All About You

All About You
Kunjungan Ke Bandung



🌹


🌹


Berminggu-minggu kemudian ...


"Di usianya yang menginjak 16 minggu ini kondisi mereka semakin baik. pertumbuhan anggota tubuhnya juga sudah lengkap. Lihat?" Dokter Reyhan menunjuk layar monitor yang menampilkan gambar janin di dalam rahim Rania yang cukup jelas dalam tampilan 4 dimensi.


Dimitri menatap benda tersebut lekat-lekat. Perasaannya sungguh membuncah bahagia, namun juga dia merasa tak percaya. Dua makhluk mungil itu kini tengah tumbuh di dalam Rahim istrinya, dan ini terasa benar-benar membahagiakan.


"Disini rasanya agak keras, dokter. Aku juga sekarang agak susah kalau mau membungkuk." Rania mengutarakan keluhan di perutnya yang akhir-akhir ini dia alami.


"Itu biasa. Bayinya sudah tumbuh semakin besar, jadi banyak perubahan pada tubuh ibu hamil. Termasuk di perut." dokter berkacamata itu menjelaskan.


"Aku nggak bisa naik motor lagi dong?" Rania dengan polosnya.


"Memangnya mau kemana kamu naik motor?" Dimitri bereaksi.


"Nggak kemana-kemana."


"Terus?"


"Nggak terus-terus."


"Kalau mengendarai panigalenya sendiri sudah pasti tidak akan bisa, paling kalau naik motor matic ya bisa saja asal ..."


"Baik, nanti aku belikan motor matic." Dimitri menyela. Agak kesal juga dirinya menyimak percakapan antara dokter Reyhan bersama istrinya, padahal ini merupakan sesi konsultasi.


"Motor matic? nggak asik banget."


"Astaga!" Dimitri menepuk kepalanya sendiri.


"Aku mendingan pakai mobil aja kalau gitu."


"Nah, itu lebih aman." ucap dokter Reyhan dengan senyuman manisnya. Dia memang selalu merasa senang ketika pasangan muda ini datang untuk check up dan berkonsultasi. Kelakuan mereka berdua menjadi hiburan tersendiri baginya.


"Lagi pula kamu tidak pernah pergi ke manapun." Dimitri bergumam.


"Ya mau pergi ke mana? baru ijin kamu udah banyak nanya, banyak syaratnya juga lagi. Kan akunya keburu males pergi."


"Kan aku harus memastikan kemana kamu pergi, bersama siapa. Aman atau tidaknya? aku nggak bisa sembarangan memberimu ijin untuk pergi." jawab Dimitri.


"Cuma ke rumah mama padahal."


"Kalau itu kan bisa aku antar, nggak usah pakai mobil sendiri."


"Tahu gitu, kenapa beliin aku mobil? kan jadi mubadzir. Beli mahal-mahal nggak kepake?" Rania menggerutu.


"Itukah mas kawin, bukan semata-mata sembarangan membeli." Dimitri menjawab lagi.


"Ya kalau mas kawin harus di pakai, nggak boleh di anggurin."


"Masa?"


"Iya kan dokter?" Rania menoleh kepada dokter Reyhan yang menyimak perdebatan itu dengan perasaan agak canggung. Baru kali ini dia melihat pasangam suami istri yang berdebat disaat sesi konsultasi masih berlangsung.


"Soal itu ...


"Kenapa bertanya kepada dokter Reyhan? memangnya dokter sudah menikah? sepertinya belum." sergah Dimitri.


"Eee ...


"Dokter udah nikah belum?" Rania akhirnya bertanya. "Masa belum sih? tapi jadi dokter kandungan. Aneh banget bujangan jadi dokter kandungan?"


"Mmm ...


"Dokter udah sering membantu ibu-ibu yang melahirkan? gimana rasanya itu? apa nggak aneh karena ..."


Segera saja Dimitri menutup mulut perempuan itu yang tak mau berhenti bertanya. Namun malah membuat pria klimis di depannya tertawa terbahak-bahak.


"Maaf maaf, dia memang suka seperti itu." Dimitri menyela.


"Tidak apa-apa, pertanyaan itu memang sudah biasa." jawab Reyhan sambil tertawa.


"Pertanyaan yang mana?" Rania menyingkirkan tangan Dimitri dari mulutnya.


"Soal profesi saya."


"Emang aneh. Kenapa dokter nggak milih jadi dokter bedah kek, atau dokter kecantikan gitu. Dokter kan ganteng." ucap Rania, sekenanya.


"Ganteng?" Dimitri meninggikan suaranya.


"Iya, untung ganteng jadi enak dilihat."


"Astaga!" Reyhan tertawa lagi.


"Kamu menyebut pria lain ganteng di depan suamimu sendiri? benar-benar tega!" Dimitri menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak percaya tingkat kepolosan perempuan itu bisa sampai disini.


"Lah, emang ganteng, kamu nggak lihat apa? mirip artis Korea." Rania setenga berbisik.


"Siapa?"


"Ji Chang Wook." katanya.


"Aku nggak kenal artis Korea." Dimitri mendelik.


"Iyalah, nonton tvnya saluran Rusia sama bola terus." sindir Rania.


"Nah, sejak kapan juga kamu kenal artis Korea?"


"Sejak cuti balapan, aku kan nggak ada kerjaan. Makanya jadi sering nonton tivi."


"Jangan-jangan nonton drama Korea juga?" Reyhan menyela.


"Nggak, aku nggak ngerti bahasanya, bikin pusing. Udah cukup pusing denger orang seranjang ngomong bahasa asing, masa harus aku tambah lagi sama tontonan? bisa tambah pusing akunya."


"What?" Dimitri bereaksi lagi.


"Lalu kenapa bisa hafal artis Korea?"


"Dari berita."


"Pasti gosip."


"Ngga yeee ... aku bukan emak-emak yang doyan nonton gosip ya."


"Awas ya kalau nanti anak-anakku mirip dia, aku invasi negara Koreanya."


"Apaan, nggak ada hubungannya? masa anak kita mirip orang lain? nggak nyambung."


"Bisa saja."


Sedangkan dokter Reyhan lagi-lagi dibuat tertawa oleh tingkah pasangan suami istri ini.


"Dokter ketawanya enak bener ya?" Rania kembali memalingkan perhatian.


"Kalian berdua benar-benar lucu. Definisi menikah muda seperti kalian ini yang kadang membuat orang lain merasa iri."


"Masa?"


"Mana ada perdebatan suami istri semacam ini? saya baru menemukannya pada kalian. Bahkan saya dan istri pun tidak seperti ini."


"Wah, ... dokter udah punya istri?" Rania kemudian bertanya.


"Sudah." Reyhan mengangguk. "Anak saya sudah dua."


"Wow. Kembar?"


"Tidak. Satu perempuan kelas tiga sd, satu lagi baru dua tahun." jawab dokter itu, membuat percakapan di antara mereka menjadi sedikit pribadi. Sementara pasangan di depannya terdiam.


"Ah, ... maaf. Kenapa jadi pribadi seperti ini ya? seharusnya ini masih konsultasi. Apa ada yang mau di tanyakan lagi?" Reyhan tersadar.


"Nggak ada kayaknya. Aku cukup." Rania menjawab.


"Baiklah, kalau begitu saya aka meresepkan obat dan vitamin, juga suplemennya. Mohon di minum sampai habis ya?" pria itu menyerahkan selembar kertas resep yang di terima oleh Dimitri.


"Tapi bolehkah saya minta satu hal? saya janji ini hanya sekali saja." lanjut sang dokter yang mengeluarkan ponselnya.


"Apa?"


"Bisakah kita berfoto bersama? Karena anak pertama saya, Tania sangat mengidolakan kamu. Setiap balapan dia tidak pernah melewatkannya. Dia bahkan bercita-cita menjadi pembalap seperti kamu jika sudah besar nanti, apalagi nama kalian hampir sama."


"Oh ya?"


"Iya. Tapi dia tidak percaya waktu saya mengatakan jika kamu adalah pasien saya."


"Begitu ya?"


"Ya, dia sempat mengatakan jika itu benar, maka saya harus mempertemukannya dengan kamu. Tapi saya rasa itu mustahil."


"Ngga apa-apa, kalau mau kita bisa janjian." Rania menawarkan.


"Really?" Dimitri meyakinkan.


"Apa boleh?" Reyhan melirik sekilas kepada pria itu.


"Boleh kan Yang?" Rania bertanya kepada suaminya.


"Mmm ...


"Cuma Tania, anak perempuan kelas tiga sd. Sama kayak aku dulu yang mengidolakan Mas Vale sejak kelas tiga sd juga."


"Mas Vale siapa?" Dimitri mengerutkan dahi.


"Valentino Rossi."


"Ck!" pria itu memutar bola matanya.


"Boleh ya? sama kamu aja ketemuannya." Rania merayu.


"Entahlah, ... aku sibuk."


"Nanti kalau kamu santai."


"Tidak apa-apa, tidak usah memaksa. Hanya foto saja sudah cukup, Tania pasti akan sangat senang." Reyhan memotong percakapan mereka.


"Dengar kan? foto saja cukup." ucap Dimitri yang merasa telah memenangkan perdebatan.


"Hmm ... ya udah." kemudian mereka mengambil beberapa gambar bersama dengan ponsel milik Reyhan, dengan Dimitri yang tidak pernah menjauh dari sisi perempuan itu. Seakan ingin menegaskan jika Rania adalah miliknya. Lalu mereka berdua pun pergi setelahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Senang sekali kamu ya? bertemu penggemar." mereka dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.


"Lumayan bikin semangat."


"Memangnya kamu tidak bersemangat?"


"Sedikit."


"Why? kamu nggak bahagia?"


"Bukan gitu."


"So?"


"Kamu tahu, sejak kenal motor yang aku kerjakan ya balapan, selain main di bengkelnya papa. Terus berlanjut sampai balapan profesional. Tapi sekarang tiba-tiba harus berhenti, walaupun cuma sebentar. Tapi rasanya ada yang hilang di sini." dia menunjuk dada sebelah kirinya.


"Hampa huh?"


"Cuma sebentar Zai. Sampai si kembar lahir."


"Aku tahu, tapi tetep aja kan. Tapi denger ada penggemar kayak yang dokter Reyhan bilang tadi rasanya seneng juga. Apalagi kalau anak-anak."


"Oh ya?"


"Iya. Aku jadi ingat pas pertama kali nonton balapannya Rossi di Malaysia."


"Benarkah? kamu pernah?"


"Pernah lah, gini-gini juga papa pernah bawa aku ke luar negri. Biar cuma sekali itu aja." dia tertawa, dan kembali teringat kenangan paling manis masa kecil saat dirinya kelas tiga sd. Ketika Angga mengajaknya pergi ke Malaysia untuk pertama kalinya menonton balapan dari sang idola, yang tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun. Dan itu merupakan momen ayah dan anak paling romantis baginya. Hanya dirinya dan Angga.


"Aku nggak akan pernah lupa, masa kecil aku indah. Dan aku beruntung punya papa kayak papa aku." matanya tiba-tiba saja terasa panas.


Dimitri terdiam.


"Kok rasanya kangen papa ya? berapa bulan sih kita nggak ketemu?" dia menyeka sudut matanya yang terasa basah.


"Sepertinya hampir dua bulan sejak GP Mandalika."


"Pantesan udah lama."


Dimitri terdiam lagi, dia memfokuskan perhatiannya pada jalan raya. Namun kemudian sebuah ide muncul begitu lampu lalu lintas berubah merah dan semua kendaraan bermotor pun berhenti.


"Kamu mau ke Bandung?" tawarnya kemudian.


"Apa?"


"Kamu mau ke Bandung, mengunjungi papamu?" ulang Dimitri.


"Apa boleh?"


"Boleh, kenapa tidak ? mumpung aku ada waktu."


"Tapi kamu besok pagi kan kerja?"


"Kita bisa berangkat subuh dari Bandung." mobil yang mereka tumpangi kembali bergerak ketika lampu berubah hijau.


"Emang mau?"


"Mau."


"Serius?"


"Iya." pria itu kemudian membelokan mobilnya ke arah tol menuju Bandung.


"Tapi kita nggak ada persiapan."


"Persiapan apa? cuma ke Bandung, bukan ke Eropa."


Rania kemudian terdiam, dan dia menatap wajah suaminya yang terlihat serius. Hatinya merasa terharu dengan hal tersebut.


"Uuhhh ... papi ganteng deh." katanya, dan dia bergelayut manja pada lengan suaminya.


"Benarkah?"


"Iya."


"Lebih ganteng dari dokter Reyhan yang katanya mirip artis Korea itu?"


"Hu'um." Rania menganggukan kepala.


"Terus aku mirip siapa?"


"Hah?"


"Apa aku mirip dengam artis? atau siapa?"


"Siapa ya?" Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Nggak ada."


"What?" Dimitri menatap tidak suka dengan mulut yang dia kerucutkan.


"Nggak deh, ... kamu mirip itu ..." Rania menyentuh dagu pria itu untuk merayunya.


"Siapa?"


"Model dari Jerman."


"Siapa?" dahinya berkerut dalam.


"Itu ... Nils Kuese." katanya, sekenanya.


"Siapa itu? aku nggak kenal."


"Nggak akan, dia kan model. Dulunya selebgram. udah pasti kamu nggak akan kenal."


"Hmm ...


"Nggak usah di pikirin. Pokoknya dia model terkenal."


"Beneran?"


"Iya, papi."


"Baiklah. Hampir aku cemburu kepada dokter Reyhan karena dia mirip orang terkenal sedangkan aku tidak."


"Dih, cuma gitu doang. Dia cuma mirip sedangkan kamu tanpa mirip sama siapa pun udah terkenal."


"Benarkah?" pria itu menahan senyum.


"Iya, nggak lihat di majalah Forbes ya, kalau kamu jadi salah satu pengusaha muda yang potensial, apalagi jadi pewarisnya perusahaan papi?"


"Oh ya? aku tidak tahu soal itu."


"Dih, ... bilang nggak tahu, tapi fotonya jadi sampul majalah. Judulnya, The Young At Third Generation. Apa itu artinya?"


Dimitri kemudian tertawa.


"Dimana kamu melihat majalah itu?"


"Kemarin ada kiriman majalahnya ke rumah."


"Bagus kan?"


"Iya, bagus. Sebentar lagi kamu banyak yang ngincer. Terutama para sugarbaby."


Dimitri tertawa lagi, dan kini lebih keras.


"Dih, seneng? Kita dalam bahaya, pak direktur."


"Bahaya apanya?"


"Tantangan di depan sana bukan sekedar mantan temen bobo, tapi lebih bahaya dari itu." Rania bersedekap.


"Jadi berbuatlah sesuatu agar mereka tidak bisa mendekat kepadaku." ucap Dimitri.


"Gimana caranya?"


"Soal itu belajarlah kepada mama. Dia bisa membuat papi tidak bisa berpaling sedikitpun selama lebih dari dua puluh tahun."


"Masa?"


"Yeah ... lagi pula, kenapa juga kamu harus khawatir soal itu? bukankah kamu tidak pernah merasa cemburu? kepada mantan teman tidurku saja kamu biasa, masa hal begini malah kamu merasa terancam duluan?"


"Ini beda pak. Lagian akhir-akhir ini nggak tahu kenapa aku merasa insecure."


"Insecure?"


"Iya, aku bayanginnya akan ada banyak perempuan yang godain kamu deh. Apalagi kalau lihat kedudukan kamu."


"Statusku jelas sudah punya istri, dan mereka tahu siapa."


"Nggak ngaruh pak."


"Masa?"


"Kamu nggak tahu ya, kalau suami orang lebih menggoda?"


"Oh ya? dari mana pendapat seperti itu berasal?" Dimitri tertawa lagi.


"Banyak contohnya. Aku cuma agak takut karena godaannya pasti kuat nih, apa lagi buat kamu."


"Jangan ngawur Zai."


"Cuma lagi mikir."


"Jangan berpikiran hal buruk, nanti malah berakibat buruk juga buat kita."


"Aku cuma ...


"Hey, sebentar lagi kita punya anak. Kembar lagi. Masa kita mau mengkhawatirkan masalah tidak penting? nanti bisa mengganggu kesehatan kamu lho. Ingat kata dokter Reyhan."


Rania terdiam.


"So, kenapa kita nggak berusaha untuk lebih bahagia saja ketimbang memikirkan hal yang tidak penting?"


"Mm ...


"Zai?"


"Ya?"


"Jangan pikirkan hal nggak penting."


"Aku berusaha."


"Do your best Mommy!" Dimitri mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


***


Mereka tiba di kediaman Angga pada malam hari, setelah kurang lebih dua jam berkendara dari pusat kota Jakarta.


Kedua orang tuanya menyambut begitu mobil Dimitri berhenti di depan teras. Dan Rania segera turun dan menghambur ke dalam pelukan sang ayah.


"Kamu ini kenapa?" Angga memeluknya dengan erat.


Rania tak menjawab, namun tangisnya segera pecah di dada pria itu.


"Kenapa Ran?" Angga membingkai kepalanya.


Rania hanya menggelengkan kepala, kemudian mengeratkan lilitan tangannya di tubuh sang ayah, dan tangisnya menjadi semakin keras.


"Kenapa?" Angga menoleh kepada Dimitri. Jelas sekali dia mencurigai sesuatu. Merasa heran dengan kedatangan anak dan menantunya yang datang tiba-tiba pada mala hari, dan perempuan itu yang langsung menangis di pelukannya.


"Dimitri! Rania kenapa?" Angga nyaris berteriak. Sementara menantunya menggelengkan kepala dengan rasa terkejut.


Mati aku! kenapa ya dia? pria itu membatin.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Nah luuuu...