nggak?"


"Ya nggak lah, mana mungkin."


"Beneran?"


"Beneran, papa nggak percayaaan banget sih sama anaknya?"


"Dimitri?"


"Nggak, lagi tadi ketemunya juga nggak sengaja." dia mulai melahap makanannya.


"Kenapa?"


"Dia bawa kabur aku pas lagi di kerubungin orang."


"Kenapa kamu di kerubungin orang-orang?"


"Ish, papa nggak update deh, kakak kan udah terkenal." Rega muncul dengan ponsel di tangannya.


"Mama temen aku tadi ketemu kakak di Gasibu. Nih, temen aku pamerin fotonya di whatsapp." remaja itu menunjukan layar ponselnya, dimana gambar seorang ibu dan Rania terpampang disana.


"Cieee,... si oneng udah femes." Angga mencibir.


"Di sekolah aku juga rame. Seminggu ini yang dibahas kakak melulu, aku banyak di tanyain sama temen-temen. Yang nggak kenal juga tiba-tiba ngakrabin." ujar Rega.


"Cepet bener netijen cari info, sampai tahu kamu adiknya pembalap." Maharani menyahut.


"Papa kayak nggak tahu aja. Jangan-jangan sebentar lagi soal kakak yang bawa pulang cowok kerumah juga bakal jadi bahan ghibahan tetangga. "


Angga tertawa terbahak-bahak.


"Lagian si oneng emang nggak pernah bawa cowok kerumah ya, selain si Galang. Itu juga dia datangnya tiba-tiba nyelonong aja tanpa permisi."


"Gimana mau bawa temen kerumah? deket sama Galang aja dikiranya pacaran."


"Ya apa lagi, kalau cowok sama cewek temenan ya ada maksud lain. Nggak ada tuh yang murni temenan." Angga berujar.


"Masa?"


"Iyalah."


"Pengalaman papa gitu ya?"


"Iyalah." Angga melirik kepada Maharani.


"Cieeee, ... yang temen jadi demen." goda Rania kepada ibunya.


"Diamlah, cepat makanya. Sebentar lagi kita pergi." ucap Maharani.


"Kemana?"


"Rega ada pertandingan bola."


"Nonton?"


"Iyalah, kali-kali gitu semagatin aku. Bukan kakak aja." Rega menimpali.


"Dih, Ega cemburu?"


"Iyalah. anaknya papa kan bukan cuma kakak doang."


Rania memutar bola matanya, kemudian tertawa.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


Selamat tahun baru 2022 Gaes, semoga tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Sehat terus, bahagia terus, dan dukung terus karya ini.


lope lope sa Bandungeun 😘😘😘