
🌹
🌹
"Zai, aku pergi dulu ya?" Dimitri duduk di tepi ranjang dengan keadaan sudah mandi, sementara Rania masih terlelap di bawah selimutnya.
"Hmmm ...
"Latihannya agak siang kan?"
"Iya."
"Ya sudah, aku harus pergi sekarang. Hari ini aku ada banyak pekerjaan."
"Oke." dia bergumam dengan mata masih terpejam.
"Baiklah." pria itu mengecup pelipisnya kemudian mengusap kepalanya.
"Pergi dulu ya?"
"Iya." ucap Rania masih dalam posisi yang sama.
***
"Kamu mau pergi?" Maharani bertanya saat menantunya itu turun dari kamarnya.
"Iya, hari ini banyak pekerjaan." jawab Dimitri.
"Rania?"
"Masih tidur."
"Astaga! jam segini masih tidur?" Maharani melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 7.30 pagi.
"Matahari udah nongol dia masih betah di kasur! kamu nggak bangunin Rania?"
"Sudah, tapi bilangnya masih ngantuk. Ya sudah ..." pria itu terkekeh.
"Astaga!" sang ibu mertua menepuk kepalanya sendiri.
"Ini ada apa sih pagi-pagi udah berunding?" Angga muncul setelah mendengar percakapan antara istri dan menantunya itu.
"Rania masa jam segini belum bangun? Mana suaminya mau berangkat kerja lagi? bener-bener tuh anak!" Maharani menyelinap diantara dua pria yang bersisian itu.
"Mau kemana?" Angga mengikuti dengan pandangan.
"Bangunin Rania!"
"Nggak usah," sergah Dimitri.
"Kok nggak usah? kamu kan mau pergi kerja?"
"Biarkan saja lah, kasihan."
"Kenapa kasihan?" Maharani menjengit. "Harusnya dia bangun lebih pagi, menyiapkan semua keperluan kamu."
"Tidak apa-apa, tidak perlu. Saya sudah terbiasa menyiapkan semuanya sendiri. Biarkan saja Rania tidur."
"Tapi kan dia juga harus latihan?"
"Agak siang kan? nggak apa-apa. Biarkan saja." ucap Dimitri lagi.
"Kalau begitu, saya pergi dulu." pria itu hampir saja melangkah keluar ketika Angga berbicara.
"Kamu belum sarapan?"
"Mm ... belum. Nanti saja di kantor." jawab Dimitri, canggung.
"Kamu tahu. dirumah ini ada satu ritual yang nggak boleh dilewatkan setiap pagi."
"Apa?"
"Sarapan bersama. Mau sesibuk apa hari ini, kamu harus tetap sarapan bersama keluargamu. Setidaknya kita masih memikiki waktu bersama." lanjut Angga yang membuat sang menantu melongo keheranan.
Setan mana yang lewat nih? batin Dimitri.
"Ayo sarapan dulu, soal Rania biarkan dia begitu. Emang susah." pria itu kemudian bergegas ke meja makan yang sudah siap dengan nasi dan beberapa macam lauknya.
Dimitri tertegun, dia berpikir sebaiknya menurut atau menolak ajakan mertuanya. Dia melirik kepada Maharani, yang kemudian menggendikan kepalanya memberi isyarat untuk ikut.
Akhirnya pria itu mengikuti kedua mertuanya ke meja makan, diikuti pula oleh ketiga anak yang lain yang sudah siap dengan seragam sekolah mereka.
"Kalau di apertemen dia kayak gini?" Maharani memulai percakapan.
"Begitulah." Dimitri menyuapkan campuran nasi, sayuran dan ayam suir yang masih hangat itu kedalam mulutnya, lalu mengunyahnya dengan tenang.
"Dan kamu nggak berusaha untuk bangunin dia pagi-pagi gitu? minimal siapin sarapan untuk kamu?"
Dimitri menggelengkan kepala.
"Astaga, Dimitri! seharusnya kamu didik dia untuk melaksanakan kewajibannya sebagai istri, dan ibu rumah tangga. Keadaannya sekarang sudah berbeda."
"Kasihan Mom, dia belum terbiasa. Mungkin nanti lama-lama dia akan melakukannya." jawab Dimitri.
"Hmmm ... nggak mungkin. Kalau nggak di omel dia nggak akan ngapa-ngapain."
Sang menantu hanya tersenyum.
"Omel lah sesekali."
Dimitri tertawa. "Kalau dia mau melakukannya pasti akan dilakukan."
"Terus sejak kalian menikah kalau kamu pergi kerja gimana?"
"Ya, seperti biasa. Saya terbiasa menyiapkan semua sendiri."
"Makan?"
"Beli. Saya suruh orang apartemen seperti biasa."
"Aduh!!" Maharani kembali menepuk kepalanya.
"Tidak apa-apa. We're ok." ucap Dimitri yang telah melahap habis makanan di piringnya.
"Untung suaminya kamu, kalau orang lain nggak tahu deh. Nggak kebayang apa aja yang dia kerjain seharian di apartemen kalau nggak latihan?"
"Paling tidur." Dimitri tertawa lagi.
"Hah, ... sekali-sekali kamu harus ngasih tahu dia Dim. Nggak boleh gitu terus. Didik dia, kamu suaminya sekarang."
"Iya."
"Gimana kalian kalau nanti punya anak? masa Rania mau gitu terus?"
"Anak?" Angga dan Dimitri bersamaan.
"Iya. Gimana coba kalau kalian punya anak kalau kelakuan mamanya kayak gitu terus?"
"Belum saya pikirkan kalau soal itu Mom."
"Aduh, ... kalian terlalu santai."
"Ya kalau bisa jangan dulu, kan masih ada kontrak. Balapan juga belum selesai." Angga menyahut.
"Jangan bilang gitu. Ya se dikasihnya aja. Atau Rania pakai kb?" Maharani kemudia bertanya.
"Kb?" Dimitri mengerutkan dahi, kemudian menggelengkan kepala.
"Mau menunda punya anak?" tanya Maharani lagi.
"Belum dipikirkan juga kalau masalah itu."
"Terus selama ini kalian?"
"Apa?" Dimitri menatap kedua mertuanya secara bergantian.
"Ini apaan sih pagi-pagi ngobrolnya beginian? mana ada anak-anak lagi?" Angga menyela percakapan.
"Kamu harus pikirin dari sekarang. Apalagi Rania masih balapan."
"Nikah baru mau dua minggu Mom?"
"Tetep aja, banyak yang harus kamu pikirkan."
"Oh, ... oke. Nanti saya pikirkan."
"Dan ingat, didik dia juga agar berubah." ucap Maharani, seolah mengultimatum sang menantu.
"Baik." sementara Dimitri hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Kalau begitu, saya pamit." ucapnya kemudian, setelah menghabiskan sarapannya.
"Ya, pergilah." ucap Maharani, dan setelahnya Dimitri pun pergi.
"Nggak bisa di percaya ini duh." Maharani mengusap wajahnya.
"Apa?"
"Anak papa, superrrrr." katanya, yang kemudian cepat-cepat menghabiskan makanannya.
"Dih, dari tadi ngoceh melulu? katanya nggak boleh ikut campur urusan rumah tangga anak? terus yang tadi itu apa? pake ngomporin si Dimi segala?"
"Kalau masalah yang ini, kayaknya aku harus ikut campur deh."
"Dih, standar ganda!" cibir Angga.
"Masalahnya aku malu, anak kita nggak bisa mengurus suaminya. Mana, udah jam segini Rania masih belum turun aja? padahal Dimitri udah pergi kerja."
"Ya biarin aja kenapa? Si Diminya juga nggak apa-apa. Kenapa kamu yang sewot?"
"Masalahnya, ...
"Apaan sih pagi-pagi udah debat?" Rania muncul kemudian. Sudah mandi namun masih mengenakan piyama tidurnya.
"Nah, ... ini dia?" ucap Maharani.
"Apaan?" anak perempuannya itu menghempaskan bokongnya di kursi, lalu mengambil sepotong ayam dan segera melahapnya tanpa basa-basi.
"Suami udah pergi kerja, sementara kamu baru bangun?"
"Emang kenapa?"
"Kamu tanya kenapa?"
"Iya, kenapa? tadi udah bilang kok."
"Gitu doang?"
"Iya."
"Kamu nggak ada kepikiran gitu untuk siapin dia sarapan, atau minimal kasih dia minum kek sebelum pergi kerja?"
"Kan ada mama?"
"Astaga! dia kan suami kamu?"
"Haih!! kalau di apartemen?"
"Ada yang ngirim makan tiap pagi. Siang aku order. Malam dia yang order." Rania dengan tenangnya.
"Oneng!" Maharani bereaksi. "Kamu tuh udah punya suami, udah sepantasnya kamu mengurus suami kamu."
"Dia udah gede, ngapain di urus? lagian dia bisa ngurus dirinya sendiri. Dia udah terbiasa kok."
"Tapi keadaannya sekarang udah beda. Seharusnya kamu menjalankan kewajiban kamu."
"Udah."
"Apa?"
"Ng ...
"Udah, udah. pagi-pagi udah ribut." Angga menenggak air putihnya hingga habis setengahnya. "Anak-anak, ayo hari ini papa yang antar." dia bangkit dari kursinya.
"Beneran?"
"Yeaayyy!!" Adel dan Amel kegirangan.
"Kamu siap-siap latihan. Nanti papa pulang dari sekolah langsung nyusul kamu."
"Oke."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Zai, kalau kamu pulangnya sore, aku langsung pulang ke apartemen saja ya?" pesan dari Dimitri.
"Oke. Aku sebentar lagi pulang. Ibu negara masih ceramah." Rania membalas diikuti emot cemberut.
Sementara Dimitri hanya membalas dengan emot tertawa.
"Itinya, kamu harus berubah Rania. Kamu bukan lagi anak gadis yang hidup dirumah mama dan papa. Kamu seorang istri sekarang." Maharani mengakhiri hampir ceramahnya sore itu.
"Denger nggak?" perempuan itu menepuk lutut putrinya.
"Iya, denger mama."
"Denger tapi tetep gitu. Bikin malu kamu!"
"Ran?" Angga mencoba menengahi.
"Diem ya, aku lagi nasehatin anakku." Maharani mengacungkan telunjuknya kepada Angga. Membuat pria itu menutup mulutnya rapat-rapat.
"Nyesel aku nggak bisa didik dia." ucap Maharani lagi. "Untung kamu nggak serumah sama mertua coba kalau hidup serumah sama mertua, bisa bikin malu kamu. Mereka akan menganggap mama dan papa nggak bisa mendidik kamu dengan baik. Ngurus suami aja nggak mau."
"Dimitrinya aja nggak protes." rengek Rania, setelah semua yang ibunya katakan, yang penyebabnya apalagi kalau bukan kejadian tadi pagi soal dirinya yang selalu bagun kesiangan dan tak mengurus keperluan suaminya di pagi hari.
"Belum. Sekarang karena masih baru, nanti lama-lama dia akan protes."
Rania tak lagi menjawab.
"Mungkin mama terlambat mengatakan ini semua, tapi se nggaknya mama sudah melakukan kewajiban mama sebagai orang tua. Kamu boleh aja jadi pembalap, atau apapun yang kamu mau. Tapi satu, setelah kamu punya suami, jalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri."
"Dimitrinya nggak minta, nggak nyuruh."
"Nggak akan. Orang kayak Dimitri nggak akan mungkin minta atau nyuruh istrinya melakukan semua yang mama bilang. Dia punya kemampuan untuk menyuruh orang lain yang melakukannya. Jelas dia sangat mampu. Nggak ada kesulitan soal itu. Tapi kamu harus punya isnisiatif sendiri dong. Minimal urus kepentingan dia sebelum pergi kerja. Setelah dia pergi, terserah kamu mau ngapain. Mau tidur seharian juga nggak apa-apa." omel Maharani.
"Ngerti nggak, mama ngomong apa?"
"Ngerti, mama." Rania dengan suara pelan.
"Harus apa?"
"Bangun pagi."
"Terus?"
"Nyiapin sarapan."
"Apalagi?"
"Mmm ...
"Ck! udah sana, kalau mau pulang." Maharani dengan rasa gemas.
🌹
🌹
Dimitri merebahkan tubuhnya di sofa panjang didepan televisi setelah melepaskan jas dan dasinya. Tak lupa dia juga melepaskan sepatu dan kaos kakinya, dan menggesernya ke sisi sofa.
Dia menatap jam di layar ponselnya, sudah hampir menunjukan pukul 6 petang, dan Rania masih belum juga sampai di apartemen mereka. Dia lalu memejamkan matanya sebentar, mencoba meredakan rasa lelah pada tubuh dan pikirannya setelah seharian bekerja.
Terdengar suara pintu dibuka dari luar, Dimitri menoleh ke arah suara, dan sosok Rania muncul. Berjalan gontai memasuki ruangan. Meletakan helm dan kunci motor di meja penyimpanan, kemudian menuju ke arahnya.
Perempuan itu melepaskan jaket dan sepatunya, kemudian naik ke tubuh suaminya yang tengah berbaring.
"Hai Zai?" Dimitri menyambutnya, namun dia menjengit saat melihat raut wajahnya yang tak seceria biasanya.
"Capek?" tanyanya.
Rania menganggukan kepala.
"Kemarilah, aku juga sama." katanya, dan dia menarik Rania untuk menunduk dan merapatkan tubuh mereka berdua, lalu dia memeluknya dengan erat.
"Hari ini aku di omel papa." dia mengadu.
"Kenapa?"
"Latihannya nggak fokus, masa satu putaran bisa ngabisin waktu tiga menit."
"Kok bisa?"
"Pikiran aku ngawur terus."
"Kenapa bisa begitu?"
"Ingat kamu terus."
Dimitri tertawa terbahak-bahak.
"Habis itu, pulang latihan langsung di omel mama."
"Kenapa lagi?"
"Gara-gara tadi bangunnya kesiangan." Rania mengangkat kepalanya. "Kamu ngadu ya sama mama kalau aku sering bangun kesiangan?" dia bertanya.
"Nggak. Cuma mama kamu tanya, gimana kalau di apartemen? ya aku jawab sama."
"Ah, ... kamu mah." Rania kembali menyurukan kepalanya di dada suaminya.
"Memangnya itu jadi masalah ya?" Dimitri menyelipkan helaian rambut ke belakang telinganya.
"Itu tadi, mama kayak anaknya aja yang nggak di urus. Ngomelnya sampai segitunya. Baru lho aku di omel kaya gitu sama mama."
"Benarkah?" Dimitri tergelak.
"Hu'um. Mana tadi papa nggak belain aku, biasanya kalau mama lagi ngomelin aku kan papa langsung bela. Tadi mah nggak."
"Hmm ...
"Aku salah ya?" Rania kembali mengangkat kepalanya.
"Menurut kamu?"
"Nggak tahulah, aku nggak biasa sama apa yang mama bilang. Lagian kamu juga biasa urus diri sendiri kan? terus apa yang harus aku siapin? aku kan nggak tahu."
"Mungkin kamu bisa mulai dengan bangun pagi, dan lihat apa yang aku kerjakan kalau pagi-pagi."
"Emangnya ngapain aja kamu kalau pagi-pagi?"
"Banyak. Menyiapkan pakaian, membereskan keperluan pekerjaan. Telfon orang untuk memesan makanan."
Rania terdiam.
"Mungkin mama kamu ada benarnya juga. Dia hanya mengatakan apa yang biasa dia lakukan selama ini."
"Jadi aku salah?"
"Nggak. Kamu cuma nggak tahu, dan nggak terbiasa. Kamu tahu, konyol juga rasanya dua orang yang baru beberapa bulan saling mengenal tahu-tahu menikah dan harus hidup bersama dalam satu atap. Kita masih harus saling membiasakan diri."
"Aaaa ... aku nggak biasa, selama ini yang aku tahu cuma benerin mesin, pasang sparepart dan balapan. Sementara yang lainnya mama yang urus." lagi-lagi perempuan itu menenggelamkan wajahnya di dada Dimitri.
"Its oke, kita berubahnya bertahap ya? seperti yang aku bilang tadi, mulailah dari bangun pagi."
"Aku bingung ngapain setelah bangun pagi, dan kamu berangkat kerja."
"Kalau hanya di pikirkan pasti bingung." Dimitri meraup wajah Rania dan membingkainya dengan kedua tangannya.
"Just do it." katanya.
"Hmm ...
"Kamu masih capek?"
"Sedikit."
"Baiklah, how about ..." dia menarik wajah Rania, kemudian mengecup bibir merah muda milik perempuan itu.
"Naganya bangun." tubuh Rania menegang saat merasakan sesuatu mengganjal di pangk*l pahanya.
"Hmm ... memang selalu seperti itu."
"Terus?"
"Kamu harus menidurkannya lagi."
"Caranya?"
"Buat dia lelah."
"Mm ...
Dimitri tersenyum, lalu dia kembali mengecup bibir yang membuatnya candu. Mencumbunya seperti biasa, yang segera membangkitkan hasrat keduanya.
Lalu pria itu bangkit, dan dengan mudah mengangkat Rania dalam gendongan, untuk kemudian membawanya kedalam kamar, tanpa melepaskan cumbuan yang kian memanas seiring bergejolaknya gairah yang mereka rasakan.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
skiiipppp!!! 😅😅
like, komen, dan kirim hadiahnya dulu dongðŸ¤
lope lope sekebon cabe 😘😘