All About You

All About You
Anya Dan Zenya



*


*


Rumah kediaman Satria sudah ramai hari itu. Keluarga dan kerabat berdatangan untuk menyambut kedatangan anak kembar yang beberapa hari yang lalu di lahirkan. Keturunan generasi ke empat dari keluarga Nikolai yang sudah di nantikan. Kemeriahan sudah terasa sejak pagi, bahkan sejak kabar kelahirannya di hari pertama.


Meski kebanyakan dari mereka pada awalnga tidak di perkenankan untuk datang menjenguk ke rumah sakit, tapi masih bisa datang ke rumah untuk merasakan kebahagiaan yang sama.


"Kamu hebat Dim!" Arfan menepuk punggung adik iparnya yang baru saja tiba.


"Apaan? kan yang lahiran aku, masa dia yang di puji?" celetuk Rania, tanpa merasa canggung sedikitpun. Namun membuat pria itu tertawa.


"Benar juga. Yang mengandung dan kesusahan selama kehamilan kan dia, kenapa Dimitri yang di beri pujian?" Dygta mengamini.


"Nah, bener kan kak? Dia kan cuma nanam saham doang?" celetukan Rania menjadi semakin tidak terkendali, dan Dygta pun tertawa karenanya.


Sementara Dimitri hanya mendelik.


"Bercanda, Dim." Dygta merangkul pundak adik laki-lakinya itu. "Selamat, kalian hebat." Katanya.


"Dan maaf, kami tidak buru-buru datang ke rumah sakit. Resort akhir-akhir ini menjadi semakin ramai dan kakak harus ikut mengurusnya." lanjut Dygta yang menyerahkan sebuah bungkusan besar berisi hadiah. "Untuk si Baby biar anteng." katanya.


"Makasih kak, nggak apa-apa. Babynya selamat kok." Rania mejawab.


"Bersyukur, hidup kita akan menjadi lebih ramai setelah ini." Arfan berujar.


"Tentu saja, baru seminggu mereka sudah membuatku pusing. Sering terjaga di tengah malam, dan tiba-tiba saja aku terbangun jika mereka menangis." Dimitri menjawab.


"Baru segitu saja kamu sudah mengeluh. Tidak ingat waktu memprosesnya ya?" cibir Dygta.


"Iya kak, dia ngeluh terus. Kadang ngomel-ngomel nggak jelas." adu Rania kepada kakak iparnya itu.


"Tapi untung aku nggak ngerti, jadinya nggak sakit hati."


"Hmm ... kamu mengadu ya?"


"Bukannya ngadu, cuma ngomong doang."


"Jangan begitu Dim. Kan anak kamu sendiri?" Arfan menyela.


"Iya, untung mama, papa, sama papi selalu ada. Jadi bisa gantian kalau aku lagi kecapean."


"Terus, teruskan saja mengadunya."


"Dih, ngadu nggak boleh, sedangkan kamu ngeluh terus?"


"Kamu baru dua, nih Om Arfan, empat sekaligus. Tidak pernah mengeluh walau cuma sekali." Dygta merangkul lengan suaminya seraya menatap wajah pria itu dengan penuh kebanggaan.


Sementara wajah pria yang di puji mulai terlihat merona. Dia bahkan terlihat menahan senyumnya.


"Om Arfan sudah pengalaman punya Ara, sedangkan aku?"


"Tapi tidak boleh mengeluh juga. Kan itu dari hasil kerja kerasmu sendiri." ucap Arfan, lalu dia kembali tertawa.


"Nah, ... benar." Dygta mendukung ucapan suaminya.


"Iyalah, iya." Dimitri memutar bola matanya.


"Jangan iya-iya tapi sikapmu seperti itu, kena batunya tahu rasa nanti!" Dygta mencubit lengan adiknya itu.


"Aww! kakak kenapa mencubit aku?"


"Biar kamu peka! nanti anak-anakmu dekat dengan orang lain, baru menyesal!"


"Ish, ..." pria itu mengusap-usap lengannya yang terasa sakit dan panas.


"Eh, ngomong-ngomong soal Ara, sudah sampai mana dia ya? kenapa jam segini belum sampai?" Dygta melihat layar ponselnya.


"Tadi dia menelfon sudah masuk Jakarta." Arfan juga memeriksa ponselnya.


"Siapa yang menjemput?"


"Dia tidak mau di jemput."


"Lho, terus pulang dengan siapa?"


Suara raungan sepeda motor menginterupsi percakapan mereka, dan semua orang menoleh ke arah gerbang yang terbuka.


Sebuah motor Kawasaki Ninja berwarna hijau memasuki pekarangan dengan dua penumpang yang tentu sangat mereka kenali.


"Duh?" Rania bereaksi.


"Galang?" Dia segera berjalan ke teras.


Dua orang itu melepaska helm, dan benar saja Galang dan Amara yang baru saja tiba.


"Dih? motor baru? kapan beli?" pertanyaan Rania segera menyambut kedatangan sahabatnya itu di depan rumah.


"Baru ketemu nanyain kabar kek, atau minimal cium tangan gitu? ini malah nanya soal motor?" Galang berjalan menghampiri, dengan Amara di belakangnya.


"Dih, ngapain cium tangan? nanti banyak yang salah faham."


"Ya tanya kabar kek?"


"Orang setiap hari telefonan? ngapain tanya kabar?"


"Dasar oneng!"


"Ehm, ..." Amara terdengar berdeham, merasa sedikit terabaikan setiap kali dua sahabat ini bertemu. Walau mereka selalu berdebat, cukup membuatnya merasa menjadi orah asing di antara mereka.


"Eh, Ara? Apa kabar." Rania segera menyapanya dengan ramah.


"Baik kak." Gadis itu menganggukkan kepala sambil tersenyum tak kalah ramahnya.


"Oh, iya kak." Amara melihat mobil milik orang tuanya yang terparkir tak jauh darinya.


"Hey, kenapa kalian malah berbicara di luar?" Dimitri muncul untuk memeriksa. Melihat istrinya yang malah berbicara dengan Galang.


"Ya udah, ayo masuk." Rania kembali ke dalam rumah. Diikuti oleh dua orang tersebut.


Amara segera menghambur ke pelukan kedua orang tuanya, sementara Galang berusaha berbaur dengan mereka. Meski tatapan tidak suka Arfan sempat membuat nyalinya sedikit menciut.


***


"Jadi, kita panggil apa mereka ini?" Dygta yang mendekap bayi perempuan milik adiknya itu berbicara. Dan dia tak henti-hentinya menciuminya seolah tidak pernah merasa puas.


Rania menoleh kepada Dimitri.


"Masih belum ada ya?" katanya yang mengerti raut wajah dari suaminya itu.


"Serius?" Dygta terkekeh. "Masa belum ada?"


"Kita minta papa sama papi aja, mungkin udah ada," ucap Rania.


"Tunggu. Sayang, kamu bisa memberi mereka nama? biasanya pilihan kamu bagus-bagus," ucap Dygta kepada suaminya.


"Hmmm ... tunggu." Pria itu tampak berpikir.


"Anya." namun Dimitri segera berbicara begitu mendapatkan ide.


"Apa?"


"Anya Rania Alexei?" lanjut pria itu yang kemudian tersenyum.


"Bagaimana? bagus kan?"


"Artinya?"


"Gadis cantik yang lemah lembut," ucap Dimitri, yang kemudian merebut bayi perempuan itu dari sang kakak.


Mereka mengangguk-anggukkan kepala.


"Terus yang ini?" Angga muncul membawa cucu laki-lakinya.


Dimitri terdiam lagi.


"Zenya." katanya.


"Zenya?" Semua orang serentak bereaksi.


"Anak bangsawan." kemudian dia tertawa.


"Kamu yakin akan menamai anak laki-lakimu dengan itu? apa nantinya dia tidak akan di ejek teman-temannya?" Angga berujar.


"Memangnya kenapa dengan nama itu? dia tetap akan menjadi kebanggaan keluarga Nikolai. Lagi pula siapa yang akan berani mengejeknya?"


"Duh?"


"Zenya Alexei Nikolai?"


"Hmm ...


Dasar orang Rusia! batin Angga.


"Memangnya papa punya nama lain?" Rania bertanya kepada ayahnya.


"Kenapa? kamu tidak suka dengan nama itu?" Dimitri terdengar gusar.


"Nggak, aku cuma ...


"Apa?" ekspresi wajah Dimitri sudah mulai tak enak di lihat.


"Bisa nggak yang agak Indonesia sedikit?" Rania berbicara dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan suaminya.


"Memangnya nama itu kedengaran asing?" Dimitri meninggikan suaranya.


"Aneh sekali kalau nanti dia main ke Bandung." Angga bergumam.


"Anehnya di mana?"


"Bayangkan nanti dia main dengan anak tetangga kita, dan mereka memanggilnya Zen?" katanya, dengan bayangan konyol di masa depan.


"Memangnya ada yang salah?" Dimitri mendebat mertuanya. "Zen juga bagus, aku juga di panggil Dim. Kadang-kadang Dimi." pria itu terdengar kesal.


Angga tampak menghembuskan napasnya.


"Terbayang kalau dia tinggal di Bandung, orang-orang akan memanggilnya Jen."


"Memangnya siapa yang bilang kalau dia akan tinggal di Bandung? aneh sekali. Kami kan tinggal di sini?"


"Sudah sudah, Oke. Zenya juga bagus." Rania melerai perdebatan antara suami dan ayahnya.


"Ngak apa-apa ya sayang? Zenya juga nama yang bagus. Gantengnya mommy." Rania merebut bayi laki-lakinya dari Angga.


*


*


*


Hadeh, ... perkara nama aja mereka mah jadi perdebatan ya?🤣🤣


Meet Dedek Anya dan Dedek Zenya