
🌹
🌹
"Papi yakin mau berkunjung? kenapa tidak memilih membiarkan kami untuk berkenalan lebih jauh? ini bahkan belum tiga bulan kami berhubungan." Dimitri mematikan laptop setelah menyelesaikan pekerjaannya sore itu. Dan disaat yang bersamaan ayahnya muncul menemuinya.
"Dan ketika kami menunggu kalian untuk berkenalan lebih jauh, maka kamu mungkin sudah melakukan hal yang lebih jauh pula. Dan kami sudah terlambat." jawab Satria secara diplomasi.
"Maksudnya?"
"Kamu pasti mengerti, kamu bukan abege lagi."
"Papi tahu sesuatu?"
"Tahulah, apa yang tidak papi tahu? semua yang ada di otakmu papi tahu."
"Duh?"
"Jadi sebaiknya jangan macam-macam, atau sesuatu akan terjadi setelah ini."
"Papi mengancam?"
"Sebut saja begitu."
"Aku anak papi lho, masa main ancam-ancam begitu?"
"Jangankan ancam, hajarpun papi lakukan kalau kamu berbuat kesalahan, apalagi sampai merusak anak gadis orang."
"Haih, ancaman papi mengerikan."
Apalagi kalau tahu perbuatanku sebelum bertemu Rania. Bisa habis aku.
Eh, ... jangan-jangan selama ini dia tahu?
"Kamu pikir selama ini papi diam saja karena tidak tahu? kamu salah. Semuanya papi tahu, hanya saja membiarkanmu untuk berhenti sendiri karena hal itu tidak dapat dipaksakan."
"Duh?" wajah Dimitri memucat.
"Jadi jangan macam-macam dengan yang satu ini. Selain dia masih anak kerabat kita, juga karena dia tidak pantas kamu perlakukan sepergi gadis-gadis diluaran sana yang bisa dengan gampangnya menyerahkan diri."
"Aku nggak macam-macam, satu macam saja kena hajar apalagi kalau macam-macam."
"Ya bagus, berarti dia mampu mempertahankan diri. Tapi papi tidak yakin bisa selama apa dia bertahan, mengingat kelakuanmu yang seperti ini membuat papi khawatir saja."
"Khawatir masalah apa?" Dimitri tertawa.
Malu sih sebenarnya, dia tahu jika sang ayah pasti tidak akan pernah melepaskan pengawasan darinya, namun jiwa mudanya tak mau dikendalikan. Segala sesuatu selalu ingin dia lakukan sesuka hati. Apalagi soal urusan pribadi, dia merasa dirinya berhak melakukan apapun yang diingikannya tanpa bisa dibatasi oleh siapapun, termasuk ayahnya sendiri.
"Jangan pura-pura, sudah papi katakan jika papi tahu semuanya."
"Kamu tahu apa?" Sofia muncul tak berapa lama setelah memeriksa beberap hal.
"Banyak."
Sang anak melirik, lalu kembali menatap ayahnya, kemudian menggeleng samar.
Satria menaikan sebelah alisnya saat menangkap isyarat dari putranya.
"Jadi kapan kita mau kerumah Angga?" perempuan itu duduk di samping suaminya.
"Sekarang." jawab Satria.
"Secepat itu? aku bahkan belum bersiap-siap." Dimitri bereaksi.
"Siap-siap untuk apa? ini hanya kunjungan biasa." jawab Satria dengan santai.
"Ya, apa saja. Aku bahkan baru selesai bekerja, setidaknya biarkan aku merapikan diri dulu."
"Apa yang mau kamu rapikan? kamu sudah tampan, masih rapi pula. Jadi tidak perlu merapikan apapun." sahut Sofia.
"Kadang aku bingung kalau mau datang ke rumahnya Rania."
"Bingung kenapa?"
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat papanya terkesan kepadaku. Aku lihat dia sepertinya nggak menyukai aku." adu nya kemudian.
"Apa? ada juga yang tidak menyukaimu ya? papi pikir tidak akan ada yang mampu menolak pesonamu? tapi ternyata, ada juga ya? Hahahaha ..." Satria malah tertawa.
"Ish, ... menyebalkan sekali." Dimitri mencebik.
"Memangnya apa yang Angga lakukan sehingga kamu merasa dia seperti itu?" Sofia menyela.
"Sikapnya nggak terlalu bersahabat. Dia bahkan sepertinya selalu menjaga jarak kalau aku datang menemui Rania."
"Kalau yang lainnya? bagaimana mama dan adik-adiknya Rania?"
"Oh, ... kalau itu sudah bisa ditangani. Mereka mudah di buat terkesan."
"Ya sudah, apa lagi yang kamu khawatirkan? hanya menaklukan Angga saja masa tidak bisa?" cibir Satria.
"Makanya jangan macam-macam," Sofia mendekat dengan cepat, dan tiba-tiba saja menarik ujung telinga anaknya itu dengan keras.
"Mama!" pekik Dimitri.
"Angga pun pasti sudah tahu kelakuanmu yang seperti ini. Memangnya apa yang kamu harapkan jika seorang ayah tahu anak gadisnya bergaul dengan pria nakal sepertimu? menyambutnya dengan ramah dan hangat? dalam mimpimu saja!" tarikannya di ujung telinga putranya semakin keras.
"Ampun mama! ini sakit sekali!" sang anak memohon.
"Haih, gemas sekali mama kalau ingat kelakuanmu." Sofia pun melepaskan telinga anaknya.
"Mama juga tahu ya?" Dimitri mengusap-ngusap telinganya yang memerah, terasa sangat sakit dan juga panas.
"Tentu saja! mengerikan sekali kelakuanmu itu! bagaimana kalau gadis-gadis itu hamil dan meminta pertanggung jawabanmu? mama tak bisa membayangkannya sama sekali."
"Tidak akan. Aku bermain aman."
"Kita tidak tahu mungkin saja kamu pernah ceroboh?"
"Tidak. Buktinya sampai sekarang aman-aman saja bukan?"
"Haih!!"
"Aku sudah berhenti Mom."
"Ya bagus Kalau benar. Tapi kalau bohong, awas saja!" ancam Sofia.
"Serius Mom. Semuanya gara-gara Rania." pria itu tergelak.
"Jelas saja, dia akan menghajarmu kalau kamu berbuat macam-macam lagi. Makanya, sebelum semuanya terlambat, ayo cepat kita resmikan hubungan kalian?"
"Mama serius nih?" Dimitri meyakinkan.
"Tentu saja, caramu bergaul sangat mengkhawatirkan."
"Memangnya mama sangat menyukai Rania ya, sehingga ingin cepat-cepat aku meresmikan hubungan kami?"
"Bukan masalah suka atau tidak suka Dim, ini masalahnya lebih dari itu."
"Terus apa?"
"Mama hanya ingin merasa tenang saja. Jika memang kamu serius lebih baik cepat pinang dia dengan pantas. Tapi jika hanya untuk bermain-main saja, lebih baik kamu lupakan dia. Karena yang kita hadapi ini masih kerabat, mama tidak mau kamu mempermalukan keluarga kita karena sudah mempermainkan anak gadis mereka." Sofia menjelaskan.
"Pikiran mama kejauhan. Aku serius dengan Rania."
"Jadi tunggu apa lagi? kamu sudah pantas punya pendamping, dan keadaannya juga sudah memungkinkan."
"Tapi Rania menolak untuk teralalu serius."
"Kenapa?"
"Dia masih memikirkan karir balapannya. Dia takut papanya menyuruhnya menikah kalau kami terang-terangan seperti ini."
"Ya menikah saja."
"Balapannya?"
"Semuanya bisa berjalan bersama. Lagipula kita datang bukan untuk langsung melamar kan? hanya kunjungan biasa. Hanya untuk memastikan kalau kamu memang serius."
Dimitri terdiam.
"Kamu tidak serius?"
"Tentu saja aku serius."
"Lalu Kenpa malah diam?"
"Kenapa mama dan papi melakukan ini? kenapa tidak membiarkan saja kami menjalani ini dengan santai?"
"Tidak ada orang tua yang bisa santai jika anak mereka sudah berhubungan dengan lawan jenis. Kami memiliki kekhawatiran sendiri."
"Bagaimana jika papanya Rania menolak?"
"Tidak apa-apa. Yang penting kita berusaha bersikap baik."
"Lihat wajahnya kalau ketemu aku jadi bikin aku segan."
"Kamu takut?"
"Bukan takut, tapi segan."
"Masa segitu saja segan? Angga masih manusia lho."
"Ah, ... papi nggak tahu sih?"
"Ya makanya kita cari tahu sekarang. Dan lihat apa yang terjadi setelah ini?"
🌹
🌹
"Kami ... hanya terkejut waktu Rania mengatakan kalau bapak dan ibu akan datang hari ini." Angga memulai percakapan setelah mereka menyambut kedatangan Satria dan Sofia juga Dimitri ke kediaman mereka pada petang itu. Dia mencoba untuk bersikap seramah mungkin, dan percayalah hal itu sangat sulit untuk dilakukan.
"Tenang saja, ini hanya kunjungan biasa. Hanya bersilaturahmi. Mengingat Dimitri yang sering berkunjung, dan kami hanya ingin memastikan saja." jawab Satria.
"Ah, iya pak. Soal itu."
"Benar, soal anak-anak yang sekarang ini sudah dekat, saya pikir kami perlu untuk melakukan sesuatu." Satria mulai menjelaskan maksudnya.
"Sesuatu?" Angga merasakan tubuhnya sedikit menegang.
"Ya, seperti yang sudah kita ketahui, bahwa beberapa bulan ini anak-anak sudah menjalin hubungan."
"Baru dua bulan pak." potong Angga.
"Ah, iya. Dua bulan." Satria terkekeh. "Sebagai orang tua saya melihat ini sebagai hal serius, dan melihat Dimitri juga serius jadi ... kami memutuskan untuk memastikan apakah Rania juga bersedia jika kami membawa ini ke jenjang yang lebih serius lagi?"
Angga mengerutkan dahi.
Sofia meremat tangan suaminya ketika merasa ucapan pria itu agak berbelit-belit.
"Kami berniat meminang Rania untuk Dimitri." ucap Sofia, tegas dan lugas.
Pasangan suami istri di depannya terlihat menahan napas mereka sejenak. Tak menyangka akan mendengar hal seperti ini sebelumnya. Terutama gadis yang dimaksud, dia malah mengkeret di ujung sofa dengan perasaan yang tiba-tiba saja menciut.
"Maaf bu?"
"Kami punya niat yang baik, kalau mengijinkan kami ingin hubungan mereka di resmikan saja. Setidaknya kami merasa tenang." lanjut Sofia dengan ketenangan yang luar biasa.
"Di resmikan? tapi mereka baru dua bulan berhubungan. Bagaimana bisa? apa tidak terlalu terburu-buru?" Angga berusaha menolak dengan cara sehalus mungkin.
"Kami pikir tidak, dan ini hal baik untuk dilakukan. Iyakan Dim?" Sofia menoleh ke arah putranya yang asyik menatap Rania yang duduk di seberangnya.
"Dimitri?" panggil perempuan itu yang seketika membuyarkan lamunan sang putra.
"Hah? ng ... iya, iya. Terserah mama gimana bagusnya."
Sofia mengerutkan dahi, dan dia kembali pada percakapan.
"Bagaimana menurut kalian?"
Angga terdiam untuk berpikir. Dia menatap Dimitri, yang tak melepaskan pandamgan dari Rania. Sementara putrinya itu hanya menunduk sambil memainkan jemarinya sendiri.
"Tidak usah dijawab sekarang jika belum bisa memberikan jawaban pasti. Kami faham situasinya seperti apa. Hanya saja kami ingin memastikan bahwa putra kami benar sering datang kesini dan menemui Rania. Itu saja."
Angga kembali mengalihkan pandangan kepada Sofia dan Satria.
Pasangan itu berbicara dengan sangat hatu-hati, seolah takut salah mengucapkan sesuatu. Pembawaannya yang tenang dan tidak tergesa membuat dia menyadari sesuatu.
"Saya tidak bisa memutuskan, semuanya akan kami serahkan kepada Rania." Angga menjawab, dia mencoba untuk tetap bersikap tenang walaupun gelisah melanda. Bagaimana tidak, ketika orang tua seorang pemuda dengan khusus mengutarakan niat mereka secara langsung disaat dirinya mencoba untuk menerima kenyataan bahwa anak gadisnya harus dia lepaskan.
Lalu pandangan tertuju kepada Rania, yang segera mengangkat kepala setelah mendengar ayahnya berbicara demikian.
"Apaan?" celetuknya dengan lugu seperti biasa.
Namun hal itu membuat Satria dan Sofia terkekeh. Sikap gadis itu bisa sedikit mencairkan suasana yang terasa agak tegang.
"Sayang, apa kamu bersedia jika kami Meminangmu untuk Dimitri?" Sofia nertanya kepadanya.
Rania menelan ludahnya cepat-cepat, bukan tak faham, tapi dia bingung harus memberi jawaban seperti apa. Ini hal pertama dan satu-satunya yang dia alami dengan tiba-tiba dan tentu saja membuatnya begitu terkejut.
Gadis itu kemudian menatap wajah ayahnya. Dia berharap, cinta pertamanya itu memberikan solusi yang baik baginya. Walau jelas dia menginginkan kebersamaan dengan Dimitri, tapi dia tak berani memutuskan. Selama ini Angga lah yang selalu membuat keputusan besar baginya.
"Tapi Rania masih harus balapan, dan kegiatannya sangat banyak. Seperti yang ibu tahu." ucap Angga setelah menerima sinyal permintaan bantuan dari putrinya.
"Kalau belum mau, tidak apa-apa. Kalian bisa tunangan dulu. Minimal ada ikatan sehingga kami tenang untuk membiarkan Dimitri pergi kemanapun dengan kamu." Sofia dengan usaha terakhirnya. Dia tidak akan membiarkan hal ini berakhir dengan penolakan, tidak jika dirinya yang menghadapi. Menurutnya hal ini adalah yang paling baik dilakukan. Dan nalurinya sebagai ibu mengatakan jika putranya memang harus bersama gadis ini.
"Tu-tunangan?" Rania tergagap.
"Iya, tunangan. Jika pernikahan belum bisa dilakukan, maka tunanganlah solusinya? kami tidak ingin niat baik ini tertunda, jadi kami harap ada hal lain yang bisa dilakukan untuk mengikat mereka." ujar Sofia dengan harapan dihatinya.
Angga menghela napasnya dalam-dalam.
"Saya berharap semua yang ibu dan bapak katakan itu benar." pria itu akhirnya berbicara lagi. "Dan Kami juga punya prinsip jika sesuatu yang baik itu tidak boleh di tunda, bukan?"
"Ya, benar." Sofia dan Satria mengangguk bersamaan.
"Dan niat baik itu harus di segerakan?" lanjutnya, dan dia mati-matian untuk berlapang hati.
"Ya,...
"Jika memang benar Dimitri punya niat yang baik kepada Rania, saya harap dia juga melakukanya dengan sungguh-sungguh." Angga akhirnya mau menatap pria muda yang akan merebut putrinya itu dari dirinya. Dan ini pertama kalinya Angga menatap Dimitri tanpa tatapan benci dan menyelidik.
"Dim?" panggil Sofia kepada putranya, dan Dimitri langsung saja menganggukan kepala.
"Saya sungguh-sungguh." katanya.
"Baik. Kalau begitu kenapa tidak langsung dinikahkan saja?" Angga dengan spontanitasnya.
"APA??" semua orang serentak.
"Bukannya niat baik itu harus disegerakan? dan Dimitri sungguh-sungguh? saya rasa tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda. Jika memang dia serius lebih baik benar-benar meresmikannya bukan? karena prinsip saya begitu Rania berhubungan dengan laki-laki, maka akan saya nikahkan." kini Angga berbicara panjang lebar.
"Oh, itu tidak terduga sama sekali, tapi ..." Sofia menoleh kepada putranya yang membeku.
"Bagaimana Dim?" dia bertanya.
Angga menyeringai samar, dia mengira pria muda dihadapannya mungkin akan menolak tantangannya, dan mengurungkan niatnya. Sebab pria bebas seperti Dimitri tidak akan bisa menerima ikatan secepat itu, begitu pikirnya.
Sementara Rania semakin mengkeret di ujung sofa dengan wajah yang memucat. Menolak tidak mungkin, sedangkan jika menerima juga bagaimana? dia bingung.
Karir balapan gue!!! rengeknya dalam hati.
"Dimitri? bagaimana menurut kamu jika kalian langsung menikah?" tanya Sofia lagi, dengan dada berdebar. Takut putranya mengutarakan penolakan.
Dimitri terdiam untuk beberapa saat.
"Deal." jawab sang putra dengan senyum khasnya, rasa kemenangan tampak jelas diwajahnya, yang seketika melenyapkan seringai samar di wajah Angga.
"Kapan? bulan depan? minggu depan? atau besok? aku siap." lanjut Dimitri, mengucapkannya seringan bernapas. Entah mengapa hal ini terasa begitu membahagiakan baginya.
"Baiklah, tidak secepat itu juga tuan!" Sofia terkekeh sambil merangkul pundak sang putra.
"Jadi kapan?"
"Tenanglah, ..." sergah Satria.
"Bukannya niat baik itu harus dissgerakan?" Dimitri membalikan ucapan Angga, Dan menatap wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya itu dengan percaya diri.
Ya, kini dia tak gentar menghadapinya, dan keberanian yang besar tiba-tiba saja muncul. Tak peduli pria itu akan bersikap bagaimana nantinya, yang penting dirinya sudah maju untuk berbuat sesuatu.
"Soal itu, bisa dibicarakan lagi nanti? saya harus memberi tahu keluarga yang lain. Ayah saya juga kak Gara." Angga berujar, sekedar untuk mengulur waktu.
"Ah, benar juga. Keluarga harus diberi tahu."
"Ya pak."
"Baiklah, yang penting pembicaraan ini sudah mendapat keputusan final, iya kan? jadi kita bisa sedikit tenang." ucap Satria, dan hal itu memang sedikit melegakan setidaknya bagi beberapa orang diantara mereka.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
kawin kawin kawin!!
siap-siap kondangan gaess 😂😂
like komen sama hadiahnya kirim yang banyak, buat kawinan, eh nikahannya di oneng dan kang sosor
lope lope sekebon cabe 😘😘