
🌹
🌹
Mereka tiba hampir bersamaan di pekarangan rumah Lita pada siang hari. Yang mendapat sambutan cukup hangat dari penghuni rumah tersebut.
Lita memeluk Dimitri dan Rania secara bergantian, kemudian mengusap perut cucu menantunya itu dengan hati-hati.
"Kembar juga?" dia bertanya, dan Rania menjawabnya dengan anggukkan.
"Semakin ramai saja keluarga kita, bukan?" Hari menyela.
"Begitulah," Dimitri kemudian tertawa.
"Abah kira kalian datang bersama papi dan mama?"
"Mungkin sebentar lagi, soalnya harus menjemput Darryl dan Darren dulu." jawab Dimitri.
"Mereka pulang?"
"Yeah, liburan musim semi."
"Pantas."
Lalu kemunculan Amara menjeda percakapan tersebut untu sejenak.
"Hai Ara?" Dimitri lebih dulu menyapa.
"Hai kak? apa kabar?" gadis itu beralih kepada Rania, lalu tersenyum.
"Baik." jawab Rania.
Amara pun mengangguk-anggukkan kepalanya, dan berusaha menetralisir kecanggungan yang tiba-tiba dia rasakan.
Kemudian empat bocah yang baru saja turun dari mobil berlari ke arah mereka, menginterupsi percakapan yang tengah berlangsung.
"Om Dimi!!!"
"Abah!!"
"Oh, hey? kalian juga sudah sampai." sambutan hangat juga di dapatkan bocah-bocah tersebut.
"Kakak!" mereka beralih kepada Amara. Memeluk gadis itu secara bersamaan membuatnya hampir kelimpungan.
"Ayo ayo, kita masuk. Tunggu yang lainnya di dalam saja." Lita menggiring semua anggota keluarganya ke dalam rumah.
Dan suasana pun menjadi semakin riuh ketika anggota keluarga lainnya muncul. Angga bersama Maharani dan ke tiga anak mereka, di susul oleh Satria dan Sofia juga Darryl dan Darren. Yang langsung di jamu di area belakang rumah tersebut yang telah di sulap menjadi tempat berkumpul, dengan meja makan besar dan bermacam makanan lengkap untuk seluruh keluarga.
"See? anggota keluarga kita saja sudah sebanyak ini, jadi tidak perlu mengundang orang lainnya lagi. Ditambah anak kita nantinya." ucap Dimitri, yang tanpa canggung menunjukkan perhatiannya kepada Rania dengan mengusap perutnya yang sudah terlihat membuncit.
"Baik, karena semuanya sudah berkumpul, ayo kita mulai acaranya?" Hari berujar, dan dia meminta perhatian semua orang.
"Apa tidak ada sambutan untuk aku dan Darren? kami kan baru saja tiba dari Moscow?" Darryl menyela sebelum sang kakek kembali berbicara.
"Sambutan untuk apa, bodoh! memangnya kalian jadi juara olimpiade?" Dimitri menepuk belakang kepala sang adik yang duduk tak jauh dengan dirinya.
"Kami baru saja pulang, kak." jawab Darryl yang mengusap-usap belakang kepalanya.
"Hanya pulang liburan, bukan karena sudah ikut perang?" cibir Dimitri.
"Ini juga perang, perang untuk mendapat gelar sarjana dengan nilai terbaik." Darren menyahut, kemudian tertawa, yang kemudian diikuti oleh yang lain.
"Baiklah, selamat datang Darryl dan Darren yang baru saja pulang dari Rusia, juga Ara yang sudah mulai kuliah, dan yang lainnya. Semoga cita-cita kalian tercapai, Nak. " Hari kembali berbicara.
"Juga, untuk Rania dan Dimitri selamat sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Semoga selamat sampai waktunya Rania melahirkan nanti." lanjut pria itu.
"Semoga umur abah masih panjang sehingga bisa melihat kalian terus tumbuh dan membangun keluarga kalian masing-masing." lalu keadaan berubah hening.
"Umur ayah masih panjang, dan akan terus menemani kami bukan?" Sofia memecah kesunyian di antara mereka, dia menyentuh punggung tangan keriput sang ayah yang telah merawatnya sejak kecil, bekerja sekeras yang dia bisa agar mereka mendapatkan hidup layak seperti orang lain.
"Iya, Ded juga masih sehat di Moscow, jadi abah juga pasti akan sehat terus dan panjang umur." Darryl menimpali.
"Jadi, tidak usah khawatir soal itu. Kita masih akan terus sama-sama untuk waktu yang cukup lama bukan?" ucap Sofia lagi, dan Hari pun tersenyum karenanya.
"Baiklah, sekarang ayah harus memimpin doa untuk kami. Terutama untuk Rania yang sebentar lagi akan melahirkan keturunan baru bagi keluarga ini." ucap Sofia lagi.
Kemudian suasana pun berubah khidmat, semua anggota keluarga menundukan kepala, mendengarkan doa-doa yang Hari ucapkan. Sebagai rasa syukur karena segala karunia yang mereka dapatkan hingga hari ini. Dan doa yang khusus di panjatkan untuk perempuan yang kini tengah mengandung penerus keturunan mereka.
Rania, yang kehamilannya telah menginjak bulan ke empat. Dan Dimitri sebagai kepala keluarga yang baru saja menduduki pucuk pimpinan perusahaan.
Tidak lupa juga doa lain dia panjatkan untuk anak-anak yang masih menempuh pendidikan agar mereka berhasil dengan apa yang sudah di rencanakan.
"Aamiin." semua orang mengamini, dan suasana kembali ramai seperti sebelumnya.
"Apa sudah bisa makan?" Darren memulai kembali percakapan di antara mereka, dan beberapa orang di antaranya tertawa.
"Ini semua Ara yang masak lho." Lita berujar.
"Oh ya?" Sofia bereaksi, dia tengah mengambilkan makanan untuk suaminya.
Dan gadis yang di maksudpun mengangguk malu-malu.
"Keren Ara! nggak nyangka Ara pintar masak." Darryl memuji.
"Ya, bagus. Sepertinya ini semua enak. You cool." Darren tidak mau kalah, seperti biasa. Sementara, Amara semakin tersipu-sipu mendapatkan pujian dari semua orang.
"Apa itu ayam geprek?" Rania menunjuk satu piring berisi ayam dengan taburan sambal di tengah meja.
"Iya. Itu aku bikin karena mama Fia bilang kakak suka ayam geprek." Amara menjawab.
"Banget." Rania menepukan kedua tangannya, dengan ekspresi yang lucu seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen kesukaannya.
"Mau aku ambilin?" Amara menawarkan diri.
"Boleh, makasih." perempuan itu menyodorkan piring miliknya, yang kemudian Amara isi dengan potongan ayam dengan sambal pedas tersebut.
"Jangan terlalu banyak Zai." Dimitri menyentuh lengan perempuan itu yang memegangi piring miliknya.
"Nggak apa-apa, kayaknya enak."
"Tapi jangan terlalu banyak."
"Ish, ...
"Zai!"
"Oke oke." perempuan itu menyerah.
"Kakak juga mau?" tawar Amara kepada Dimitri.
Namun pria itu menggelengkan kepala sambil bergidik. Taburan sambal dengan aroma menyengat dan biji cabai yang banyak terlihat mengerikan baginya.
"Udah nikah juga nggak berubah, kakak masih nggak suka pedes?" ucap Amara.
Dan Dimitri mengangguk.
"Ada yang nggak pedes kok, aku bikin khusus untuk kakak." gadis itu menunjukan piring lainnya yang bersisi makanan sama, namun tanpa biji cabai seperti sebelumnya.
Dimitri tertegun, begitu juga beberapa orang di antara mereka. Arfan bahkan sempat melirik putri dan adik iparnya itu secara bergantian.
"Maksud aku, untuk yang lainnya juga kalau mau." Amara tersenyum canggung. Mengapa juga dirinya malah berkata demikian?
"Jangan makan itu kak, nanti diare parah." Darryl tertawa seraya mengambil makanan yang sama dengan Rania, dan melahapnya dengan segera.
"Iya, nanti nggak bisa bangun selama seminggu." Darren menimpali, keduanya mengejek seperti biasa, sementara sang kakak hanya mendelik sebal.
"Ini nggak pedes, cuma sambel bawang aja. Kayak yang kakak suka." gadis itu meyakinkan Dimitri.
"Mm ... baiklah, kita coba." akhirnya pria itu menyodorkan piringnya juga, dan Amara segera meletakan potongan ayam di atasnya.
"Enak. Kamu beneran pinter masak. Ini rasanya kayak yang suka aku beli di dekat Gedung sate." Rania berujar, beberapa kali dia menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
"Iya kan, yang?" katanya kepada Dimitri.
"Hmmm ..." suaminya mengangguk.
"Punya kamu juga enak?" Rania bertanya.
"Enak." jawab Dimitri, dan dia pun melahap makanannya dengan semangat. "Yang penting nggak pedas." kemudian dia tertawa juga.
"Jangan cuma ayamnya, yang lainnya juga enak. Coba saja, Ara mengerjakan semuanya sendirian." Lita menerangkan.
"Iya, ada capcai kesukaannya Mommy, juga yang lainnya. Tapi aku nggak bisa bikin makanan seenak papa."
"Kamu hebat kak." Arfan mengusap belakang kepala putrinya.
"Oh ya? keren! aku bikin ceplok telor aja gosong. Baru bisa bikin omelet yang nggak ke asinan aja udah bangga." Rania terkekeh sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Tapi kakak hebat dalam balapan." jawab Amara.
"Lumayan lah. Eh, tapi Rega pinter masak lho, masakannya hampir sama kayak mama lah,"
"Oh ya?"
"Thats cool."
Kemudian percakapan tersebut berlanjut semakin menghangat hingga hari beranjak sore. Membicarakan banyak hal, bercanda dan tertawa. Anak-anak dengan mudah berbaur dan bermain bersama. Tampak sekali kebersamaan keluarga ini begitu membuat bahagia.
Rania memutuskan untuk masuk ke dalam rumah ketika sudah mulai bosan dengan percakapan para pria yang membahas masalah pekerjaan dan hal lainnya di dunia mereka.
Dia melihat para ibu yang tengah di sibukkan oleh kotak makanan dan bingkisan yang tidak terhitung jumlahnya, yang akan di kirim ke beberapa tempat yang sudah di rencanakan sebelumnya.
"Banyak amat bikinnya?" dia menghampiri Sofia dan Ibunya.
"Kan untuk di bagikan." jawab sang mertua.
"Kemana aja?"
"Kebanyakan untuk pekerjanya Abah. Selebihnya ya untuk tetangga terdekat."
"Oh, ..." Rania mengangguk-anggukkan kepala.
"Yang sebelah sini untuk kakek dan om Gara?" dia kemudian bertanya ketika melihat dua bingkisan yang berbeda dengan stiker nama di atasnya.
"Iya, kebetulan nggak bisa ke sini kan?" Maharani menjawab.
"Emangnya pada ke mana?"
"Ada acara sama keluarganya tante Virra."
"Emang nggak mama kasih tahu kalau sekarang ada acara ngumpul ya?"
"Kita kan dadakan, kalau mereka sudah ada rencana dari jauh-jauh hari."
"Oh, ...
"Disini sudah selesai? biar kita antar semuanya." Lita memeriksa keadaan. Kemudian dua orang pria masuk dan membawa bingkisan-bingkisan tersebut ke dalam mobil. Yang akan mereka kirimkan ke beberapa rumah yang sudah di tentukan.
Sementara Rania tertegun di dekat jendela, menatap ke halaman belakang di mana empat orang tengah berkumpul bersama.
Darryl, Darren, Amara dan Dimitri tentunya. Yang tampak asyik membicarakan banyak hal. Mereka bahkan tampak tertawa terbahak-bahak seperti telah menemukah hal paling lucu di dunia.
"Mereka dekat sejak kecil, sudah pasti se akrab itu." Sofia datang menghampiri dan menatap pemandangan tersebut dengan raut biasa saja. Tentu memang seperti itulah keadaannya.
"Ara itu sudah seperti adik bungsu mereka. Dia mama rawat ketika ibunya koma pasca melahirkan." jelasnya, mengingat masa-masa kritis itu.
Rania mendongak.
"Terkadang Ara jadi rebutan Dimitri dan adik-adiknya. Mereka tidak mau mengalah kalau sudah berkumpul dengannya." katanya lagi, kemudian tertawa.
"Pantesan." Rania bergumam.
"Kenapa?"
"Memang, mereka tumbuh bersama kan?"
"Hmm ...
"Astaga, mama lupa papimu minta minuman. Sebentar mama akan membuatnya dulu ya?" Sofia kemudian bergegas masuk ke dapur, sementara Rania kembali memperhatikan interaksi di bawah sana.
***
"Hey kak, gimana rasanya jadi juara dunia?" Darryl datang menghampiri Rania yang duduk di depan api unggun. Mereka membuat semacam perkemahan keluarga di kebun belakang rumah. Namun karena cuaca cukup dingin menjadikan orang-orang memutuskan kembali ke dalam rumah yang lebih hangat ketimbang tidur di dalam tenda yang dibangun sore tadi.
Hari mulai beranjak malam, dan beberapa orang sudah pulang. Termasuk orang tua dan ketiga adiknya. Sementara yang lainnya memutuskan untuk tetap tinggal.
"Seneng." perempuan itu menjawab.
"Cuma seneng?" Darren mengikuti. Mereka berdua duduk di samping kiri dan kanannya.
"Begitulah." Rania menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Dan rasanya mengalahkam juara dunia, bersaing dengan juara-juara lainnya ...
"Itu bagian terbaiknya." Rania tersenyum.
"Luar biasa bukan?"
"Hmm ...
"Oh, rasanya aku mau seperti itu tapi sayangnya nggak bisa." Darryl dengan raut kecewa.
"Kenapa?"
"Percuma, karena pada akhirnya tetap harus bekerja meneruskan usaha keluarga."
"True, true." Darren mengamini.
"Uh, ... sayang sekali. Kalian nggak bisa berbuat sesuai kehendak sendiri ya?" Rania menepuk punggung kedua adik iparnya tersebut.
"Begitulah."
"Nggak apa-apa, keluarga itu segalanya."
"Hmm ...
"Sama kan, kakak kalian juga gitu?"
"Yeah, ...
"Aku nggak nyangka, kak Dim bisa nikah sekarang-sekarang." Darryl tertawa.
"Iya, merasa aneh karena dia memutuskan menikah padahal sebelumnya ..." Darren menggantung kalimatnya.
"Apa?" Rania menoleh kepada iparnya.
"Nggak jadi, hehe ..." pemuda itu hanya terkekeh, sebab dia ingat apa saja yang sudah pernah kakaknya lakukan selama masa lajangnya dulu.
"Banyak temen boboknya?" Rania melanjutkan.
"What?" Darryl mencondongkan tubuhnya.
"Ish, ... aneh banget kalau bahas itu." Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kakak tahu?" Darren pun bereaksi.
"Tahu lah, ... kakak kalian itu ...
"Nakal." Darryl terkekeh.
"Bukan." tukas Rania.
"Terus apa?"
"Terlalu aktif." kemudian mereka tertawa.
"Ada apa ini?" Dimitri muncul sesaat kemudian, mendapati istri dan kedua adik laki-lakinya tampak begitu akrab, seperti mereka sudah mengenal sejak lama.
"Baru mau aku tanya kamu ke mana?" Rania menoleh.
Pria itu kemudian menyusup di celah kecil antara Rania dan Darren, kemudian duduk di tengah-tengah. Sambil menyampirkan selimut yang di bawanya dari dalam rumah ke tubuh Rania.
"Apa sih kak!" sang adik bereaksi.
"Kamu terlalu dekat, geser sana!" ucap Dimitri yang menyeret Darren dengan kakinya.
"Nggak sampai nempel." pemuda itu bergumam.
"Kamu juga, geser!" ucapnya kepada Darryl, seraya merangkul Rania dengan posesif sehingga perempuan itu hampir terbenam ke dalam pelukannya dengan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Jangan dekat-dekat!" katanya lagi, setengah mengusir. "Sana, tidur. Sudah malam. Anak kecil tidak boleh tidur malam-malam."
"Anak kecil apanya? sepertinya kita hampir seumuran dengan kakak ipar,"
"Berarti kakak menikah dengan anak kecil?" kedua pemuda itu kemudian tertawa.
"Husss!! sana pergi! nonton kartun yang banyak." usir Dimitri lagi yang akhirnya membuat kedua adiknya itu pergi juga.
"Kamu jangan terlalu dekat dengan mereka." Dimitri bergumam.
"Kenapa?"
"Bahaya."
"Bahaya apanya? mereka adik kamu kan? jadi adik aku juga."
"Tidak baik kalau kalian terlalu dekat. Aku tidak suka." pria itu berbisik.
"Lebay, masa sama adiknya sendiri cemburu?" cibir Rania.
"Aku nggak cemburu, aku hanya nggak suka kamu dekat dengan mereka." pria itu mengelak.
"Sama aja pak."
Dimitri pun tertawa.
"Kamu tadi habis dari mana sih? tiba-tiba aja menghilang, lama lagi?"
"Hanya ada panggilan pekerjaan." Dimitri menjawab.
"Clarra?"
"Iya."
"Dia nggak tahu ya kalau kita lagi ada acara keluarga?"
"Tahu, tapi kan klien nggak bisa menunggu. Perjanjian bisa batal kalau aku tidak segera menerima telfon."
"Hmmm ..." Rania mencebikkan mulutnya.
"Serius Zai." dia mengeratkan pelukannya, kemudian mengecup pelipis perempuan itu, karena tampaknya sebentar lagi dia akan merajuk.
"Ya apa lagi?" Rania mendelik.
"Apa kamu tidak dingin? tidak mau masuk ke dalam rumah?" tawarnya, lebih seperti pengalihan perhatian.
"Nggak. Disini suasananya enak. Sepi lagi." jawab Rania.
"Kamu suka yang sepi-sepi hum?"
Perempuan itu menganggukkan kepala.
"Baiklah, ..." Dimitri menariknya sehingga mereka semakin merapat, dan segera saja bibir lembutnya menempel di leher Rania.
"Yang, jangan gini lah." dia berusaha menghindar.
"Why? suasananya mendukung, bukan?"
"Tapi ini di rumah nenek kamu."
"Terus?"
"Aku malu kalau terjadi sesuatu." Rania tertawa pelan.
"Sesuatu?"
"Hu'um, ... nanti terjadi sesuatu."
"Tidak apa-apa, mereka akan mengerti."
"Nggak mau ih, ... kan malu. Kita berisik."
"Ya usahakan jangan berisik."
"Nggak bisa."
"Aku bisa."
"Aku nggak bisa."
Kemudian Dimitri tertawa terbahak-bahak.
"Come on Zai." Dimitri bangkit kemudian menarik tangan Rania.
"Nggak mau." namun perempuan itu bertahan.
"Ayolah, sebentar."
"Nggak mau."
"Kamu nggak kasihan, ... aku kedinginan, dan naga ajaibku ...
"Apaan?" Rania menahan senyum. Hal ini jadi terasa menggelikan karena pria itu memohon dengan raut wajah sedikit konyol.
"Dia sudah bangun." ucap Dimitri yang melirik ke bawah perutnya, membuat Rania tertawa terbahak-bahak.
"Jujur banget sih?" katanya yang tak hentinya tertawa.
"Memang keadaannya begitu."
Perempuan itu tak bisa berhenti tertawa, dan dia membiarkan saja ketika Dimitri menariknya ke dalam tenda.
"Yang, apinya ...
"Biar saja, agar tidak terlalu dingin."
Kemudian pria itu merapatkan tenda, dan mereka memulai pergumulan pada malam itu dalam suasana yang cukup berkabut di luar sana. Udara seolah hampir membekukan namun di dalam tenda terasa panas membara.
Ketika Rania akhirnya menyerah di bawah kuasa Dimitri, yang segera saja menautkan tubuh mereka berdua. Dalam balutan gairah dan hasrat yang begitu bergejolak, mengalahkan api unggun yang berkobar-kobar tertiup angin malam. Yang setelah beberapa lama kobarannya pun melemah, kemudian padam dengan sendirinya. Meninggalkan sisa-sisa kayu dan arang yang menyisakan pendaran kecil saja.
Namun di dalam sana, dua sejoli tampak tak akan cepat-cepat meyelesaikan pergumulan mereka. Walau peluh sudah membanjiri keduanya, dan sentuhan-sentuhan itu menjadi semakin liar saja. Namun keduanya sama-sama bertahan lebih lama, dengan desah*an dan erangan yang mati-matian mereka tahan untuk pertama kalinya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...