All About You

All About You
Champion!!



🌹


🌹


"Kamu siap Ran?" Angga memegangi bagian depan motor merah tunggangan putrinya. dua menit lagi gadis itu akan menjalani balapan dalam event tahunan Woman Superbike Sepang.


Rania mengangguk. Wajah dibalik helm fullfacenya yang kacanya dia angkat keatas itu tampak memerah karena cuaca memang cukup panas pada sore itu.


"Yang harus kamu lakukan hanyalah fokus, tidak usah melihat ke kanan dan ke kiri. Anggap lintasan ini milikmu seorang, dan tak ada orang lain di sekitar. Nikmati lintasannya." seperti biasa Angga menjejali pikiran anak gadisnya.


Rania terlihat mengangguk lagi.


"Kamu bisa Ran!" ucap Angga, yang kemudian menempelkan keningnya dengan helm di kepala gadis itu.


Suara sirene dibunyikan, tanda balapan akan segera dimulai. Bendera tanda start dibentangkan, dan suara motor-motor besar itu meraung-raung saling bersahutan. Setelah percobaan terakhir dengan kawalan dua mobil polisi, kini saatnya mereka menjalani balapan yang sebenarnya.


Tiga puluh pembalap wanita dari berbagai negara datang dan mempertaruhkan mimpinya di sirkuit sore itu. Sebagian dari wilayah Asia, dan sebagian lagi berasal dari beberapa negara barat. Tiga besar juara dunia pun ikut andil dalam perhelatan internasional itu untuk memperebutkan gelar juara dunia baru, yamg kini di usung oleh bakat-bakat muda yang baru saja masuk dan menonjolkan diri.


Seperti Rania, yang langsung saja menjadi buah bibir di kalangan pembalap. Si anak baru yang masih segar tanpa pengalaman, karena reputasinya yang tidak di perhitungkan. Semua orang tahu, pengalaman gadis itu hanya di arena balap liar saja, namun siapa yang menduga, bahwa si anak baru ini akan start di posisi yang cukup bagus bagi pemula.


Mereka bersiap, mesin semakin meraung-raung, dan pandangan para pembalap tertuju pada bendera. Dan pada saat benda tersebut diangkat ke atas, maka melesatlah mereka semua untuk saling mendahului.


Saling berebut posisi, dan mengamankan tempat agar bisa menjadi juara di akhir.


"Tenang Ran." suara Angga terdengar lewat earpiece yang menempel di telinganya.


"Biarkan mereka kehabisan tenaga." ucap Angga.


"Fokus saja."


Rania mengikuti instruksi sang ayah. Dia memilih membiarkan mereka saling mendahui, sementara dirinya mencari celah aman untuk menyela. Hingga setelah tiga putaran, gadis itu menunggu instruksi dari seberang sana.


"Aman Ran. Masuk sekarang." ucap Angga, dan Raniapun mengikuti ucapannya.


Gadis itu mampu melewati hingga lima pembalap di depan, dan berniat mengejar empat pembalap lainnya.


"Tahan Ran, stabilkan dulu." Angga berteriak. Dan pada saat dia melihat celah aman di depan lewat kamera kecil yang terpasang di bagian depan motor, pria itu segera memerintahkan Rania untuk maju.


"Aman." katanya, dan gadis itupun melesat tanpa diduga saingan di depannya.


Satu pembalap, dua pembalap, tiga pembalap, hingga dia berada di belakang dua juara dunia. Meninggalkan yang lainnya jauh di belakang.


"Stabil Ran. Posisi tiga cukup aman. Pertahankan." suara Angga kembali terdengar.


Dan begitulah hingga 25 lap ke depan gadis itu berada di posisi tiga bersama dua juara dunia.


🌹


🌹


Dimitri menjalankan mobilnya dengan gelisah, setelah menggerutu dan mengomel seharian kepada Clarra karena dia tak dijinkan untuk terbang ke Sepang hari itu, akhirnya pada sore harinya dia bisa pulang tepat waktu. Tentunya setelah menyelesaikan tiga presentasi penting di hadapan investor asing dengan lancar dan mengesankan.


Membuat para pemegang pembiayaan dunia itu berani menggelontorkan dananya pada Nikolai Grup untuk mereka kelola. Yang dalam waktu satu jam saja membuat nilai saham perusahaan tersebut naik hingga tiga kali lipat.


"Sore Mom, sore Pih." pemuda itu mencium pipi sang ibu dan mencium punggung tangan ayahnya begitu dia melihat mereka sedang bercengkerama di ruang keluarga.


Sofia tampak terkejut karena putra tampannya itu tidak biasanya pulang se awal ini. Namun hari itu dia seperti baru saja mendapatkan mukjizat, saat Dimitri pulang seperti orang-orang bekerja pada umumnya.


"Tumben? kamu tidak ketemu teman-temanmu hari ini sayang?" Sofia bertanya.


"Nggak Mom, aku sibuk." Dimitri tak lantas pergi ke kamarnya, namun segera menyalakan televisi besar di ruang keluarga.


Dia melemparkan tas kerja, melepaskan jas dan melonggarkan dasi dengan terburu-buru. Sepatunya bahkan dia lepaskan juga di tempat itu.


"Dim? ada apa denganmu?"


"Sssstt!! Mama jangan berisik." Dimitri menjatuhkan bokongnya di sofa, dengan pandangan dia tujukan ke layar besar itu.


Puluhan motor besar tengah saling mengejar, saling menyalip, saling mendahului. Ditengah sorakan penonton yang riuh sepanjang acara tersebut, membuatnya ikut berteriak-teriak juga. Apalagi disaat pembalap dengan motor dan suit merahnya yang mencolok berbelok dan melewati tikungan tajam, dia merasa jantungnya seakan hampir terlepas dari tempatnya.


"Ah, ...hati-hati sialan!!" teriaknya, dan dia melonjak-lonjak diatas sofa.


"Come on girl!!" sesekali Dimitri bergumam.


Dan sedetik kemudian dia berteriak lagi.


"Ooo... jangan begitu!"


"Itu berbahaya bodoh!"


"Jangan!!"


"Ah, ... kau bisa melakukannya dengan baik." ucapnya dengan nada lega.


Sementara kedua orang tuanya menyimak dengan heran.


"Sejak kapan dia suka balapan motor?" Sofia bereaksi.


"Sejak sekarang." jawab Satria.


"Mungkin seleranya sudah berubah."


"Benarkah?"


"Hmmm... " pria itu menyeruput kopinya tanpa memalingkan perhatian dari MacBook miliknya, yang menayangkan laporan virtual tentang perkembangan saham dan kemajua perusahaan. Juga kemajuan kemampuan putranya yang cukup membanggakan.


"Dia sudah dewasa, sayang..." Satria bergumam.


"Come on baby you can do it!!"


"Its just a little thing!"


"Come on be a champion for me!" Dimitri meracau. Dan ya, pria muda itu kembali melonjak dan berteriak kegirangan saat si pembalap merah mencapai garis finish di posisi tiga beesama dua juara dunia di depannya.


"Yes yes yes!! Kamu berhasil!!" katanya, seolah dirinya berhasil menaklukan peperangan hari itu.


"Astaga Dim!! kamu berisik!!" protes Sofia, namun tak dihiraukan oleh sang anak yang tetap fokus pada layar televisinya.


Pemuda itu kemudian terdiam saat melihat pembalapnya melaju pelan dengan posisi berdiri diatas kuda besinya. Dan dia melambai-lambai ke arah penonton.


"Hah... stranaya,... ty sdeal eto, dorogaya! ( si aneh ini... kamu berhasil melakukannya, sayang!) " katanya, yang segera menarik perhatian Satria.


"Apa katamu?"


"Lihat pih, pembalap kita berhasil finish di urutan ketiga. Dan dia hebat dalam melakukannya! aah... tidak sia-sia aku mensponsorinya. Dia memang membanggakan." ucap Dimitri.


"Benarkah?"


"Hmm...


"Rania?" ucap Satria.


"Papi kenal?"


"Tentu saja papi kenal. Dia anaknya Angga. Sepupumu, Dim."


"Yeah, ... sepupu." hatinya terasa tergelitik mendengar kata itu. Kemudian dia tertawa.


"Bukankah anaknya Angga yang laki-laki itu masih smp ya? kok bisa ikut balapan?"


"Ini yang paling besar sayang, Rania."


"Rania? yang perempuan itu? yang wajahnya suka kotor terkena oli kalau kita ketemu dia di Bandung?"


"Hmm...


"Dia jadi pembalap?" suara Sofia menggelegar.


"Yes Mom. Bukankah itu keren?"


"Benarkah?" Sofia berpindah ke sofa di dekat putranya.


"See?" Dimitri memperbesar tampilan layar televisinya, dan dia fokuskan kepada Rania.


"Ini Rania,... and she is pretty." pemuda itu setengah berbisik.


"Anak perawannya Angga jadi pembalap?" Ulang Sofia seakan tidak percaya.


"Hmm... " Satria dengan tenang, dan dia asyik menatap layar macbooknya. Saat beberapa pesan gambar masuk dan wajah cucu dari sepupunya itu yang muncul.


"Ah, ... dia menang. Posisi tiga itu bagus kan? dia juara tiga!!" Dimitri tak hentinya mengoceh dengan nada yang cukup aneh.


Namun kemudian dia tertegun saat layar televisinya masih menayangkan acara tersebut. Ketika para pembalap kembali kepada crewnya dan mereka merangkulnya bersamaan dengan rasa bangga.


Dan Rania pun melakukan hal yang sama, dan pemuda itulah yang pertama dia peluk. Dadanya kembali bergemuruh dan kini darahnya terasa mendidih. Melihat interaksi itu yang memang benar-benar menyulut emosinya.


Dimitri melemparkan remote tivi keatas sofa dan dia segera berlari ke kamarnya.


"Kenapa dia itu?" Sofia bergumam, sementara Satria tersenyum sambil menyeruput kopi hitamnya yang mulai dingin.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


ah,.. Didim lagi kena virus Mama.. 😂😂


hati-hati sebentar lagi demam.


like komen dan hadiahnya lagi dong. biar novel ini cepet naik.


lope lope sa Bandungeun. 😘😘😘