All About You

All About You
Si Tukang Pamer



🌹


🌹


"Abis ini kamu mau kemana Lang?" Rania menyuapkan makanan terakhirnya sore itu, sebelum memutuskan untuk kembali ke guesthouse bersama sang ayah yang sudah terlebih dulu pergi.


"Mau jalan dulu lah, ada yang ngajak ketemuan." jawab Galang yang sudah disibukan dengan ponsel pintarnya.


"Cieeee... ada yang ngajak ketemuan? cewek Lang? jauh juga sama orang Bogor?"


"Bukan oneng!! Ada temen."


"Temen apa temen?"


"Temen Ran. Sesama komunitas motor juga."


"Waahh... asik kayaknya. Mau ikut boleh?"


"Jangan lah. Nanti Om Angga nyariin, mana besok kualifikasi lagi? kamu harusnya istirahat."


"Lama nggak?"


"Nggak sih, paling satu atau dua jam am doang soalnya aku juga mesti siapin buat besok juga kan?"


"Ya udah, ikut."


"Nanti papa kamu?"


"Gampanglah itu."


"Beneran?"


"iya."


"Awas ya, kalau om Angga marah aku nggak tanggung jawab."


"Iya Lang. Kamu cerewet deh."


"Bukan cerewet oneng, nanti kita kena masalah. "


"Kita?" Rania tertawa. "Kamu bilang gitu kayak kita takut kepergok pacaran aja deh?"


Galang terdiam. Dia menatap wajah gadis yang telah dikenalnya sejak TK itu lama-lama. Dan ya, perasaannya tidak berubah sejak pertama kali dia menyadarinya sejak SMP, saat melihat gadis itu berontak melawan kakak kelas yang melakukan perundungan kepada mereka di hari pertama masuk sekolah.


"Wooyy!! malah diem?" Rania melambaikan tangan di depan wajahnya.


"Hmm... tapi jangan aneh-aneh ya? nanti aku yang diamuk papamu."


"Iya Lang."


*


*


Dimitri memutuskan untuk berpamitan kepada sang kakak setelah menikmati hidangan sore di sebuah kafe sebelum mereka kembali ke resort di sisi lain kota Bogor yang berjarak cukup jauh dari tempat mereka berkumpul kini.


"Kakak langsung pulang ke Jakarta?" Amara mengikuti langkahnya hingga mereka tiba di parkiran.


"Iya, besok banyak pekerjaan."


"Besok kesini lagi nggak? kan kualifikasinya besok siang?"


"Kalau sempat. Kenapa?"


"Kalau kakak kesini lagi aku mau minta papa antar lagi kesini, biar bisa nonton bareng." Amara tersenyum lebar.


"Nggak janji ya? takutnya nggak bisa."


"Iya, Tapi kalau kakak jadi pergi telfon aku, nanti aku langsung minta papa antar kesini."


"Oke."


"Ara?" Arfan memanggil ketika putrinya tak kunjung menjauh dari Dimitri.


"Sudah, sana pulang."


"Nanti telfon aku ya?"


"Hmm...


"Aku tunggu."


"Oke Ara." kemudian mereka berpisah.


Dimitri duduk santai di kursi belakang saat mobil yang ditumpanginya melesat di jalan raya menuju Jakarta. Dan dia baru saja akan menjawab telfon dari Irina ketika melihat seseorang yang dikenalinya berkendara disamping mobilnya.


Sebuah motor cross berwarna hijau yang ditumpangi dua orang muda mudi, yang salah satunya dia kenali sebagai Rania. Dari rambut coklat kopi susunya yang berkibar-kibar tertiup angin sore Bogor yang menyejukan.


Dimitri memperhatikan tanpa membuka kaca jendela mobilnya, namun pemandangan itu terlihat cukup jelas dari dalam sini.


Mereka tampak tengah berbincang, hal itu terdengar dari obrolan dan tawa yang terus bergulir sepanjang perjalanan. Tawa Rania pecah saat Galang melontarkan candaan, lalu gadis itu memukul-mukul punggung pemuda tersebut.


Dimitri mendendengus kasar, entah mengapa dia merasa tak senang akan hal tersebut. Seolah tengah memergoki kekasihnya yang sedang berselingkuh.


Hmm? pemuda itu mengerutkan dahi.


Ada apa dengan Otakku ini? dia bergumam.


Kendaraan mereka berhenti berjalan ketika lampu merah di depan menyala, dan motor tersebut masih berada disamping mobilnya. Mereka bahkan tak berusaha untuk bergerak lebih ke depan, obrolan itu masih terdengar dan kini semakin jelas. Mereka berdua tertawa bersama.


"Ish, ...ini menyebalkan." Dimitri menggerutu, dan dia tak tahan untuk menahan reaksi.


"Hey, Kenapa kamu malah berkeliaran? bukankah besok ada pertandingan?" pria itu menurunkan kaca mobilnya.


Rania menoleh untuk mencari asal suara.


"Ck! sebut nama orang itu yang benar! Dimi Dimi kepalamu?" dia menggerutu.


"Dih, tiap ketemu ngomel-ngomel melulu pak? nggak sehat buat jantung lho."


"Kemana Kamu sore-sore begini? bukannya diam di tempat istirahat malah berkeliaran?"


"Mau refreshing dulu pak, biar mggak tegang."


"Kemana?"


"Bapak Kepo."


"Ish, ...


"Apa sih Ran?" Galangpun menoleh mendengar perdebatan di belakang.


"Ssstt.. nggak usah ikut campur, ada sponsor yang lagi ngomel." Rania mendorong wajah sahabatnya itu untuk kembali menghadap depan.


"Mana-mana? aku mau tahu sponsor kita yang mana?" Galang melihat kesana kemari.


"Disini b*go!" Rania memarik kembali wajah pemuda itu kebelakang.


Sementara Dimitri mendelik sebal.


"Pulang sana!" ucapnya, saat lampu berubah hijau dan kendaraan di depan mulai bergerak.


"Bapak aja yang pulang, saya mau hang out dulu." kemudian motor bergerak menjauh.


"Hey! stranaya...


"Ish, ..." dia terus memfokuskan pandangannya pada motor tersebut, yang bergerak cepat menyalip beberapa kendaraan di depannya.


"Ikuti mereka pak." ucap Dimitri kemudian.


"Maaf pak?"


"Kejar motor hijau itu!" Dimitri berteriak.


"Baik pak." kemudian mobil itu menambah kecepatan, saat jalanan di depan sedikit lengang, mereka memutuskan untuk mengejar gadis tersebut.


Tak kurang dari dua puluh menit mereka tiba di alun-alun kota yang mulai ramai pada sore itu. Orang-orang sudah berkerumun di setia titik yang sebagian besar dari mereka merupakan anak muda.


Tempat tersebut memang terkenal sebagai tempat nongkrong anak muda, selain berada di jantung kota hujan, juga merupakan tempat strategis sebagai perlintasan dari segala arah.


Tempat yang cukup menarik juga karena berada diantara beberapa bangunan bersejarah. Sementara tempat tersebut juga berada tepat di dekat statsiun dan merupakan perhentian transportasi masal dari berbagai arah. Menjadikannya sebagai tujuan utama siapapun yang akan bertandang ke kota tersebut.


Dimitri turun dari mobilnya setelah melepaskan jas untuk menghindari perhatian berlebih dari orang-orang di sekitar. Lalu mengedarkan pandangan ke seluruh area, mencari keberadaan gadis itu.


Dan sebuah kerumunan menyita perhatiannya saat sorakan terdengar mendominasi sebagian besar lapangan parkir. Ketika seorang gadis yang dia kenal terlihat maju menghampiri sebuah motor besar sejenis Kawasaki Ninja berwarna hitam.


"Ayo Ran, ... tunjukan kemampuanmu!" Galang terdengar berteriak.


"Cantik-cantik nggak usah naik motor, nanti jatuh. Sayang mukanya lecet." Rania terlihat menoleh dengan raut tak suka, namun dia tetap menghampiri motor tersebut.


Sorakan mengejek terus mengudara saat gadis itu menaikinya dan mengenakan helm, dan dia bersiap. Menyalakan mesin, menaikan standard, dan memutar gas hingga terdemgar suara meraung-raung diantara kerumunan.


"Buktikan Ran. Bungkam mereka." Galang menyemangati.


Kemudian gadis itu mulai melajukan motor besar yang ditungganginya. Dia berputar setelah beberpa puluh meter kemudian kembali, dengan menambah kecepatan, dan di detik berikutnya sesuatu diluar dugaan terjadi.


Rania memutar gas lebih kencang sambil menaikan bagian depan motor tersebut ke atas. Dengan kedua tangan mungilnya dia menguasai mesin gagah itu dengan mudahnya. Sehingga hanya ban belakangnya saja yang berjalan diatas aspal.


Seketika suasana sedikit berubah hening, sebagian besar dari mereka bungkam dengan rasa terkejut juga kagum, sebelum kemudian mereka semua kembali bersorak. Kini berubah menjadi sorakan semangat.


Semangat terus menguar dari gadis itu, dan adrenalinnya terpacu cepat. Mebuatnya ingin melaukan lebih dari sekedar berkendara dengan sedikit atraksi. Di menit berikutnya dia berputar arah lagi dan melakukan hal yang sama, menaikan bagian depan motornya lebih tinggi namun kali ini dia melakukan hal lebih gila lagi.


Rania menaikan kedua kakinya, kemudian berjongkok diatas jok, masih dengan hanya ban bagian belakang yang melaju kencang diatas aspal. Kemudian dia berdiri dan menegakkan tubuhnya untuk beberapa saat. Dan mampu menjalankan mesin beroda dua tersebut dengan stabil.


Hampir semua orang dibuatnya menganga, termasuk Dimitri yang berdiri diantara kerumunan.


"Eta devushka sumasshedshaya.(gadis itu gila!!)" dia bergumam. Dan tentu saja jantungnya berdegup kencang menatap atraksi tersebut. Pikirannya membayangkan jika akan terjadi sesuatu pada gadis itu dan dia mengalami kecelakan fatal.


Rania mengakhiri aksinya, dan dia berhenti tepat di depan pria yang tadi mengejeknya, kemudian melepaskan helm.


"Siapa bilang kalau cewek akan jatuh kalau naik motor? lemah!" cibirnya, kemudian turun.


Dimitri menatap heran sekaligus kagum, dia tak habis pikir bagaimana bisa gadis imut dengan tubuh mungil itu mampu melakukannya? bagaimana bisa dia menguasainya seolah benda tersebut hanya merupakan mainan kecil baginya?


"How?" dia bergumam lagi.


Pria itu hampir saja memanggil Rania ketika disaat yang bersamaan gadis itu menghambur ke pelukan Galang, dengan tawa renyah dan teriakan riang.


"Tadi itu bagus kan?"


"Hu'um, ... kamu hebat!!" Galang menyambutnya dengan tak kalah riang.


Dan hal tersebut menghentikan Dimitri dari apa yang ingin dilakukannya, ketika dadanya bergemuruh dan tiba-tiba saja terasa panas.


"Dasar, tukang pamer!!" gerutunya, kemudian pergi.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


Warning!! terjadi erupsi di gunung Dimitri, warga diharapkan segera mengungsi. 😂😂


udah waktunya vote dong gaess, tapi jan lupa juga like komen sama hadiahnya.


lope-lope sa alun-alun. 😘😘