All About You

All About You
Ciuman Pertama



🌹


🌹


"Ingat, tetaplah fokus. Tidak boleh memikirkan apapun selain lintasan dan motornya." ucap Angga, dan kini mereka sudah bersiap di lapangan Gasibu. Dengan pakaian lengkap dan Ducati Panigale khusus untuk latihannya.


Rania menganggukam kepala, lalu dia merapatkan helmnya.


Dan latihanpun berlangsung dengan serius, gadis itu menggeber kuda besinya seperti biasa. Dia mencoba mengembalikan fokusnya yang sempat menghilang karena egonya yang mulai menguasai.


Rania mencoba menstabilkan mesin itu, dan dia kembali menyatukan konsentrasinya yang sempat terpecah. Hingga berhasil melakukan sampai beberapa putaran.


"Kalau fokus kamu tetap seperti ini, lintasan sesulit apapun nggak akan jadi alasan kamu gagal. Dan semuanya bisa kamu hadapi dengan tenang. Yang penting jangan egois dengan hanya memikirkan keinginanmu sendiri. Hal seperti ini tidak bisa kamu jalani sendiri. Kerjasama dengan crew sangat dibutuhkan, dan kamu tidak boleh menentukan keputusan sendiri. Karena kita adalah team, yang nggak bisa cuma jalan sendiri-sendiri."


Rania mengangguk-anggukan kepala.


"Udah, habis ini kita pulang. Si Galang sendirian dirumah lagi ngutak-atik si merah."


***


Rania tertegun Di depan cermin, dia menatap dirinya sendiri yang masih dalam balutan handuk dan setengah basah. Ingatannya kembali pada kejadian dini hari itu, dan tiba-tiba saja dirinya merasa kesal.


Ish, ... dasar cowok gila! makinya saat wajah Dimitri melintas dalam bayangan.


Kemudian dia segera berpakaian dan turun ke lantai bawah.


"Makan?" tawar Maharani saat putrinya muncul.


"Nanti." gadis itu membuka lemari pendingin dan mengambil dua buah minuman kaleng dari dalam sana.


"Galang masih di garasi?"


"Masih anteng." jawab Angga.


Rania berjalan menuju tempat dimana sahabatnya itu masih asik mengutak-atik Panigale merahnya. Mengganti beberapa sparepart dan memeriksa onderdil. Seringnya benda itu digeber di lintasan membuatnya memerlukan perhatian khusus untuk keamanan.


"Masih lama Lang?" Rania duduk di sebuah bangku di belakang pemuda itu.


"Dikit lagi."


"Banyak yang di benerin ya?"


"Cuma periksa aja. Mastiin keadaannya masih bagus atau nggak. Kan bahaya kalau nggak ketahuan, bisa mengancam keselamatan kamu."


"Oke." gadis itu menenggak minumannya.


"Ada masalah?" Galang tanpa menoleh ke arahnya.


Rania tak langsung menjawab.


"Kenapa?" tanya pemuda itu lagi, masih fokus pada pekerjaannya.


"Kenapa kamu selalu tahu kalau aku lagi ada masalah?"


"Nggak tahu, cuma nebak aja."


"Tapi tebakan kamu suka bener."


"Oh iya? jadi beneran kamu lagi ada masalah?"


Rani tak menjawab.


"Masalah apa? itu yang bikin kamu nggak fokus di lintasan kemarin? dan bikin kamu ngambil keputusan sendiri tanpa dengerin papa kamu?"


"Bukan, ... nggak ada hubungannya juga."


"Lah terus apa?" Galang selesai memasang baut terakhir, kemudian menghidupkan motor tersebut dan mencoba mengajaknya dalam keadaan stabil.


"Udah bagus." katanya, dan dia mematikannya.


Galang mundur ke arah Rania dan duduk dibangku kosong disampingnya. Menerima minuman kaleng dari gadis itu dan segara menenggaknya.


"Masalah itu biasa, tapi jangan sampai bisa mempengaruhi pekerjaan. Harus bisa membedakan antara urusan pribadi sama urusan pekerjaan. Kalau nggak, bisa kacau semuanya."


"Lagian, ada masalah apa sih sampai bikin kamu kehilangan fokus kayak gitu? biasanya juga paling dengerin apa yang Om Angga bilang. Bengal-bengal gini juga kamu kan anaknya nurut." dia mengusak kepala sahabatnya itu.


"Lang, ish... " Rania menyingkirkan tangan pemuda itu.


"Oneng nggak boleh kehilangan fokus. Kalau oneng sampai kehilangam fokus, bisa kacau dunia perbalapan." Galang tergelak.


"Aku mau tanya hal agak pribadi nih, tapi malu euy... " Rania Mulai berbicara.


"Dih... malu? biasanya juga malu-maluin?" Galang tertawa lagi.


"Serius lang."


"Ya udah apaan?" dia kembali menenggak minumannya.


"Kamu... pernah ciuman nggak?"


Galang tersedak, hampir saja dia menyemburkan minuman yang tengah di sesapnya.


"Ap-apa?" pemuda itu terperangah.


"Ish, ... bikin malu." Rania menutup wajah dengan kedua tangannya. "Kamu udah pernah ciuman belum?" dia mengulang pertanyaan.


"Mmm.. kenapa kamu nanya gitu?" Galang sedikit tergagap. Topik yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya yang juga tidak terpikir mungkin akan ditanyakan gadis itu kepadanya.


"Jawab dulu dudul, kamu udah pernah ciuman atau belum?" Rania bertanya lagi.


"Mmm... u-udah." dia bingung harus menjawab apa, karena faktanya dirinya belum pernah mengalaminya. Tapi gengsi juga jika mengaku demikian. Pemuda dua puluh tahun belum pernah berciuman? kedengarannya sangat memalukan.


"Beneran? sama siapa? aku nggak pernah tahu kamu punya pacar?" Rania menatap curiga.


"Dih ... emang kalau mau ciuman harus sama pacar aja? nggak kali."


"Masa?"


"Jaman sekarang mah ciuman bisa sama siapa aja. Mau sama temen sekalipun bisa."


"Beneran?"


Galang menganggukan kepala sambil menahan senyum. Rasanya geli sendiri dengan apa yang dia ucapkan. Betapa konyol dirinya. Dan sahabatnya ini lebih konyol lagi. Dia tidak mengetahui apa-apa tentang hal-hal selain motor dan balapan.


Astaga, gue dosa nih ngerjain anak orang. batinnya tertawa.


"Kamu ciuman pertama sama siapa Lang? kok aku nggak tahu sih? emang ada ya cewek yang deket sama kamu selain aku?"


"Dih, ... dia ngeledekin? emangnya kamu doang cewek yang deket sam aku?"


"Beneran? dari TK kita kan sama-sama terus. Makanya aku nanya, cewek mana yang deket sama kamu selain aku?"


"Ada lah... "


"Dih, main rahasia-rahasiaan?"


"Serah aku dong."


"Kemarin-kemarin nembak aku, tapi nyatanya kamu punya gebetan? mana udah ciuman lagi?"


"Yee... kamunya juga nolak, ya udah aku nyari lagi yang lain. Emangnya karena aku udah nembak kamu aku harus tetep nungguin kamu gitu ya? nggak juga. Ya aku cari yang lain." Galang dengan entengnya.


"Bisa gitu ya?"


"Bisa lah, masa nggak bisa? Aku nggak akan stuck di satu tempat. Kalau kamu ngga nerima aku, ya udah."


"Segampang itu ya untuk dapat ciuman? berarti nggak melibatkan perasaan?"


"Mm... nggak semua. Eh, ... ada deh yang libatin perasaan."


"Hum?"


"Perasaan enak atau nggak pas lagi ciuman." pemuda itu tertawa dengan keras.


"Ish, ...kamu." Rania mendelik.


"Mmm... e-nak,... " Galang kembali tergagap.


Mana gue tahu oneng, gue pan belum pernah ciuman. Lu mau nggak jadi ciuman pertama gue, biar sama-sama pertama gitu. Biarin lah nggak jadian juga. Asal lu jadi ciuman pertama gue, dan sebaliknya gue jadi yang pertama buat elu. hatinya bermonolog.


"Enaknya dimana?" tanya gadis itu semakin penasaran.


"Itukan kayak daging sama daging yang ketemu, terus ..." Rania memperagakan dengan kedua ujung tangannya yang dia kerucutkan, kemudian ditempelkan, persis seperti petemuan antara dua bibir yang tengah berciuman.


Dan bayangan ketika Dimitri menciumnya kembali melintas di pelupuk mata.


Aih, .. dia lagi! Rania mendengus kasar.


"Kamu nggak pernah nonton film romantis ya? udah segede ini masa kayak gitu aja nggak tahu?"


"Aku nggak sempat." Rania menggelengkan kepala.


"Kamu keasyikan main motor sama mainin kunci inggris di bengkel sih." Galang kembali mengusak kepalanya.


"Jadi?" gadis itu menatap Galang dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca.


"Apaan?"


"Enaknya dimana?" tanya nya lagi dengan polosnya.


"Haaaah... " Galang menggaruk kepalanya sendiri.


Nih kalau misalnya udah jadi pacar, gue sosor juga nih. Lama-lama kelakuannya bikin kesel, tapi nggemesin juga. Ah, ... bikin gue kagak tahan aja nih bocah. batin pemuda itu yang merasa kesal setengah mati.


"Kok ah?"


"Gini ya, oneng. Soal itu nggak bisa dijelasin dengan kata-kata, cuma bisa dirasain sama dinikmati. Tapi gimana ya, kalau nggak ada lawan nggak mungkin bisa ngerasainnya juga" Galamg berlagak santai, walau pada kenyataannya hatinya terasa tak karuan. Dia berharap dengan jawaban tersebut membuat Rania tak lagi bertanya.


"Aku cuma penasaran gimana rasanya. Soalnya kamu sampai bilang rasanya enak, tapi nggak harus ngelakuinnya sama pacar. Aku cuma mikir, gimana bisa dua orang ngelakuin itu tanpa ada perasaan, tapi ngerasa enak aja gitu."


Ah, ... pikiran ini mulai ngawur.


"Ya, ... coba aja sendiri kalau mau tahu."


"Hum?"


"Mau nyoba?" Galang dengan ide konyolnya, dan mengira gadis itu akan menjauh saat dirinya mencondongkan tubuh.


"Emang kamu bisa ciuman sama aku?"


"Ng ...


"Coba kalau bisa, kita kan temenan, aku nggak ada rasa sama kamu. Gimana ya nanti rasanya?" dan tingkah gadis itu malah lebih polos lagi.


"Yakin?" Galang dengan wajahnya yang mulai memanas.


"Hu'um." Rania menganggukan kepala.


Pemuda itu menelan ludah dengan susah payah. Baru saja dia memikirkannya, namun nyatanya hal itu sepertinya akan terjadi juga.


"Beneran?" dia meyakinkan.


"Beneran."


"Kan kita temenan dari TK?" Galang mengingatkan.


"Kan kamu juga bilang, ciuman bisa sama siapa aja, nggak harus sama pacar. Sama temen juga bisa."


"Mmm... " pemuda itu menoleh ke sekeliling. Garasi dan tempat di sekitarnya yang memang sepi, tak ada siapapun yang melintas. Sebagian penghuni rumah tersebut tampaknya sedang sibuk dengan kepentingannya sendiri-sendiri.


Dia menatap Rania yang tampak serius dengan ucapannya.


"Kamu serius?"


"Serius."


"Nanti jangan marah dan tampar aku ya?"


"Kenapa aku harus marah dan tampar kamu?"


"Kali Kamu akan marah kalau ada cowok yang nyium kamu?"


"Soal itu...


Aku bahkan nggak menghindar waktu pak Dimi nyium aku kemarin. Padahal kan aku nggak terlalu kenal sama dia.


"Ciuman pertama kamu sama aku dong? bukan sama pacar."


Ciuman pertama... dan wajah pria itu kembali terbayang.


Ish...


Suasana mendadak hening, dan dua sahabat itu sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing. Namun sesaat kemudian Galang mulai mendekatkan wajahnya. Hatinya sudah berdebar tak karuan, dan dia bersiap untuk melakukannya. Mendepatkan ciuman pertamanya dari sahabat yang dia kenal sejak TK.


Ini beneran Kagak ya? batinnya terus bermonolog, seraya wajahnya yang semakin mendekat kepada Rania.


Sementara gadis itu hanya menunggu hal tersebut terjadi. Dia hanya ingin membuktikan kepenasarannya, dan apakah yang diucapkan Galang barusan ada benarnya?


Dan bibir kedua sahabat itu hampir saja bertemu ketika tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di belakang kepala Galang, membuat tubuh pemuda itu terhuyung ke depan da dia hampir saja terjatuh.


"Disuruh benerin motor malah pacaran!" Angga bersedekap di belakang mereka. "Berani-beraninya mau cip*kan lagi? udah bosan hidup ya kalian?"


"Ampun Om, ini nggak kayak yang Om pikir." Galang berbalik, rasa takut dan terkejut tentu saja segera menguasai.


"Kamu pikir saya ini buta apa?"


"Kamu lagi? diem aja mau di sosor si Galang? buka muhrim!!" ucap Angga kepada sang putri.


"Nggak Papa!!" Rania pun terperangah.


"Dih, dikiranya gue oon apa? ni jangan-jangan kalian udah sering cip*kan ya kalau lagi berdua?"


"Nggak!!" keduanya menjawab serentak.


"Bohong."


"Asli Om. ni baru mau. eh... " Galang kemudian menutup mulutnya.


"Dasar!" Angga kembali menepuk kepala anak tetangganya itu dengan keras.


"Aduh!! ampun om, kan nggak jadi."


"Iya, karena saya keburu datang. Kalau nggak? kali lebih dari cip*kan? bisa hamil si oneng."


"Papa ih, kejauhan mikirnya!!" protes Rania.


"Kenyataan Oneng!!" tukas Angga.


"Pulang sana kalau motornya udah beres!!" usir Angga kepada Galang.


"Tapi Om?"


"Pulang nggak? mau saya gorok?" ancam pria 43 tahun itu.


"Nggak om, iya iya aku pulang." Galang segera berlari keluar dari garasi.


"Kamu masuk sana! lain kali nggak boleh lagi dua-duaan sama si Galang. Nanti yang ketiganya setan." katanya kepada putrinya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


meet Aa Galang yang hampir aja ngemodusin si Oneng. 🤣🤣🤣