
🌹
🌹
"Serius pak, saya tadi mau minta maaf. Tapi bapaknya malah pergi." Rania mengulang kata-katanya, dengan raut wajah tampak menyesal.
Dimitri memicingkan mata, rasa kesal dan ingin marah tampak jelas di wajahnya, dan itu tak dapat dia sembunyikan.
"Kamu beruntung, ... papa kamu masih saudara papi saya. Kalau tidak, saya pastikan kamu tidak akan bisa selamat. Dan lebih beruntung lagi, kesepakatannya sudah di tanda tangani, dan itu membuat posisimu aman." pemuda itu menggeram.
"Ih bapak, kan saya udah minta maaf. Kok masih marah-marah?" Rania dengan tidak tahu malunya.
"Ish, ... bespoleznaya devushka! ( perempuan tidak berguna)" omel Dimitri.
"Bapak ngomong apa sih, saya nggak ngerti. Pakai bahasa indonesia bisa nggak? apalagi kalau bahasa Sunda, saya pasti ngerti. Dari tadi ngomelnya pakai bahasa alien, Mun kieu mah kumaha rek ngarti atuh bapak!! (kalau gini gimana saya mau ngerti?)" Rania bersungut-sungut.
Angga menepuk kepalanya dengan keras, dia merasa malu juga bingung dengan sikap sang putri yang polos namun sedikit keterlaluan.
"Sudah! bisa stres saya menghadapi kamu." Dimitri bangkit dari duduknya, dan membenahi jasnya.
"Emangna aing teu stress kitu ngomong jeung maneh? geus ambek-ambekan wae, make bahasa alien deui! (emangnya saya nggak stres bicara dengan kamu? udah marah-marah, bicaranya juga pakai bahasa alien!)" Rania bergumam.
"Apa?" Dimitri berbalik.
"Eh, ... bukan apa-apa pak. Maaf sekali lagi, maafkan anak saya. Dia memang ceroboh." Angga menepuk lengan putrinya dengan keras.
"Kamu harus membayar kelakuan kamu ini dengan jadi juara ya? kalau tidak, saya yang rugi mensponsori kamu dalam balapan nanti. Apalagi kelakuan kamu yang seperti ini!" ucap Dimitri sebelum pergi.
"Dih, teu nyahoeun aing Kumaha. (Dia nggak tahu gue gimana?)" gadis itu bergumam.
"Haih, ... stranaya devushka!! (gadis aneh!)" dan dia pun akhirnya pergi.
"Cowok apaan? dia kagak berani berdebat. cemen!" cibirnya setelah pemuda itu menjauh.
"Kamu ini!!" Angga menepuk kepalanya agak keras.
"Aww papa!!" Rania bereaksi.
"Jaga sikap kenapa? dia orang penting tahu! untung udah tanda tangan, kalau belum, bisa abis kita nggak dapat sponsor. Dan sudah dipastikan nggak bakal dapat sponsor lain juga kalau ditolak dari sini."
"Masa?"
"Iyalah, perusahaan segede Ini aja nolak, apalagi yang kecil."
"Papa jangan nakutin dong? nanti aku stres."
"Stress mana papa sama kamu? lebih stress papa lah, punya anak gadis tapi kerjannya bikin onar melulu. Segini juga masih untung papa nggak gila." Angga mencak-mencak di tempat duduknya.
"Dih, ...
"Untung dia udah tanda tangan. Kalau nggak, mati kamu! dia bakal batalin kerjasamanya."
"Tapi nggak bakalan kan?"
"Ya nggak akan lah, rugi dia kalau dibatalin."
"Masa?"
"Iyalah, dia harus bayar ganti rugi tanpa ambil untung dulu." Angga tergelak.
"Serius?"
"Ya, kalau mereka memutuskan kontrak, ya harus bayar kita, biar kita belum hasilin apa-apa juga. Jelas mereka yang akan rugi."
"Hmmm...
"Tapi itu bukan alasan kamu bisa bersikap seenaknya ya, harus tetep baik-baik biar dia senang dan terus ngeluarin duit buat fasilitas kita. Apalagi kalau kamu jadi juara, mereka untung banyak dan imbasnya sama kita."
"Tetap ya, ujung-ujungnya duit?" Rania memutar bola matanya.
"Iyalah, apalagi?"
"Ayo kita pulang? hari ini kamu harus mulai latihan. Kualifikasi domestik dimulai bulan depan, habis itu lanjut ke tingkat nasioanal. Kita dikejar waktu." Angga menghidupkan motor besarnya.
Rania hanya menganggukan kepala, dan dia melakukan hal yag sama. Kemudian turut mengikuti sang ayah yag telah melaju lebih dulu. Mereka berlomba saling salip ketika sudah berada di jala raya, lalu saling menunggu ketika salah satu diantara mereka tertinggal dibelakang. Dan begitu seterusnya hingga keduanya tiba dirumah.
🌹
🌹
Dimitri segera menuju bandara begitu tiba dia Jakarta pada sore hari. Untuk menjemput dua temannya yang baru saja turun dari pesawat.
Dua pemuda satu tingkatan dengannya saat kuliah, satu berasal dari Jerman dan satu lagi memang sesama Rusia.
"Kalian hanya berdua?" Dimitri menyambut keduanya.
"Yeah, ... yang lain sudah sibuk sekarang." jawab salah satunya.
"Dan Kalian pengangguran?" Dimitri sedikit mengejek, kemudian tertawa.
"Sialan kau!! seniman seperti kami bebas pergi kemanapun dan kapanpun kami mau. Tanpa ada aturan yang mengikat."
"True true... itu enaknya jadi kalian ya?" dia tergelak.
"Benar, dan kau tidak akan tahu bagian yang paling menyenangkan dari ini."
"Apa Nick?"
"Kau bisa bertemu denga gadis-gadis di seluruh dunia. Yang akan rela menanggalkan pakaiannya untukmu dan menyerahkan diri secara suka rela, dan kau terbebas dari tanggung jawab apapun." ucap pemuda bermata hijau itu.
"Dasar kau!!" Dimitri meninju pundak sahabatnya itu.
"Dan ngomong-ngomong soal para gadis, ada yang titip salam untukmu." seorang temannya lagi menyela.
"Siapa Jake?"
"Oh ya? aku memang tak menghubunginya lagi sejak... " dia teringat kejadian malam setelah pesta sebelum kelulusan, saat semuanya semakin liar dan menggila.
"Yeah, ... tapi sepertinya dia masih penasaran denganmu Dim."
Dimitri hanya tersenyum.
"Tapi tak usah khawatir." Nick menepuk pundaknya. "Minggu depan dia akan datang."
"Benarkah?"
"Yeah, ... dia dapat undangan dari event besar di Jakarta."
Dimitri terdiam.
"Dan sesuatu membawanya untuk datang kemari kawan." dua temannya tertawa.
"Serius, sepertinya kali ini kau tak bisa lari, Dim. Karena dia yang justru akan mengejarmu."
"Sudah kuperingatkan sebelumnya, jika dia tak bisa ditolak, dan kau akan dapat masalah setelahnya. Tapi kau tak bisa aku beri tahu." Jacob mengingatkan.
"Ini bukan Moscow tahu?" Dimitri menggendikan bahu.
"Tapi dia Irina."
"Well, I don't really care about that."
"Terserah padamu."
"Ngomong-ngomong, kau akan ajak kami menginap di hotel mana?" Nick bertanya.
"Tidak dihotel."
"Villa?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Rumah orang tuaku."
"What? are you serious?"
"Tentu saja."
"Disini kau masih tinggal dengan orang tuamu? lucu sekali!" mereka menertawakannya.
"Diamlah, aku sedang berusaha agar ibuku mengijinkan aku tinggal sendiri."
"Your Mama?" Jacob mengejek.
"Dasar anak Mama!" Nick menepuk kepala pemuda itu dengan keras.
"Diamlah!"
"Sepertinya ibumu sangat menyeramkan sehingga lantak mampu menolak apa yang dikatakannya."
"Hey! it's My mom!"
"Apa dia galak kepadamu? apa dia akan memukulimu jika tahu anaknya nakal selama di Moscow?"
"Shut up!!"
"Senakal apapun dirimu, kau harus tetap baik kepada ibumu, Nick! kau tahu istilah agama kami?"
"What?" Jacob menyela.
"Surga ada di telapak kai ibu, kau tau?"
"Apa?" dua temannya itu tertawa.
"Jadi Surgamu ada di bawah kaki ibumu ya? kalau begitu bagus. kau hanya perlu membuatnya menginjakmu untuk masuk ke surga, dan kau akan selamat." mereka tertawa lagi.
"Bukan begitu konsepnya, bodoh!!" Dimitri memukul mereka berdua.
"Yeah, ...whatever."
"So, kita akan ke tempat ibumu ya?"
"Jangan macam-macam, kalian harus bersikap baik. Terutama karena ada papiku dirumah."
"Benarkah jagoan?"
"Kslian akan dspat masalah kalau macam-macam."
"Contohnya?"
"Aku akan melaporkan kalian ke imigrasi dengan alasan pengunjung ilegal!" ancamnya, kemudian mereka tertawa bersama.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
udah waktunya vote nih gaess... kuy kirim.
jan lupa like komen sama hadiahnya juga ya.
lope-lope saBandungeun. 😘😘😘