
🌹
🌹
Semangat Dimitri seperti bertambah dua kali lebih besar dari hari-hari sebelumnya. Dia bahkan bisa menyelesaikan negosiasi dengan cepat dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Beberapa pertemuan pun berhasil dia lewati tanpa kendala berarti.
"Hentikanlah, ..." Andra bergumam.
"Apa?"
"Senyummu, hentikan. Kamu terlihat aneh hari ini." ucap Andra yang tengah menyelesaikan makan siangnya.
"Apanya yang aneh? aku hanya sedang bahagia, tahu! Kemarahan Rania sudah pulih, dia bahkan memintaku menjemputnya pulang kemarin." Dimitri menjawab.
"Yeah, ... terserah padamu lah." Andra memutar bola matanya. "Yang penting jangan membuat orang-orang salah faham."
"Maksudnya?"
"Senyum anehmu itu membuat orang lain salah faham."
"Hum?" Dimitri mengerutkan dahi.
"Perempuan di depan sana sepertinya mengira kamu sedang menggodanya." Andra melirik ke meja di depan, di mana sekumpulan perempuan tengah makan siang seperti mereka berdua.
Dimitri pun mengalihkan perhatian. Dan benar saja, beberapa orang perempuan dia depan berbisik-bisik sambil menatap ke arahnya. Salah satu di antaranya bahkan tampak mengirimkan sinyal godaan.
"Astaga!" pria itu berbalik.
"Satu hal yang harus kamu ketahui ketika menjadi pemimpin Nikolai Grup adalah, harus bisa menjaga sikap. Tidak boleh terlalu ramah kepada siapa pun, dan tidak boleh bersikap terlalu manis. Karena sikapmu yang seperti ini akan menyebabkanmu mengalami dua hal."
"Dan apakah itu?" Dimitri mencondongkan tubuhnya ke arah Andra.
"Kamu akan mudah di manfaatkan, lalu di jebak. Atau menyebabkan terlalu banyak orang yang mendekat. Entah sebagai teman atau pun musuh yang berkedok teman. Jadi, mulai sekarang hindari bersikap seperti itu." jelas Andra.
"Padahal aku cuma mengekspresikan kegembiraan." Dimitri bergumam pelan.
"Ekspresikan kegembiraanmu ketika sedang sendiri," namun Andra mampu mendengarnya dengan jelas.
"Astaga!" Dimitri pun memutar bola matanya.
"Cepatlah, apa kamu sudah selesai? kita masih ada pertemuan hari ini, dan jika ingin segera pulang sore nanti kita harus menyelesaikannya dari sekarang." pria itu bangkit lalu membenahi pakaiannya.
"Baik Om, ayo kita selesaikan hari ini?" Dimitri dengan semangatnya yang berlipat-lipat. Dia bahkan berjalan mendahului Andra keluar dari restoran bergaya futuristik di lantai empat menara paling terkenal di Uni Emirat Arab terebut.
🌹
🌹
"Nah kan, bisa?" Mimih menatap puas beberapa masakan hasil kreasi Rania yang berhasil di buat oleh perempuan itu.
"Tapi nggak tahu Rasanya." jawab Rania, sedikit tak yakin.
"Tadi gimana?"
"Menurut aku enak sih."
"Ya berarti sudah benar, Neng."
"Masa?" Rania mengulum senyum.
"Bisa kan? padahal baru kemarin di ajarin, tapi sudah bisa praktek sendiri. Walaupun hanya masakan sederhana, tapi ini kemajuan yang baik. Besok-besok pasti bisa bikin yang lain." Mimih menyemangati.
"Nggak yakin, apa lagi makanannya Dimitri."
"Memangnya kenapa?"
"Dia kan lidah sama perutnya beda dari yang lain. Mana bisa makan makanan yang aku bikin, yang penuh bubuk lada dan bertabur cabe."
Perempuan tua di hadapannya tertawa. "Ya bukin yang nggak pedas lah."
"Berasa ada yang kurang, Mbu."
"Mengalah, ... untuk apa pun. Mulai dari hal yang paling kecil."
"Yaelah, ngalah melulu."
"Saling, neng."
Rania terdiam sebentar.
"Karena rumah tangga itu bukan kita sendiri. Dan bukan tentang apa yang kita suka atau nggak kita suka. Tapi bagaimana kita berkompromi untuk hal yang nggak kita suka."
"Ah, ... Ambu bener lagi."
Mimih pun tersenyum.
"Hidup bersama hampir 40 tahun sama abah itu bukannya hal yang mudah. Bukan juga tanpa kendala. Lebih banyak susahnya dari pada senangnya. Biar anak kami cuma ayahnya Gaza saja, tapi karena keadaan kami yang sulit membuat semuanya tidak terasa mudah. Kecuali setelah abah kerja sama kakeknya Neng."
"Kapan Bapak mulai jaga villa?"
"Kalau nggak salah, setelah kejadian perampokan itu."
"Perampokan?"
"Neng nggak tahu ya? papanya nggak cerita?"
Rania menggelengkan kepala.
"Pokoknya setelah kejadian itu, keadaan villa sempat nggak terurus. Nggak ada yang mau jaga karena takut. Apalagi pamannya si bapak kan yang jadi sasaran perampok karena nggak menemukan barang berharga di sini. Den Angga juga jadi korban."
"Papa?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Ya kena pukul, sampai kepalanya luka. Dan ibunya ...
"Kenapa?"
"Jangan di ingat lah, suka sedih kalau ingat itu. Kenapa juga ini obrolannya malah jadi melebar ya?" Mimih terkekeh, "Intinya harus bisa saling mengalah dan memaklumi. Neng sama Den Dimitri kan awalnya orang asing, jadi nggak bisa begitu saja langsung saling mengerti. Dan kalau ada masalah lebih baik duduk bersama dan di bicarakan dengan benar. Biar sama-sama mengerti, dan saling memahami. Juga meminimalisir kesalah fahaman yang pastinya akan sering kalian alami."
"Jangan kabur." mereka berdua secara bersamaan, kemudian tertawa.
"Ambu, sudah selesai?" Gaza menjulurkan kepalanya lewat pintu belakang. Dia memutuskan untuk menunggui sang nenek yang kembali datang mengantarkan bahan makanan yang diminta Rania semalam. Sekaligus kembali mengajarinya mengolah bahan-bahan tersebut agar bisa di makan.
"Eh, ... ada Gaza!" Rania bereaksi.
"Anak-anak pada kemana?" Rania melongok lewat jendela.
"Mereka ... sudah pulang." jawab Gaza yang masih berdiri di sana.
"Ayo sini masuk!" ajak Rania kepadanya.
Namun pemuda itu tertegun di ambang pintu.
"Kita makan sama-sama, sekalian rasain gimana masakan aku." Rania berjalan menghampirinya, kemudian menarik pemuda sipit tersebut masuk kedalam ruang makannya.
"Eee ...
"Ambu juga ya? kita makan sama-sama, soalnya kalau besok mungkin aku udah pulang." dia mendorong Gaza hingga dia duduk di kursi tak jauh dari sang nenek.
"Pulang?" Gaza mendongak.
"Iya. Kalau malam ini Dimitri pulang, dia pasti langsung jemput ke sini, terus besok pagi aku pulang." jawab Rania.
"Ambu kira Neng betah di sini?" Mimih menyahut.
"Betah sih, betah banget malah. Tapi masa mau di sini terus? kasihan suami aku kalau harus bolak-balik." katanya, seraya mengambil makanan untuk dua tamunya. Nasi, ditemani goreng ikan dan sayuran hijau juga yang lainnya.
"Mungkin nggak seenak masakan Ambu, tapi ... kayaknya masih bisa di makan." perempuan itu tertawa.
"Hais, ..." Gaza mengunyah makanannya dengan cepat, kemudian meneguk air minun yang terletak tak jauh darinya.
"Kenapa?" Rania mencondongkan tubuhnya.
"Asin." ucap Gaza, yang kembali meneguk air minumnya hingga habis.
"Apanya?"
"This." tunjuk pemuda itu pada sayuran hijaunya.
"Oh ya?" Rania meraup satu sendok makanan tersebut kemudian menyuapkannya pada mulutnya.
"Mm ... beneran." katanya, dengan dahi berkerut dalam, mengunyah sayuran itu dengan cepat kamudian dia pun meminum airnya juga.
"Apa tadi dua kali masukin garamnya ya?" Rania bergumam.
"Apa?"
"Tadi aku lupa, udah kasih garam belum ya? aku pikir belum, makanya aku kasih garam lagi. Hah!!" Rania meletakan sendoknya, kemudian meraih mangkuk sayuran tersebut.
"Mau di bawa ke mana?" Mimih menahannya.
"Ya aku buang lah, nggak bisa di makan."
"Jangan, sayang."
"Ke asinan mbu."
"Nggak apa-apa, kita buang airnya saja, terus kita makan sayurannya. Begini." perempuan itu melakukan apa yang di ucapkannya. Menuangkan kuah sayuran pada bak cuci, kemudian mengambil beberapa sendok isi untuknya sendiri. Mengaduknya dengan nasi, lalu memakannya dengan lahap.
"Nggak asin Neng, tapi nasinya jadi enak." perempuan itu tersenyum.
Lalu dua orang muda di dekatnya mengikuti apa yang dia lakukan. Dan percakapan pun kembali mengalir hangat seperti biasanya. Mereka membicarakan banyak hal diiringi tawa canda yang begitu ceria.
🌹
🌹
"Cepatlah om!!" Dimitri setengah berlari sejak dari depan bandara hingga hampir mencapai gerbang keberangkatan. Dia tak ingin membuang lebih banya waktu lagi untuk pulang sore itu. Jiwanya terasa sudah berada di rumah meskipun pada kenyataannya, tubuhnya belum juga memasuki pesawat pribadi milik keluarganya.
"Jangan buru-buru, ada badai di Samudera Hindia." Andra menatap layar ponselnya begitu notifikasi pesan dari pilot pesawat mereka masuk.
"Kenapa lewat Samudera Hindia?" Dimitri berhenti.
"Rute paling cepat dan paling aman."
"Lewat rute lain?"
"Lama."
"Tapi tidak ada badai?"
Andra menggelengkan kepala.
"Kira-kira berapa jam badainya berlangsung?"
"Entahlah, bisa dua jam, tiga jam atau lebih lama."
"Perbandingan lewat rute lain?"
"Sebentar." Andra melakukan panggilan telfon, sementara Dimitri menunggu dengan tidak sabar.
"Bagaimana?"
"Bergeser ke barat daya akan memakan waktu dua jam lebih lama dari pada melewati rute samudera Hindia."
"Artinya kita menghabiskan 10 jam penerbangan hingga tiba di Jakarta?"
"Ya, kira-kira begitu." kini Andra menganggukkan kepalanya.
Dimitri berpikir sebentar.
"Baik, kita pilih rute baru saja." dia hampir melewati gerbang pemeriksaan.
"Tunggu, Dim." Andra menariknya kembali.
"Tunggu apa lagi om? aku harus segera pulang. Aku sudah janji kepada Rania akan langsung pulang begitu pekerjaanku selesai." ucap Dimitri.
"Tapi kita tidak bisa mengabaikan keadaannya. Sedang ada badai, dan cuaca tidak dapat di prediksi." Andra menjelaskan.
"Tadi om mengatakan rute baru bisa di lewati dengan tambahan waktu dua jam?" Dimitri mengingatkan.
"Tapi cuaca tidak bisa di prediksi, bisa saja berubah sewaktu-waktu."
Dimitri terdiam untuk berpikir lagi.
"Jangan buru-buru, memangnya Rania memintamu untuk buru-buru pulang?"
"Tidak juga."
"Tahu begitu kita tidak usah check out dulu dari hotel?" Dimitri menggerutu.
"Siapa yang check out? bukannya kamu?"
Pria muda itu mendengus kasar.
"Sudah saya katakan, jangan terburu-buru memutuskan sesuatu. Bisa berbahaya kalau kamu tidak punya perhitungan." omel Andra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Namun waktu dua jam nyatanya membuat Dimitri begitu frustasi. Dia menunggu dengan perasaan gelisah yang mengungkung dada. Membuatnya tidak bisa diam walau hanya satu detik saja.
"Ayolah, ..." Dimitri bergumam.
"Duduklah Dim, kamu membuat saya pusing." keluh Andra.
"Sudah dua jam Om, apa badainya masih belum reda?"
"Bersabarlah, ...
"Harus sampai kapan aku ...
"Permisi pak?" seorang pria berseragam yang mereka kenali sebagai pilot pun tiba.
"Kita sudah bisa terbang?" Dimitri dengan antusias.
"Sebenarnya sudah bisa, tapi ...
"Kalau begitu tunggu apa lagi?" Dimitri bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah keluar.
"Alangkah baiknya kita menunggu satu atau dua jam lagi." lanjut sang pilot.
"Apa?" Dimitri berhenti kemudian memutar tubuh.
"Untuk memastikan cuaca sudah aman."
"Tidak bisa!" Dimitri merangsek ke hadapan sang pilot. "Aku harus segera pulang!"
"Saya tahu pak, tapi ...
"Sekarang." ucap Dimitri dengan tegas, kemudian dia berbalik dan melanjutkan langkahnya ke tempat di mana pesawat mereka berada.
🌹
🌹
Rania menuruni tangga dengan tergesa saat melihat mobil Mecedes Benz Maybach s600 Pullman hitam milik suaminya yang memasuki pekarangan villa pada pagi hari. Setelah sejak tengah malam dirinya tak bisa memejamkan mata ketika tiba-tiba saja merasa gelisah tanpa diketahui sebabnya. Dan pikirannya tak bisa lepas dari pria itu apa lagi nomor ponselnya tak bisa dia hubungi.
Namun pagi ini sepertinya kegelisahannya akan segera terobati ketika pria itu tiba setelah ditunggunya hampir semalaman.
"Pagi amat kamu datang? jam berapa sampai? nggak istirahat dulu apa?" perempuan itu menyambut kedatangan Dimitri. Namun keningnya berkerut dalam kala mendapati bukan suaminya yang berada di balik kemudi.
Galang mematikan mesin mobil yang di kendarainya sedari Jakarta. Setelah mendapat perintah langsung dari Satria untuk menjemput Rania. Dia terdiam sebentar menatap sahabatnya yang berdiri di teras, yang juga tengah menatapnya dengan raut heran.
Entah, apa yang harus dia katakan jika Rania bertanya mengapa dirinya yang datang dan bukan Dimitri. Harus dari mana dia mulai menjelaskannya?
Ah, ... kenapa harus gue sih? batinnya bermonolog.
"Lang?" Rania memanggil.
Pemuda itu memutuskan untuk turun.
"Kamu dari mana? kok pakai mobilnya Dimitri? kamu ke rumah aku dulu? Dimitri yang nyuruh kamu?" Rania mencercanya dengan banyak pertanyaan.
"Aku ..."
"Kok bisa dia nyuruh kamu jemput aku? emangnya kamu udah resmi kerja ya?" tanya Rania lagi.
"Umm ...
"Malah diem aja di sana sih? mau masuk dulu nggak? travel bag aku masih di atas."
"Cuma travel bag?" Galang akhirnya berbicara.
"Iya."
Pemuda itu mengembuskan napas pelan.
"Aku di suruh jemput kamu, dan harus bawa kamu langsung pulang ke Jakarta." katanya, dan dia berusaha untuk tetap tenang.
"Lah, kan emang hari ini aku mau pulang, katanya Dimitri mau jemput aku. Di tunggu semalaman malah kamu yang datang?"
"Kamu udah nonton tivi pagi ini?" Galang berjalan mendekat. Dia bersiap untuk kemungkinan terburuk.
"Belum."
"Jadi belum nonton berita?"
"Belum juga." Rania menggelengkan kepala.
"Berita online di hape?"
"Aku belum cek hape setelah tengah malam tadi pas nelfon Dimitri nomornya nggak aktif."
Galang menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ya udah, kita pulang sekarang." katanya, yang segera masuk ke dalam villa tanpa permisi. Dia berjalan cepat ke lantai atas dan mengambil travel bag yang di maksud. Juga mengambil ponsel dan beberapa hal yang dia hafal sebagai milik Rania dan memasukannya ke dalam tas tersebut.
"Cepat Ran." Galang setengah meloncat dari tangga.
"Buru-buru amat, mau ke mana sih?" Rania masih terheran-heran dengan sikap sahabatnya.
"Aku kan di suruh jemput kamu, dan ini tugas pertama aku." jawab Galang sekenanya sambil menarik Rania kembali ke teras.
"Iya tahu, tapi sikap kamu kayak ada kejadian darurat aja. Rusuh amat?" perempuan itu tertawa.
Galang tertegun dan dia mendongak ke arah Rania.
"Apa?"
"Neng!" Hamdan tiba bersama istrinya.
Galang cepat merespon, apa lagi saat melihat raut khawatir dari pasangan tua itu, dia tahu mereka pun telah mengetahui apa yang terjadi. Pemuda itu menggelengkan kepalanya, memberi isyarat kepada mereka untuk tetap tutup mulut. Dan keduanya mengerti.
"Neng jadi pulang?" Hamdan bertanya.
"Iya, nih udah di jemput." jawab Rania yang menunjuk ke arah sahabatnya.
"Ba-baik kalau begitu."
Rania kembali tertegun memperhatikan sikap ketiga orang di depannya yang terlihat sedikit mencurigakan.
"Kalian kenapa sih? kok rasanya kayak ada yang aneh deh?" perempuan itu berujar.
Hamdan hampir saja membuka mulutnya ketika Galang dengan sengaja mendahuluinya.
"Kita harus cepat Ran, pak Satria nunggu."
"Oh, ... oke, kalau gitu aku pamit ya? salam buat Gaza sama anak-anak." Rania menurut.
Sementara Hamdan hanya menganggukkan kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan pun terasa hening sejak mereka meninggalkan villa. Apa lagi saat mobil tersebut telah memasuki jalan tol. Galang memacu mesin beroda empat tersebut secepat yang dia bisa agar segera tiba di tempat tujuan.
Sedangkan Rania hanya melamun dan memperhatikan sikap sahabatnya yang lain dari biasanya. Galang bahkan menolak untuk berbicara dengan alasan konsentrasi pada perjalanan mereka agar cepat sampai, dan yang bisa Rania lakukan hanyalah menurut saja.
Hingga akhirnya setelah dua jam yang membosankan mereka keluar dari tol dan tiba di jalan yang Rania hafal. Jalan yang sering dia dan Dimitri lewati ketika menuju ke kediaman Satria dan Sofia, mertuanya.
"Kenapa malah kesini? rumah aku kan masih jauh?" Rania tak bisa untuk tak protes.
Namun Galang tetap tak menjawab.
"Lang?"
Mereka tiba di depan gerbang yang segera terbuka, dan tampak dari kejauhan ada beberapa mobil dan pria-pria berstelah rapi tampak berjaga.
"Ada apaan sih ini, tumben?"
Angga tampak keluar dari dalam rumah tersebut, dan segera menghampiri putrinya yang baru saja tiba.
"Papa?"
"Hey, ... kita masuk?"
"Kok papa disini? ngapain?"
"Masuk dulu ya? kita bicara di dalam." Angga merangkul pundaknya, dan menggiringnya masuk ke dalam rumah, di mana semua orang telah berkumpul.
Satria diam di kursi utama, bersama Sofia yang wajahnya merah dengan mata yang sembab. Vivian juga bersama anak bungsunya yang menempel dalam pelukan. Arfan dan Dygta juga Amara pun ada di sana, sementara Maharani memandangnya dengan tatapan sendu.
"Lho, Dimitri sama Om Andra belum pulang? Aku kira udah?" Rania berujar.
"Kemarilah Nak." Satria menepuk tempat kosong di antara dirinya dan Sofia.
Rania menurut, mendekat ke hadapan kedua mertuanya, kemudian duduk di tempat yang di tunjuk.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya pria itu dengan suara sedikit lemah.
"Sehat." Rania menatap wajah mertuanya secara bergantian.
"Bagaimana kandunganmu?" Sofia pun bertanya.
"Baik."
"Syukurlah."
"Ini ada apa sih kumpul-kumpul begini?" Rania menatap sekeliling ruang kekuarga yang tampak penuh itu.
"Kamu tidak boleh berpikiran jelek ya? semuanya akan baik-baik saja. Kami sedang mengusahakan yang terbaik." Satria merasa tenggorokkannya seperti tercekat.
"Kenapa?" Rania mengerutkan dahi.
"Dimitri pasti baik-baik saja, kami yakin akan hal itu jadi kamu ...
"Dimitri?" perempuan itu membeo. "Kenapa Dimitri?"
Satria terdiam.
"Papa?" Rania kepada sang ayah.
"Nggak apa-apa, semua orang sedang berusaha ...
"Berusaha apa?" kerutan di dahinya semakin dalam seiring dirinya yang mulai menyadari sesuatu.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya nya kemudian.
"Nggak apa-apa, ingat kandungan kamu." ucap Angga.
"Apa ... terjadi sesuatu?" Rania mengulang pertanyaan.
Suasana kembali hening, selain isakan dari para perempuan yang tak kuasa menahan tangis. Terutama Sofia.
"Sabar ya, sayang. Jangan panik. Mama yakin Dimitri baik-baik saja."
"Apa? apanya yang baik-baik aja? memangnya kenapa Dimitri?"
Air mata terus mengalir dari netra Sofia, dia tak kuasa jika harus mengatakannya, karena tampaknya sang menantu belum mengetahui kejadian memilukan yang kabarnya mereka terima pagi itu.
"Dimitri ...
"Kenapa Ma? belum pulang atau gimana? aku nggak ngerti kalian begini?"
"Dimitri ...
"Pesawatnya hilang kontak semalam," Angga tiba-tiba saja berucap.
"Apa?" Rania bereaksi. Dia menatap wajah sang ayah yang juga tampak sendu.
"Sinyal terakhir terdeteksi di laut Jawa, setelah itu mereka menghilang." lanjut sang ayah, yang kemudian jatuh berlutut di hadapan putrinya yang membeku, kemudian meraup tangan perempuan itu dengan segala kesedihan yang dia rasa.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...