
🌹
🌹
Pesawat berhasil melewati badai yang kembali berkecamuk di atas Samudera Hindia walau dengan susah payah. Mereka harus bertahan melewati awan tebal dan angin kencang juga petir yang menyambar. Memaksa mesin dengan kekutan besar itu menerjang gejala alam yang benar-benar tidak dapat di prediksi. Padahal beberapa saat sebelumnya langit cerah dan tampak baik-baik saja, namun tak lama kemudian badai tersebut kembali bergejolak.
Namun pengalaman pilot yang telah mengalami berbagai kondisi alam mampu membawa mereka keluar dari badai dan melesat menuju rumah. Hingga setelah delapan jam berikutnya pesawat tersebut memasuki wilayah penerbangan Indonesia tepat pada dini hari.
Sinyal permintaan pendaratan sudah di kirimkan dan menara pengawas telah merespon. Mereka pun menerima titik koordinat di mana pesawat harus mendarat.
Namun guncangan kembali terjadi beberapa kali, dan lagi-lagi menimbulkan ketegangan bagi dua penumpang utama di kabin.
"Hanya turbulensi, Sir." terdengar suara pilot sambil terkekeh.
Dimitri memutar bola mata sambil menggelengkan kepala, kemudian kembali menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Kurang dari sepuluh menit kita akan tiba di bandara, Pak. Di mohon mempersiapkan diri." seorang pramugari muncul dari kabin crew, memberitahukan apa saja yang harus mereka laukan, seperti biasa.
Dimitri dan Andra kembali memasang sabuk pengaman, dan mereka bersiap. Namun pesawat kembali berguncang, dan kali ini lebih keras. Kemudian seberkas cahaya muncul dari sebelah kiri. Petir yang tiba-tiba saja muncul beberapa kali dan cukup menyilaukan padahal langit sedang gelap-gelapnya.
Dimitri menoleh ke luar jendela dan matanya membulat seketika. Asap pekat muncul dari baling-baling pesawat, diikuti percikan dan api yang membesar.
Lampu darurat di ujung kabin menyala, kemudian pilot kembali berbicara.
"Keadaan darurat, baling-baling utama bermasalah, dan kita bersiap untu pendaratan darurat." katanya.
Kemudian pramugari muncul lagi, "Ma-maaf pak?" wajahnya memucat.
"Kita harus bersiap untuk pendaratan darurat." katanya yang kemudian mengambil beberapa benda. Rompi pelampung, juga kantung parasut.
Kemudian pesawat kembali berguncang, diikuti lampu yang awalnya menyala menjadi padam seluruhnya. Dan keadaan menjadi gelap dan hening. Tiga orang tersebut saling pandang.
"Mesin pesawatnya mati!" ucap Andra.
Ketinggian pesawat menurun drastis, dan mereka tidak sempat terjun karena terlalu beresiko.
"Bersiap untuk benturan!" dua pilot dan tiga crew lainnya berpindah ke kabin penumpang.
Pilot utama bahkan memilih untuk tak melontatkan dirinya sendiri, padahal dia mampu melakukannya dari balik kemudi.
Mereka merunduk di bawah kursi, melindungi kepala masing-masing ketika beberapa detik berikutnya badan pesawat menghantam permukaan air dengan keras. Terdengar suara debuman yang begitu keras dan percikan air yang cukup dahsyat. Kemudian guncangan yang luar biasa hebat kembali terjadi.
Tak ada yang tidak menjerit, ketakutan jelas mendominasi ruagan di dalam pesawat yang di isi oleh delapan penumpang tersebut. Andra bahkan meraup kepala Dimitri untuk melindunginya dari kemungkinan cedera parah. Kemudian keadaan berangsur tenang. Hal yang luar biasa adalah pesawat tersebut tak langsung tenggelam begitu menghantam air, kecanggihan disain dan teknologinya memungkinkannya untuk mengambang beberapa saat.
Mereka sama-sama mengangkat kepala, dan air laut tampak perlahan mengisi ruangan.
"Waktu kita kurang dari satu jam untuk keluar." ucap sang pilot yang bangkit.
"Kamu baik-baik saja Dim?" Andra memeriksa keadaan Dimitri.
Pria itu hanya mengangguk tanpa bersuara, meski sejujurnya kepalanya terasa pening setelah pelipisnya membentur bagian bawah kursi.
"Cepat-cepat!" seorang crew pria membuka pintu darurat di atas badan pesawat.
Crew lainnya menyalakan suar dan meluncurkannya hingga meledak di langit, tanda permintaan bantuan kepada saiapa pun yang mungkin dapat melihat mereka.
"Cepat Dim!" teriak Andra, dan Dimitri terus mengikutinya.
Enam orang sudah berada di perahu karet, menunggu dua orang terakhir yang masih berusaha turun dari pesawat yang hampir tenggelam. Dan setelah mereka berhasil masuk, maka mereka berusaha menjauh.
Dari jarak belasan meter Dimitri menatap pesawat milik keluarganya perlahan tenggelam ke dalam air laut yang pekat, sementara mereka berada di sebuah perahu karet di antah berantah.
Dia menatap satu persatu orang-orang yang berada bersamanya, ketakutan jelas mereka rasakan, kejadian beberapa saat yang lalu menghantam akal sehat mereka, dan belum tentu selamat juga. Mengingat kini mereka berada di tengah laut, entah akan menemukan daratan atau tidak.
🌹
🌹
"Tim SAR menemukan sebuah perahu karet mengambang tanpa penumpang di lepas pantai Kepulauan Seribu. Perahu dengan kode N-33 tersebut di yakini berasal dari pesawat Boeing 767-33A ER milik Nikolai Grup. Di temukan puluhan kilo meter dari titik bangkai pesawat terjatuh." pembaca berita kembali menyampaikan kabar terbaru, pada hampir sore hari.
"Ya Tuhan! apa lagi ini?" Sofia kembali histeris dan semua orang pun berduka.
"Galang!" panggil Satria kepadanya yang menerima panggilan telfon setiap satu jam sekali.
"Helikopter masih mengawasi dari atas, pak." ucap Galang yang tiba-tiba saja menjadi pihak yang paing sibuk mengurus banyak hal.
"Empat crew di temukan di pinggir pantai pulau Onrust, sedangkan dua pilot mendapat pertolongan dari nelayan. Sisa dua penumpang yang masih belum diketahui keberadaannya. Tim sudah di pecah menjadi beberapa bagian dan mereka di sebar ke beberapa pulau sekitar. Mengikuti petunjuk korban selamat yang terpisah karena ombak besar sempat menghantam perahu karet yang mereka tumpangi." berita terus di perbaharui setiap waktu, sementara pencarianpun tampak belum akan di hentikan.
Setidaknya harapan kembali muncul ketika keterangan dari penumpang yang selamat di dapatkan, bahwa Andra dan Dimitri sebelumnya ada bersama mereka, di dalam perahu karet yang kemudian terbalik akibat di hantam gelombang tinggi di tengah lautan. Yang kemudian menyeret sebagian dari mereka ke pinggiran hingga akhirnya ditemukan
Sementara Rania tetap tak beranjak dari sofanya, meski berkali-kali orang-orang menyuruhnya untuk beristirahat di kamar.
Seseorang menyodorkan secangkir coklat hangat yang masih mengepulkan uap tipis kepadanya. Rania pun mendongak, dan sosok Amara mendominasi pandangannya. Gadis itu tersenyum samar juga ragu, apakah perempuan di depannya akan menerima pemberiannya atau tidak.
"Kakak belum makan sejak pagi." ucap Amara, dengan suara pelan.
"Aku juga bikin untuk yang lain." dia menatap beberapa orang yang juga tengah meyesap minuman buatannya yang dia hidangkan bersama makanan kecil.
"Se nggaknya isi dulu perut kakak walau cuma sedikit, kasihan babynya." katanya lagi, lalu dia duduk di samping Rania dengan tangan yang masih memegang cangkir keramik berisi cokelat hangat tersebut.
Dengan tangan bergetar Rania menerimanya, kemudian menyesapnya perlahan.
Amara menghembuskan napas lega, setidaknya tak ada penolakan dari perempuan itu jika dia menggunakan alasan bayi dalam kandungannya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
.