All About You

All About You
Fokus!



🌹


🌹


"Kamu bangun pagi lagi." Dimitri memeluk tubuh Rania dari belakang, lalu menyurukan wajahnya di tengkuk perempuan itu. Menghirup aroma sabun yang menguar dari tubuhnya. Rambutnya bahkan masih basah dan Rania hanya menyisirnya secara asal.


"Hu'um, sebentar lagi aku latihan."


"Ah, iya benar. Besok berangkat kan?"


"Hmm ..." Rania konsentrasi pada wajan dimana ada makanan sisa semalam yang sedang dia hangatkan. Setelah pertempuran semalam yang cukup menguras tenaga, mereka makan sebentar kemudian segera tidur.


"Menghangatkan makanan bisa?" Dimitri memiringkan kepala.


"Bisa lah kalau cuma gini mah. Yang nggak bisa tuh proses masaknya dari mentah." perempuan itu tertawa.


"Hmmm ...


"Payah ya?"


"Aku nggak bilang gitu lho."


"Perasaan aku." dia beralih mengambil beberapa piring, lalu menuangkan makanan yang sudah dihangatkannya. Kemudian melakukan hal yang sama pada makanan yang lainnya. Dengan Dimitri yang masih menempel padanya, mengikutinya kesana kemari.


"Nggak apa-apa kan makan ini dulu? atau mau order lagi?"


"Nggak apa-apa. Hanya buatkan aku latte saja." lalu Dimitri melepaskannya.


"Latte?"


"Hmm ... disana." pria itu menunjuk lemari di sisi lainnya. "Dan masak airnya dengan itu." lalu dia menunjuk pemanas air di dekat meja kompor.


"Ck! aku tahulah kalau itu." Rania memutar bola matanya.


"Siapa tahu nggak?" Dimitri hanya tersenyum.


Kemudian perempuan itu mengambil toples di dalam lemari, berisi bungkusan kopi instan yang selalu Dimitri buat setiap hari.


Aroma khas menguar begitu saja setelah dia menuangkan air panas kedalam cangkir berisi serbuk latte. Dan Rania memghirupnya dalam-dalam. Sepertinya dia menyukai aromanya.


"Harus pakai gula lagi nggak?" dia mengaduk minuman tersebut.


"Nggak usah." Dimitri meraih cangkir lalu membawanya ke meja makan, dan duduk sambil memeriksa ponselnya.


"Rega mengirim pesan." katanya, lalu dia menyesap latte miliknya.


"Oh ya? tumben. Mau apa?" Rania mengikutinya.


"Hanya mengingatkan untuk seleksi Sabtu nanti."


"Dih, ... udah akrab bener."


Dimitri tertawa.


"Kalau gini terus, papa bisa luluh tuh?" katanya, seraya memindahkan makanan yang sudah dia hangatkan dari meja kompor ke meja makan.


"Hmm ..." Dimitri kembali menyeruput lattenya.


"Kakak ipar yang pinter," pujinya seraya mengusap pundak pri itu, lalu tertawa.


"Mau makan sekarang?" tawar Rania kemudian.


"Boleh."


"Sebentar aku ambil nasinya dulu."


Dimitri menggeser lattenya, dan meletakan ponselnya di samping.


"Yahhhh!!!" terdengar Rania mengeluh di belakang sana.


"Kenapa?" pria itu memutar tubuhnya.


"Aku lupa nggak cetrekin rice cookernya." Rania dengan raut kecewa setelah alat penanak nasi yang penutupnya telah dia buka.


"Terus?"


"Masih beras!" rengeknya, kemudian dia berjongkok sambil mengacak kepalanya sendiri.


"Apa?" pria itu tergelak kemudian berjalan menghampirinya.


"Huwaaa ... padahal aku udah lapar!!" katanya lagi, namun malah membuat Dimitri terbahak-bahak setelah memeriksa alat penanak nasi mereka yang isinya masih berbentuk beras utuh bercampur air.


***


"Sudahlah, jangan sedih." pria itu mengenakan kemejanya, sementara Rania hanya duduk di meja aksesoris dengan wajah cemberut dan tangannya terlipat di dada.


"Aku kecewa, masa gitu aja nggak bisa." katanya, masih merasa kesal karena beras yang dia masak tak berubah bentuk karena dia lupa menyalakan tombol penghangat ke tanda memasak.


"Bukan nggak bisa, tapi belum. Lagipula kamu lupa kan?" dia meraih dasi dari laci penyimpanannya.


"Tetep aja." suaranya masih terdengar kecewa.


"Sudah, dari pada sedih-sedihan, lebih baik belajar memakaikan aku dasi." Dimitri mengulurkan dasi tersebut kepadanya.


"Nggak bisa, nanti salah, kamu jadi jelek lagi?" tolaknya.


"Kalau belajar, nanti juga bisa."


Rania mengerucutkan mulutnya.


"Ayo," ucap Dimitri lagi.


Dengan malas perempuan itu merebut dasi dari tangan Dimitri, lalu memeriksanya.


"Depannya ini kan?" dia menunjuk bagian depan benda tersebut.


"Iya." jawab Dimitri.


Lalu Rania melingkahrkan benda tersebut di bawah kerah kemeja suaminya itu, seperti yang pernah dia lihat dilakukan olehnya.


"Terus udah gini apa?"


"Begini." Dimitri menyilangkan, lalu membentuk simpul pada dasinya.


"Terus tarik ininya kebawah." katanya lagi.


"Begini?" Rania menarik bagian dasi yang menjuntai dengan keras sehingga mengekang leher pria itu.


"Pelan-pelan!!" Dimitri terbatuk, lalu segera melonggarkan lilitan dasinya. "Mau bunuh aku ya?" katanya, dengan kesal, namun dia masih berusaha tertawa.


"Mm ... maaf. Aku bilang juga apa, ngga bisa kan?"


"Pasti bisa, tapi belajarnya pelan-pelan, jagan main tarik aja." jawab Dimitri. "Ambilkan jas saja!" pria itu menunjuk jas yang tergantung di lemari. Rania turun dari meja aksesoris kemudian melakukan apa yang pria itu perintahkan.


"Udah rapi." ucap Rania dibelakang. "Terus habis ini apalagi?"


"Ambilkan tas di ruang kerja, terus antar aku sampai ke pintu." Dimitri telah menyelesaikan kegiatan berdandannya.


"Oke."


"Nah, begini setiap hari sepertinya bagus juga, selain belajar masak." mereka sudah berjalan ke arah pintu.


"Ish, ... banyak amat yang harus aku pelajari? pusing." keluh Rania.


"Tidak pusing kalau sudah biasa. Mama aku aja bisa, masa kamu ngga bisa."


"Itu beda."


"Sama saja Zai."


"Hmm ...


"Setelah ini jangan lupa periksa rice cookernya. Apa nasinya sudah matang atau belum?" pria itu tergelak.


"Ish, ... kesel aku kalau ingat itu. Kan kamu jadinya nggak sarapan?"


"Hmm ...


"Nanti jangan lupa makan oke? kesalnya jangan lama-lama."


"Oke."


"Hati-hati juga nanti pergi latihannya. Nggak usah kebut-kebutan di jalan. Kebut-kebutannya tunggu di sirkuit saja."


"Iya, bapak cerewet deh?"


"Cuma mengingatkan. Kamu kan harus selalu diingatkan."


Rania memutar bola matanya, sementara Dimitri hanya tersenyum.


"Pergi dulu ya?" dia mengecup puncak kepalanya.


"Iya."


"Jangan lupa ini juga." kemudian dia mengecup bibir Rania dan memagutnya singkat tanpa memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk membalas.


"Ish!!" Rania mendesis kesal saat Dimitri segera melepaskan cumbuan.


"Fokus Zai!"


"Gimana mau fokus, kamunya modus melulu!"


Dimitri tertawa, kemudian segera keluar dari unit tersebut sebelum dirinya menginginkan kebih dari sekedar menggodanya.


🌹


🌹


"Ara!" Galang setengah berlari menghampiri gadis itu yang berjalan tenang menuju kelasnya.


"Ya?"


"Gimana semalam? kamu nggak balas chat aku."


"Iya, aku lupa belum nyalain hape habis di charge."


"Terus gimana?" Galang mensejajari langkahnya.


"Apanya?"


"Semalam kamu dimarahin papa kamu?"


"Oh, ... soal itu."


"Dimarahin ya?" Galang penasaran.


"Nggak." jawab Amara.


"Nggak?" pemuda itu membeo.


"Hmmm."


"Beneran?" dia seakan tak percaya.


"Iya."


"Masa? orang wajah papa kamu kemarin nyeremin gitu."


"Dih, kakak!"


"Ya emang bener. Lebih serem dari om Angga."


"Hah?"


"Om Angga sih udah biasa, aku udah kenal dia dari kecil. Nah papa kamu, ketemu juga baru sekarang."


"Udah biasa kak. Tapi nggak apa-apa kok."


"Serius nggak dimarahin?"


"Iya." mereka tiba di depan kelas Amara.


"Syukur deh kalau nggak. Udah khawatir aja." ucap Galang, lega."


"Kakak besok jadi pergi?" Amara tiba-tiba saja ingin bertanya.


"Jadi."


"Jam berapa perginya?"


"Dari sini jam 7, ngejar pesawat yang jam 10."


"Oh, ...


"Kenapa?"


"Terbangnya bukan dari sini ya?"


"Bukan. Di Jakarta, sekalian sama crew lain juga sama barang-barang bawaan lainnya."


"Kenapa gitu?"


"Kirain dari sini terbangnya, tadinya mau antar ke bandara." gadis itu teegelak. Merasa aneh dengan keinginan tersebut.


Galang menatapnua dalam diam.


"Terbang dari sana biar akomodasinya sekalian di urusin sama promotor." jawab Galang setelah terdiam cukup lama, menikmati pemandangan yang mulai membuatnya merasa terbiasa.


"Iya juga, biar nggak ribet."


"Hu'um." pemuda itu mengangguk.


"Ya udah, kayaknya aku harus masuk dulu, soalnya sebentar lagi kuliahnya dimulai." Amara menatap layar ponselnya.


"Iya." ucap Galang.


"Nanti beres kuliah kakak ada acara?"


"Nggak."


"Beres-beres keperluan udah?"


"Udah."


"Kalau gitu kita pulang bareng bisa?"


"Bisa. Emangnya mau kemana?"


"Nggak kemana-mana, cuma mau pulang bareng aja. Besok kan kita nggak akan ketemu."


Galang terdiam.


"Ya udah, aku masuk dulu ya, sampai keyemu nanti." gadis itu melambaikan tangannya.


"O-oke." jawab Galang yang memilih menungguinya hingga Amara benar-benar masuk kedalam kelasnya, dan duduk di kursinya seperti biasa.


Apaan? tubuhnya menegang saat merasakan sesuatu berdesir di hatinya, setelah melihat senyum Amara di kejauhan.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...