All About You

All About You
Because I Love You



🌹


🌹


Dan di sinilah dia, di depan pagar sebuah villa bertingkat dua bernuansa kayu jati yang kental. Dengan berbagai pohon dan tanaman yang mengelilinginya, yang sebagian besar lampu-lampunya telah di nyalakan karena waktu sudah menjelang magrib.


Berkendara lebih dari tiga jam langsung dari kota Bandung tanpa henti seolah dia tengah berburu sesuatu.


Seorang pria tua tampak keluar dan menutup pintu pagar setinggi dada orang dewasa tersebut.


"Rania ada?" segera saja Dimitri bertanya.


Hamdan tertegun beberapa saat untuk mengingat.


"Ada den." dia menjawab setelah mengingat sosok yang berdiri di dekat mobil hitamnya yang mengkilat. Mengingat pula pesan dari majikannya yang menelfon beberapa saat sebelumnya. Kemudian membukakan pintu pagar yang baru saja dia rapatkan.


Dimitri segera melajukan mobilnya ke area villa yang lengang seperti tak berpenghuni. Sementara Hamdan memutuskan untuk segera pergi sesuai perintah dari Angga pada percakapan telfon sebelumnya.


Rania baru saja akan naik ke lantai atas, namun dia urungkan ketika mendengar suara mesin mobil berhenti di depan villa. Dia kembali ke ruang depan dan melihat lewat jendela.


Perempuan itu terhenyak ketika melihat sosok suaminya yang turun dari mobil dan berjalan mendekati pintu.


Pria itu kemudian mengetuk pintu.


"Zai?" panggilnya, terdengar pelan.


Rania terdiam.


"Zai ini aku." dia berusaha membuka pintu, namun tak bisa karena telah di kunci dari dalam.


"Zai?" dia mengetuk pintu lebih keras lagi.


"Zai, bukalah pintunya. Aku mohon." katanya, seraya menempelkan keningnya pada daun pintu.


Rania terdiam dengan hatinya yang bergemuruh. Pria itu terkadang memang begitu menyebalkan, namun dirinya begitu mencintainya.


Ah, ... lemahnya dirimu ini! dia bergumam dalam hati.


"Zai, ... apa kamu ada di sana?" ucap Dimitri lagi dengan suara parau.


Kuatkan hatimu, Rania! batinnya lagi.


"Zai, aku mohon!" ucap Dimitri lagi.


Rania berusaha sekuat hati untuk menahan. Mengeraskan tekad untuk abai pada apa pun yang pria itu lakukan. Tapi nyatanya dia tak bisa.


Walau bagaimana pun Dimitri adalah suaminya, dan sebenarnya kesalahannya tak sebesar itu. Namun sakit hatinya begitu mendominasi, dan emosi menguasai jiwa. Sehingga dirinya memilih untuk mengabaikan semuanya dari pada mendengarkan penjelasannya.


KLEK!


Pintu terbuka perlahan, dan Rania muncul kemudian.


Dimitri mundur dua langkah ke belakang dan bersiap untuk kembali menerima kemarahan yang mungkin masih belum benar-benar terluapkan. Satu atau dua pukulan lagi mungkin akan dia terima. Tidak apa-apa, yang penting Rania mau memaafkannya. Dan yang terpenting perempuan itu mau mendengarkannya.


Keduanya sama-sama terdiam dan saling memindai.


"Zai ..." Dimitri berucap.


"Ngapain kamu di sini?" jawab Rania dengan suara pelan. Dia berusaha untuk tak terbawa perasaan kali ini. Meski hatinya berdenyut penuh rindu, namun mati-matian dia menepisnya.


"Zai, aku ...


"Aku nggak mau pulang sekarang. Aku masih mau di sini jadi ...


Dalam sekejap mata Dimitri merangkulnya dengan erat, seolah takut perempuan itu akan pergi jika dia melonggarkannya sedikit saja.


"Pukul aku sepuasnya, marahlah kepadaku, maki aku semaumu, aku tidak peduli. Hanya saja, jangan seperti ini, aku tidak sanggup." ucap Dimitri dengan wajah yang dia benamkan pada ceruk leher Rania. Menghirup aroma perempuan itu yang sangat dia rindukan.


"Pulanglah, ngapain juga kamu di sini?" Rania mencoba melepaskan diri. Namun semakin keras dia berusaha, maka semakin kencang juga rangkulan Dimitri kepadanya.


"Stop Dim, kamu bikin aku sesak!" Rania berucap.


Dimitri tertegun, kemudian dia melonggarkan rangkulannya dan menarik diri. Melihat wajah perempuan yang tengah mengandung buah hatinya tersebut lekat-lekat.


"Semarah itu kamu sampai-sampai menyebut namaku?" katanya, setengah berbisik.


"Apa kesalahanku sefatal itu sehingga kamu marah seperti ini?" dia memegangi kedua pundaknya.


"Aku akui salah karena tidak mengatakan jika aku bertemu Ara malam itu, tapi itu tidak sengaja. Bagaimana lagi aku harus meyakinkanmu?"


"Iya, ..." Rania mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku serius Zai!"


"Aku tahu."


"Aku nggak punya hubungan apa-apa dengan Ara, dan itu hanya percakapan biasa. Aku hanya menanyakan kabarnya. Itu saja." dia menjelaskannya selagi memiliki kesempatan.


"Oke."


"Dan aku tidak mengatakannya hanya karena aku takut."


"Takut karena apa?"


"Takut kamu akan marah karena aku berbincang sebentar dengannya."


"Kenapa aku harus marah? padahal itu hanya percakapan biasa? apa alasan aku marah jika itu hanya kebetulan yang nggak di sengaja? dan kenapa juga aku harus marah, padahal suamiku udah jujur?" Rania menggigit bibirnya kuat-kuat.


"Coba kamu jawab, kenapa aku harus marah?" Rania masih mampu menguasai diri.


"Masalahnya, ...


"Karena masalahnya bukan percakapan atau pertemuannya, tapi cara kamu menutupi itu dari aku. Mungkin kamu pikir aku berlebihan menyikapi ini. Reaksi aku keterlaluan padahal itu cuma percakapan biasa, tanpa rayu-rayu atau gombalan. Atau mungkin peluk cium yang di sengaja. Tapi buat aku itu hal besar."


"Kamu tahu, seumur hidup aku nggak pernah bohong sama orang tua aku. Bahkan sampai hal terkecil sekalipun. Sampai-sampai mereka selalu tahu aku ada di mana, sama siapa, melakukan apa. Keluarga aku perlu melakukan hal seperti itu agar kami selalu aman, dan tahu bagaimana harus menghadapi keadaan. Membuat aku merasa harus melakukan itu juga dengan hubungan kita. Karena rasanya senang tahu orang yang kamu sayang selalu jujur kepadamu. Itu berarti kita saling menghargai. Aku jujur sama kamu tentang semuanya, karena aku menghargai kamu sebagai suami aku. Dan aku mau kamu juga selalu jujur sama aku sebagai istri kamu. Dan itu adalah penghargaan paling tinggi dalam hubungan pernikahan. Entah dengan orang lain, tapi untuk aku, perlu selalu mengetahui apa saja yang orang terdekat aku lakukan. Dan dalam hal ini, kamulah orang terdekat itu. Mungkin sepele, tapi kita memang selalu berbeda dalam menyikapi masalah, bukan?"


Dimitri mengerutkan dahi.


"Maaf, mungkin salahku banyak, kekurangan aku apa lagi, bahkan orang lain pun lebih tahu kebiasaan kamu dari pada aku, teman satu atap, satu ranjang. Kita bahkan berbagi udara yang sama walau itu hanya dari malam sampai pagi hari tapi, ... aku ini istri kamu, Dim! yang lebih dalam mengenali kamu adalah aku, sebaliknya juga kamu."


"Stop!" Dimitri segera menghentikan segala yang akan dia ucapkan.


"Apa Ara mengatakan sesuatu kepadamu selain memberikan dompetku?" Dimitri bertanya.


"Nggak, ...


"Terus kenapa kamu menjadi seperti ini?"


"Dia cuma ngasih tahu aku apa yang seharusnya aku lakukan. Dia ngasih tahu aku apa yang boleh dan nggak boleh di tambahkan. Dan dia juga ngasih tahu aku apa yang kamu suka dan nggak suka. Aku kesal kenapa dia melakukan itu. Yang istri kamu itu, aku atau dia sih?" akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari mulutnya.


"Aku orang yang santai, nggak pernah ambil pusing sama apa pun yang orang bilang. Karena aku tahu itu hanya akan menyakiti diri kita senidiri. Tapi ini? aku rasa dia udah melewati batas yang seharusnya. Dan aku nggak suka sama sikap dia. Walau kalian tumbuh bersama, apa lagi pernah punya rasa yang sama, tapi nggak seharusnya dia kayak gitu. Kenapa nggak kalian terusin aja hubungannya sampai menikah? kenapa malah ketemu aku? kenapa malah memilih aku? kenapa juga kita malah menikah?" Rania menghentakkan dua kepalan tangannya pada pundak Dimitri.


"Kenapa juga kamu malah ke sini? kenapa kamu nggak membiarkan aku sendirian aja? padahal aku sengaja pergi karena takut menyakiti kamu! Emosiku sedang labil sekarang ini."


"Because I love you." Dimitri memotong kata-katanya.


Rania menekan perasaannya sendiri walau semuanya telah dia utarakan.


"Karena aku mencintaimu, Rania! tidakkah kamu mengerti. Im sorry, but i love you too much!"


"Aku nggak mengerti dengan caramu, tapi beginilah caraku. Bukankah kita dua orang yang berbeda yang di persatukan dala satu ikatan, dan sudah seharusnya saling memahami? dan itu membutuhkan proses yang panjang, bukan dalam hitungan bulan seperti ini. Ini tidaklah mudah, tapi aku sedang belajar sekarang. Aku mohon jangan menyerah karena hal ini, tapi tetaplah berusaha untuk saling mahami!" lanjut pria itu.


"Aku nggak menyerah, aku hanya sedang menepi. Kamu tahu, ada masanya di mana perasaan ini harus aku reset ulang. Dan kayaknya aku juga butuh waktu." Rania berhasil melepaskan diri dan menciptakan jarak di antara mereka.


"Waktu untuk apa? sendiri?"


Rania menganggukkan kepala.


"No! nggak mungkin! you out of your mind?" Dimitri kini berteriak. "Bagaimana aku bisa membiarkanmu sendiri, sementara disini ada anak-anakku?" Dimitri mendekat kemudian menyentuh perut perempuan itu, yang hampir seminggu belakangan tak di lakukannya. Dan dia merindukan rasanya.


"Kamu tega mau memisahkan aku dari mereka? no!" katanya lagi, membuat Rania terdiam dengan perasaan yang berkecamuk.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...