
🌹
🌹
"Pergi dulu Ma." Dimitri berpamitan beberapa saat setelah selesai makan malam, dengan dua temannya yang mengikuti.
"Mau kemana?"
"Mau cari angin, sekalian ngajak mereka keliling. Biar nggak bosen dirumah."
"Baru juga sampai?"
"Malam minggu Mam."
"Nanti pulang?" Sofia mengikuti langkah anak laki-lakinya itu.
"Nggak tahu, mungkin... nggak."
"Terus kalian mau tidur dimana?"
"Dimana aja, hotel banyak, villa juga ada. Di mobil juga bisa." pemuda itu terkekeh.
"Mmm...
"Pergi dulu ya? bye Mom." dia mencium pipi ibunya.
"Pih, aku pergi." kemudian melambai pada sang ayah yang berjalan mendekat.
Dimitri berlari kearah mobilnya yang sudah siap kemudian mereka segera pergi. Sementara Sofia mengantar kepergiannya hingga di ujung teras rumah besarnya.
"Dia sudah dewasa sayang." Satria merangkul pundak Sofia.
"Tidak, bagiku dia masih tetap bocah kelas tiga SD yang selalu mencari perhatian kita."
"Tapi faktanya dia memang sudah dewasa."
"Haaaaahhhh... aku tidak rela anakku sudah sedewasa itu. Rasanya baru saja kemarin aku menggandeng tangannya masuk TK. Tapi malam ini aku menemukan dia pergi bersama temannya dari Rusia dan dia mengatakan kalau dia tidak akan pulang."
"Cepat atau lambat itu akan terjadi sayang."
"Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini."
"Tidak cepat, tidak juga lambat. Tapi memang sudah waktunya, dan dia memang sudah dewasa."
"Oh iya, ... apa sebaiknya kita mengawasi dia juga? sepertinya bagus agar kita selalu tahu kemana saja dia pergi, dan dengan siapa saja dia bergaul?"
"Apa?"
"Kamu tahu, seperti yang kita lakukan kepada Dygta dulu?"
"Sayang, ... dia bukan anak SMA."
"Lalu?"
"Kita tidak bisa selalu mengawasi dia seperti dulu. Dia bahkan sudah bekerja sekarang, hanya hal-hal tertentu saja yang akan ku awasi."
"Apa karena dia anak laki-laki, maka pengawasanmu kepada Dimitri agak longgar?"
"Tidak ada hubungannya."
"Lalu apa bedanya dengan Dygta? tapi kita masih mengawasinya walau dia sudah bekerja sekalipun."
"Kamu lupa ya, Dygta itu diawasi siapa sejak kecil? dia dibawah pengasuhan Arfan hingga menikah. Jadi aku tidak memikirkan soal pengawasan. Itukan tugas Arfan."
"Lalu bagaimana dengan Dimitri?"
"Dia itu laki-laki, dan dia anak jaman sekarang. Jadi tidak mungkin kita akan mengawasinya seperti ayahku dulu mengwasiku."
"Dia berjiwa bebas sayang, ...
"Benarkan, kamu meloggarkan pengawasan kepadanya karena dia anak laki-laki?"
"Sudah aku katakan tidak."
"Aku hanya takut dia salah langkah. Karena seperti katamu, dia berjiwa bebas."
Satria terdiam.
"Pergaulanku jaman dulu sudah segawat itu, apalagi sekarang. Aku membayangkan jika anakku akan melaluinya lebih dari saat aku dulu."
"Ah, ... aku tidak bisa membayangkan itu."
"Atau...." Sofia menatap wajah suaminya dengan ide yang baru saja muncul di kepalanya.
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita nikahkan saja dia?" Sofia dengan ide briliannya.
"Nikahkan?"
Perempuan itu menganggukan kepala.
"Dengan siapa?"
"Entahlah, siapa saja. Yang penting jodohnya nanti akan membuatnya menjauhi hal-hal buruk."
"Pikiranmu terlalu jauh sayang." Satria tertawa. "Dia baru 24 tahun. Dan tampaknya dia masih ingin hidup bebas. Dan pernikahan bukanlah solusi." pria itu memutar tubuh, dan dia melenggang ke dalam rumah.
"Serius... seperti Dygta. Dia juga menikah di usia muda, dan lihat dia sekarang?" Sofia mensejajarkan langkah dengan suaminya.
"Dygta itu perempuan, sudah kodratnya seperti itu. Dan lagi dia menemukan orang yang tepat. Sementara Dimitri? aku tidak yakin dia akan menemukan orang yang tepat dalam waktu dekat ini."
"Ya sudah, kita carikan saja orang yang tepat."
"Maksudmu menjodohkan dia?"
"Ya, ... pertemukan dia dengan anak-anak dari kolegamu, atau... siapapun. Kamu memiliki banyak kerabat."
"Rusia?"
"Kalau bisa jangan, agar dia tetap dekat dengan kita. Mungkin dari Jogja, Solo, atau mana saja. Keluargamu banyak kan?"
"Hmm...
"Ideku bagus kan?"
"Entahlah, ... apa Dimitri akan menyetujuinya atau tidak."
"Tidak usah memberi tahu Dimitri, kita lakukan saja seolah-olah hal itu tidak disengaja?"
"Kamu serius?"
"Tentu saja aku serius."
Satria terdiam lagi.
"Papa bear, ... anak kita harus diselamatkan."
"Diselamatkan dari apa?"
"Dari hal-hal yang tidak diinginkan."
"Misalnya?"
"Mmm... pergaulan bebas mungkin? Kamu tahu sendiri, akan seperti apa anak laki-laki jika hidupnya terlalu bebas." Sofia berbisik di telinganya.
"Kamu bahkan bukan pria lajang saat bertemu denganku dulu." perempuan itu mengingatkan.
"Ng...
"Dan aku tidak ingin anak-anakku seperti itu kamu tahu? cukup papinya saja." dia mengerling.
"Mm ... itu... aku kan hanya melakukannya denganmu, dan setelahnya tidak dengan siapa-siapa lagi, sampai saat ini."
"Tetap saja, ... dan aku lihat Dimitri cukup terkenal di kalangan gadis-gadis. Lihat saja akun media sosialnya. Kamu akan terkejut."
"Benarkah? kamu mengawasi dia ya?"
"Tentu saja. Dia anakku."
"Ayo kita carikan dia jodohnya?" Sofia menarik suaminya menuju lantai atas.
"Tapi kenapa kamu malah menarikku keatas?"
"Apa kamu mau mencari jodoh putramu malam-malam begini?"
"Benar juga. Lalu kita mau apa?"
"Apa saja yang kamu mau." jawab Sofia, dan dia menutup pintu kamar rapat-rapat.
🌹
🌹
"Kau yakin dia ibumu Dim?" Nick memalingkan pandangannya setelah mereka keluar dari gerbang rumah besar Satria.
"Tidak. Dia memang ibuku." jawab Dimitri. "Ada yang salah?" dia melirik lewat kaca spion saat menemukan dua temannya itu malah tertawa.
"Jaga pikiranmu bodoh! dia ibuku. Dia yang melahirkam aku, dan adik-adikku. Juga kakak perempuanku." katanya, kemudian dia melemparkan sesuatu dari dashboard.
"Serius, kau seperti adik kecil baginya, dan dia tampak seperti ...
"Jangan di bahas. Dia memang semanis itu."
"Dasar anak mama!"
"Kalau papiku dengar, bisa mati kalian."
"Serius, yang membuatku tak enak disini adalah bertemu Papimu. Dia seseram Ded mu Dim." mereka tertawa lagi.
"Sialan."
"Apa dia kejam kepadamu?"
"Tidak, dia seperti ayah-ayah lainnya."
"Serius? aku lihat sepertinya dia galak sekali."
"Dia galak jika sesuatu berjalan tidak semestinya, apalagi jika mendengar seseoramg membicarakan istrinya. Aku yakin kalian tidak akan selamat keluar dari negara ini."
"Benarkah?"
"Coba saja kalau berani. Dia akan mencincangmu seperti daging untuk hidangan hari raya."
Dua pemuda itu terdiam.
Dimitri kembali melirk lewat kaca spion, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Dasar bodoh!" dua temanya itu mendorongnya hingga dia sedikit terhuyung.
"Hey, hati-hati sialan! kalian akan membuat kita mati."
"Kau yang mati Dim!"
"Tidak, sebelum aku menemukan belahan jiwaku."
"Belahan jiwa kepalamu!"
"Belahan jiwamu sebentar lagi datang dan kau akan lupa segalanya."
"Sok tahu!"
"Tunggu saja, belahan jiwamu akan terbang dari Moscow untukmu." mereka berdua tertawa lagi.
"Sialan!" umpat Dimitri, dan diapun tertawa.
***
Mereka tiba di sebuah klub terkenal di Jakarta, dan ketiganya langsung saja masuk tanpa pemeriksaan. Jelas saja, sejak kedatangannya di negara ini Dimitri sudah resmi menyandang sebagai pengunjung tetap dan memiliki hak istimewa di bebrapa klub terkenal di Jakarta.
Dentaman musik keras langsung menyambut mereka begitu memasuki ruangan temaram itu. Dan Dimitri membawa kedua temannya kelantai atas dimana mereka bisa melihat pemandangan ke seluruh ruangan itu dengan jelas. Dan tepat di bawah sana, puluhan orang sedang menari mengikuti irama musik yang berasal dari keterampilan sang DJ dalam meracik berbagai jenis instrumen.
"Kau keren Dim." Jacob menuangkan minuman yang memang sudah tersedia diatas meja.
"Ini teritorialku tahu." Dimitri dengan sombongnya.
"Lalu apalagi yang akan membuat kami terkesan setelah ini?"
"Tunggu saja."
Lalu tiga orang perempuan dengan pakaian minimpun muncul. Penampilan mereka membuat mata ketiga pemuda tersebut terbelalak.
"Yeah, Dimitri!!!" Nick bersorak, dan mereka benar-benar berpesta malam itu. Sama seperti saat-saat ketiganya berada di Moskow dengan teman yang lainnya. Yang terkadang berlanjut hingga pada kisah satu malam yang mereka lalui dengan cepat kemudian terlupakan begitu saja.
🌹
🌹
"Hemat energi buat latihan Ran!" Angga berteriak untuk memperingatkan putrinya yang tengah menjajal Ducati miliknya yang baru dia miliki beberapa bulan itu. Pagi ini mereka tengah bersiap-siap berangkat ke satu sirkuit di Bogor untuk menjalani latihan, sekaligus menanti kualifikasi domestik berlangsung.
"Ya, papa? kan ini juga sambil latihan?"
"Jangan. Baiknya kamu semobil aja sama Papa."
"Terus si merah?" gadis itu melirik CBR merah kesayangannya di sisi lain garasi.
"Nggak kita bawa."
"Lho!? kok nggak? terus aku latihannya gimana?"
"Ya pakai motor dari sponsor. Kan udah di sediain."
"Oh, ...
"Pagi Om?" suara dari depan terdengar menginterupsi, membuat ayah dan anak ini menoleh.
"Galang?" Rania merespon.
"Ya Galang, masuklah."
"Ngapain kamu pagi-pagi udah kesini?" Rania bertanya.
"Papa yang suruh." Angga menyela.
"Papa yang suruh?" putrinya membeo.
"Kita butuh mekanik tambahan, kayaknya dia nggak ada kerjaan selain ngetrek di hutan." pria itu berujar.
"Dih, Om ngeledekin?" pemuda seumuran Rania itu melangkah masuk.
"Kelihatannya gitu." jawab Angga.
"Kerjaan aku banyak lho Om."
"Contohnya?"
"Bikin tutorial ngetrek yang aman tapi tetep keren."
"Dih, ada ngetrek yang aman? kalau mau amam jangan ngetrek, tapi main odong-odong. Aman tuh, apalagi di kayuhin sama mamangnya." pria itu tertawa.
Galang mencebikan mulutnya.
"Udah, panasin mobilnya sekarang. Sebentar lagi kita berangkat." Angga melempar kunci mustang merahnya kepada pemuda itu yang ditangkapnya dengan tepat.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
maaf kalau lama upnya, mt eror soalnya.
like komen hadiah sama votenya kirim terus ya, biar novel ini makin naik.
lope lope sa Bandungeun 😘😘😘