
🌹
🌹
"Kemana aja kamu tadi siang?" Angga memulai percakapan setelah mereka menyelesaikan makan malam, dan kini berkumpul diruang tengah menonton acara malam minggu di televisi.
"Ke MerBi."
"Lama amat sampai sore?"
"Ya emang lama. Sampai-sampai bosen terus akhirnya pergi dulu dari sana."
"Kemana?"
"Makan."
"Makan dimana?"
"Pasar Cisangkuy."
"Kalian makan di Cisangkuy?"
"Bukan di Cisangkuynya, tapi di luar sebelum itu."
Angga tertegun.
"Itu lho Pah, yang sering kita datengin kalau lagi keliling."
"Nasi ayam?"
"Hu'um." Rania mengangguk.
"Dih, anak gue dibawa makan disana? bokek tuh bule?"
"Buka dia yang ngajak Pah, tapi aku."
"Masa? terus dia mau gitu?"
"Kayaknya dengan terpaksa, abis dia nggak tahu mesti pergi kemana." Rania tertawa.
"Terus habis makan kemana lagi? masa makan sampai berjam-jam?"
"Ya Nongkrong dulu lah sambil nunggu mobilnya beres juga. Aku pikir tanggung kalau balik duluan, kasihan dia belum terlalu tahu jalan-jalan di Bandung juga kan."
"Cieeee.... kencan?" Angga megejek.
"Nggak ih, apaan? orang cuma ngobrol doang."
"Hati-hati, cowok banyak medusnya. Alasannya apa padahal maunya apa?"
"Nggak ada modus Pah. aku kan nganterin dia ke bengkel."
"Dih, dia Kagak tahu aja cowok kalau lagi modus banyak akalnya."
"Kayak papa ke mama ya?"
Angga hanya tertawa.
"Kalian lagi bahas apa sih? kayaknya seru." Maharani muncul dengan satu wadah camilan untuk keluarganya.
"Bahas pak Dimi." Rania menjawab.
"Pak Dimi?"
"Hu'um."
"Pak Dimi itu siapa?"
"Sponsor kita dari Jakarta, anaknya Om Satria." jawab Angga.
"Anaknya? laki-laki?"
"Ya Iyalah, dipanggilnya juga Pak Dimi."
"Dimitri, oneng!" sela Angga sambil meraup camilan yang dibawa istrinya.
"Sama aja Pah. lagian namanya susah amat disebutin deh."
"Namanya juga keturunan."
"Yang waktu itu dibawa ke nikahannya kak Gara ya?" sahut Maharani.
"Iya."
"Udah besar? udah mimpin perusahaan?"
"Ya itu buktinya? tapi dia masih dibawahnya si Andra."
"Lho, kenapa? kan anaknya yang punya perusahaan?"
"Nggak tahu. kata si Andra dia baru balik sekolah di Rusia."
"Jauh amat sekolahnya, emang disini nggak ada sekolah bagus apa?" Rania menyela.
"Anak sultanmah beda oneng. Emangnya kamu, banyak sekolah bagus juga males pergi. Mereka yang banyak duitmah sekolah kemana aja di kejar." sindir Angga.
"Nggak ada hubungannya Pah."
"Ada lah."
Lalu terdengar pintu diketuk dari luar.
"Ga, lihat siapa yang namu?" ucap Angga kepada putranya.
Remaja itu segera beranjak ke ruang depan, dan kembali sesaat kemudian.
"Ada kak Galang." katanya.
"Galang? Ngapain?"
"Nyari kakak."
"Mau apa?"
"Nggak tahu."
"Jangan-jangan mau ngajak ke balapan liar?"
"Dia Nggak akan berani Pah. udah takut duluan sama ancaman papa." Rania bergegas menuju ruang depan.
***
"Lang? Dari mana?" gadis itu muncul dari dalam dengan penampilan asal-asalannya seperti biasa. Celana pendek selutut dan kaus kedodorannya yang sudah dia hafal.
"Dari rumah."
"Mau kemana?"
"Kesini."
"Mau ngapain?"
"Ngapel."
"Ngapel?"
Galang mengangguk.
"Ngapelin siapa?"
"Kamulah, masa mama kamu, bisa digorok om Angga entar." pemuda itu tertawa.
"Dih?"
"Canda oneng. Dirumah nggak ada temen, Ibu sama ayah juga Damar nginep dirumah nenek."
"Lah, kenapa kamu nggak ikut?"
"Hoream... ( males)"
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-napa. Hoream weh."
"Nggak ngetrek?"
"Mau sih, tadinya mau ajak kamu, tapi takut di bogem Om Angga. kan bahaya."
"Sekarang nggak bisa kabur euyy... masih diawasi, terus kunci motor juga di sembunyiin kalau malem-malem."
"Kamu sih badung." ejek Galang.
"Ran, Galangnya suruh masuk sini, kita nonton Persib." terdengar Angga berteriak.
"Tuh, ... diajakin nonton bola sama papa." ucap Rania.
"Jiah, ... mau ngapelin anaknya malah jadi ngapelin bapaknya?" Galang menggerutu, Tapi tak urung juga dia masuk ke ruang tengah untuk memenuhi panggilan Angga.
"Si dudul!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dimitri menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, setelah sepuluh kali bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air besar. Sepertinya satu sendok sambal di kuah sop iga tadi siang berefek buruk kepadanya. Pencernaannya langsung saja bereaksi keras setelah beberapa saat. Bahkan setelah dirinya meminum obat yang dia temukan di kotak p3k, hal tersebut tak kunjung membaik.
Sejak kecil dia memang tak terbiasa dengan makanan pedas. Sedikit merica saja akan membuat tenggorokannya terasa seperti terbakar dan sakit perut selama berhari-hari, apalagi dengan cabai yang level kepedasannya diatas rata-rata. Bisa membuatnya tumbang tak berkesudahan.
"Aaa... stranaya devushka! kamu membuatku tersiksa!" dia berteriak dan kembali berlari ke kamar mandi.
🌹
🌹
Pagi-pagi sekali Rania sudah siap dengan sepatu olah raganya. Jogger pants dan hoodie hitam menjadi andalannya untuk menghalau udara dingin kota Bandung yang menusuk hingga ke tulang.
"Neng!!" Galang melambai dari pintu gerbang, mereka sudah membuat janji semalam untuk pergi jogging bersama.
"Pah, udah belum?"
"Sebentar lagi." Angga berteriak dari dalam rumah.
"Aku duluan sama Galang ya?"
"Yoo."
Mereka berdua berlari menyusuri jalan raya yang masih sepi. Kendaraan belum terlalu ramai pagi itu. Hanya angkot yang sesekali lewat sejak subuh.
"Katanya hari ini ada sunmori di Gasibu."
"Oh ya?"
"Hu'um, komunitas Lamborghini se Bandung Raya."
"Keren euyy... nanti kita lihat kesana ya?"
"Oke. Abis lari ya? sambil nyari makan."
"Siap."
Rania berlari mengelilingi lintasan lari di sisi lain lapanga Gasibu sebanyak tiga putaran. Kemudian melakukan pemanasan, dilanjutkan beberapa gerakan olahraga sederhana untuk melatih kekuatan sendi-sendi di tubuhnya.
Mengendarai motor dalam posisi sama selama beberapa saat membutuhkan ketahanan tubuh tersendiri. Dan itu memerlukan latihan yang cukup rutin untuk membuat tubuhnya terbiasa.
Dan Galang menjadi mentornya dalam hal ini. Dia menunjukan beberapa hal seperti yang sudah diketahuinya dari seorang instruktur kebugaran yang pertama mengajarkan Rania.
"Udah belum Lang? aku capek." keluh Rania, saat merentangkan kakinya secara bergantian.
"Dikit lagi."
"Dari tadi dikit lagi, dikit lagi? udah berapa kali." gadis itu menggerutu.
Galang hanya tertawa.
"Udah ah, ...capek." Rania menjatuhkan tubuhnya terlentang disisi lintasan lari. Kakinya sudah gemetaran dan dia sudah tidak kuat lagi.
Sebotol air mineral disodorkan Galang kepadanya.
"Minum dulu Neng. Lagian harusnya pendinginan dulu, baru berhenti."
"Bodo ah, ... kamu sih nggak ngerasain capeknya."
"Dibilangin juga?"
Rania menenggaknya air mineral tersebut hingga habis setengahnya.
"Sunmorinya udah mulai ya?" mereka menatap jejeran mobil-mobil sport super mewah yang memang selalu mengadakan acara rutin mingguan di tempat itu.
"Udah kayaknya."
"Aku bakalan punya mobil keren kaya gitu nggak ya?" Rania mengungkapkan mimpinya yang lain.
"Bakalan."
"Kapan?"
"Nanti kalau udah waktunya."
"Emang bisa?"
"Bisa lah, masa nggak bisa? apalagi kamu kan lagi berjuang."
"Berjuang?"
"Iya, berjuang menggapai mimpi. Entah yang mana dulu yang bakalan terwujud duluan. Jadi juara superbike dulu apa dapat mobil mewah dulu?" Galang membesarkan hatinya, walau dia tidak tahu apakah semua itu akan benar-benar terwujud ataukah tidak, tapi rasa-rasanya dia harus selalu membuat gadis itu percaya diri. Setidaknya harapan baik akan selalu membuatnya memiliki semangat.
"Aih, ... kamu baik deh... " Rania merangkul pundak sahabatnya itu seperti biasa.
"Ya emang baik, kamu aja yang nggak nyadar."
"Hu'um, ... kamu kayak kakak laki-laki yang nggak pernah aku punya."
"Dih, kakak laki-laki?"
"Terus apaan dong?"
"Aku sih maunya pacar."
"Idih, ...ogah." gadis itu menarik tangannya kembali. "Baru segini aja sikap kamu udah beda. Bikin aku mulai nggak nyaman."
"Hehe, canda Oneng." Galang mengacak puncak kepalanya dengan gemas. Dia mengurungkan niatnya untuk terus berusaha membuat sahabatnya ini memiliki perasaan lain kepadanya. Karena dia memang tak semudah itu terbawa perasaan. Contohnya saja, Rania masih saja bersikap seperti biasa walaupun dirinya sudah mengungkapkan perasaan terakhir kali.
"Eh tunggu, ada yang nelfon." Rania merogoh ponsel dari saku hoodienya.
Sebuah nomer baru yang tak dia kenal, namun dengan foto profil yang tampak tak asing.
"Kayak pak Dimi?"
"Mau ngapain orang itu nelfon?" Galang langsung merasa tak suka.
"Nggak tahu, kan belum dijawab." Rania menggeser tombol hijau keatas.
"Halo?" sapanya pada orang di seberang.
" Aku sakit."
"Apa pak?"
"Aku sakit."
"Kok bisa?"
"Makanan pedas itu bikin aku sakit." jawab Dimitri.
Rania tertegun.
"Parah Pak?" tanyanya kemudian.
"Aku bolak-balik ke toilet dari semalam, dan belum juga berhenti. Aku nggak tahu harus menghubungi siapa. Yang aku ingat cuma kamu." Dimitri merengek.
"Serius?" dan sambungan telfon tiba-tiba terputus.
"Pak? halo pak? yee... malah dimatiin?" Rania menatap layar ponselnya.
"Apaan sih?" Galang bereaksi.
"Duh, ... salah nih gue." Rania bangkit.
"Apa?"
"Aku pergi dulu deh."
"Kemana?"
"Ada urusan."
"Urusan apaan?"
"Ada deh, nanti cerita." Rania berjalan menjauh.
"Nanti kalau Om Angga nanya aku jawab apa?"
"Bilang aja terpisah waktu nyari makan."
"Bohong dong?"
"Heleh, ... selama ini kalau ngajak ngetrek juga suka bohong?"
"Itu beda oneng!"
"Ya kalau jujur juga nggak apa-apa, paling kamu yang kena omel papa, aku sih udah biasa." gadis itu bergegas pergi.
"Dih, si oneng!"
🌹
🌹
🌹
Bersambung....
Dih, ... si oneng mah bikin Galang bingung. 😆😆😆
hari senin hari vote gaess. cus kirim votenya buat si oneng. jangan lupa like komen sama kirim hadiah juga.
lope lope se Bandung Raya 😘😘😘