All About You

All About You
Ngidam



🌹


🌹


"Ya ampun! habis dari mana kamu Ran?" Sofia menyambut kedatangan menantunya bersama Galang yang telah suaminya tunggu.


"Dari rumah." sang menantu melepaskan helmnya dari kepala.


"Dengan Galang?"


"Iya, kebetulan tadi nitip ayam geprek, abis itu ikut deh kesini."


"Ayam geprek?" Sofia mengerutkan dahi.


"Iya, dari semalam baru dapat hari ini dibawain Galang," mereka berjalan memasuki rumah.


"Kamu datang dengan Galang?" Satria muncul dari ruang kerjanya.


"Iya pih."


"Dimitri?"


"Dia tadi ..." kemudian sebuah mobil yang mereka hafal memasuki pekarangan.


"Nyusul," ucap Rania yang menoleh keluar.


"Oh, ...


"Ya sudah, ayo kita makan dulu ... hari ini bu Lily masak yang spesial," ucap Sofia seraya menarik menantunya tersebut keruang makan. Diikuti Satria yang mengisyaratkan Galang juga untuk ikut.


"Sepertinya bu Lily tahu hari ini Dimitri akan datang, jadi dia memasak makanan favoritnya," lanjut Sofia ketika putra kesayangannya juga sudah berada diruang makan bersama mereka.


"Apa?" Rania dengan polosnya.


"Sop iga. Kamu tidak tahu?" sang mertua menyiapkan alat makan mereka.


"Oh, ... itu." Rania tertawa ketika teringat pertama kali dirinya dan Dimitri makan bersama disebuah tempat makan kaki lima, yang juga menjadi tempat favoritnya dulu.


"Kamu lapar Yang?" Rania bertanya kepada Dimitri, yang membuat pria itu sedikit terkejut.


"Dari pagi belum makan pasti lapar." Rania mengambilkan nasi juga semangkuk sayur berkuah bening dengan potongan wortel, kentang juga daging iga yang cukup menggiurkan. Kemudian meletakannya di depan Dimitri setelah suaminya itu duduk di dekatnya.


"Kenapa belum makan? Lina tidak masak?"


"Masak. Dia sibuk ma, milih menyelesaikan pekerjaan dari pada makan." Rania mengadu.


"Kebiasaan."


"Agar cepat selesai dan bisa pergi, Mom." Dimitri menjawab dengan senyuman.


"Pergi kemana?"


"Kemana saja yang Rania mau." Dimitri menjawab.


"So sweet!" Rania dengan ekspresi yang cukup manis seraya mendekatkan nasi dengan mangkuk berisi sayur sop yang masih mengepul.


Namum Dimitri segera menutup hidung begitu menghirup aroma yang menguar di udara. Dia tiba-tiba saja merasa mual dan perutnya terasa diaduk-aduk.


"Kenapa?" Rania sedikit menunduk.


"Bau," ucap pria itu seraya menjauhkan wajahnya.


"Apanya yang bau? aku udah mandi." Rania mengendus dirinya sendiri.


Dimitri melepaskan tangannya dari hidung, dan kembali menghirup udara di sekitarnya. Namun lagi-lagi dia bereaksi sama.


"Makanannya yang bau!" geramnya sambil mendorong mangkuk sejauh yang dia bisa.


"Makanannya? maksud kamu sayur sopnya?" tanya Rania.


Dimitri mengangguk.


Lalu Sofia memeriksa keadaan makanannya untuk memastikan.


"Tidak ada yang aneh, sayurannya baru, dagingnya juga segar. Dan aromanya juga enak, persis seperti yang kamu suka." katanya.


"Suka apanya? bauuu!!" pria itu menekankan, kemudian dia bangkit dan segera berlari ke kamar mandi.


"Kenapa dia itu? sakit?" Sofia menatap menantunya ketika samar-samar mendengar Dimitri seperti muntah-muntah.


"Emang suka gitu. Bangun tidur muntah-muntah, mau tidur muntah-muntah. Lagi kerja juga kalau nggak terlalu sibuk pasti muntah-muntah. Cuma kalau lagi dirumah aja nggak. Baru sekarang dia muntah karena lihat makanan."


"Hah?"


"Sejak kapan?"


"Katanya sejak aku hamil. Disuruh periksa ke dokter nggak mau, katanya nggak apa-apa, tapi muntah terus. Bikin khawatir."


Lalu Satria tertawa dengan keras.


"Kamu sendiri sejak hamil apa yang dirasa?" Sofia bertanya lagi.


"Nggak ada, biasa aja."


"Mual? pusing?"


"Nggak ada."


Kemudian tawa Satria menjadi semakin keras.


"Hmmm ... pantas, gejalanya pindah," ucap Sofia setelahnya.


"Pindah?"


"Kamu hamil muda, tapi tidak merasa apa-apa? gejala yang biasanya dialami orang hamil?"


"Nggak Mah. Emangnya kalau hamil biasanya kenapa aja?"


"Ya seperti itu, mual, pusing, muntah-muntah."


Rania terdiam. Seingatnya tidak ada hal yang disebutkan mertuanya yang dia alami. Semuanya berjalan normal-normal saja baginya, selain nafsu makannya saja yang bertambah besar.


"Nggak." dia menggelengkan kepala, kemudian menoleh ketika menyadari suaminya sudah kembali.


"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya kepada Dimitri.


"Ada makanan lain tidak? aku ... sepertinya tidak bisa makan makanan itu. Baru mencium aromanya saja sudah terasa mual." pria itu tak mau mendekat.


"Nanti antar saja ke teras, aku tunggu disana." lanjutnya yang kemudian memilih keluar dari ruang makan.


"Mual katanya? bukankah itu makanan kesukaannya sejak kecil?" Satria masih terkekeh-kekeh.


"Hhh, ...


"Ternyata dia mirip aku ya?" pria itu memulai acara makannya.


"Memang, ah ... sangat menyulitkan," jawab Sofia.


***


"Aku aja yang antar." Rania menghentikan langkah asisten rumah tangga yang bermaksud mengantarkan makanan untuk Dimitri.


"Selesaikan saja dulu makanmu, Ran." Sofia menyela.


"Udah Mah, aku kenyang. Kan sebelum kesini tadi makan dulu." perempuan itu menerima nampan untuk kemudian dia antarkan ke teras belakang.


"Kalau makanan ini kamu mua nggak?" Rani meletakan nampan yang dibawanya diatas meja. Kemudian Dimitri memalingkan perhatiannya dari ponsel pintarnya.


"Sepertinya tidak." lalu dia meletakn benda pipih tersebut diatas meja, dan beralih pada makanan yang dibawakan Rania untuknya.


"Aneh banget sih kamu ini, ... segala makanan juga bikin mual?" Rania duduk disampingnya.


Kemudian Dimitri mulai melahap makanannya tanpa drama mual seperti sebelumnya.


***


Galang berpamitan setelah membicarakan banyak hal bersama Satria di ruang kerjanya. Dengan misi yang dia emban untuk menjalankan suatu rencana rahasia. Diantar ke teras depan oleh Rania yang tampak berat untuk membiarkan sahabatnya itu pergi. Walau dia menyadari ketidak sukaan Dimitri atas kehadiran pemuda itu, namun dirinya tetap melakukan hal tersebut.


"Ngomongin apa sih tadi kayaknya serius banget deh?" Rania mengantarnya hingga ke tempat Galang memarkirkan motornya.


"Ada deh." Galang mengenakan helm, kemudian menyalakan motornya.


"Kamu disuruh kerja sama Papi?"


"Nggak. Mana bisa aku kerja sekarang ini? kuliah belum selesai."


"Tapi serius amat, kayak ada kerjaan besar?" Rania dengan rasa penasarannya.


"Kamu kepo deh."


"Ya habisnya kalian mencurigakan."


"Mencurigakan apanya?" Galang tertawa.


"Pak Satria cuma kasih aku tugas." katanya kemudian.


"Tugas apa?"


"Nanti kamu juga tahu."


"Ish, ... kalau jawab tuh jangan setengah-setengah."


Galang tertawa lagi.


"Malah ketawa?"


"Udah ah, aku pergi dulu. Lama-lama disini bisa ngamuk pak Dimitri."


"Kenapa harus ngamuk?"


"Kamu nggak lihat apa mukanya udah kelihatan kesel gitu?"


Rania menoleh kebelakang dimana suaminya mengawasi mereka dari balik jendela di dalam rumah.


"Dia mah emang gitu."


"Peka dikit, oneng! peduli sedikit sama perasaan orang lain," ucap Galang kepada sahabatnya itu.


"Perasaan apa? orang dia juga nggak peduli sama perasaan aku."


"Dih, balas dendam. Hamil bikin kamu jadi ngambekan ya?"


"Serah kamulah."


"Sana masuk lagi, nggak enak juga sama mertua kamu, masa menantunya deket-deketan sama sahabatnya. Nanti gimana pikiran mereka sama kamu?"


Rania mengerucutkan mulutnya.


"Pergi ya? jangan jadi orang yang nyebelin, mau jadi emak-emak juga." pemuda itu lantas meninggalkan tempat tersebut.


***


"Papi ada urusan apa dengan Galang?" Dimitri masih mengawasi isrtinya yang berada diluar rumah.


"Urusan bisnis."


"Bisnis apa?"


"Soal balapan kemarin."


Dimitri memutar tubuhnya.


"Kak Adrian sudah mengirim hasilnya?"


"Bagaimana?"


"Pengungkapa kasusnya memang tidak bisa di utarakn di depan forum, karena mereka aka terus mengelak dan mencari alibi. Jadi ... harus diungkap secara luas."


"Maksud papi?"


"Kita ungkap nanti saja di balapan Amerika minggu depan."


"Kenapa harus menunggu sampai minggu depan?"


"Agar momennya pas."


"Tapi kenapa harus Galang?" Dimitri berbicara lagi.


"Kenapa tidak Galang?"


"Masalahnya aku tidak menyukai dia."


Satria tergelak.


"Cemburu?" Sofia muncul dengan minuman yang dia bawa.


"Bukan cemburu, hanya tidak suka," jawab sang putra seraya menjatuhkan bokongnya diatas sofa.


"Kenapa?"


"Dia terlalu dekat dengan Rania, dan itu terasa sangat menyebalkan."


"Iya, itu cemburu." Satria tertawa.


"Apalagi semalam Rania malah mengadu kepadanya karena aku tidak mau mengikuti keinginannya."


"Mengadu? kepada Galang?"


"Iya."


"Soal apa?"


"Soal ayam geprek."


"Ayam geprek?"


"Iya."


"Yang dibawakan Galang?"


"Iya."


"Memangnya kenapa?"


"Semalam Rania merengek mau makan ayam geprek, padahal sudah ada makanan dirumah. Tapi dia malah mau membeli makanan lain."


"Terus? kan tinggal beli saja, apa masalahnya?"


"Keinginanya itu konyol."


"Konyol di bagian mananya?"


"Keinginannya."


Sofia mengerutkan dahi.


"Masa dia maunya beli ayam geprek di Bandung, bukankah itu konyol? malam-malam harus jauh-jauh ke Bandung hanya untuk satu porsi ayam geprek?"


"Astaga!"


"Dan lagi malam sebelumnya dia marah karena aku lupa membelikannya minuman kesukaannya. Ish, menyebalkan!"


Kedua orang tuanya tertawa secara bersamaan.


"Sejak hamil tingkahnya menjadi semakin aneh. Dia jadi menyebalkan," adunya kepada mereka.


"Dia sedang ngidam itu Dim." Sofia menyesap minumannya.


"Ngidam itu apa?"


"Ngidam itu semacam fase kehamilan. Tidak ada keterangan medisnya, tapi itu nyata terjadi. Biasanya dipengaruhi oleh hormon."


"Semacam mood yang naik turun?"


"Seperti itulah."


Dimitri mengetikan kata ngidam di pencariam ponselnya.


"Aneh," ucapnya saat membaca artikel tentang ibu hamil tersebut.


"Keinginan yang aneh, mustahil dan tidak logis." katanya, saat membaca lebih banyak lagi artikel tentang hal itu.


"Rasanya sudah cukup dengan mual dan pusing yang aku rasakan, kenapa juga dia harus mengalami hal itu, duh." Dimitri memijit keningnya yang terasa nyeri.


"Sabar nak. Ini kan hasil dari perbuatanmu kepadanya. Jadi terima sajalah." Satria kembali tertawa.


"Papi sepertinya senang sekali melihat aku menderita seperti ini?"


"Ah, ... itu tidak seberapa. Coba kamu tahu apa yang papimu alami waktu mama mengandungmu." Sofia menyela.


"Apa?"


"Papi tidak bisa jauh-jah dari mama. Jadi selama empat bulan mama harus ikut pergi ke kantor agat papi tidak merasa mual. Kalau tidak, papi akan seperti orang keracunan parah."


"Ah, ... tidak hamil pun kalian harus selalu dekat-dekat." Dimitri memutar bola matanya.


"Bukan hanya itu, papi tidak bisa mencium wangi parfum lain selain parfum mama."


"Terus?"


"Satu gedung Nikolai Grup harus memakai parfum yang sama setiap hari tidak terkecuali."


"Bayangkan segila apa itu?"


"Dan serepot apa Arfan harus mencari parfum yang sama di seluruh kota Jakarta." Satria terus tertawa. Mengingat hal itu seperti dirinya sedang bernostalgia akan memori masa lalu.


"Ya, kita selalu merepotkan dia." Sofia menimpali.


"Seluruh gedung harus memakai parfum yang sama?" Dimitri mengulangi perkataan ibunya.


"Ya."


"Tidak terkecuali."


"Tidak terkecuali?"


"Termasuk pegawai pria."


"What?"


"Apalagi Arfan." suami istri itu tertawa bersamaan.


"Om Arfan juga?"


"Ya ...


"Nggak kebayang jadi sekacau apa dia ...


"Jangan dibayangkan," ucap Satria sambil menggelengkan kepalanya. Dan tawa masih saja terdengar keluar dari mulut pria itu.


"Jadi, ... bersabarlah. Karena yang kamu alami sekarang tidak ada apa-apanya."


"Kadang aku kehabisan akal untuk menghadapi keinginannya yang tidak masuk akal."


"Tidak masuk akal sebslah mananya? menurut mama keinginan Rania masih normal. Cuma mau makanan yang bisa kamu dapatkan dimana saja."


"Tidak dimana saja, Mom. Semalam dia mau makan ayam geprek dari Bandung, ingat?"


"Ya tinggal beli dari sana, apa susahnya?" sahut Satria.


"It's Bandung, Pih!"


"So? kamu tidak mau kesana karena jauh?"


Dimitri terdiam.


"Masih bisa menyuruh orang ya suruh orang. Kenapa harus dibuat sulit? bukankah di Bandung banyak orang kita juga? sesekali minta tolong tidak apa-apa, mereka pasti mengerti. Kalau dia maunya kamu yang belikan, ya pergilah selama masih bisa kamu lakukan. Kecuali kalau kamu tidak bisa. Tapi akan selalu ada orang yang lebih bisa diandalkan dari kamu. Contohnya Galang. Mulai sekarang, jika kamu tidak bisa dia andalkan, maka Rania akan mengandalkan orang lain. Dan itulah resikonya."


Dimitri bangkit.


"Tidak mungkin."


"Makanya, selagi dia masih mengandalkanmu, sekalipun permintaannya menurutmu konyol, maka jangan pernah menyanggahnya. Karena logika tidak akan berlaku bagi perempuan hamil seperti Rania. Ingat bagaimana dulu kamu begitu menginginkan dia, lalu sekarang kenapa kamu menganggap apa yang dia inginkan itu sepele?"


"Papi membela Rania ya?"


"Bukan membela. Keadaan dia yang sekarang memang tidak bisa dihadapi dengan logika kita. Tidak akan ada habisnya jika terus saling mempertahankan pendirian sendiri-sendiri."


"Hah, ... aku hanya nggak mengerti denga masalah ini. Pikiranku nggak sampai kesana, soal kehamilan ini, ngidamnya yang seperti mama jelaskan, juga keras kepalanya Rania. Nggak hamil saja dia keras kepala, apalagi sekarang. Keras kepalanya bertambah berkali-kali lipat." Dimitri menggerutu.


Sofia tertawa sambil menepuk-nepuk punggung putra kesayangannya.


"Sabar, sabar. Nanti kalau sudah melahirkan keras kepalanya akan berkurang," katanya.


"Benarkah? oh ... aku berharap keras kepalanya akan hilang dan dia jadi penurut. Kan bagus kalau dia menuruti samua yang aku inginkan."


"Memangnya dia budakmu apa?" sergah Satria.


"Ya, ... minimal dia nggak sekeras ini."


"Kan udah tahu kalau aku keras kepala? kenapa juga masih nekad?" Rania tiba-tiba saja sudah berdiri diambang pintu.


"Umm ..." secara serentak mereka bertiga memalingkan pandangan.


"Mm ... maksud aku, ...


"Aku lupa hari ini ada jadwal cek kandungan."


"Benarkah?"


"Hu'um, ... tadi dokternya nelfon. Tanya mau check up apa nggak. Kalau nggak dia nggak akan nunggu."


"Begitu ya?"


"Iya. Mau antar ke rumah sakit nggak? kalau nggak aku order taksi online aja."


"Eee ...


"Pergi dulu ya Mah, Pih." Rania mencium tangan kedua mertuanya, kemudian segera keluar dari rumah besar tersebut, sementara Dimitri masih tertegun ditempat duduknya.


Hingga akhirnya Sofia menyadarkannya dan memberinya isyarat kepada putranya itu untuk mengejar Rania.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Hadeh, bikin gara-gara terus 🙄


like komen sama hadiahnya dulu kirim dong, hahaha 😁😁