All About You

All About You
Drama Ayam Geprek



🌹


🌹


Dimitri menerima satu cup capucino cincau dari pedagang yang dia temukan dalam perjalanan pulangnya. Seharian itu dia terus mengingat, bahkan dia menyetel alarm di ponselnya agar tak lupa seperti kemarin. Bisa-bisa kesejahteraannya terancam kalau hal itu terjadi lagi.


Baru kali ini Rania merajuk, dan semalamam dia tak diijinkan masuk kedalam kamar walau berbagai cara sudah dilakukan, baru setelah dirinya muntah-muntah Rania mau membukakan pintu.


Beruntung pekerjaannya hari itu selesai tepat waktu sehingga dirinya bisa pulang lebih awal.


Dengan riang Dimitri melangkah masuk kedalam rumah. Dia sudah membayangkan seperti apa ekspresi istrinya ketika tahu dia pulang membawakan minuman kesukaannya.


Pria itu sudah tersenyum-senyum tak karuan.


"Senyum-senyum? baru menang lotere ya?" bersamaan sengan itu Rania muncul dari dapur, dengan satu cup besar es krim di tangannya. Dia berjalan sambil memakan es krim tersebut menuju ke ruang tengah tempat biasanya menghabiskan waktu.


Dimitri mengikutinya sampai mereka sama-sama duduk di depan televisi.


"Kamu udah makan?" Rania bertanya.


"Sudah tadi sekalian dengan klien dan Clarra." Dimitri menjawab.


"Hmm ...


"Kamu?"


"Belum."


"Belum? kenapa? orang suruhannya mama nggak masak hari ini?" pria itu bereaksi.


"Masak, tuh ..." Rania menyentakan kepalanya ke arah ruang makan. Tampak beberapa wadah tertutup dengan makanan di dalamnya.


"Terus kenapa kamu tidak makan?"


"Aku nungguin kamu."


Dimitri terdiam.


"Aku tadi makannya sekalian dengan klien dan Clarra karena ...


"Udah tahu, nggak usah kamu ulang-ulang. Makanya kamu pulang jam segini, kan?" satu sendok penuh es krim Rania jejalkan kedalam mulutnya sendiri. Entah, perasaan apa yang baru-baru ini selalu datang setiap kali suaminya menyebut nama Clarra. Sekertaris sekaligus sepupunya.


"Hmm ..." pria itu mengusap tengkuknya sendiri, melihat raut wajah Rania membuat dirinya tiba-tiba saja merasa gugup.


"Ya sudah, ayo aku temani makan?" ajak Dimitri kemudian.


"Nggak usah, lagian akunya lagi nggak selera makan juga."


"Kenapa? kamu sakit?" dia merangsek ke dekatnya.


"Nggak. Biasa katanya, kalau lagi hamil suka gini."


"Oh, ...


"Mood aku juga turun naik," adu nya kepada suaminya.


"Benarkah?"


"Hu'um, kenapa bisa gitu ya?"


"Mungkin efek kehamilan juga?"


"Mungkin."


"Oh iya, sampai lupa. Hari ini aku bawa ini." Dimitri menunjukan apa yang dia bawa.


"Apaa?"


Sebuah bungkusan yang di dalamnya berisi satu cup minuman dingin kesukaannya, namun malah membuat Rania mendengus kecewa.


"Aku kira bawa apa." dia meletakan bungkusan tersebut diatas meja.


"Lho? kemarin sampai marah-marah karena aku lupa membeli ini? sekarang sudah aku belikan malah tidak senang?" protes Dimitri.


"Aku lagi nggak mau itu sekarang."


"Hah?"


"Aku lagi mau makanan lain."


Pria itu mengetatkan rahang hingga giginya bergemeletuk.


"Yang, aku lapar," ucap Rania yang kemudian mendekati Dimitri.


"Ya makan lah. Bukannya di meja makan sudah ada?"


"Nggak mau itu, maunya yang lain."


"Apa?"


"Ayam geprek."


"Astaga!!"


"Udah lama nggak makan itu." Rania membayangkan makanan pedas itu hingga dia merasa air liurnya hampir menetes.


"Kenapa kamu maunya selalu itu? kenapa tidak minta yang lain?"


"Nggak tahu, pokoknya mau itu. Mungkin bawaan dedek bayi."


"Bawaan bayi ataupun bukan kamu maunya selalu begitu." Dimitri merengut, lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


"Ayolah, ...


"Makan yang ada sajalah, sayang kalau beli terus. Kan sudah ada makanan dirumah?"


"Hmm ...


"Jangan suka mengada-ada, tidak ada yang namanya bawaan bayi, yang ada hanya keinginan ibunya." pria itu dengan kekesalannya.


"Aku mandi dulu, nanti aku temani makan." lanjutnya yang bangkit kemudian menghambur ke kamarnya di lantai atas.


***


Dimitri bergegas mengenakan pakaiannya ketika mendengar raungan mesin motor menggema di halaman belakang rumahnya. Dia mengintip lewat jendela dan tampaklah Rania yang sudah mengeluarkan Ducati hitamnya.


"Apa yang akan dia lakukan?" pria itu bergumam, lantas segera keluar dari kamarnya.


"Kamu mau pergi?" dia setengah berlari ke garasi belakang.


Rania tak menjawab, dia hanya meutar gas yang menimbulkan suara bising yang terdengar indah di telinganya.


"Zai?" Dimitri berteriak.


"Ya?" perempuan itu mendongak.


"Kamu mau pergi?" pria itu mengulang pertanyaan. Menatap istrinya yang sudah mengenakan celana panjang dan jaket kulitnya.


"Hu'um." Rania mengangguk.


"Pergi kemana malam-malam begini? mau pakai motor lagi?"


"Beli ayam geprek." Rania menjawab.


"Astaga Tuhan! kamu ini benar-benar, ... arrgghh!!" pria itu meggeram kesal.


"Diamlah, kamu nggak akan ngerti yang aku rasain. Udah kebayang itu ayam sama sambellnya, ... duh." lagi-lagi dia merasakan air liurnya hampir menetes hanya dengan membayangkannya saja.


"Aku berasa ileran ini." perempuan itu segera mengenakan helmnya, dan dia hampir saja menaiki motor besar itu ketika Dimitri menghalanginya.


"Kamu nggak ingat sedang hamil?"


"Ingat, dan aku lapar. Makanya mau beli makanan."


"Sudah malam, Zai. Kan bisa order online?"


"Jauh ...


"Jauh kalau pergi, kamu tinggal duduk manis saja, lalu makanannya datang. Biasanya juga begitu kan?"


"Sebentar, aku pesankan."


"Tapi lama."


"Sama saja, pergi juga lama." Dimitri menyalakan ponselnya.


"Tempatnya jauh Yang."


"Aku tahu."


"Yang di Gedung Sate ya? bisa emang nganter yang jauh?" ucapan Rania menghentikan Dimitri dari apa yang akan dilakukannya.


Perempuan itu tersenyum lebar.


"Kita di Jakarta, Zai."


"Aku tahu."


"Terus kenapa kamu mau pesan makanan yang pedagangnya jualan di Bandung?"


"Mau aja. Bisa?" Rania melihat ponsel ditangan suaminya.


"Perjalanan dari Bandung kesini dua jam, belum macet belum lagi ...


"Ah, ... kamu banyak ngomong. Udah aku bilangin mau pergi juga." Rania kembali hampir menaiki motornya.


"Dua jam lho itu Ran!" Dimitri dengan gemas.


"Iya, terus?"


"Kenapa kita tidak pesan yang dekat saja? disini juga banyak yang jualan ayam."


"Nggak mau, aku maunya yang itu."


"Astaga, Rania!!!" lalu dia mencabut kunci motor dari tempatnya agar perempuan itu mengurungkan niatnya.


"Kamu cuma gitu doang alasannya banyak amat? padahal aku cuma mau ayam geprek!"


"Tapi permintaanmu konyol! kenapa harus beli di Bandung sementara disini juga banyak?"


"Aku maunya itu!" Rania berteriak, kemudian turun dan membanting helmnya ke lantai beraspal di depan garasi. Lalu dia berjalan kedalam rumah.


***


Dimitri merasa ragu untuk masuk ke kamarnya, pasalnya Rania pasti sedang merajuk lagi saat ini. Dan dia pasti mengunci lagi pintu kamar mereka hanya karena dirinya tak mau memenuhi keinginan konyol perempuan itu untuk membeli makanan kesukaannya langsung dari Bandung.


Hal yang begitu konyol memang.


Di dunianya tidak ada hal selain ayam geprek apa? masa aku harus mengikuti kemauan sekonyol itu? ayam geprek Gedung Sate, konon! gerutunya dalam hati.


Namun raut wajahnya berubah saat dia mendengar suara tawa renyah dari dalam kamarnya, tampaknya Rania sedang melakukan panggilan video dengan seseorang. Dan suara seorang pria yang dia dengar.


Segera saja Dimitri menerobos pintu yang ternyata tak terkunci, mengunterupsi percakapan yang tengah berlangsung.


"Ya udah, tapi jangan terlalu siang. Nanti aku kelamaan nunggunya." katanya, sambil melirik kepada Dimitri yang baru saja masuk.


"Pagi-pagi kang ayamnya belum buka oneng! lagian pak Satria nyuruh aku datang siang."


"Emang papi nyuruh kamu datang jam berapa?"


"Sebelum makan siang."


"Ya udah, mampir dulu kesini. Nunggunya disini aja,"


"Aku nggak enak ah sama Pak Dimitri,"


"Nggak apa-apa, besok dia juga ada."


"Oh ya?"


"Hari Sabtu, kan biasanya libur."


"Lagian kenapa sih, emang di Jakarta nggak ada yang jualan ayam ya? ngotot banget sih pengen beli dari sini?"


"Nggak enak. Aku maunya yang dari sana."


"Hah, ... bawaan bayi nih kayaknya."


"Iya, kayaknya bawaan bayi."


Lalu terdengar suara tawa dari seberang sana.


"Masa bayinya sultan ngidamnya ayam geprek?"


"Dih, emang bisa diatur harus apa ya?"


"Ya apa kek, ngidam helikopter gitu, atau kapal pesiar. Kan cocok. Kalaupun nanti nggak diturutin sama bapaknya, terus bikin bayinya ileran. Kan rada keren kalau jawab pertanyaan orang."


"Hah?"


"Jeng Rania, dedeknya kok ileran, lagi hamilnya ngidam apa sih? terus kamu jawab, mau kapal pesiar, tapi papinya nggak sempat bikinin karena terlalu sibuk. kan keren." lalu dia tertawa lagi.


"Gelooo!" Rania pun ikut tertawa.


Kemudian Dimitri datang menghampiri dan duduk di dekatnya. Membuat percakapan itu terhenti sejenak.


Galang terlihat mengatupkan bibirnya karena merasa terkejut dengan keberadaan pria itu yang dia lihat di layar ponselnya.


"Pak?" sedikit terpaksa dia menyapanya.


"Ya udah, pokoknya bawa aja. Rasanya pasti enak tuh. Sambelnya udah meresap selama perjalanan Bandung-Jakarta." Rania berujar sambil memegangi lehernya, rasanya makanan itu sudah berada di tenggorokannya.


"Oke." jawab Galang, dan sambungan pun berakhir beberapa saat kemudian.


"Kamu sengaja meminta Galang?"


"Bisa dibilang begitu."


"Kenapa?"


"Ya kan kita nggak bisa pergi? ya aku minta yang bisa aja."


"Kenapa harus Galang?"


"Ya kenapa bukan Galang? cuma dia temen yang aku kenal. Lagian kebetulan juga dia mau ke Jakarta."


"Galang ke Jakarta mau apa? mau kesini menemui kamu?"


"Nggak. Tapi ya jadinya nanti mampir kesini karena aku minta dibawain ayam geprek."


Dimitri mendengus kesal.


"Katanya disuruh papi datang kerumah." lanjut Rania.


"Disuruh papi?"


"Hu'um."


"Mau apa?"


"Nggak tahu, aku nggak nanya." perempuan itu meletakan ponselnya diatas nakas, kemudian melepaskan kaus dan celana panjangnya sebelum masuk kedalam selimut.


"Terus ...


"Udah ah, aku mau tidur. Ngantuk," ucap Rania yang menarik beberapa bantal sehingga mengelilingi tubuhnya. Membentuk semacam benteng untuk menghalau musuh yang datang. Dan dia segera telelap begitu kepalanya meyentuh bantal tersebut.


Sementara Dimitri tertegun di sisi tempat tidur dengan rasa kesal memenuhi dada.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


cuma bisa ketawa aja pak, kasihan kasihan kasihan 😂😂