
🌹
🌹
Rania melemparkan tasnya keatas tempat tidur begitu dia tiba dirumah. Hari ini hatinya sedang tidak senang. Finish di urutan ke sepeuluh tentu saja membuatnya kecewa setengah mati dan lebih dari itu tentu saja omelan sang ayah sesaat setelah balapan yang begitu membuatnya tambah kecewa. Walaupun kesalahannya memang sangat jelas karena dia tak mendengarkan instruksi dari pria itu.
Mereka kembali ke hotel segera setelah balapan berakhir, dan terbang sekitar satu jam kemudian menggunakan penerbangan malam hari untuk kembali ke Indonesia.
Dan Angga bahkan sudah tak mengajaknya bericara sama sekali selama perjalanan. Begitupun crew lainnya dan Galang sekalipun. Pemuda itu bahkan langsung saja pulang ke rumahnya begitu mereka tiba.
Rania menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, dan dia tidak bisa berhenti merutuki dirinya sendiri. Mengapa hanya mengikuti emosi dan pemikirannya sendiri? sedangkan sejak awal sang ayahlah yang memegang kendali.
Ah... b*go! kenapa juga tadi kayak gitu ya? kan konyol jadinya. gerutunya, dan dia menepuk-nepuk kepalanya dengan keras.
Rasa kesal pada dirinya sendiri tentu saja sangat besar. Terutama karena ini baru saja di pertandingan kedua. Dan dia sudah mengecewakan banyak orang, terutama sang ayah yang menaruh harapan begitu besar kepadanya. Belum lagi dengan perusahaan sponsor, ah ... semakin kecewa saja dirinya.
🌹
🌹
Dimitri menepikan mobilnya di sebuah pinggir jalan yang sudah sepi. Lalu membuka kaca jendela dan membiarkan angin semilir pada hampir dini hari itu masuk dan menerpa wajahnya. Dia meninggalkan pesta yang belum usai dan memilih pergi tanpa pamit setelah kegagalan menggapai kenikmatan dunia yang cukup memalukan baginya. Rasanya dia sudah tak ingin menampakan wajah di depan siapapun di tempat itu
Dimitri Alexei yang tiba-tiba lemah dalam urusan ranjang. Hasratnya menggebu-gebu namun alat tempurnya tak mau diajak kerja sama. Ah, ... sungguh memalukan.
Gadis itu telah benar-benar menguasai dunianya, bahkan hingga hal paling penting pada dirinya pun tak luput dari pesonanya. Dia menguasai seluruh pikiran dan alam bawah sadarnya sehingga segala hal menjadi terhubung dengannya. Padahal bersesentuhan secara langsung pun mereka belum pernah.
Dimitri merebahkan kepalanya pada sandaran, dan pikirannya melayang entah kemana.
Dari kejauhan dia mendengar sayup-sayup suara mesin yang berdengung. Semakin lama semakin dekat, dan lewat kaca spion disamping dia melihat sebuah motor melesat dari kejauhan. Yang kemudian kembali mengingatkannya kepada gadis itu.
Nah kan, semua hal mengingatkan aku tentang kamu Ran, lalu bagaimana aku harus menyebut hal ini? dia bergumam.
Dan motor merah tesebut melesat di depannya, sekilas pengendaranya tampaknya perempuan, dan sepertinya dia mengenali motor itu.
CBR r500 merah milik Rania yang pernah hampir bertabrakan dengannya. Dia tidak akan lupa dengan motor itu. Dan postur tubuh pengendaranya juga, dia tidak akan pernah lupa dengan gadis itu.
Dimitri lantas menghidupkan mesin mobilnya, berniat mengejar si pengendara tersebut. Ingin memastikan apa itu benar-benar Rania.
Kecepatannya sulit dia kejar, namun jalanan yang lengang menyebabkannya masih mampu melihat gadis itu dari kejauhan.
Dimitri menambah kecepatan penuh hingga dirinya bisa mengejar motor tersebut dalam waktu beberapa menit.
Dia memastikan jika motor itu benar seperti yang dia ingat sebagai motor milik gadis itu, stranaya devushkanya yang sudah menguasai dunianya.
"Hey!" Dimitri berteriak saat dia hampir berada disampingnya.
"Hey!" dia berteriak lagi saat gadis itu tampak tak mendengar, namun dia memelankan laju motornya.
"RANIAAAA!!!" teriaknya lagi, dan berhasil mengambil perhatian si pengendara.
Gadis itu semakin memelankan laju motornya, dan dia membuka kaca helmnya.
"Pull over!" Dimitri kembali berteriak dan dia menepikan mobilnya lalu berhenti di pinggir jalan. Dan hal yang sama pun dilakukan oleh gadis itu.
Mereka sama-sama turun dan akhirnya dia membuka helmnya. Dan benar saja gadis itu adalah dia, stranaya devuska, Ranianya.
"Pak Dimi?"
Senyum Dimitri segera mengembang saat dengan jelas memastikan bahwa itu adalah Rania. Dan tanpa pikir panjang dia menghampirinya, dan menariknya ke dalam pelukan. Mendekapnya begitu erat seolah dia takut kehilangan.
"Apa yang...
"Shut up!!" pria itu berbisik, dan dia mengeratkan pelukan.
"Pak, ini bapak kenapa sih!!" Rania meronta melepaskan diri.
"Diamlah bodoh! apa kamu tidak tahu kalau aku sangat merindukanmu?" Dimitri semakin mengeratkan pelukannya.
"Ap-apa?" tubuh Rania menegang.
"Hanya diamlah, ... atau... sesuatu bangun karenamu." dia merasakan bagian bawah tubuhnya juga tiba-tiba menegang.
"Mmm... pak?" Rania berusaha mendorong tubuh tinggi itu agar bisa menjauh, namun tubuhnya yang memang kecil dan hanya hampir setinggi dada Dimitri membuatnya sulit untuk melepaskan diri.
"Diamlah Rania! kenapa kamu sulit sekali mendengarkan?" rengek Dimitri.
"Bapak mabuk ya?" dia mengendus pakaian pria itu, seketika bau alkohol menguar di indra penciumannya.
"Tidak. Hanya sedikit." Dimitri terkekeh. Dia kemudian melonggarkan rangkulannya sehingga gadis itu dapat sedikit menjauh dan dirinyapun dapat melihat wajah imutnya.
"Hmm... mabok nih orang, pantesan ngomongnya ngelantur." Rania bergumam.
Dimitri terkekeh-kekeh, Dia merasa perasaannya meluap-luap, dan hatinya dipenuhi kebahagiaan. Melihat gadis ini, dan memeluknya seperti ini, rasanya ini seperti mimpi saja. Tapi dia yakin ini nyata, dia merasakan hangat tubuhnya saat mendekapnya.
Hatinya terasa berdebar lagi, dan dia merasa menjadi dirinya lagi. Naga ajaibnya juga bahkan sepertinya sudah bangun lagi.
Ah, sial!! batin Dimitri.
***
"Bapak kayaknya harus pulang deh? makin malam makin ngawur ngomongnya." Rania mendengarkan pria itu terus mengoceh tentang perasaannya.
"Lagian dugem sendiri-sendiri aja, kenapa nggak bawa temen? kan gini jadinya."
"Ogah, saya nggak biasa datang ke tempat kayak gitu pak. Bisa digorok papa kalau ketahuan."
"Terus apa yang kamu lakukan hampir dini hari seperti ini? berkeliaran sendirian dijalan, kebut-kebutan. Bukankah kamu baru pulang dari Singapura?"
"Haaaaahhhh... " gadis itu merebahkan tubuhnya diatas kap mobil tempat mereka duduk bersisian.
"Bapak nggak nonton balapannya?"
"Nonton." Dimitri menoleh.
"Tahu kali aku finish di urutan berapa?"
"Sembilan atau sepuluh ya, tadi lupa."
"Ahhhh..." Rania memejamkam mata. "Malu-maluin aja."
"Memangnya kenapa?"
"Aku bikin kesalahan. Papa aja sampai nggak mau ngomong selama perjalanan pulang."
"Kesalahannya fatal?" pria itu sedikit menundukan tubuh.
Rania menganggukan kepala.
"Sefatal apa?"
Rania membuka mata, kemudian menatap wajah pria diatasnya.
"Karena Kamu tidak jadi juara?"
Rania kini menggeleng.
"Lalu apa?"
"Karena aku jalan melebar hampir keluar jalur di tikungan terakhir setelah nggak menuruti apa yang papa bilang."
"Haisssttt." Dimitri mendesis. "Itu benar-benar fatal."
Rania mengangguk lagi dengan bibir mengerucut. Dan dari atas sini dia terlihat menggemaskan.
"Tapi kamu masih di sepuluh besar kan? itu cukup membanggakan."
"Hmmm... aku mengecewakan sponsor juga." gadis itu kemudian bangkit.
Dimitri menggelengkan kepala. "Sepuluh besar itu bagus."
"Nggak bagus. Itu mengecewakan."
"Menurutku bagus."
"Buat aku nggak."
"Bukankah usahamu lebih keras dari itu? menurutku finish di posisi sepuluh nggak masalah, yang penting kerja kerasmu."
"Untuk aku itu jadi masalah pak, dan kerja keras aku jadi nggak ada gunanya. Bapak nggak tahu sih gimana rasanya kecewa kayak aku. Udah capek-capek berusaha tapi usaha kita nggak menghasilkan apa-apa selain kekecewaan, dan itu rasanya...
Dimitri mendekatkan wajahnya dan tanpa basa-basi meraup bibir menggoda milik gadis itu, kemudian memagutnya dengan perlahan untuk membungkam ocehannya yang tanpa henti.
Rania menahan napasnya dan segera saja kesadarannya berhamburan entah kemana. Dan tubuhnya tiba-tiba saja membeku.
"Bernapas, bodoh!" Dimitri menjeda cumbuannya.
"Mmh ... " gadis itu mendengus pelan dan dia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya ketika pria itu kembali mencumbunya.
"Mmm... pak?" Rania mendorong dada Dimitri agar mereka menjauh.
"Bisakah kamu berhenti memanggilku seperti itu? aku ini bukan bapakmu, atau atasanmu, atau siapapun yang mengharuskanmu memanggilku seperti itu." lalu dia melanjutkan cumbuannya.
"Mm... "
Ish, ... aku ini kenapa? Rania mulai tersadar, lalu dia kembali mendorong pria itu agar menjauh.
"Kayaknya kita udah kejauhan deh pak." gadis itu turun dari kap mobil milik Dimitri.
"Bapak lagi mabuk, ... " dia menarik helm lalu mengenakannya.
"Ran, ... aku ngga mabuk. Aku hanya minum sedikit dan aku...
Namun gadis itu sudah menghidupkan motornya, dan dia segera pergi dari sana, melesat meninggakan Dimitri yang masih menikmati debaran indah di dadanya.
Stranaya devushka, setelah ini kamu tidak akan bisa menghindar lagi dariku. dia menyeringai.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
like komen sama hadiahnya lagi dong?