All About You

All About You
Sedihnya Rania



🌹


🌹


"Awas awas awas!!" Rania berteriak sambil menarik benang yang terhubung dengan layangan yang terbang di langit. Berusaha menyeimbangkannya agar tak terbawa angin.


Dia bahkan sampai melupakan alas kakinya saking bersemangatnya bermain. Dan keceriaan anak-anak mengalihkan perhatiannya sejak beberapa saat yang lalu.


"Ada yang lawan teh!" teriak salah satu dari mereka ketika sebuah layangan muncul entah dari mana.


Rania menarik ulurnya dengan cepat seperti dirinya sudah ahli melakukannya. Tentu saja, dia ingat caranya karena waktu kecil dirinya sering bermain layangan setiap kali dia dan keluarganya datang ke tempat itu untuk liburan. Dan itulah yang dia lakukan bersama anak-anak kampung yang di temuinya.


"Anjimmm!" pekiknya ketika layangan miliknya terputus dari benangnya.


"Yah, ... putus." gumam anak-anak tersebut, kecewa.


"Hh... masih ada lagi nggak?" Rania menoleh kepada teman-teman barunya yang berkumpul di samping.


Ada yang sama-sama menerbangkan layangan, ada yang tengah menikmati makanan yang di bawa Rania dari dalam villa, bahkan ada juga yang bermain ponsel miliknya, yang sengaja dipinjamkan oleh perempuan itu agar mereka mau menemaninya di tempat tersebut.


"Udah habis sepuluh." jawab yang lainnya.


"Oh ya? banyak juga ya? hehe ..." perempuan itu tertawa.


"Dahlah, mau pulang dulu." salah satu dari mereka bangkit.


"Kok pulang?"


"Udah sore, teh. Nanti di cariin."


"Oh, ..." dia menerima ponselnya yang di sodorkan anak tersebut.


"Pulang juga lah," sahut yang lainnya.


"Oke." Rania dengan raut kecewa. "Eh tapi besok main kesini lagi ya?" katanya, dengan banyak ide konyol yang bermunculan di kepalanya.


"Nggak tahu, besok kan sekolah."


"Pulang sekolah aja?"


"Banyak pr."


"Habis ngerjain pr."


Anak-anak itu terdiam.


"Bawain layangan lagi yang banyak." Rania merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu lembar uang 50 ribu kemudian memberikannya pada salah satu diantara mereka.


"Belinya segini?"


"Iya."


"Kebanyakan."


"Emang dapat berapa uang segitu?"


"Layangannya dua ribuan, jadi dapet 25 biji."


"Wahhh banyak!" Rania menepukkan kedua tangannya dengan girang.


Anak-anak itu saling pandang.


Seorang perempuan hamil dari luar kota yang senang bermain layang-layang? sepertinya cukup aneh.


"Kalau ini buat jajan." perempuan itu kembali mengeluarkan selembar uang berwarna biru tersebut.


"Asik! oke, besok pulang sekolah kesini lagi." si anak barusan menyambar uang tersebut.


"Jangan lupa layangannya."


"Oke."


"Setelah ngerjain pr nya juga ya?"


"Siap teh!" bocah-bocah tersebut berlarian ke luar.


Apa lagi ketika melihat Hamdan tiba di pekarangan dengan motor bebeknya. Mereka segera saja berhamburan. Tahu pria itu akan segera mengomel dan memarahi mereka yang memang sering menyelinap ke dalam area villa tersebut untuk mencuri buah-buahan yang mang selalu ada.


"Mereka baru pulang neng?" pria itu bertanya.


"Iya."


"Neng biarin mereka main di sini?"


"Iya."


"Astagfirullah!" pria itu mengusap dadanya ketika melihat keadaan di teras belakang yang berantakan. Sampah bekas camilan berserakan, dan piring juga gelas kotor memenuhi meja.


"Saya beresin pak." Rania segera membereskan kekacauan yang dia buat.


***


"Udah pulang aja pak, cepet amat?" Rania duduk tak jauh dari pria itu yang tengah membenahi letak kursi-kursi bekas duduk dan bermain anak-anak kampung sekitar villa.


"Cepetlah, cuma ke terminal." jawab Hamdan yang kemudian duduk juga setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Kok ke terminal, katanya cucu bapak dari Jepang?"


"Iya, datang dari Jepangnya semalam, dia nginep dulu di rumah temennya. Nah baru pagi tadi dia ngasih kabar minta di jemput di terminal aja, takut lupa jalan kesini katanya. Udah lima tahun kan nggak ke sini sejak SMA."


"Oh ya?"


"Iya."


"Emang bapak ngerti dia ngomong apa? kan orang Jepang." Rania tertawa. Membayangkan pria tua di depannya yang berbicara dengan cucunya dengan bahasa asing, sepertinya lucu.


"Eh, ... dia kan bisa bahasa Indonesia juga Neng, sama kayak kita." jawab Hamdan.


"Masa?"


"Iyalah, ayahnya ngajarin dia banyak bahasa, Makamya bisa. Bahasa Sunda aja bisa."


"Serius?"


"Iya."


Dan Rania pun tertawa lagi, membayangkan pria sipit berkulit putih yang berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda.


Namun tiba-tiba saja dia teringat suaminya, yang sering mengomel dengan menggunakan bahasa yang tak dia mengerti.


Kamu inget aku nggak?


Atau malah seneng, karena aku nggak ada?


Perempuan itu terdiam.


Ngga ada yang berisik ya?


Nggak ada yang cerewet nanyain kamu pulang kapan?


Dan nggak ada juga yang gangguin kamu kalau lagi kerja di rumah.


Rania kemudian menggelengkan kepala untuk menghalau rasa rindu yang tiba-tiba saja hadir dan menyeruak memenuhi rongga dada.


Tak bisa di pungkiri, dirinya merindukan pria itu, namun rasa kesal rupanya lebih besar, dan kemarahan lebih mendominasi. Ketika dirinya mengetahui kebohongan yang mungkin menurut sebagian orang tidak ada apa-apanya. Namun baginya, merupakan hal besar. Dan itu tak bisa dia toleransi.


Berlebihan? mungkin. Tapi tidak ada yang merasakan hal tersebut selain dirinya bukan? Dan itu merupakan sefatal-fatalnya kekeliruan.


Dirinya mampu menerima ketika Dimitri mengaku pernah menjalin hubungan sesaat dengan banyak perempuan sebagai teman bersenang-senang. Dirinya bahkan menutup mata ketika mengetahui jika pria itu sering bergonta ganti teman tidur. Tak masalah baginya, karena setiap orang punya masa lalu, bukan?


Tapi diam-diam menemui seseorang dan menutupi semua itu meskipun tidak di sengaja? rasanya hal itu tidak masuk akal.


Bukankah sebagai suami istri segalanya menjadi hak dan kewajiban berdua untuk saling jujur? Dan mengetahui apa yang terjadi merupakan hak dan kewajibannya juga. Tapi nyatanya? Komitmen itu tiba-tiba saja Dimitri lupakan karena kehadiran seorang gadis yang tumbuh dengannya sejak kecil. Yang sangat mengenalnya, sehingga semua kebiasaan dan apa pun yang dia sukai saja tahu.


Dan bagaimana dengan dirinya? Nihil. Seolah dirinya bukanlah siapa-siapa. Seolah dirinya tak mengenali suaminya sendiri, sehingga harus di dikte sedemikian rupa.


"Neng?" suara Hamdan membuyarkan lamunannya.


"Ya?"


"Neng belum nelfon papa kalau udah sampai di sini?"


Rania menggelengkan kepala.


"Den Dimitri?"


"Nggak."


"Kok nggak? nanti orang-orang pada khawatir, mungkin sekarang Neng lagi di cariin."


"Biarin aja lah." perempuan itu merebahkan tubuhnya.


"Kasihan orang-orang di rumah, neng."


"Kenapa kasihan? mereka di rumah, hidup nyaman, bahagia. Apa lagi?"


"Beda Neng."


"Oh iya, cucu bapak seumuran siapa ya? laki-laki kan?" Rania mengalihkan topik pembicaraan.


"Laki-laki lah, kan ganteng. Namanya juga Gaza. Dn seumuran neng kayaknyaa."


"Ah, iya. Saya lupa." perempuan itu terkekeh sambil menepuk kepalanya sendiri. "Ini nih, makanya butuh healing. Biar otak nggak ngehank."


"Kayak hape aja Neng, ngehank?"


"Sama, kan hape kalau terus dipakai bisa ngehank, nah otak juga gitu. Kalau dipakai terus bisa stress."


Hamdan terdiam, dia tahu cucu dari majikannya ini sedang menyimpan kesedihan. Namun dia tak mau menunjukkannya di depan orang lain. Dan keadaannya yang tengah mengandung menjadi yang paling memilukan menurutnya.


"Sore ini Ambu masak apa?" Rania memulai kembali percakapan.


"Nggak tahu, Neng maunya apa?"


"Apa aja, masakan Ambu enak. Kayak masakan mama." Rania merasa tenggorokannya seperti tercekat. Ingat kepada kedua orang tuany yang mungkin saat ini sedang kebingungan mencrinya.


"Ya udah." pria itu bangkit.


"Tapi malam ini si Ambu kayaknya nggak bisa nemenin Neng. Soalnya kan ada Gaza, masa ditinggal?"


"Nggak apa-apa."


"Nanti bapak balik kesini agak malam ya, sambil bawa makanan."


"Iya, nggak usah buru-buru. Atau nyuruh tukang ojek aja, jadi bapak juga nggak bolak-balik ke sini. Kasihan."


"Ah, masa gitu?"


"Nggak apa-apa."


"Neng nanti sendiri kalau bapak nggak jaga?"


"Saya biasa sendiri."


"Emangnya nggak takut?"


"Takut apa?" perempuan itu terkekeh lagi.


"Takut hantu."


"Emangnya di sini ada hantu?"


"Nggak ada sih. Hahha... tapi nggak tahu juga, belum pernah ketemu."


"Dih, ... masa takut sama yang belum ketemu?"


"Ya kali aja Neng takut."


"Saya nggak percaya hantu."


"Beneran?"


"Lagian apa sih yang bisa di lakukan hantu selain nakut-nakutin doang? mereka nggak bahaya. Yang bahaya itu manusia. Karena bisa menyakiti dan melukai, lebih dari hantu. Bahkan saking serakahnya, manusia bisa melukai orang yang katanya dia sayang." keduanya kemudian terdiam.


"Ya udah sih, katanya mau pulang?" Rania bicara lagi, "Karena ada cucunya jadi malam ini bapak nggak usah jaga. Kasihan jauh-jauh dari Jepang kok di tinggal."


"Gaza udah ngerti kok, ini kan memang kerjaan bapak dari dulu." Hamdan bangkit dari kursinya, kemudian berpamitan.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


hehehe, ... minta hadiahnya lagi yang banyak 🤭🤭