All About You

All About You
Ego



🌹


🌹


Babak kualifikasi kemarin tampak cukup menegangkan. Beberapa juara dunia mulai menampakan taringnya, dan membuat posisi beberapa pembalap baru cukup rawan. Bahkan sebagian kecil dari mereka hingga tersisih jauh di posisi terakhir.


Begitupun dengan keadaan hari ini cukup memanas dan mereka tak memberikan kesempatan untuk yang lain agar bisa menyelinap.


Rania bahkan harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan posisinya agar tetap di urutan ke dua belas. Setelah mengalami insiden tergelincirnya satu orang pembalap asal Taiwan yang menyebabkan kecelakaan beruntun.


Namun gadis itu cepat menguasai keadaan. Walau bayangan kecelakaan masih berkelebat di pelupuk mata hingga hampir membuatnya tak bisa mengendalikan Ducati Panigale merahnya.


"It's Ok, it's OK. Tenangin dulu Ran, nggak apa-apa." suara sang ayah terdengar dari ujung sana.


"Tetap fokus Ran." pria itu menenangkan keadaan.


"Aku di posisi berapa Pah?" gadis itu berteriak.


"Dua belas. Nggak apa-apa, itu juga sudah bagus. Bertahan disana."


"Aku bisa Ngejar yang di depan Pah."


"Nggak usah maksa, dua belas juga bagus... " namun terlambat, anak gadisnya itu sudah melesat mendahului instruksinya.


"Ran!! Aarrgghh!!" pria itu melepaskan headphone dari kepalanya.


Rania menggeber kuda besi supernya dan melewati satu persatu pembalap di depannya.


Tiba-tiba saja ego dan semangat mudanya menguasai dan membuat dia melupakan ucapan sang ayah, dan Rania melesat tanpa kendali.


Di putaran ke enam belas dia merasa aman saat hanya tersisa tinggal dua pembalap di depan. Kepercayaan dirinya sedang diatas angin dan dia tak mau mendengarkan. Fokusnya terpecah antara mengejar dua pembalap tersebut dan mengendalikan tunggangannya dalam kecepatan stabil. Sehingga di detik-detik terakhir sampai dia hampir saja menyalip salah satu dari mereka, gadis itu malah kehilangan fokus dan laju Ducatinya melebar ke tengah lintasan. Sehingga membuatnya menjauh dari perhitungan.


Dan dalam sekejap saja beberapa motor di belakangnya mengejar dan merebut posisinya.


"Ah, sialan!!!!" gadis itu berteriak, sambil berusaha mengembalikan motornya ke jalur yang seharusnya. Namun terlambat, dia tertinggal di belakang hingga finish.


Angga mengusap wajahnya kasar dan dia kembali melepaskan headphonenya. Dia sudah tak memiliki semangat untuk menghadapi hari itu.


🌹


🌹


Dimitri menatap layar televisi yang tengah menyiarkan acara Women Superbike Grand Prix Marina Bay Singapura pada sabtu sore. Tampak puluhan motor tengah adu kecepatan saling rebut posisi terdepan. Sementara Rania tampak tertinggal jauh di belakang.


"Pantas saja, ... dia sedang balapan di Singapura. Kenapa aku bisa lupa?" pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Heh, kau bahkan tak ingat aku ya? duniamu hanya seputar motor dan balapan, juga makan.


Dimitri terkekeh ketika dia ingat kebersamaan mereka. Saat gadis itu membicarakan banyak hal, tertawa bersama, bahkan mereka makan bersama untuk pertama kainya. Dan Rania yang selalu bersikapa ada adanya. Tanpa memandang dirinya sedang bersama siapa atau bagaimana harus bersikap. Dan Dimitri senang akan hal itu. Dia merasa memiliki teman yang sepadan, yang tak menganggapnya lebih tinggi karena posisinya sebagai sponsor, atau karena statusnya sebagai putra seorang Nikolai, yang selalu mudah mendapatkan sesuatu, tanpa harus bekerja keras dan berusaha lebih. Segala hal tentu akan datang menghampiri tanpa basa-basi.


Tentu saja, karena gadis itu tak mengerti dengan hal-hal semacam itu, dan dia memang tak peduli. Namun itulah bagian yang paling dia sukai. Rania yang apa adanya.


Apa masih ada sisa ruang di hatimu selain apa yang sedang kamu jalani kini? dia terdiam lagi.


Kamu bahkan tidak mempedulikan aku, tapi mengapa aku terus mengingatmu?


Rania, Rania. Seberapa berartinya kamu sehingga aku harus berusaha lebih? padahal sepertinya kamu bahkan tidak peduli dengan apapun. pria itu kembali terkekeh.


Bukankah ini terlalu konyol untuk di perjuangkan? mereka baru saling mengenal, dan bahkan hidup di jalan dan dunia yang berbeda. Tapi bagaimana bisa sesuatu dapat mempertemukan keduanya dalam beberapa kesempatan aneh? sehingga membuat dirinya memiliki perasaan lain kepada gadis yang awalnya juga dia sebut aneh itu.


***


Malam telah beranjak larut, namun Dimitri tak sedikitpun dapat memejamkan mata. Sesuatu terus saja mengganggu pikirannya. Dunianya kini memang telah dipenuhi oleh Rania, namun dia tak benar-benar yakin akan hal itu.


Perasaan aneh ini bisa saja hanya sesaat dan mungkin saja tak akan bertahan lama. Hanya karena gadis itu berbeda dari kebanyakan gadis yang dia kenal. Mungkin hanya sebatas kekaguman semata.


Yeah, ... mungkin hanya kagum, atau sedikit suka karena dia berbeda.


Cinta apanya? hati ini sedang bercanda ya? tidak mungkin aku benar-benar memiliki perasaan itu kepada perempuan seperti dia.


Hah, ... baru segini saja aku sudah lemah?


Ting!!!


Suara notifikasi pesan di ponselnya berbunyi nyaring.


[Undangan party dari CEO Art 'N Build Design masih berlaku pak. Sebagian staf sudah berada disana.] pesan dari salah satu bawahannya yang mengingatkan tentang undangan pesta dari perusahaan rekanan mereka.


Dia bangkit turun dari tempat tidurnya, seraya menyugar rambutnya yang sudah berantakan.


[ CEO masih menunggu kedatangan bapak.] pesan dari bawahannya lagi.


Dimitri berpikir sebentar, dan dia baru ingat. Minggu-minggu terakhir dirinya memang sudh tidak lagi menghadiri pesta semacam itu, dan memang dia juga merasa tak memiliki minat lagi.


Tapi kali ini sepertinya pesta itu bagus juga untuk dihadiri. Selain menghilangkan penat juga sebagai cara untuk mempererat kerjasama perusahaan dalam bentuk lain bukan?


Pria itu segera menghambur kedalam walk in closset. Mengganti pakaiannya dengan yang lebih bagus.


Dia akan kembali berpetualang, seperti saat sebelum dia mengenal gadis itu. Karena dunianya tidak boleh berhenti di satu titik saja. Dirinya merasa masih pantas berpetualang, merasakan hal-hal luar biasa yang mungkin tidak akan didapatkannya nanti.


Aku kan Dimitri Alexei, satu gadis saja tidak boleh menghentikan aku. dia berbicara di depan cermin.


Dengan gaya rapi dan menarik di meninggalkan huniannya untuk kembali berpetualang. Mencari apa yang memang selama ini selalu di dapatkannya.


Hanya berkendara beberapa menit saja dari apartemen dia tiba di sebuah klub malam ternama di kota Bandung, yang tentunya sudah dia ketahui reputasinya. Ruang pesta kelas atas yang dipastikan banyak gadis-gadis menggoda yang berkeliaran, baik yang mencari uang maupun yang sekedar mencari kesenangan sesaat.


"Pak?" seorang bawahannya yang dia kenali datang menghampiri.


"Datang juga? nggak nyasar pak?"


Dimitri menggelengkan kepala.


"VIP Di lantai atas, dan pestanya baru mau mulai." ucap pria itu, yang menggiring Dimitri ke lantai empat bangunan tersebut.


Ruangan temaram yang berkapasitas tidak lebih dari tiga puluh orang itu sudah mulai ramai. Sebagian besar pengunjungnya dia kenali sebagai staf di perusahaannya, yang segera berlomba menyapanya. Sementara pengunjung lainnya tentu saja staf dari perusahaan rekanan yang mengundagnya, juga seorang pria yang dia kenali sebagai CEO perusahaan tersebut datang menyambut.


"Senang sekali anda bisa datang," mereka bersalaman.


"Selena?" pria itu memanggil seorang perempuan cantik berpakaian cukup terbuka. Dengan rok super mini dan belahan dada rendah, membuat benda bulat dibaliknya sedikit menyembul.


"Silahkan?" gadis itu dengan ramah dan senyum menggodanya menunjukan tempat khusus untuk orang yang kedatangannya memang sudah ditunggu sejak tadi.


Gadis itu menuangkan minuman dari botol yang kemudian dia sodorkan kepadanya, yang langsung diterima dan ditenggaknya sekaligus.


"Bapak pandai minum juga ya?" gadis itu dengan suara manjanya.


Dimitri melirik, kemudian menatapnya lekat-lekat.


"Kamu cantik, jangan panggil saya bapak." katanya, yang segera saja membuat mereka berdua akrab dengan cepat tanpa penyesuaian.


Berbeda sekali ketika dirinya berada di dekat Rania, kepalanya langsung terasa kosong tak tahu harus mulai pembicaraan dari mana.


Haih, ... dia lagi. batinnya, seraya kembali menenggak minuman yang dituangkan oleh gadis tersebut.


"Kamu suka pestanya?" Selena berteriak, suara musik yang menggema mengurangi kemampuan pendengaran.


"Apa?" Dimitri balik berteriak.


"Apa kamu suka pestanya?" ulang gadis itu.


"Oh, ..." Dimitri mengacungkan ibu jarinya setelah menenggak gelas ke empat minumannya, sambil menganggukan kepala.


"Mau turun?" gadis itu menyentakan kepala.


"Melantai?"


Selena mengangguk.


"Oke baby, let's dance." Dimitri bangkit, seraya meraih tangan gadis itu dan menuntunnya kedalam kerumunan.


Mereka berdua menikmati musik yang menggema memenuhi ruangan.


Tubuh seksi Selena meliuk-liuk mengikuti irama, diiringi tawa dan senyum menggoda, seakan gadis itu tengah berusaha memancing sesuatu.


Dimitri Mulai terbawa suasana, dan dia melakukan hal yang sama. Tubuh mereka sudah tak berjarak dan keduanya hampir saling berpelukan.


"Mau ke suatu tempat?" Selena nerbisik di telinganya.


"Hum?"


"Pak Bos nyuruh aku memuaskan kliennya, dan kayaknya yang dia maksud itu kamu deh." gadis itu berbisik lagi.


"Benarkah?"


"Yeah, ...


"Sekarang?"


"Kamu maunya kapan?" Selena mengerling manja.


Dimitri terdiam sebentar.


Bukankah ini hebat? tidak perlu menunggu seseorang untuk datang, tapi orang lainnya akan datang dan membuatmu senang.


Oh, ... aku suka hidupku. batinnya, dan dia meyeringai.


"Nanti setelah pestanya selesai?" Selena berujar.


"Show me heaven.( tunjukan aku surga.)" ucap Dimitri, dan gadis itu memahaminya.


Dia menariknya keluar dari ruangan VIP tersebut, turun ke lantai bawah kemudian menuntunnya masuk ke area hotel di sisi lain kawasan tersebut.


***


Sebuah suit room menjadi tempat terakhir mereka menghabiskan waktu. Dan keduanya tentu saja segera menuju tempat tidur begitu tiba didalam sana.


Selena bahkan sedikit mendorong tubuh tinggi Dimitri hingga dia terlentang di tempat tidur, dan segera saja dia melucuti pakiannya sendiri hingga hanya tersisa pak*ian da*am yang begitu menggoda pandangan.


Dimitri menatapnya dengan dada berdebar keras. Tentu saja dia langsung tergoda, tubuh seksi di hadapannya sungguh tampak seperti hidangan menggiurkan.


"I'll show you heaven." bisik Selena, yang segera naik ke pangkuan pria itu dan berusaha melepaskan pakaian yang masih menempel di tubuhnya.


"Hmm...


Cumbuan panas segera saja berlangsung. Dimitri menyentuh setiap bagian tubuh Selena dengan begitu bersemangat. Rasanya sudah lama sekali dirinya tak menyentuh seorang wanita. Dan saat ini dia benar-benat sangat membutuhkannya.


Pahatan menggoda tubuh seorang Dimitri pun membuat Selena merasa tak sabar, apalagi mengingat uang yang akan diterimanya jika klien dari pria yang menyewa jasanya itu merasa puas dengan pelayanannya. Sudah bisa dipastikan dia akan menerima jumlah uang yang banyak, dan akan bisa mewujudkan mimpinya membeli barang branded yang selalu diinginkannya. Yang akan bisa dia pemerkan di kalangan pergaulannya di kampus. Yang Tentu saja akan membuat teman-temannya merasa iri. Dan dia sudah merasa bangga hanya dengan membayangkannya saja.


Selena menyusuri tubuh Dimitri dengan semangat, cumbuannya pada pria itu semakin liar seiring pria itu yang juga menyentuhnya sama liarnya.


Namun hal tak terduga terjadi, saat Selena melepaskan kain terakhir ditubuh pria dibawahnya. Benda yang seharusnya terbangun itu tampak tak bereaksi apa-apa.


"Mm...


"Oh, ... Ayolah." Dimitri menggeram sambil menatap naga ajaibnya yang tampak kehilangan kekuatan.


Padahal gairah sudah menguasai akal dan pikirannya, tapi tidak dengan adik kecilnya yang seperti tak terganggu.


"Come on dude!" geramnya lagi, dan dia meraih tangan Selena untuk membuatnya meyentuh naga ajaibnya agar terbangun.


Selena menurutinya, dia menggenggam alat tempur Dimitri dan mencoba menggodanya. Namun yang terjadi setelah beberapa lama tetap saja, benda itu tak bereaksi. Dia seperti kebas dan mati rasa.


"What the... " pria itu tampak frustasi.


Selena menatap wajah Dimitri dengan curiga, dan raut wajahnya segera berubah. Lalu gadis itu turun dari tempat tidur dan segera mengenakan pakaian, kemudian dia menghambur keluar kamar sambil membanting pintu dengan keras.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


Hadeh... Kagak jadi. Ada apa dengan naga ajaib?? 😆😆😆


Biasalah genks klik like komen sama Kirim hadiah yang banyak. abis ini up lagi kok tenang aja, hadiah kalian nggak akan sia-sia. 😁


lope lope sa Bandungeun 😘😘😘